Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 69


__ADS_3

Sebelum Jericho menyentuhnya lagi, Olivia yang tersadar, segera menghentikan gerakan dari Jericho itu.


"Please, Sir! ... Apa anda tahu, akan apa yang sedang anda lakukan?" ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, tentu saja!" sahut Jericho.


"Oh, gosh!" ujar Olivia, frustrasi.


"Olivia! Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku. Aku bisa merasakan kalau kamu sebenarnya menyukaiku, walaupun mungkin belum sampai sebesar itu, hingga menginginkanku untuk menjadi kekasihmu....


... Tapi aku akan memastikan, kalau sejak saat ini, kamu hanya akan melihatku. Dan tidak akan sempat, untuk mempertimbangkan laki-laki lain. Sehingga akhirnya, kamu akan benar-benar jatuh cinta kepadaku," kata Jericho, yang terlihat yakin.


Olivia terbelalak. 


"Geez, Sir! ... Bagaimana anda bisa berpikir seperti itu?" tanya Olivia, dengan rasa tidak percaya, dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Aku yakin kalau kamu pasti merasa kesal, karena isi pesan-pesanku waktu itu, bukan? Karena kamu mengira aku mengirimkannya kepadamu, itu hanya karena Hansen....


... Tapi coba kamu bayangkan, bagaimana jika saat itu aku langsung saja mengatakan, kalau aku menyukaimu?" ujar Jericho.


Memang ada benarnya kata Jericho itu, karena Olivia merasa sangat terganggu saat membaca pesan-pesan dari Jericho waktu itu, karena Olivia tidak mengerti arahnya ke mana.


Tapi ... Apakah mungkin, jika selama ini, Olivia memang tanpa sadar telah menyukai Jericho?


Kepala Olivia rasanya akan meletus saat ini, karena saking banyaknya hal yang harus dia pikirkan sekaligus.


"Olivia! ... Kamu tidak bisa mengelak. Aku tahu kalau kamu pasti menyukai—" 


Hanya mendengarkan sebagiannya saja, Olivia sudah tahu akan apa yang ingin dikatakan oleh Jericho, hingga Olivia menyela perkataan Jericho, dengan berkata, 


"Please, Sir...! Apa anda sadar, akan apa yang sedang anda bicarakan sekarang ini?"


"Tentu saja!" sahut Jericho.


"Lalu, apa anda lupa dengan adanya Angelo? Dan apa yang mungkin bisa dilakukannya? Apa anda tidak merasa khawatir? Tolong anda hentikan—" 


Kali ini, Olivia yang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Jericho lebih dulu menyelanya, dengan berkata,


"Olivia! ... Who do you think I am? Apa kamu mengira, kalau aku bisa dengan mudahnya diintimidasi oleh Angelo?"


"Sir! ... Sejujurnya, saya tidak sanggup untuk memikirkan tentang hal romantis sekarang ini. Apalagi dengan resiko, yang memungkinkan adanya orang yang akan terluka karenanya....


... Oleh karena itu, saya tidak mau melibatkan siapa-siapa, di antara permasalahan saya dengan Angelo. Saya sangat sadar, kalau saya yang harus mengatasi Angelo, sendirian," kata Olivia.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya rasa, pembicaraan kita sudah lebih dari cukup. Saya harus pulang sekarang ... Permisi!" lanjut Olivia.


Olivia lalu berdiri dari tempat duduknya, dan berniat untuk segera pulang ke apartemennya. 


Namun Jericho lalu tampak buru-buru menahan Olivia, sambil melontarkan serangkaian pertanyaan kepada Olivia, dengan berkata, 


"Apa yang rencananya akan kamu lakukan, untuk mengatasi keinginan Angelo? Apa kamu akan mengorbankan dirimu? Apa kamu akan kembali kepadanya, walaupun kamu tidak menginginkannya lagi?"


"Saya memang belum tahu, akan apa yang harus saya lakukan sekarang ini. Tapi saya rasa, anda tidak perlu memikirkannya. Apalagi sampai merasa terbeban, karenanya....

__ADS_1


... Saya cukup menyesali, karena telah memberitahu kepada anda, tentang semua hal tadi ... Maafkan saya, Sir!" sahut Olivia, lalu berbalik, dan berjalan menuju ke pintu.


Dengan cepat, sebelum Olivia sempat membuka pintu, Jericho telah memeluknya dari belakang, dan menahan gerakan Olivia.


"You've got to be kidding! ... Apa kamu mengira, kalau aku akan membiarkanmu untuk mengorbankan dirimu sendiri, demi memuaskan keinginan Angelo?" ujar Jericho.


"Please, Sir ... Just leave me alone! I don't want anyone to get hurt, because of me," kata Olivia, sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Jericho darinya.


"Olivia! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Karena aku tidak takut, untuk berhadapan dengan Angelo. Aku justru takut, jika aku harus kehilanganmu," kata Jericho.


"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar. 


"Saya akan segera menyerahkan surat pengunduran diri saya, besok. Jadi saya rasa, sebaiknya anda tidak perlu berharap banyak dari saya," kata Olivia.


"Don't you dare! ... You hear me? Kamu akan berhenti bekerja? Apa kamu sedang berencana, untuk pergi menjauh dariku? Kamu mau pergi ke mana? 


... Olivia! Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan, bagaimana perasaanku? Lalu, bagaimana dengan Jonah nantinya? Bagaimana jika dia ingin bertemu denganmu?" 


Seolah-olah dia bisa membaca semua isi pikiran Olivia, hingga Jericho tampaknya memang tidak akan menyerah begitu saja. 


Jericho bahkan membawa-bawa Jonah sebagai alasannya, agar Olivia tidak melakukan tindakan, yang mungkin dianggap Jericho sebagai hal yang ceroboh.


Seketika itu juga, Olivia merasa kalau dirinya benar-benar bodoh, karena dia yang telah kelepasan bicara, hingga memberitahu salah satu bagian dari rencananya, untuk pergi menjauh, dengan berhenti bekerja di perusahaan Jericho dan Johan itu.


Johan ... Tiba-tiba saja, dada Olivia terasa sakit ketika dia teringat akan Johan, seolah-olah dia telah melakukan kesalahan kepada Johan sekarang ini.


Oh, gosh! 


Apakah Olivia memang telah jatuh hati kepada Johan? Sehingga Olivia bisa merasa seperti telah mengkhianatinya?


Olivia tetap harus memusatkan pikirannya, untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Angelo, walaupun Olivia harus melakukan segala cara, yang sekiranya bisa dia lakukan.


"Sir! ... Saya harus pulang. Sekarang malam sudah mulai larut. Tentu tidak pantas, jika saya masih tetap berada di sini," kata Olivia.


Jericho tidak segera menanggapi perkataan Olivia, dan justru terasa mempererat pelukannya, sambil menyandarkan wajahnya, di salah satu sisi pundak Olivia.


"Sir...?" ujar Olivia lagi.


"Fine! ... Tapi kamu harus berjanji, kalau aku tetap bisa melihatmu di kantor. Kamu tidak bisa berhenti bekerja begitu saja....


...Kalau kamu coba-coba untuk menghilang, maka aku akan menantang Angelo lebih dulu. Kalau perlu, aku bahkan akan memberitahu Hansen....


... Agar kamu bisa melihatnya sendiri, kalau tidak ada satupun dari kami yang takut untuk terluka," kata Jericho, seolah-olah sedang mengatakan ancaman terakhir, yang bisa terpikirkan olehnya.


"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar.


"Okay, Sir! ... Tapi aku harus pulang. Jadi, apa anda bisa melepaskan saya sekarang?" ujar Olivia.


"Apa kamu tidak mau menginap di sini saja? Aku khawatir, kalau-kalau Angelo telah menemukan tempat tinggalmu," kata Jericho.


"Sir! ... Anda pasti sedang bercanda! ... Walaupun Angelo menemukan tempat tinggal saya, tapi saya rasa, dia tidak akan pernah menyakiti saya," sahut Olivia.


"Justru menurut saya, akan lebih baik kalau saya pulang sendiri. Agar jika Angelo memang memata-matai saya, dia tidak akan menaruh perhatiannya kepada anda," lanjut Olivia.

__ADS_1


"Aku tetap akan mengantarmu. Aku tidak mau kamu menggunakan taksi, saat sudah malam seperti ini." 


Seolah-olah tidak akan terima, jika Olivia akan mencoba untuk menolaknya, Jericho merangkul pinggang Olivia, dan membawanya berjalan bersamanya keluar dari ruangan itu.


"Sir! ... Saya tidak akan lari. Anda bisa membiarkan saya berjalan sendiri," kata Olivia.


"Apa kamu lebih memilih, kalau aku menggendongmu?" tanya Jericho, sambil memasang raut wajah serius.


"Tsk!" Olivia berdecak kesal, namun dia tidak mau berkata apa-apa lagi, dan hanya mengikuti langkah Jericho.


***


Di depan gedung apartemen Olivia, seolah-olah dia tidak mau pergi begitu saja, Jericho masih menahan Olivia sambil berkata,


"Tolong segera hubungi aku, jika kamu merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres."


"Iya, Sir ... Anda bisa pulang sekarang. Hati-hati di jalan. Terima kasih untuk semuanya!" kata Olivia, lalu bersiap untuk masuk ke dalam gedung apartemennya itu.


"Bye, Olivia! ... See you soon!" ujar Jericho.


Olivia menganggukkan kepalanya. "Bye, Sir!"


Setelah Jericho berjalan pergi, Olivia melihat ke sana kemari, ke arah mana saja yang bisa terjangkau oleh penglihatannya.


Olivia benar-benar berharap, agar tidak ada orang yang memata-matai gerak-geriknya, yang bisa menempatkan Jericho di dalam situasi yang berbahaya.


Segera setelah merasa yakin, kalau tidak ada sesuatu di luar sana, Olivia lalu berjalan masuk, hingga ke dalam kamar apartemennya.


Dengan memandangi langit-langit kamarnya, sembari berbaring terlentang di atas tempat tidurnya, Olivia hampir tidak bisa berhenti berpikir.


Kenapa Angelo harus kembali ke negara ini, dan memaksa agar Olivia kembali kepadanya?


Apakah mungkin, jika Olivia bisa membuat Angelo mengerti, kalau Olivia tidak mau menjadi kekasihnya lagi?


Tapi ... Apakah memang itu, yang sebenarnya Olivia inginkan?


Ataukah mungkin, Olivia jadi tidak ingin menjalin hubungannya kembali dengan Angelo, hanya karena terpengaruh dengan adanya Johan?


Johan ... Apa yang sebenarnya Olivia inginkan darinya? Apakah Olivia memang mencintainya? 


Atau hanya karena Johan, yang bisa menjadi tempat bersandar yang nyaman bagi Olivia, hingga Olivia mulai merasa bergantung kepadanya?


Lalu kini, Jericho juga mengutarakan perasaan tertariknya kepada Olivia, dan bahkan mencoba untuk membuat Olivia merasa yakin, kalau Olivia juga menyukainya.


Sampai-sampai, Jericho telah berani mencium Olivia tanpa izin, dan tidak meminta maaf kepada Olivia.


Olivia menutup mulutnya dengan bantal, lalu berteriak sepuasnya. "Aaarrrghh!"


"Hansen, Johan, Jericho, lalu Angelo ... Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku, di saat yang bersamaan?" Olivia menggerutu sendiri.


"Apakah akan ada yang lebih buruk dari ini lagi? Aku hanya ingin bekerja dengan tenang. Lalu mendapatkan seorang kekasih, yang bisa mencintaiku...,


... menjalani hidup yang bahagia bersama-sama denganku selamanya. Lalu kenapa keadaannya justru jadi seperti ini?" 

__ADS_1


Olivia memuaskan rasa frustrasinya, dengan terus menerus menggerutu di dalam kamarnya itu.


__ADS_2