Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 87


__ADS_3

Olivia tahu, kalau sampai penarikan investasi dilakukan secara serentak dan tiba-tiba, maka perusahan benar-benar akan jatuh ke titik terendah.


Namun jika sampai para investor berniat menarik investasinya, berarti permasalahan dari perusahaan itu bukanlah main-main.


Tidak mungkin para investor menarik modalnya, jika masih ada kemungkinan, bahwa perusahaan itu akan kembali normal.


Dengan demikian Olivia bisa menduga, bahwa Angelo memang tahu banyak, akan permasalahan yang dihadapi, dan terjadi di dalam perusahaan Andersen's itu.


"Angelo...! Apa kamu bisa memberitahuku secara detail, apa sebenarnya yang terjadi dengan Andersen's? Kenapa sampai investor akan menarik modal mereka?" tanya Olivia, sedikit memelas.


"Data-data Andersen's yang terbongkar ke publik, menunjukkan bahwa perusahaan itu telah melakukan penyimpangan dana. Itupun baru di satu kantor cabangnya saja....


... Dan tentu ada kemungkinan, jika hal yang sama juga berlangsung di kantor cabang yang lain. Dengan demikian, bayangkan saja banyaknya dana yang dimanipulasi," jawab Angelo.


"Menurut informasi yang aku dapatkan, data-data yang beredar itu memang benar adanya, dan bisa dibuktikan keabsahannya. Kalau begitu, kamu pasti tahu bagaimana efeknya, bukan? 


...Tentu akan ada kemungkinan bahwa aset mereka akan di sita, jika mereka memang terbukti bersalah....


...Pelaku bursa yang panik, dan melakukan penjualan kembali saham Andersen's secara besar-besaran, tentu akan membuat harga sahamnya semakin anjlok....


... Dengan begitu, siapa yang akan terlalu berani, untuk mempertaruhkan modalnya di perusahaan, yang kemungkinan besar akan *delisting karena bangkrut?" lanjut Angelo.


(*penghapusan emiten secara resmi dari bursa efek, sehingga sahamnya tidak bisa untuk diperdagangkan kembali dalam pasar modal)


"Tapi aku rasa, Andersen's Construction tidak mungkin melakukan hal-hal yang dituduhkan itu," ujar Olivia, bersikeras.


"Olivia...! Kamu terlalu mengagumi perusahaan itu ... Sehingga kamu tidak bisa menilainya secara objektif lagi," sahut Angelo.


"Tapi—" Olivia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Angelo segera menyelanya, dengan berkata,


"Kamu tahu? Perusahaan yang tampaknya baik-baik saja, justru itu yang biasanya menyimpan banyak kebobrokan di dalamnya....


... Aku bukan berniat menjelekkan nama Andersen's, karena pemeriksaan masih akan berlangsung. Tapi aku hanya mengatakan hal itu, berdasarkan pengalaman."


Karena pembicaraannya dengan Angelo, membuat Olivia benar-benar merasa khawatir, dengan Johan dan Jericho.


Perusahaan yang selama ini mereka berusaha pertahankan dan kembangkan, kemungkinan besar akan runtuh sekarang ini.


"Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Karena tidak yang bisa kamu lakukan," ujar Angelo.


Olivia terdiam untuk beberapa saat, sambil berpikir keras.


"Aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi kamu bisa! ... Kamu bisa membantu Andersen's untuk bertahan, sementara pemeriksaan dilangsungkan," kata Olivia.


"Tsk! ... Apa maksudmu, kamu ingin agar aku mempertahankan investasi Sullivan grup di perusahaan itu?" tanya Angelo.


"Iya ... Kamu bisa melakukannya, bukan?" sahut Olivia.


"Olivia...! Kamu tahu, kalau itu tetap tidak akan cukup. Kecuali aku harus mengucurkan lebih banyak dana, untuk membeli saham Andersen's.... 

__ADS_1


... Lalu bagaimana dengan resikonya? Kita tidak bisa mengambil keputusan, jika hanya berdasarkan keyakinan saja. Tanpa ada analisa mendetail, yang bisa memastikannya," kata Angelo.


"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar.


Olivia tidak bisa membayangkan, bagaimana kekecewaan yang akan dirasakan oleh Johan dan Jericho, jika perusahaan mereka sampai bangkrut, hanya karena insiden kebocoran data, yang masih simpang siur.


"Olivia! Honey...! Apa kamu memang merasa seyakin itu, bahwa Andersen's tidak bermasalah?" tanya Angelo, tiba-tiba.


"Iya ... Tentu saja!" sahut Olivia, bersemangat, karena kemungkinan Angelo akan membantu Johan dan Jericho.


"Hmm ... Okay! ... Kalau begitu, bagaimana jika kita berdua membuat perjanjian?" ujar Angelo, tiba-tiba.


"Perjanjian apa?" tanya Olivia, bingung.


"Aku akan mempertaruhkan kemampuan Sullivan grup, untuk membantu Andersen's Construction, sampai masalah ini berlalu....


... Tapi tentu ada syaratnya. Aku ingin agar kamu berjanji, kalau kamu akan menikah denganku, di saat Andersen's sudah kembali ke situasi yang normal," jawab Angelo.


"Ugh...? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Olivia, yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Iya ... Tentu kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Tapi kesempatanmu untuk berpikir, hanya untuk hari ini saja. Aku akan mempertahankan investasi Sullivan di Andersen's, demi menunggu jawabanmu....


... Kamu tahu, bukan? Kalau pemeriksaan di sebuah perusahaan, itu bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Tidak mungkin kamu memintaku, untuk menanggung resiko sebesar itu, tanpa ada motivasi yang cukup pantas, untuk jadi bahan pertimbanganku," ujar Angelo.


"Oh, gosh!" ujar Olivia. "Apa menurutmu kamu bisa bahagia, jika menikah dengan seseorang, yang tidak mencintaimu?" 


... Tapi hal itu tentu tidak akan terjadi, jika kamu masih ada kesempatan, untuk didekati oleh orang lain," kata Angelo, yang tampak bersikeras.


"Aku masih memiliki keyakinan, kalau kamu pasti akan jatuh cinta kepadaku lagi, jika kamu hanya melihatku saja....


... Karena aku pernah membuatmu jatuh cinta, dan aku pasti bisa melakukannya lagi, seperti di masa lalu," lanjut Angelo.


"Angelo...!" ujar Olivia, dengan suara memelas.


"Tenggat waktumu untuk mempertimbangkannya akan habis, satu jam sebelum bursa efek tutup, dan sementara kamu berpikir, kamu harus terus bersamaku....


... Aku akan mengantarmu, ke mana saja kamu ingin pergi," kata Angelo, tetap dengan pendiriannya.


Rencananya Olivia ingin pergi melihat situasi di kantor, tapi dia benar-benar lelah, dan kurang tidur, sehingga saat ini dia rasanya cukup mengantuk.


Dengan demikian, rasanya percuma saja, jika dia pergi ke kantor, lalu menggunakan otaknya yang tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.


"Aku sangat lelah ... Aku melakukan perjalanan dari kota xx, dan baru saja tiba pagi tadi," kata Olivia.


"Kamu kembali ke kota asalmu? Dengan siapa?" tanya Angelo.


"Angelo! ... Jangan terlalu banyak bertanya! Kepalaku sudah terasa sakit," sahut Olivia, ketus.


"Kalau begitu, kita ke hotel tempatku menginap saja. Kamu bisa tidur di sana," kata Angelo.

__ADS_1


"Tidak ... Aku mau kembali ke apartemenku saja," ujar Olivia.


"Olivia! Honey...! Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Aku hanya merindukanmu, karena beberapa hari ini aku tidak bisa melihatmu....


... Apa kamu tidak bisa memberiku kesempatan, walaupun hanya untuk memandangimu tidur? Padahal aku baru saja memberi waktu, bagi Andersen's," kata Angelo, sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Oh, please! ... Antarkan aku ke apartemenku saja," sahut Olivia.


"Tsk! ... Kalau begitu, aku akan mengurangi waktu tenggatmu menjadi empat jam, sebelum penutupan bursa efek," kata Angelo, lagi. 


Tampaknya, Angelo benar-benar menggunakan caranya berbisnis, untuk berusaha menaklukkan Olivia.


Olivia jelas merasa enggan, untuk beristirahat di kamar hotel tempat Angelo menginap.


Namun saat membayangkan kekecewaan di wajah Johan, rasanya, Olivia benar-benar tidak tega, dan ingin membantunya sebisanya.


Walaupun hanya untuk mengulur waktu, dengan harapan akan ada sedikit titik terang, yang membuat Olivia tidak perlu menerima tawaran Angelo, agar laki-laki itu mau membantu Andersen's.


"Fine! ... But don't do anything stupid! You promise?" ujar Olivia, membuat perjanjian.


"Yes, honey! ... I promise!" sahut Angelo.


***


Setibanya di kamar hotel tempat Angelo menginap, Olivia segera bertelungkup di atas tempat tidur, sementara Angelo duduk di dekatnya, sambil membaca lembaran kertas yang dipegangnya.


Tidak berapa lama, Olivia sudah tertidur di sana, dan ketika dia kembali terbangun, Angelo masih dengan posisi duduknya yang sama, seperti sebelum Olivia tidur tadi.


Namun kali ini, Angelo tampak memperhatikan tampilan layar laptop, yang ada di atas pangkuannya.


"Kamu sudah bangun? Kamu tertidur sangat pulas," tanya Angelo, sambil mengusap kepala Olivia, ketika Olivia bergerak, dan duduk di atas tempat tidur itu.


"Coba kamu lihat ini! ... Saham Andersen's terjun bebas!" kata Angelo, sambil menggeser laptopnya, agar Olivia bisa ikut melihat tampilannya.


Oh, gosh!


Olivia rasanya tidak percaya, dengan apa yang dilihatnya.


Seakan-akan, walaupun Sullivan grup masih bertahan di Andersen's, namun pengaruhnya masih tidak cukup, untuk menahan jatuhnya harga saham Andersen's.


"Jujur saja, aku sekarang ini jadi ragu, untuk meneruskan perjanjian yang aku tawarkan kepadamu tadi. Karena situasi ini terlalu beresiko," lanjut Angelo, sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


Olivia menatap Angelo, tanpa tahu harus berkata apa lagi, kepada laki-laki itu. 


"Don't look at me like that! ... Kamu hanya membuatku takut," kata Angelo, sambil tersenyum, dan mengelus pipi Olivia, dengan perlahan, sebelum Olivia menepis tangannya. 


"Oh, iya! ... Ponselmu tadi menerima panggilan telepon. Kalau aku tidak salah melihatnya, Sir Johan Andersen yang menghubungimu....


... Kelihatannya kamu cukup dekat dengan Sir Johan, hingga kamu bisa melakukan komunikasi lewat sambungan nomor pribadi dengannya," kata Angelo, lagi.

__ADS_1


__ADS_2