Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 54


__ADS_3

Olivia yang tiba di hotel di kota xx, pada saat sudah jauh di tengah malam, tidak sempat lagi untuk bertemu dengan Johan, di hotel itu.


Berdasarkan pesan yang dikirimkan oleh Johan kepada Olivia malam tadi, pagi ini, sebelum mereka pergi ke daerah yang menjadi tempat tujuan mereka, Olivia akan sarapan bersama Johan di restoran, yang ada di hotel tempatnya menginap.


Olivia sudah mandi dan bersiap-siap untuk bekerja bersama Johan, sebelum akhirnya dia turun ke lobi hotel, dan bertemu dengan Johan, yang menginap di kamar yang berbeda.


Ketika Olivia tiba di lobi, Johan terlihat sudah menunggu kedatangannya di sana.


Seperti biasanya, CEO perusahaan tempat Olivia bekerja itu, masih tetap bisa terlihat segar. 


Seolah-olah Johan tidak merasa lelah, dengan pekerjaan yang menuntutnya, hingga dia harus melakukan perjalanan, yang hampir tidak ada hentinya.


Dengan senyum yang mengembang lebar di wajah Johan, bersama-sama dengan Olivia, mereka berdua berjalan, untuk saling menghampiri. 


"Morning, Sir!" sapa Olivia, setelah dirinya dan Johan, sudah berdiri berhadap-hadapan di lantai lobi.


"Morning, Olivia!" Johan balas menyapa. "Silahkan!"


"Baik, Sir!" sahut Olivia, menanggapi Johan yang mempersilahkannya, untuk berjalan menuju ke salah satu arah, di lantai dasar hotel itu.


Sambil berjalan bersebelah-sebelahan, Johan membawa Olivia pergi ke restoran, dan mengambil meja kosong, yang akan menjadi tempat mereka berdua menikmati sarapannya.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Johan, terdengar berbasa-basi.


"Tidak ada masalah, Sir," jawab Olivia. "Lalu bagaimana dengan anda, Sir? Apa anda tidak merasa lelah?"


Johan tersenyum lebar, ketika mendengar pertanyaan Olivia, lalu berkata,


"Aku sudah terbiasa."


Ketika salah satu pelayan restoran, datang menghampiri mereka, Johan dan Olivia lalu menyampaikan pesanannya. 


Dan setelah pelayan itu pergi dari situ, Johan lalu berkata,


"Aku belum memberitahumu, tentang alasan aku membawamu ke tempat ini, bukan?"


"Iya, Sir ... Apa yang akan saya kerjakan di kota ini?" tanya Olivia.


"Hari ini, aku akan memberikan berkas yang berisikan data-data, tentang pekerjaan di kota ini kepadamu. Aku ingin agar kamu mempelajarinya, sambil berkeliling denganku di daerah xx....


...Selanjutnya, besok pagi kita akan melakukan pertemuan dengan Walikota, beberapa investor, dan beberapa orang perwakilan dari masyarakat....


... Dengan menjadi asistenku, aku ingin agar kamu yang melakukan presentasi di depan orang-orang itu, seperti yang kamu lakukan di dalam rapat koordinasi waktu itu," kata Johan. 


"Sir ...? Maafkan saya. Tapi jujur saja, saya ragu untuk melakukan presentasi, jika waktu untuk mempelajari berkasnya terlalu singkat," kata Olivia.


"Kamu tidak perlu khawatir! ... Apa yang akan kamu presentasikan, sudah aku buat catatannya....


...Sedangkan tujuan kita berkeliling, karena aku ingin agar kamu bisa menarik perhatian dari masyarakat di daerah itu, dan mencari tahu, apa yang mereka inginkan....


... Dan hasil kesimpulannya nanti, tinggal ditambahkan ke dalam bahan presentasi," sahut Johan.


Berarti memang benar dugaan Olivia.


Olivia yang mengenal sebagian besar masyarakat di daerah xx, akan dimanfaatkan oleh Johan, untuk mempermudah interaksinya dengan masyarakat di situ.


"Pekerjaan di daerah xx, sudah berlangsung selama beberapa minggu terakhir....

__ADS_1


...Tapi entah apa yang jadi masalahnya, hingga tiba-tiba penolakan akan pekerjaan yang sedang berjalan, muncul ke permukaan....


...Bagian Humas di kantor cabang kota ini, kesulitan untuk berinteraksi dengan sebagian masyarakat di daerah xx itu....


... Menurut laporan yang aku terima, mereka bahkan ditolak oleh masyarakat, sebelum sempat berkata apa-apa."


Sembari menikmati kopinya, Johan lagi-lagi berbicara dan menjelaskan duduk persoalannya, hingga dia harus turun tangan langsung, ke dalam pekerjaan di kota itu.


***


Setelah Olivia dan Johan selesai sarapan, tanpa berlama-lama lagi, Olivia dibawa Johan untuk pergi ke daerah xx.


Di dalam perjalanan, Johan lalu menyerahkan berkas laporan yang ada padanya, kepada Olivia.


Dan Olivia segera membaca, dan mempelajarinya di situ.


Ketika mereka mulai memasuki daerah yang menjadi tujuan mereka itu, Johan lalu bertanya,


"Di mana kira-kira, yang bisa menjadi tempat pertama, untukmu berinteraksi dengan penduduk di sini?"


Olivia lalu terpikir akan coffee shop, tempat mendiang mommy-nya bekerja dulu. 


"Kita pergi ke jalan xxx saja, Sir!" kata Olivia. 


Johan lalu berkata kepada supir pribadinya. "Kamu dengar kata Olivia tadi?" 


"Iya, Sir!" jawab supir pribadi Johan, memberikan kepastiannya.


***


Setelah mereka tiba di tempat yang dimaksud oleh Olivia, Johan lalu berkata, 


... Tentu akan lebih menyenangkan, jika kita sarapan di tempat ini, sambil berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sini."


"Maafkan saya, Sir ... Tapi ini juga karena anda, yang tidak memberitahu kepada saya sebelumnya, akan apa yang menjadi tujuan anda, yang mengajak saya ke kota ini," kata Olivia.


"Pffftt ...! Benar katamu. Ini juga adalah kesalahanku," sahut Johan, sambil tertawa tertahan, dan tetap tersenyum.


Sebenarnya, Olivia merasa menyesal karena telah mengutarakan, apa yang terlintas di benaknya tadi, yang seolah-olah sedang menyalahkan Johan.


Oleh karena itu, Olivia sempat terpikir untuk meminta maaf kepada Johan.


Tapi ternyata, respon dari Johan justru memperlihatkan, kalau seolah-olah dia tidak keberatan, dengan apa yang dikatakan oleh Olivia. 


Sehingga Olivia jadi terpana melihat reaksi bosnya itu, yang tampaknya terlalu santai, saat dia berinteraksi dengan Olivia.


Dan tanpa Olivia sadari lagi, dia masih menatap Johan, dan tidak bersiap untuk keluar dari dalam mobil. 


"Apa kita akan masuk ke coffee shop itu? Atau kita hanya akan duduk di dalam sini saja?" tanya Johan sambil tersenyum, dan membuyarkan lamunan Olivia.


"Ugh! ... Maafkan saya, Sir," sahut Olivia buru-buru, lalu segera beranjak keluar dari dalam mobil.


"Pffftt...!" Lagi-lagi, Johan terdengar tertawa tertahan, sambil menyusul Olivia.


***


Pilihan Olivia untuk berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu, dengan mendatangi coffee shop, kelihatannya adalah sebuah pilihan yang tepat.

__ADS_1


Karena sebagian besar dari orang-orang yang menolak, atas pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Andersen's Construction, justru bisa ditemui oleh Olivia di tempat itu.


Tanpa perlu Olivia dan Johan yang berkeliling, satu persatu warga yang ingin ditemui oleh Olivia dan Johan, berdatangan ke coffee shop itu. 


Mereka yang datang, karena mendapatkan informasi dari mulut ke mulut, bahwa Olivia dan CEO dari Andersen's Construction, sedang berada di tempat itu, dan akan menyerap aspirasi mereka, sebagai masyarakat di daerah itu.


Mungkin karena Olivia yang masih dikenali oleh sebagian besar orang-orang di situ, perbincangan di antara mereka, terasa biasa saja tanpa ada tekanan, bagi Olivia.


Dan Olivia bukan hanya sekedar mendengarkan, apa yang dikatakan oleh penduduk di daerah itu saja.


Olivia juga menuliskan semua poin-poin penting, yang menjadi keinginan dari orang-orang itu, hingga berbentuk sebuah catatan, agar tidak ada satupun yang akan terlewatkan.


Di sela-sela pertemuan Olivia dan Johan, dengan para warga di daerah itu, sesekali, Olivia memperhatikan cara Johan berinteraksi, dengan orang-orang yang menemuinya.


Rasa kagum Olivia, akan kemampuan Johan untuk mengambil hati para warga, agar mau bicara terbuka kepadanya, hingga bisa membuat Olivia senyum-senyum sendiri. 


Dan kelihatannya, Johan menyadari kalau Olivia sering menatapnya sambil tersenyum. Karena Johan tiba-tiba berbisik kepada Olivia, yang duduk di sampingnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu hanya membuatku merasa gugup."


Johan lalu mengambil tangan Olivia yang ada di bawah meja, kemudian menggenggamnya dengan erat dan sedikit meremasnya.


Olivia tidak melarang Johan yang memegang tangannya, karena Olivia tahu kesalahannya, yang hanya membuat Johan merasa gemas kepadanya.


Untuk beberapa saat lamanya, Johan berbincang-bincang dengan para warga, sambil tetap memegang tangan Olivia.


Sampai pada waktunya, yang dianggap bahwa perbincangan mereka sudah cukup, barulah Johan melepaskan tangan Olivia, dan berjabat tangan secara berganti-gantian, dengan orang-orang yang ada di sana.


Akan tetapi, walaupun para warga sudah pergi meninggalkan mereka, Olivia dan Johan masih bertahan di coffee shop itu.


Johan bahkan memesan minuman dan makanan ringan, untuk dinikmati olehnya dan Olivia.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, tadi? Aku hampir-hampir tidak bisa bicara karena mu," ujar Johan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Kamu bisa membuatku salah mengira, kalau seolah-olah kamu menyukaiku," lanjut Johan.


"Saya memang menyukai anda, Sir! ... Apa anda tidak tahu?" sahut Olivia bercanda, sambil tersenyum dan hampir tertawa.


"Don't tease me...!" ujar Johan yang tampak gemas, hingga dia menggigit bibirnya sendiri.


"Pffftt...!" Olivia akhirnya tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangan, dan Johan juga terlihat ikut tertawa.


"Anda memang pantas menjadi CEO. Anda pintar berkomunikasi dengan orang lain," kata Olivia, menjelaskan apa yang membuatnya mengagumi Johan.


"Hmm ... Apa hanya itu saja yang menarik dariku?" tanya Johan.


Dari raut wajah, hingga nada suara Johan, tampak seolah-olah dia sedang menggoda Olivia, dan mengajak Olivia bercanda dengannya.


"Tentu saja tidak, Sir! ... Anda tampan, pintar, sukses, hmm ... Apalagi ya...?" ujar Olivia, yang berbicara sambil menghitung jari-jarinya seperti anak kecil, ikut bercanda dengan bosnya itu.


"Kamu berani mengejekku?" Johan terlihat berpura-pura marah kepada Olivia, lalu tertawa lepas bersama-sama dengan Olivia. 


Setelah Johan mengatur nafasnya, yang tidak beraturan karena tertawa tadi, hingga dia terlihat kembali tenang, Johan lalu berkata,


"Keputusanku tidak salah, untuk membawamu ke sini. Karena adanya kamu, aku akhirnya bisa berbicara secara langsung dengan mereka....


... Dan kelihatannya, pekerjaan di tempat ini akan kembali berjalan dengan lancar. Terima kasih, Olivia!" 

__ADS_1


"Sama-sama, Sir ... Tapi, anda sebenarnya tidak perlu berterima kasih kepada saya. Semua ini juga karena anda, yang bisa berkomunikasi dengan baik dengan mereka," sahut Olivia.


"Hmm ... Kita masih memiliki banyak sisa waktu. Apa kamu mau jalan-jalan?" tanya Johan. 


__ADS_2