Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 67


__ADS_3

Karena Jonah yang khawatir kalau-kalau Olivia tidak jadi mengantarkannya tidur, Jonah tidak mau siapapun menggendongnya, selain Olivia.


Baik Jericho maupun pengasuhnya, yang akan mengambilnya dari Olivia, ditolak Jonah mentah-mentah.


Dengan demikian, sejak keluar dari mobil Jericho, Olivia lah yang menggendong Jonah, sampai masuk ke dalam kamarnya.


"Miss! ... Kalau Miss tidak sedang sibuk bekerja, apa Miss mau jalan-jalan denganku lagi?" tanya Jonah, setelah Olivia membuatnya berbaring di atas tempat tidurnya.


"Tentu saja!" jawab Olivia, sambil menarik selimut, agar bisa menutup sampai ke bagian dada Jonah.


"Jangan pulang dulu ya, Miss?! Tunggu sampai aku tertidur," kata Jonah.


"Okay! ... Permintaan Jonah, adalah perintah bagiku," sahut Olivia, sambil tersenyum lebar.


"Duduk di sini, Miss!" Jonah menepuk-nepuk, di bagian sampingnya, di atas tempat tidurnya itu.


"Okay!" Olivia menuruti semua permintaan Jonah, dan seolah-olah tidak menganggap keberadaan Jericho di situ, yang berdiri memandangi Olivia dan Jonah.


Olivia mengusap-usap kepala Jonah, sampai anak itu akhirnya memejamkan matanya.


Olivia hampir saja berdiri karena mengira kalau Jonah sudah tertidur, tapi tiba-tiba Jonah membuka matanya lagi, lalu berkata,


"Miss! ... Can you sing a lullaby?" 


"Pffftt...!" Olivia tertawa tertahan, karena merasa telah tertipu oleh Jonah.


Olivia lalu memikirkan lagu pengantar tidur, yang kira-kira masih diingatnya. "Hmm ... Tunggu sebentar!"


Ketika Olivia teringat akan lagu The Itsy Bitsy Spider, dia kemudian mulai menyanyikannya dengan suaranya yang setengah berbisik.


"The itsy bitsy spider, climbed up the waterspout ... Down came the rain, and washed the spider out...."


Setelah lagu itu usai dinyanyikan oleh Olivia, Jonah kelihatannya benar-benar sudah tertidur.


Perlahan-lahan, Olivia beranjak turun dari atas tempat tidur Jonah, dan Jericho segera mematikan lampu meja, kemudian berjalan keluar dari kamar Jonah bersama Olivia.


"Suaramu bagus," celetuk Jericho, setelah Olivia dan dirinya sudah di luar, dan pintu kamar Jonah sudah ditutup.


"Please! ... Don't tease me, Sir!" sahut Olivia, ketus.


"Pffftt...! Aku hanya ingin memujimu, tapi kelihatannya kamu tidak suka pujian," kata Jericho.


Olivia melirik sebentar ke arah Jericho, lalu kembali melihat lurus ke depan, sambil terus berjalan.


Ketika Olivia dan Jericho akan menuruni anak tangga, Jericho lalu berkata,


"Apa kamu mau menikmati secangkir teh bersamaku, sebelum aku mengantarkanmu pulang?" 


"Terserah anda saja, Sir," jawab Olivia.


Jericho kemudian membawa Olivia, untuk pergi bersamanya ke dalam ruang kerjanya.


Dan sambil menunggu pekerja di rumah Jericho itu mengantarkan tehnya, Olivia diizinkan oleh Jericho, untuk melihat-lihat di dalam ruangan itu.


Beberapa lemari tinggi yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu, penuh terisi dengan buku-buku, hingga tempat itu terlihat mirip-mirip dengan perpustakaan.

__ADS_1


Melihat dari judul-judulnya, sebagian dari buku-buku itu, sangat menarik perhatian Olivia, karena buku-buku itu termasuk dalam kategori langka, dan tentu saja akan memiliki haraga yang sangat mahal.


Sehingga walaupun Olivia sangat tertarik untuk melihat isi bukunya, namun Olivia merasa ragu-ragu untuk menyentuhnya.


Secara tiba-tiba, tangan Jericho menjulur dari belakang, lalu melewati bagian samping wajah Olivia, hingga membuat Olivia yang merasa terkejut, buru-buru berbalik.


Karena gerakan Olivia yang seperti orang yang sedang panik, sehingga tanpa sengaja wajah Olivia tersandar di dada Jericho.


Olivia pun bergerak mundur, namun karena sela kosong di situ hanya sedikit, dengan selangkahnya saja, Olivia sudah tersandar di lemari buku.


"M—maafkan saya, Sir," kata Olivia gelagapan, sambil berusaha mengatasi degup jantungnya, yang kini iramanya terasa tidak beraturan.


Dengan tangannya yang tetap menjulur, di bagian samping wajah Olivia, Jericho tampak tersenyum lebar, lalu berkata,


"Tidak apa-apa ... Kelihatannya, aku hanya membuatmu terkejut."


Jericho lalu menyodorkan buku yang tadinya sempat dipandangi oleh Olivia.


Dengan demikian, Olivia lalu terpikir, kalau gerakan tiba-tiba dari Jericho itu, berarti hanya karena dia yang ingin mengambilkan buku itu untuk Olivia.


Walaupun Olivia sudah tahu, akan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Jericho itu, namun dada Olivia masih tetap berdebar-debar.


Sehingga Olivia sempat terpikir jika suara degupan jantungnya, mungkin saja bisa terdengar oleh Jericho, di dalam ruangan yang hening itu.


"Kamu bisa mengambilnya, kalau kamu ingin melihatnya," kata Jericho, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


Dengan tetap berdiri di depan Olivia, dan menyodorkan buku yang dipegangnya, ke arah Olivia, Jericho masih mengembangkan senyuman di wajahnya.


"Terima kasih, Sir," kata Olivia, sambil menerima buku itu, lalu mencoba untuk menghindari Jericho.


Tapi sebelum Olivia sempat bergerak, Jericho sudah menahannya, dengan memegang kedua sisi bahu Olivia, dan mengarahkannya agar berbalik, dan menghadap ke arah lemari buku itu lagi.


Hembusan nafas dari Jericho, bisa terasa di sela-sela rambut Olivia, hingga menyentuh kulit kepalanya.


Oleh karena itu, Olivia menyadari kalau Jericho berarti sedang berdiri dengan jarak yang sangat dekat di belakangnya, dan bahkan hampir tersandar dari bagian belakang Olivia.


Jantung Olivia yang memompa darahnya terlalu cepat, membuat wajah Olivia terasa panas, hingga dia tidak bisa berkonsentrasi, untuk melihat judul buku-buku yang ada di depannya itu lagi.


"Buku yang ini adalah favoritku. Aku sudah membacanya berkali-kali."


Sembari Jericho memberitahu buku kesukaannya, dan menunjuknya dengan tangannya yang dijulurkan ke lemari buku, hingga menyentuh buku yang dia maksud, Jericho tampaknya bergerak maju.


Sehingga akhirnya, Olivia bisa merasa kalau badan Jericho sudah bersentuhan, dengan bagian belakang dari badan Olivia. 


Untung saja, walaupun hanya berlangsung dalam waktu yang singkat, namun situasi yang menurut Olivia itu terasa sangat canggung, bisa berakhir.


Karena di saat itu juga, terdengar suara seseorang yang tampaknya memasuki ruang kerja Jericho itu, kemudian memberitahu Jericho, kalau minuman mereka sudah siap.


Oleh karena kedatangan pekerja di rumah Jericho itu, Jericho lalu menjauh dari Olivia, sambil berkata,


"Kamu bisa melihat buku yang kamu inginkan itu nanti. Kita minum tehnya saja dulu."


Akhirnya, Olivia bisa kembali bernafas lega. 


Sambil tetap memegang buku yang diberikan oleh Jericho tadi, Olivia kemudian menyusul Jericho, untuk duduk menikmati teh dan croissant, yang sudah tersaji di atas meja.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin membacanya, kamu bisa membawa buku itu bersamamu," kata Jericho. "Kamu juga bisa membawa buku yang lain."


Setelah menyesap sedikit teh dari cangkirnya, Olivia kemudian berkata,


"Saya tahu kalau buku ini adalah buku langka. Rasanya, saya tidak berani untuk membawanya. Saya hanya akan melihat—membaca—nya di sini, sebentar."


"Tidak masalah ... Kamu bawa saja! Asalkan kamu tidak lupa, untuk mengembalikannya lagi kepadaku nanti," sahut Jericho, 


Jericho tampak seperti sedang menahan diri agar tidak tertawa, seolah-olah dia hanya bercanda saja, saat mengatakan hal itu kepada Olivia.


"Sungguh tidak apa-apa, kalau saya meminjamnya?" tanya Olivia, memastikan.


"Tentu saja! ... Kamu bisa membacanya sampai puas. Tidak perlu terburu-buru untuk mengembalikannya," sahut Jericho.


"Oh, iya! ... Terima kasih, karena kamu sudah membuat Jonah bisa terlihat senang malam ini," lanjut Jericho, lalu menyesap sedikit tehnya.


"Anda tidak perlu berterima kasih, Sir ... Saya juga merasa senang, saat menghabiskan waktu dengannya," sahut Olivia, jujur.


Ketika Olivia menggigit sedikit croissant miliknya, Jericho tiba-tiba berkata,


"Apa aku boleh tahu? Apakah kamu tadi sore, jadi bertemu dengan Angelo?"


Sembari melumatkan potongan croissant di dalam mulutnya, Olivia berpikir, apakah dia memang bisa menceritakan, tentang pertemuannya dengan Angelo, kepada Jericho.


"Maafkan aku ... Aku tidak berniat mengganggumu, dengan menyinggung tentang Angelo. Aku tahu kalau kamu adalah mantan kekasihnya, karena kamu sudah mengatakannya tadi....


... Tapi aku jadi penasaran, kenapa sampai Angelo ingin bertemu denganmu. Apakah kamu ada hubungannya, dengan kekasihnya yang dicarinya, selama beberapa waktu belakangan ini?" kata Jericho.


"Hmm ... Apa yang anda ketahui tentang Angelo, Sir?" tanya Olivia.


"Angelo itu juniorku di universitas. Ditambah lagi, karena perusahaan keluarga Angelo adalah salah satu investor, jadi aku rasa, aku cukup mengenalnya," kata Jericho. 


"Bukan itu maksud saya, Sir ... Tapi, tentang dia yang mencari seseorang," kata Olivia, menjelaskan pertanyaan tadi.


"Ooh...!" Jericho terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dari percakapan dalam grup alumni yang seangkatan denganku, ada yang mengatakan kalau Angelo kembali ke negara ini, sejak beberapa minggu yang lalu....


...Kemudian, yang membuat percakapan itu jadi menarik perhatian dari teman-temanku, adalah karena Angelo yang sedang mencari kekasihnya, sejak dia tiba di negara ini....


... Menurut salah satu temanku, Angelo seperti terobsesi dengan kekasihnya itu. Sampai-sampai, dia sempat melabrak dekan. Karena dekan yang tidak mau memberikan informasi tentang kekasihnya itu," kata Jericho.


Seakan-akan dia baru saja terjatuh dari ketinggian, Olivia merasa kalau sekujur tubuhnya seperti telah kehilangan kekuatannya, setelah mendengar perkataan dari Jericho. 


"Itu sebabnya hingga aku bertanya. Karena aku khawatir, kalau-kalau Angelo mengasarimu, hanya karena obsesinya untuk kekasihnya itu," kata Jericho, lagi.


"Sir...! Saya...." Olivia ingin berterus terang kepada Jericho, tapi masih dihalangi dengan rasa ragu, hingga dia menahan perkataannya.


Setelah beberapa saat, namun Olivia hanya terdiam, Jericho tampaknya tidak sabaran, hingga Jericho kemudian berkata,


"Ada apa? Katakan saja! Kamu tidak perlu menutup-nutupinya. Karena aku justru jadi semakin khawatir, kalau-kalau Angelo mungkin akan menyakitimu."


Olivia masih terdiam untuk beberapa saat kemudian, sambil sesekali melihat ke arah Jericho, lalu melihat ke atas meja, berganti-gantian.


"Olivia! Apa kamu tidak bisa mempercayaiku?" tanya Jericho, sambil menatap Olivia lekat-lekat.

__ADS_1


"Bukan begitu, Sir...." jawab Olivia, pelan.


"Lalu apa? Kamu benar-benar hanya membuatku khawatir," ujar Jericho, yang mulai terlihat gusar.


__ADS_2