
Setelah Olivia selesai mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Angelo, baik Johan maupun Jericho, tampak sangat terkejut mendengarnya.
Sambil menatap Olivia lekat-lekat, Jericho tampak tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
Sehingga tanpa berkata apa-apa lagi, Jericho segera berdiri dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi dari restoran itu.
Olivia hanya bisa meremas tangannya yang terkepal, sekuatnya, sambil berusaha untuk menahan dirinya sendiri, agar bisa merelakan Jericho, dan tidak pergi menyusulnya.
Lain lagi dengan Johan.
Walaupun pada awalnya Johan terlihat terkejut dan kecewa, namun pada akhirnya, beberapa saat setelah Jericho pergi dari situ, Johan justru mengucapkan selamat kepada Olivia.
"Congratulations! ... Berita yang cukup mengejutkan, tapi juga membahagiakan," kata Johan, sambil tersenyum tipis.
"Angelo! ... Aku sangat menyayangi Olivia. Jadi aku sangat berharap, agar kamu bisa senantiasa membuatnya merasa bahagia," lanjut Johan, yang tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.
Johan kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Olivia, yang juga ikut berdiri di situ.
Olivia yang mengerti akan apa maksud dari Johan, kemudian mendekat ke arah Johan dan berpelukan dengannya.
"Maafkan saya, Sir!" ucap Olivia, sambil mempererat pelukannya di badan Johan.
"Olivia, my dear! ... Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku sama sekali tidak menyesal, karena telah jatuh cinta kepadamu....
...Mencintaimu itu adalah sebuah keberuntungan bagiku, yang masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan itu....
... Walaupun di waktu selanjutnya, kamu tidak bisa bersamaku, tapi aku akan tetap mencintaimu, Olivia ... You'll stay in my heart, because you are my miracle!" kata Johan.
Johan terasa mempererat pelukannya, sambil mengusap-usap punggung Olivia, lalu mencium mercu kepala Olivia, kemudian lanjut berkata,
"Aku rasa, anakku juga telah jatuh cinta kepadamu. Jadi, aku tidak bisa berlama-lama di sini, karena aku harus berbicara dengannya, dan memberikannya pengertian....
... Jericho kelihatannya masih tidak mengerti, jika mencintai seseorang, tidaklah berarti dia harus memilikinya. Asalkan orang yang kita cintai bisa berbahagia, maka kita juga bisa ikut merasa bahagia melihatnya."
Johan lalu melepaskan pelukannya dari Olivia, kemudian lanjut berkata,
"Olivia! ... Remember! You should be happy, cause you deserve it! ... Don't think anything else, that could bother you!"
Olivia menganggukkan kepalanya.
Sebelum Johan berlalu pergi dari situ, Johan masih menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Angelo.
"Maafkan saya, Angelo ... Tapi saya harus pergi sekarang," kata Johan.
Angelo yang tadinya juga ikut berdiri saat Olivia dan Johan berdiri, kemudian mengulurkan sebelah tangannya, dan berjabat tangan dengan Johan.
"Sir Johan Andersen ... See you next time!" kata Angelo, sambil tersenyum.
Johan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Bye, Olivia! ... I love you, my dear!" kata Johan berpamitan kepada Olivia, sambil tersenyum.
Olivia membalas perkataan Johan, dengan berkata,
"Bye, Sir! ... See you soon!"
Johan kemudian berjalan pergi dari situ, sementara Olivia masih memandanginya, hingga menghilang di balik pintu restoran, yang tertutup kembali.
Olivia yang sudah tidak berminat untuk menyantap hidangan penutupnya, kemudian mengajak Angelo, agar mereka juga bergegas pergi saja dari restoran itu.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, cuaca mendung di pagi itu, seolah-olah ikut merealisasikan perasaan Olivia yang kacau balau.
Walaupun demikian, Olivia masih menemani Angelo mendatangi konferensi pers, yang diselenggarakan di kantor utama Andersen's.
Olivia tidak ikut berdiri di atas podium, dan hanya menunggu Angelo, sambil duduk bergabung dengan para anggota pers, yang sedang mengambil gambar, saat Johan memberikan pernyataannya.
Selain Johan dan Angelo, di belakang mereka terlihat para manajer, yang berdiri menghadap ke arah pewarta berita, yang mengumpulkan informasi di situ.
Begitu pula Jericho yang terlihat berada di sana, berdiri di antara para manajer, dan tampak menghindari penglihatannya dari Olivia, meskipun tadinya, mereka sempat satu kali beradu pandang.
Angelo tidak berlama-lama di konferensi pers itu, karena Olivia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Hansen, setelah Hansen menghubungi Olivia, sebelum Olivia tertidur, malam tadi.
Hansen yang memberitahu, kalau dia sedang sibuk mengurus daddy-nya di rumah sakit, sampai melupakan ponselnya yang telah kehabisan daya, dan menjadi penyebabnya, hingga Olivia tidak bisa menghubunginya.
Hari ini, sebelum Olivia pergi bersama Angelo ke bandara, untuk persiapan keberangkatan mereka ke luar negeri, Olivia akan menemui Hansen yang berada di rumah sakit, dan dia akan menunggu Olivia di sana.
"Aku sudah memberikan pernyataan dari Sullivan grup kepada pers, jadi kita sudah bisa pergi sekarang," kata Angelo, yang menghampiri Olivia.
Angelo kemudian mengantarkan Olivia ke rumah sakit, untuk bertemu dengan Hansen.
Angelo bahkan memberikan kesempatan bagi Olivia, agar berbicara berdua saja dengan Hansen, sementara Angelo menunggu di lobi rumah sakit.
Setelah berbasa-basi, dengan saling menyapa dan menanyakan kabar daddy Hansen, kemudian, Olivia lalu mengutarakan tujuannya yang sebenarnya, hingga dia ingin bertemu dengan Hansen.
Tanggapan dan reaksi Hansen, setelah Olivia mengatakan semuanya, kurang lebih sama saja seperti Johan malam tadi.
Hansen memang terlihat terkejut dan kecewa, namun dia masih bisa terlihat tenang.
"Hmm ... Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?" tanya Hansen.
"Tapi ... Olivia! Maafkan aku ... Aku bukan berniat untuk membuatmu menjadi bimbang dengan keputusan dan rencanamu, untuk menikah dengan Angelo....
... Hanya saja, kenapa aku bisa merasa kalau kamu menerima lamaran Angelo, bukan karena kamu mencintainya?" ujar Hansen.
"Aku mencintainya, Hansen...." kata Olivia, pelan.
"Olivia! ... Kamu sama sekali tidak pintar berbohong ... Oh, gosh!" ujar Hansen, yang tampak tersentak.
"Pasti ada sesuatu, bukan? Pasti ada yang menjadi alasannya, sampai kamu mau menikah dengannya. Dan itu bukan karena kamu mencintainya. Benar begitu, bukan?" lanjut Hansen.
Hansen seolah-olah bisa membaca pikiran Olivia, walaupun Olivia tidak berkata apa-apa.
"Hansen! Aku men—" Olivia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Hansen lebih dulu menyelanya, dengan berkata,
"Geez, Olivia! ... Kamu tidak bisa berbohong! Semuanya bisa terlihat di wajah dan matamu!"
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu mau bertindak bodoh, tanpa berpikir panjang seperti itu? Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya!
... Aku justru akan menghajarnya kali ini!" Hansen terlihat kesal, saat berbicara dengan Olivia, dan terlihat akan berlalu pergi dari koridor rumah sakit itu, tempat dia berbincang-bincang dengan Olivia.
Olivia yang melihat Hansen yang berjalan dari situ, seolah-olah Hansen akan pergi menemui Angelo, dengan terburu-buru, Olivia kemudian menghadang langkah Hansen, dengan berdiri di depannya dan memeluk Hansen.
"Apa yang akan kamu lakukan? ... Hansen! Tolong jangan membuat kekacauan baru! Aku memang membuat perjanjian dengan Angelo, agar dia bisa membantuku....
...Aku meminta Angelo, untuk menyelesaikan permasalahan Andersen's, karena kesalahan yang aku lakukan....
... Aku tidak mungkin membatalkan janjiku, sementara Angelo melakukan semua yang dia janjikan kepadaku," kata Olivia.
__ADS_1
Tanpa dia sadari lagi, Olivia telah mengatakan semuanya kepada Hansen, karena merasa tertekan atas tingkah laki-laki itu.
"Olivia...!" ujar Hansen, yang tampak tidak tahu harus berkata apa, kemudian membalas pelukan Olivia dengan erat. "Apa Jericho tahu tentang hal ini?"
Olivia hanya terdiam, dan tidak menjawab pertanyaan Hansen, hingga Hansen melepas pelukannya dari Olivia, lalu memegang kedua sisi lengan Olivia, dan menatap Olivia lekat-lekat.
"Oh, gosh!" ujar Hansen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu telah jatuh cinta kepada Jericho."
Olivia terbelalak, karena rasanya Olivia tidak bisa percaya, jika Hansen bisa mengetahui, bahwa Olivia telah jatuh cinta kepada Jericho.
"Hansen! ... Aku harus pergi sekarang. Angelo sudah mempersiapkan penerbangan kami, ke luar negeri," kata Olivia, dan bersiap-siap untuk pergi dari situ.
"Bye, Hansen! ... See you next time!" Tanpa menunggu balasan dari Hansen, Olivia segera berbalik dan berjalan, menuju ke lobi rumah sakit, di mana Angelo sudah menunggunya di sana.
Hansen juga tidak terlihat menyusul Olivia di sana, hingga Olivia bisa merasa, kalau Hansen berarti mau mengerti akan situasi, yang dihadapi oleh Olivia.
***
Di luar gedung rumah sakit, dari yang awalnya hanya mendung dan hujan rintik-rintik, sekarang ini, air hujan tampak berjatuhan dengan lebatnya, dan bahkan bercampur dengan sedikit angin kencang.
Cuaca hari itu, memang seolah-olah sedang mengekspresikan suasana hati Olivia, yang menangis di dalam hatinya, walaupun wajahnya masih bisa tersenyum lebar.
Setibanya Olivia dan Angelo di bandara, hujan yang turun justru menjadi semakin lebat, dan menurut informasi yang bisa mereka dengar di sana, cuaca hari itu bahkan berpotensi untuk terjadi badai.
Dengan demikian, mau tidak mau, penerbangan Olivia dan Angelo menjadi tertunda.
Di dalam sebuah ruangan khusus, Olivia terduduk di sofa bersama Angelo, sambil menunggu sampai cuaca membaik, agar pesawat jet pribadi milik Sullivan grup bisa terbang mengudara.
"Apa kamu menginginkan sesuatu, honey?" tanya Angelo tiba-tiba, setelah hampir kurang lebih tiga puluh menit, mereka menunggu di situ.
"Aku ingin secangkir kopi," ujar Olivia, yang mulai merasa mengantuk, saking lamanya duduk menunggu.
"Okay! ... Just wait!" sahut Angelo, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Olivia yang tadinya sempat mematikan ponselnya, kemudian menyalakannya kembali, dan melihat-lihat tampilannya.
Pemberitahuan bahwa ada beberapa panggilan masuk dari Jericho, bisa dilihat Olivia di sana, dan penanda waktu ketika Jericho menghubunginya, kurang lebih sekitar dua puluh lima menit yang telah lalu.
Olivia sudah bisa menduga, kalau Hansen pasti telah memberitahu Jericho tentang percakapan mereka tadi, namun Olivia tidak terlalu mau memikirkannya.
Hingga tidak berapa lama kemudian, Angelo terlihat kembali, sambil membawa dua cangkir berbahan kertas, berisikan cairan kopi.
Sembari menikmati kopinya, Olivia lanjut melihat-lihat tampilan di layar ponselnya.
"Kelihatannya, kita akan lama menunggu," celetuk Angelo. "Cuaca di luar hanya jadi semakin buruk saja."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Mau tidak mau kita harus menunggu," sahut Olivia.
"Kamu pasti kelelahan. Maafkan aku, honey!" ujar Angelo.
"It's okay! ... Itu bukanlah kesalahanmu," sahut Olivia.
Ketika Olivia akan mengambil cangkir kopinya lagi dari atas meja, tiba-tiba saja kopi itu tumpah dan membasahi celananya.
"Are you okay, honey?" tanya Angelo, yang tampak cemas.
"Calm down! ... Kopinya sudah dingin," sahut Olivia, menenangkan Angelo.
Di saat itu juga, saat Angelo sedang sibuk mengeringkan celana Olivia menggunakan lembaran tissue, ponsel Olivia tiba-tiba berbunyi, dan terlihat kontak Hansen yang membuat panggilan telepon kepada Olivia, di sana.
__ADS_1