
Kedatangan Jericho yang mendadak di restoran Hansen itu, menurut Olivia, kemungkinan besar karena Hansen lah, yang memberitahukan keberadaan Olivia dan Angelo di situ, kepada Jericho.
Angelo hampir saja berbalik, untuk melihat apa yang menarik perhatian Olivia tadi, namun Olivia segera mengalihkan perhatian Angelo, dengan berkata,
"Aku jadi penasaran, berapa lama kamu berencana untuk tinggal di kota ini?"
"Hmm ... Apa kamu ingin agar aku segera pergi?" Angelo bertanya, sambil meletakkan garpu yang dipegangnya ke atas piring.
"Aku hanya ingin tahu saja. Karena aku rasanya tidak percaya, kalau kamu akan tahan, untuk tetap menginap di hotel dalam waktu yang lama," jawab Olivia.
Sambil berbincang-bincang dengan Angelo, sesekali, Olivia mencuri-curi pandang ke arah di mana Jericho berdiri tadi.
Saat itu, Jericho terlihat sudah berbalik, dan berjalan menjauh, walaupun entah ke mana tujuannya, karena dia tidak mengarah ke pintu keluar dari restoran.
"Aku menyewa Suite Room, agar bisa merasa seperti waktu aku masih berkuliah ... Tapi mungkin memang akan lebih baik, kalau aku mencari apartemen, yang ada di dekat apartemenmu saja nanti," kata Angelo.
"Are you kidding me?" ujar Olivia, tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku tidak perlu bekerja di belakang meja, karena aku tidak mengurus maskapai milik keluargaku secara langsung, karena masih ada daddy-ku yang menanganinya....
...Aku hanya berkonsentrasi untuk mengurus investasi Sullivan grup. Dengan begitu, laporan pekerjaan bisa aku periksa dari laptopku. Hanya di saat-saat tertentu saja, hingga aku mungkin diminta untuk mengikuti pertemuan....
... Itupun tidak hanya diadakan di satu kota, ataupun di satu perusahaan. Aku bisa tinggal menetap di kota ini. Nanti, di saat keberadaanku sedang dibutuhkan, barulah aku perlu bepergian," jawab Angelo.
"Hmm ... Karena kamu mengungkitnya, aku jadi terpikir, bagaimana kalau aku membeli apartemen yang dekat dengan kantormu?
... Aku bisa membeli dua apartemen yang bersebelahan, agar kamu juga bisa tinggal di sana, dekat denganku," lanjut Angelo, seolah-olah tanpa beban.
"Kamu tidak perlu melakukannya. Aku sudah merasa nyaman dengan apartemenku yang sekarang ini," sahut Olivia.
"Honey! ... Bukankah lebih baik, jika kamu memiliki tempat tinggal yang jaraknya dekat dengan kantormu?" tanya Angelo.
"Iya, tentu saja akan lebih baik. Tapi aku tidak mau kamu yang membelikannya. Jika aku merasa, bahwa aku memang benar-benar membutuhkannya, maka aku yang akan membelinya sendiri," jawab Olivia.
"Tsk! ... Setelah bertahun-tahun yang telah berlalu, kamu sama sekali tidak berubah sedikitpun ... Sebenarnya sifatmu yang tidak materialistis itu bagus....
... Tapi tidak bisakah, jika kamu sekali-kali menerima pemberianku, tanpa perlu merasa terbeban? Sesekali, aku ingin agar kamu bisa bersandar padaku." Angelo tampak kecewa, saat mengatakan hal itu kepada Olivia.
"Maafkan aku, jika itu hanya membuatmu kecewa ... Tapi aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku itu, begitu saja," sahut Olivia.
"Huuufft...!" Angelo mendengus kasar, lalu kembali tersenyum. "It's okay, honey!"
***
Hingga Olivia serta Angelo sudah menyelesaikan makan malamnya, dan bersiap-siap untuk pergi dari restoran itu, Jericho masih tidak terlihat di sana.
Dengan demikian, Olivia bisa bernafas lega, karena mengira bahwa segala sesuatunya masih terkendali, dan tidak akan terjadi apa-apa lagi selanjutnya.
Karena sementara ini, Olivia masih belum bisa meyakinkan Angelo, dan tentu situasinya tidak akan menguntungkan bagi siapa-siapa, jika Jericho ataupun Hansen, mencoba untuk mengusik Angelo.
Akan tetapi, lagi-lagi, dugaan Olivia malam ini, tampaknya meleset.
__ADS_1
Sebelum Olivia serta Angelo beranjak pergi dari mejanya, tiba-tiba saja, salah satu pelayan restoran menghampiri meja mereka, lalu mengatakan bahwa Angelo dan Olivia, diundang Hansen untuk pergi ke ruangannya.
"Aku sudah lelah, dan ingin segera pulang," kata Olivia, beralasan, karena merasa kalau ada yang tidak beres, dari ajakan Hansen itu.
"Hmm ... Kalau begitu, kamu tunggu di sini sebentar, biar aku sendiri saja yang menemuinya—" Perkataan Angelo itu segera disela oleh Olivia, dengan berkata,
"No! ... Don't you do it!"
Seketika itu juga, raut wajah Angelo menampakkan keterkejutannya, atas tingkah Olivia yang mendadak menahannya.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak mau, jika aku menemui Hansen?" tanya Angelo, tampak sedang mencurigai sesuatu.
"Apa kamu memang harus meninggalkanku sendirian di sini, hanya untuk menemuinya?" ujar Olivia, yang berusaha untuk menghilangkan kecurigaan Angelo.
"Pffftt...! Kamu tidak mau aku meninggalkanmu sendiri, walau hanya untuk beberapa menit?" sahut Angelo, sambil tertawa.
Olivia buru-buru menganggukkan kepalanya.
"Fine! ... Kalau begitu, sebaiknya kamu ikut saja denganku. Aku tidak akan lama, karena aku hanya ingin menghargai undangannya," kata Angelo.
Olivia terbelalak.
Dan Olivia sudah tidak tahu lagi, apakah dengan dirinya menemani Angelo, untuk pergi menemui Hansen, adalah sesuatu yang baik atau sebaliknya.
Tapi Olivia juga tidak bisa menolak ajakan Angelo, karena kemungkinan besar, hal itu hanya akan membuat Angelo justru menjadi semakin curiga.
Mau tidak mau, Olivia ikut bersama Angelo, menuju ke ruang kerja Hansen, yang ada di dalam restoran itu.
Ditambah lagi, Jericho juga mungkin saja sedang berada di sana bersama Hansen, sekarang ini.
Tidak salah lagi. Ketika pintu ruang kerja Hansen, dibuka oleh pelayan restoran yang mengantarkan Olivia dan Angelo, di dalam ruangan itu, terlihat Hansen dan Jericho sedang berdiri di sana.
"Jericho?" Dari nada suaranya, Angelo bukan seperti sedang menyapa Jericho, melainkan terdengar seolah-olah dia merasa heran, dengan adanya Jericho di situ bersama Hansen.
"Halo, Angelo!" kata Jericho, dengan raut wajah yang kaku.
Namun berbeda dengan Jericho, Hansen tampak menatap Angelo lekat-lekat sambil tersenyum lebar, yang tidak bisa dimengerti oleh Olivia, apa maksud dari senyuman Hansen itu.
"Halo, Angelo!" sapa Hansen.
"Halo, Hansen! ... Jericho!" sahut Angelo, yang juga menghilangkan formalitasnya dalam berbicara.
"Aku anggap undanganku ke sini, berarti bukanlah untuk urusan yang resmi. Melainkan hanya untuk urusan pribadi saja, benar begitu?" lanjut Angelo.
"Iya—" Hansen kelihatannya masih ingin berkata sesuatu, namun Angelo segera merangkul pinggang Olivia, lalu menyela perkataan Hansen, dengan berkata,
"Maafkan aku ... Tapi aku rasa sekarang ini bukanlah waktu yang tepat. Kekasihku sudah lelah, dan aku ingin segera membawanya pulang untuk beristirahat."
Kali ini, baik Hansen maupun Jericho, sama-sama tampak tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga wajah kedua laki-laki itu terlihat kaku, dengan mata mereka yang melebar.
Tapi raut wajah Hansen segera terlihat kembali seperti semula, dan mengembangkan senyuman yang lebar, sambil tetap menatap ke arah Angelo dan Olivia.
__ADS_1
"You've got to be kidding! ... Aku rasa, Olivia sudah tidak menganggapmu sebagai kekasihnya lagi," kata Hansen, terdengar santai. "Benar kan, Olivia?"
Olivia tidak sempat menjawab pertanyaan Hansen itu, dan hanya bisa terdiam, karena Angelo yang sudah berbicara lebih dulu.
"Hansen! ... Jangan katakan kalau kamu tertarik dengan wanitaku," ujar Angelo.
"Tentu saja! ... Siapa yang tidak akan tertarik kepadanya? Kamu sendiri masih terobsesi dengannya, walaupun dia menolakmu ... Hmph! ... Menyedihkan!" sahut Hansen.
Dari cara bicara sampai dengan kata-katanya, Hansen tampak sangat menyepelekan Angelo, hingga Olivia rasanya akan jatuh pingsan saat itu juga.
Karena menurut Olivia, tentu saja tingkah Hansen itu, pasti akan memicu kemarahan Angelo.
"Aku menyedihkan, katamu? ... Pffftt...! Aku rasa, justru kamu yang seperti itu. Karena kamu bahkan butuh teman sebagai pendukung, hanya untuk berhadapan denganku."
Dengan gaya yang tidak kalah menyepelekan, Angelo berbicara kepada Hansen, dan seolah-olah Angelo sedang ikut merujuk kepada Jericho yang berada di situ.
"You've got all wrong! ... Aku tidak mendukung siapa-siapa, karena aku juga menyukai Olivia. Dan aku tidak suka caramu yang memaksanya," ujar Jericho menimpali.
Tampaknya bukan hanya Olivia saja yang terkejut, dengan pengakuan terang-terangan dari Jericho itu, karena Hansen serta Angelo, secara bersamaan tampak melihat ke arah Jericho.
Seketika itu juga, ruangan itu menjadi hening untuk beberapa waktu lamanya, karena semua orang yang ada di sana, benar-benar hanya terdiam.
"Pffftt...! Hahaha!" Tiba-tiba saja, Angelo tertawa terbahak-bahak.
"You've got to be kidding! ... Aku rasa aku bisa mentolerir Hansen, karena dia yang masih lajang, dan bisnisnya yang juga tampak bagus. Tapi, kamu?
... Seorang duda beranak satu, lalu bermimpi untuk menjadi kekasih Olivia? ... Hahaha! ... Jericho! Shame on you!" kata Angelo.
Angelo tampak benar-benar menyepelekan Jericho, hingga dia seakan-akan tidak bisa berhenti tertawa.
Seolah-olah tidak ada yang menyangka, kalau Angelo akan berkata seperti itu, sehingga Olivia, Hansen dan Jericho, sama-sama hanya terdiam.
"Oh, gosh! ... Olivia! ... Honey! ... Jangan katakan kalau Jericho mendekatimu, lalu mencari perhatianmu, dengan menjadikan anaknya sebagai perisai, agar kamu mau mempertimbangkannya," kata Angelo, lagi.
"Jangan kamu coba-coba membawa-bawa anakku!" kata Jericho.
"Angelo! Stop it! Kamu sudah kelewatan!" kata Olivia.
Saat itu, Jericho dan Olivia berbicara secara bersamaan, dengan nada suara yang sama-sama meninggi, untuk menghentikan penghinaan yang dilakukan oleh Angelo itu.
"I got you!" ujar Angelo tampak bersemangat, seolah-olah telah mendapatkan pengakuan dari Jericho dan Olivia, walaupun mereka tidak mengatakannya secara terus terang.
"Jericho! ... Kamu memanfaatkan rasa kasihan dari Olivia, agar dia mau memperhatikan keberadaanmu? ... Kamu benar-benar memalukan, dan tidak punya harga diri!" kata Angelo, geram.
Terlihat jelas di wajah Angelo, kalau dia benar-benar terusik dan merasa sangat kesal kepada Jericho.
"Angelo...! Please, stop it...!" kata Olivia, memelas, sambil memegang tangan Angelo dengan erat.
"I already told you, honey! ... Jika ada laki-laki yang coba mendekatimu, dengan memanfaatkan kebaikan hatimu itu, maka aku tidak akan memaafkannya....
... So, wait and see! ... Karena Jericho Andersen, sedang menggiring Andersen's Construction, mendekat ke ambang keruntuhannya," kata Angelo, yang masih tampak geram.
__ADS_1