
Sembari mereka berbincang-bincang di tempat tidur gantung, yang ada di bagian belakang rumah itu, sesekali, Olivia masih mengunyah keripik kentangnya.
Dan menurut Olivia, Johan tampaknya memperhatikan, apa yang sedang dimakan oleh Olivia itu.
"Apa anda mau mencobanya?" Olivia lalu menyodorkan keripik kentang, kepada Johan.
Tanpa bertanya apa cita rasa dari keripik kentang itu, Johan segera mengambilnya sedikit dan memakannya.
Dan di saat itu juga, Johan tampak terbatuk-batuk, dan kelihatannya dia seperti akan menangis.
"Anda tidak tahan pedas?" tanya Olivia, kebingungan.
Johan tidak menjawab pertanyaan Olivia, melainkan tetap terbatuk-batuk, hingga tampak seolah-olah dia akan kesulitan untuk bernafas.
Melihat Johan yang tampak mengkhawatirkan, dengan rasa panik, Olivia lalu meloncat turun dari tempat tidur gantung, kemudian berlari masuk ke dalam rumah, berniat mengambilkan air minum untuk Johan.
Ketika Olivia kembali ke bagian belakang rumah, Johan yang berdiri dengan sedikit membungkuk, terlihat masih terbatuk-batuk, walaupun sudah tidak separah pada awalnya tadi.
"Ini, Sir! ... Diminum dulu!" kata Olivia, sambil menyodorkan satu botol air mineral.
Setelah mengambil botol air mineral yang sudah terbuka dari tangan Olivia, Johan tampak terburu-buru meminumnya, hingga Olivia lanjut berkata,
"Perlahan-lahan, Sir! ... Anda nanti bisa tersedak!"
Dan benar saja dugaan Olivia.
Lagi-lagi, Johan terbatuk-batuk, karena air yang terlalu terburu-buru diminumnya, hingga Olivia akhirnya menepuk-nepuk punggung Johan, agar Johan bisa cepat kembali bernafas dengan normal.
Untuk beberapa saat kemudian, Johan akhirnya sudah bisa terlihat lebih baik, dan kembali bernafas seperti biasa.
Namun saat ini, Olivia sudah tidak tahu lagi, apakah dia akan merasa kasihan, atau justru ingin menertawakan Johan.
Karena baik wajah, telinga, hingga ke leher Johan yang tampak merah padam, begitu juga dengan mata Johan yang tampak merah berair, membuat Olivia harus berusaha keras, agar tidak tertawa karena melihatnya.
"Bagaimana kamu bisa memakan itu dengan tenang?" tanya Johan, yang tampak kesal.
"Pffftt...! Bukan salah saya, kalau anda kepedasan. Anda sendiri yang tidak bertanya lebih dulu ... Hahaha!" ujar Olivia, yang akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Johan kelihatannya sudah tidak tahan lagi, karena Olivia yang sering menertawakannya sejak pagi tadi, hingga Johan yang tampak sangat gemas, kemudian mencubit pipi Olivia, sambil berkata,
"I already told you! ... Aku akan membalasmu!"
"Auch! ... That's hurt!" ujar Olivia, meringis kesakitan, namun dia masih bisa tetap tertawa karenanya.
Ketika Olivia berhenti tertawa, Johan tampak sedang menatapnya lekat-lekat, lalu dengan salah satu tangannya yang masih memegang pipi Olivia, ibu jari tangan Johan kemudian mengusap bagian bawah mata Olivia, dengan perlahan.
Untuk beberapa detik selanjutnya, Olivia tidak tahu lagi, akan siapa yang lebih dulu mendekat kepada siapa.
Walaupun matanya saat itu segera dipejamkannya, namun Olivia benar-benar sadar, kalau dia sekarang ini sedang berciuman dengan Johan, dan Olivia tidak menolaknya, melainkan ikut menikmatinya.
__ADS_1
Badan Olivia gemetar hebat, dan seakan-akan kehilangan kekuatannya, dan bahkan rasanya seolah-olah dia akan terjatuh.
Namun Johan mungkin menyadarinya, hingga dia dengan sigap menangkap, dan memeluk Olivia dengan erat, tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Olivia.
Akan tetapi, ketika Olivia membuka matanya kembali, dan melihat wajah Johan, Olivia merasa seolah-olah di saat ini, dia sedang berciuman dengan Jericho.
Oh, gosh!
Seketika itu juga Olivia merasa gelisah, dan walaupun tidak kasar, dan hanya perlahan saja namun pasti, Olivia mendorong Johan menjauh, hingga berhenti menciumnya.
Johan memang berhenti mencium Olivia, tapi dia tetap memeluk Olivia dengan erat, kemudian menyandarkan wajahnya di salah satu sisi pundak Olivia.
Saat ini Olivia merasa, kalau dia mungkin akan menjadi gila karena kebingungan.
Bagaimana tidak?
Selain sifat mereka yang sedikit berbeda, karena Johan yang lebih pemalu, dan Jericho yang lebih percaya diri, sisanya, baik garis wajah, bentuk tubuh, maupun gerak-gerik antara Johan dan Jericho, dirasa Olivia sangat mirip.
Terlebih lagi, mata Jericho dan Johan yang berwarna sama, biru terang seperti langit yang cerah di siang hari, dan memiliki bentuk yang benar-benar serupa.
Dan tampaknya, hal itulah yang menjadi penyebabnya, hingga Olivia merasa kebingungan dibuatnya.
Olivia bisa merasa seperti dia telah menyakiti Johan, saat dia sedang bersama Jericho.
Dan begitu juga sebaliknya, di mana Olivia bisa merasa seolah-olah dia sedang bersama Jericho, sekarang ini.
Saat ini Olivia memang menjadi semakin yakin, kalau dia sudah tidak mencintai Angelo lagi.
Karena rencana Olivia hari itu, bisa dibilang telah gagal total, saat Angelo bertemu dengan Jericho, dan tentu Olivia akan kesulitan mencari cara baru, agar bisa menghentikan obsesi Angelo kepadanya.
Masih dengan wajahnya yang tersandar di salah satu sisi bahu Olivia, tiba-tiba Johan lalu berkata,
"Am I still dreaming? ... Aku harap kamu tidak akan marah kepadaku. Maafkan aku, yang tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."
Bagaimana Olivia bisa marah kepada Johan?
Sedangkan sekarang ini, Olivia justru merasa sangat malu, dan menyesali dirinya sendiri.
Olivia membenci dirinya sendiri, yang telah bersikap egois, dan tidak memikirkan bagaimana akibat yang bisa ditimbulkannya, bagi Johan ataupun Jericho, nantinya.
"Miss! ... Grandpa!"
Suara dari Jonah yang memanggil Olivia dan Johan, menarik perhatian mereka, hingga Johan dengan terburu-buru melepaskan pelukannya dari Olivia, dan secara bersamaan, melihat ke arah pintu belakang rumah.
Jonah yang terlihat masih lemas, berjalan pelan menghampiri Olivia dan Johan, lalu lanjut berkata,
"Kapan kita akan pergi menonton pertunjukan sirkus?"
Johan lalu menggendongnya, dan mendudukkannya di atas tempat tidur gantung.
__ADS_1
"Sebentar lagi," jawab Johan.
Seolah-olah tidak ada yang terjadi, Johan tampak bertingkah biasa saja, dan justru terlihat tenang.
Sembari membuat tempat tidur gantung yang diduduki oleh Jonah itu berayun pelan, Johan kemudian mendekat kepada Olivia, lalu berbisik-bisik, dengan berkata,
"Kalau kamu merasa bahwa kejadian tadi adalah sebuah kesalahan, maka aku benar-benar berharap agar kamu memaafkanku, dan aku juga berharap agar kamu mau melupakannya saja....
... Aku akan berusaha untuk menebusnya, dengan melakukan apa saja yang kamu mau, asalkan kamu tidak menjauhiku, atau mengubah sikapmu saat bersamaku."
"Saya tidak menyesali yang sudah terjadi ... Saya hanya...." Olivia ragu-ragu mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.
"Hmm ... Apa kamu masih khawatir akan ancaman Angelo? Apa itu yang kamu pikirkan?" tanya Johan.
Olivia mengangguk pelan.
"Pffftt...!" Johan yang tertawa, justru hanya membuat Olivia keheranan melihatnya.
"Apa yang lucu, Sir?" tanya Olivia.
"Aku tadinya merasa takut, kalau kamu marah kepadaku, karena aku yang—" Johan menghentikan perkataannya secara tiba-tiba.
Yang pada awalnya Olivia bingung apa yang ingin dikatakan oleh Johan, tapi ketika Olivia melihat Johan yang menggerakkan matanya, seolah-olah sedang memberi tanda, kalau ada Jonah di situ, akhirnya Olivia mengerti apa yang selanjutnya ingin dikatakan oleh Johan.
"... Sedangkan Angelo ... Pasti akan ada cara untuk mengatasinya. Jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya," lanjut Johan, sambil tersenyum lebar.
"Apa anda sesenang itu?" tanya Olivia.
"Tentu saja! ... Karena kalau kamu tidak menyesalinya, berarti kesempatanku sekarang ini, jalannya semakin terbuka," jawab Johan.
"Geez, Sir!" ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Grandpa! ... Aku belum memberitahumu. Baru saja daddy meneleponku. Katanya, daddy tidak bisa menghubungi Grandpa," kata Jonah, tiba-tiba.
Johan lalu melihat ke arah Olivia, dan berkata, "Ponselku tertinggal di kamar."
"Apa lagi yang dikatakan daddy?" tanya Johan, kepada Jonah.
"Hmm ... Daddy hanya bertanya, apa saja yang aku lakukan," jawab Jonah.
"Lalu, apa yang Jonah katakan?" tanya Johan lagi.
"Aku lelah karena jalan-jalan, tapi aku sudah tidur siang. Dan Grandpa nanti akan membawaku dan Miss Olivia, pergi menonton pertunjukan sirkus bersama-sama," jawab Jonah.
Seketika itu juga, Johan tampak memukul dahinya sendiri, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Olivia, walaupun terkejut dengan perkataan Jonah, namun dia tidak bisa marah, karena menurut Olivia, begitulah anak-anak, yang tentu saja akan bicara apa adanya.
"I'm so sorry, Olivia," ujar Johan.
__ADS_1
"It's okay, Sir," sahut Olivia sambil tersenyum, lalu menggendong Jonah, kemudian lanjut berkata,
"Ayo kita pergi mandi! ... Jonah pasti sudah tidak sabar, untuk melihat sirkus, bukan?"