Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 12


__ADS_3

Semenjak diantar pulang oleh Jericho kemarin sore, sampai ke pagi ini, Olivia tidak mendapatkan kabar apa-apa lagi dari bosnya itu.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Suara ponsel Olivia yang berbunyi, menjadi pertanda baginya, kalau Louis berarti sudah datang untuk menjemputnya.


Sudah jadi kebiasaan bagi Olivia dan Louis untuk berolahraga bersama di setiap hari ke-dua libur akhir pekan mereka.


Tanpa memperhatikan siapa yang membuat panggilan telepon ke ponselnya, Olivia yang merasa yakin kalau itu adalah Louis, segera menerima dan menyapanya lewat penyuara telinga,


"Halo, Louis! Tunggu sebentar, aku tinggal memakai sepatuku saja!"


"Halo, Olivia!" Suara berat yang menyapa dari seberang telepon, meskipun familiar di telinganya, namun menurut Olivia, dia bukan sedang berbicara dengan Louis, melainkan dengan orang lain.


Olivia segera memeriksa layar ponselnya, dan ternyata memang bukan Louis yang sedang menghubunginya sekarang ini, melainkan Johan yang sedang berada di sambungan telepon itu.


"Halo, Sir! ... Maafkan saya. Tadi saya mengira, kalau teman saya yang menelepon," ujar Olivia.


"Apa aku hanya mengganggumu?" tanya Johan dari seberang.


"Tidak, Sir," jawab Olivia. "Tapi ... Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Hmm ... Kedengarannya kamu sudah ada janji dengan orang lain," kata Johan.


"Saya memang berencana untuk berolahraga ringan di taman, bersama teman saya," sahut Olivia.


"Tapi, kalau Sir membutuhkan sesuatu, saya bisa membatalkan rencana saya," lanjut Olivia buru-buru.


"Hmm ... Tidak ada yang terlalu mendesak. Nanti saja kalau begitu ... Apa sore nanti kamu ada waktu?" ujar Johan.


Olivia sebenarnya sudah berjanji dengan Louis, kalau mereka berdua akan berkumpul dengan beberapa rekan kerja mereka yang lain, di sore nanti.


Dengan begitu, Olivia jadi ragu untuk menjawab apa kepada Johan, hingga membuatnya hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, sampai Johan lanjut berkata,


"Aku rasa kamu memang ada rencana sampai nanti sore, ya?!"


"Iya, Sir ... Maafkan saya," sahut Olivia.


"Baiklah kalau begitu. Lain kali saja. Maafkan aku yang menghubungimu secara tiba-tiba," ujar Johan pelan.


"Tidak apa-apa, Sir ... Anda bisa menghubungi saya kapan saja, kalau anda memang membutuhkan sesuatu," sahut Olivia.


"Okay!" kata Johan.


"Eh, Sir! Apa anda sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Olivia, sebelum sambungan telepon itu terputus.


"Iya. Saya sudah pulang sejak kemarin sore," jawab Johan. "Kapan-kapan saat kamu ada waktu, dan bisa bertemu denganku, apa kamu bisa mengabariku?"


"Iya, Sir ... Ketika saya sedang tidak ada rencana lain, saya akan memberitahu anda," jawab Olivia.

__ADS_1


"Okay! ... Bye Olivia!" ujar Johan.


"Okay, Sir!" sahut Olivia, lalu memutuskan sambungan telepon itu.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Olivia tidak sempat memikirkan Johan yang ingin bertemu dengannya, namun sudah ada panggilan telepon baru yang masuk ke ponselnya.


"Halo!" sapa Olivia.


"Halo! Olivia! Apa kamu sudah siap?" Kali ini, suara Louis yang terdengar di sana.


"Sudah. Kamu di mana sekarang?" tanya Olivia.


"Aku sudah di depan apartemenmu," jawab Louis.


"Okay! Tunggu sebentar aku turun!" Olivia segera memutus sambungan telepon, lalu bergegas keluar dari dalam kamar apartemennya.


Ketika Olivia melewati pintu depan gedung apartemen, Louis yang tampak siap dengan memakai pakaian joging, terlihat sudah menunggu di luar, sambil berdiri di dekat mobilnya yang terparkir di sana.


"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Olivia.


"Baru saja," jawab Louis lalu membukakan pintu mobilnya untuk Olivia. "Ayo kita pergi!"


***


Lintasan joging, tampak hampir dipadati oleh orang-orang yang ingin mengeluarkan sedikit keringatnya, agar bisa kembali bugar dan bersemangat untuk kembali bekerja di besok hari.


Olivia mengambil jalur berlari yang sama seperti Louis, sambil memasang penyuara telinga yang mengeluarkan lagu-lagu dengan irama menyentak, dan tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik orang lain yang ada di sana.


Setelah beberapa putaran, dan merasa kalau kakinya sudah cukup lelah untuk lanjut berlari, Olivia akhirnya hanya berjalan pelan menyusuri lintasan joging.


Sedangkan Louis, seperti biasanya, masih berlari beberapa putaran lebih banyak daripada Olivia, sebelum dia akhirnya ikut berjalan pelan bersama Olivia.


"Aku tadi menghubungimu, tapi jalur teleponmu sedang sibuk," celetuk Louis tiba-tiba.


Olivia yang masih mendengarkan lagu-lagu dari penyuara telinga di kedua sisi indera pendengarannya, tidak bisa mendengar perkataan Louis dengan baik.


Hanya karena melihat gerakkan mulut Louis lah, yang membuat Olivia menyadari bahwa Louis sedang berkata sesuatu, hingga Olivia buru-buru melepaskan salah satu penyuara telinganya.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Olivia.


"Tidak apa-apa," jawab Louis, lalu terdiam untuk sejenak, sebelum akhirnya dia berkata,


"Sebelum kamu menerima teleponku tadi, aku sempat menghubungimu, tapi kamu kelihatannya sedang tersambung dengan orang lain."


"Ooh ...! Iya ... Tadi ada yang kenalanku yang menghubungiku," sahut Olivia.


"Apa itu orang yang menjemputmu kemarin?" tanya Louis.

__ADS_1


"Ugh ...?" Olivia tersentak. Apa Louis melihatnya yang dijemput oleh Jericho?


"Aku pergi ke apartemenmu kemarin. Tapi, aku melihatmu bepergian dengan seseorang. Aku tidak sempat melihat, siapa orang yang bersamamu itu," ujar Louis.


Louis berarti tidak tahu, kalau Direktur mereka yang menjemput Olivia.


Tapi dengan begitu, Olivia juga jadi merasa bingung, apakah dia harus memberitahu kepada Louis atau tidak, tentang kejadian yang kebetulan membuatnya terlibat dengan dua bos di perusahaan, tempat mereka bekerja itu.


"Maaf ... Aku bukannya mau mencampuri urusanmu. Aku hanya merasa penasaran saja. Karena kamu tidak pernah cerita, kalau kamu sedang dekat dengan seseorang," lanjut Louis.


"Hmm ... Aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, selain kenalan biasa," sahut Olivia.


Entah benar atau tidaknya penilaian Olivia.


Setelah Olivia berkata kalau orang yang bersamanya hanyalah kenalan biasa, sepintas menurut Olivia, raut wajah dari Louis tampak berubah di saat itu juga.


Yang tadinya Louis yang tampak seolah-olah kalau dia sedang tegang, mendadak terlihat jauh lebih lega.


Walaupun demikian, Olivia tidak mau menduga-duga apa-apa, tentang reaksi Louis itu.


Olivia yang merasa sudah cukup lelah berjalan, kemudian berhenti di sebuah bangku taman dan duduk di sana.


Meskipun Olivia tidak mengajaknya, namun Louis juga tampak mengikuti Olivia, dan duduk bersebelah-sebelahan dengannya di bangku taman itu.


"Bagaimana nanti sore? Apa jadi ke kafe?" tanya Olivia, sambil mengelap keringat yang tersisa di dahinya, dengan punggung tangannya.


"Jadi," jawab Louis. "Kenapa? Kamu ada rencana lain?"


"Tidak. Aku hanya mau memastikan saja," sahut Olivia.


Salah satu dari beberapa orang yang masih berlari di lintasan joging, dan melintas di depan Olivia, tiba-tiba menoleh ke arah Olivia, lalu tersenyum.


Sebenarnya Olivia tidak mengenal laki-laki itu, tapi entah mengapa, Olivia mau saja untuk membalas senyumannya, meskipun hanya tersenyum tipis ke arah orang itu.


Laki-laki itu kemudian mendadak tampak berhenti berlari, dan terlihat segera menghampiri Olivia.


"Hai! Maafkan aku, kalau aku mungkin hanya mengganggu kalian," sapa laki-laki itu, sambil tersenyum lebar, dan menatap Olivia.


Laki-laki itu lalu tampak melihat ke arah Louis sebentar, kemudian kembali menatap Olivia lagi.


"Hai!" Walaupun terkejut dengan kedatangan laki-laki itu yang tiba-tiba, namun Olivia tetap membalas sapaannya.


"Aku benar-benar minta maaf ... Aku sama sekali tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan. Tapi, aku merasa sangat penasaran, karena sudah beberapa kali aku melihatmu di tempat ini," kata laki-laki itu.


Laki-laki itu kemudian menjulurkan salah satu tangannya ke arah Olivia, seakan-akan hendak berjabat tangan dengannya.


"Namaku Hansen. Apakah aku bisa mengenalmu?" lanjut laki-laki yang ternyata bernama Hansen itu, kepada Olivia.


Olivia yang menjabat tangan Hansen, lalu ikut memperkenalkan dirinya sendiri. "Olivia."

__ADS_1


__ADS_2