Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 46


__ADS_3

Olivia sudah berpakaian rapi, mainan Lego yang akan jadi hadiahnya untuk Jonah, yang sudah dikirimkan oleh pihak toko, juga sudah dia masukkan ke dalam sebuah kantong kertas, setelah dibungkus Olivia dengan kertas kado berwarna-warni.


Jika melihat penunjuk waktu sekarang ini, dan disesuaikan dengan pesan dari Jericho, maka supir pribadi Jonah, mungkin sudah tidak lama lagi akan datang untuk menjemput Olivia.


Olivia yang merasa kalau sudah tidak ada yang perlu dia lakukan di dalam kamarnya, kemudian berjalan keluar dari sana.


Olivia memilih untuk menunggu jemputannya, dengan berada di depan gedung apartemennya saja.


Bertepatan dengan Olivia yang melewati pintu di bagian depan gedung, saat itu juga Olivia melihat wajah seorang laki-laki, yang pernah dilihatnya sebelumnya, sedang menempelkan ponsel di telinganya, dan tampaknya baru selesai bicara di sana.


Ketika laki-laki itu melihat Olivia, dia kemudian menurunkan ponselnya, dan segera menghampiri Olivia.


"Miss Olivia Lane? ... Apa anda masih ingat dengan saya? Saya supir pribadi Jonah. Saya diutus untuk menjemput anda," kata laki-laki itu.


Setelah Olivia melihatnya untuk beberapa saat, Olivia lalu menyadari kalau memang laki-laki itu yang menjadi supir Jonah, ketika Olivia, Jericho, dan Jonah makan bersama di restoran oriental waktu itu.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Olivia belum sempat berkata apa-apa, untuk mengutarakan ingatannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Dan kontak Jericho, yang muncul di tampilan data pemanggil.


"Halo, Sir!" sapa Olivia. 


"Halo, Olivia!" Dari seberang telepon, Jericho balas menyapa Olivia. 


"Supir Jonah sudah berada di depan apartemenmu. Apa kamu sudah bertemu dengannya?" lanjut Jericho.


"Oh! Iya, Sir!" jawab Olivia. "Saya sedang berhadapan dengannya."


"Okay! ... Bye, Olivia! See you soon!" ujar Jericho.


"Bye, Sir!" sahut Olivia, lalu mengakhiri percakapan mereka lewat sambungan telepon itu.


"Maafkan saya ... Saya bukan berniat untuk mencuri dengar pembicaraan anda. Tapi apa mungkin benar, bahwa Sir Andersen lah yang telah menghubungi anda?" ujar laki-laki itu.


"Iya," jawab Olivia.


"Saya tadi memang menghubungi kediaman Andersen's, agar Sir Andersen bisa memberitahu anda, kalau saya sudah siap untuk menjemput anda," kata laki-laki itu, menjelaskan.


"Silahkan Miss Olivia! ... Mobilnya ada di sebelah sana!" lanjut laki-laki itu, sambil bergeser sedikit, memberi jalan bagi Olivia.


"Baik ... Terima kasih!" kata Olivia, lalu berjalan ke mana arah yang di maksud dari supir pribadi Jonah itu.


***


Ini adalah kali pertama bagi Olivia, bisa datang berkunjung ke rumah Jericho.


Dan setibanya di sana, Olivia memang terkagum-kagum akan megahnya rumah Jericho itu.


Bukan karena ukurannya yang menarik perhatian Olivia, walaupun rumah itu yang memang berukuran besar.


Melainkan karena model dari rumah itu, yang sama sekali tidak biasa, jika dibandingkan dengan rumah-rumah keluarga pada umumnya, yang pernah dilihat oleh Olivia.


Tapi, Olivia tentu memakluminya, sebab itu bukanlah hal yang terlalu mengherankan.

__ADS_1


Mengingat Andersen's yang memang bergerak di bidang konstruksi, pasti tidak akan mengalami kesulitan, jika hanya membangun sebuah rumah dengan bentuk arsitekturnya yang seperti itu.


 Di bagian luar, terlihat ada beberapa mobil yang hanya terparkir begitu saja di halaman depan, sehingga Olivia berpikir kalau tamu undangan Jonah yang lain mungkin sudah datang.


Ada satu kendaraan di sana yang menarik perhatian Olivia.


Sebuah limousin berwarna hitam pekat, terparkir di tempat terpisah, dari kendaraan bermotor beroda empat yang lain.


Olivia sempat memandangi kendaraan itu sebentar, sambil berjalan masuk ke dalam rumah Jericho, dengan di antar oleh salah satu dari pekerja di rumah Jericho, yang menjemput Olivia di bagian depan rumah.


Olivia di antar sampai memasuki sebuah ruangan, yang menurut penuturan dari pekerja Jericho yang menemani Olivia, ruangan itu adalah ruang keluarga.


Di dalam sana, memang tidak terlalu banyak orang, namun wajah-wajah yang bisa dilihat oleh Olivia, tidak ada satupun yang dia kenali.


Selain Jonah, yang terlihat sedang bermain dengan beberapa anak-anak, yang tampak sebaya dengannya.


Dan ketika Jonah melihat kedatangan Olivia, Jonah tampak tersenyum lebar, lalu segera berlari dan menghampiri Olivia.


"Halo, Miss Olivia!" sapa Jonah.


Olivia yang sedikit berjongkok, lalu berpelukan dengan Jonah. 


"Halo, Jonah! ... Selamat ulang tahun!" ujar Olivia. "Ini hadiahmu!" 


Setelah melepaskan pelukannya, Olivia lalu menyerahkan kantong kertas, yang dibawanya kepada Jonah.


"Terima kasih, Miss!" ucap Jonah, sambil tersenyum lebar, dan menerima hadiah dari Olivia, lalu segera membuka bungkusannya.


"Ini hadiah yang sangat bagus, Miss!" Jonah tampak antusias, ketika melihat satu paket mainan Lego itu. 


"Tentu saja, Miss! I love it! Thank you!" sahut Jonah bersemangat. "Apa nanti Miss bisa menemaniku bermain ini?" 


"Iya, tentu saja!" jawab Olivia, sambil tersenyum, dan mencubit pipi Jonah, dengan rasa gemas.


"Miss ...! Jangan mencubitku! ... Kiss me!" Jonah memiringkan sedikit kepalanya, dan menunjuk pipinya yang dicubit Olivia tadi, dengan jari telunjuknya yang menepuk-nepuk di bagian wajahnya itu.


Olivia hampir tertawa, lalu segera mencium pipi Jonah, namun Jonah kemudian tampak menyodorkan pipinya, yang sebelahnya lagi.


"Lagi?" tanya Olivia, pura-pura bodoh.


"Iya, Miss! Nanti yang ini akan merasa iri, kalau hanya satunya saja yang mendapatkan ciuman," jawab Jonah, dengan santainya.


Jonah terlihat memasang raut wajah serius, sambil menunjuk sisi wajahnya yang belum dicium oleh Olivia.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, saking gemasnya melihat tingkah Jonah.


"Okay!" sahut Olivia, lalu mencium pipi Jonah, dan sekaligus mendaratkan ciumannya di kening anak laki-laki itu.


"Thank you, Miss!" ucap Jonah, lalu menarik tangan Olivia. "Ayo ikut denganku, Miss! Aku ingin agar teman-temanku bisa berkenalan denganmu, Miss!"


Bersama Jonah, Olivia lalu berkenalan dengan teman-teman Jonah yang ada di situ, lalu bermain bersama mereka, permainan Lego yang jadi hadiah Olivia untuk Jonah tadi.


Untuk beberapa saat kemudian, Olivia keasyikan bermain dengan anak-anak itu, hingga terdengar suara dari seseorang dari bagian belakangnya.


"Olivia! ... Jonah!" 

__ADS_1


Mendengar namanya disebut, Olivia lalu berbalik dan melihat ke arah datangnya suara.


"Grandpa!" Jonah tampak bersemangat ketika melihat Johan yang sudah berdiri di dekat mereka itu.


Olivia buru-buru berdiri, lalu menyapa Johan, yang terlihat sudah menggendong Jonah. "Hai, Sir!"


"Hai, Olivia! ... Apa aku hanya mengganggu kesenangan kalian?" tanya Johan, sambil tersenyum lebar.


"Grandpa! ... Ayo ikut bermain dengan kami!" ujar Jonah, mengajak Johan.


"Okay! ... Tapi tunggu sebentar!" sahut Johan.


"Apa Jonah tidak mau menerima hadiah dari Grandpa?" tanya Johan kepada Jonah.


"Aku mau, grandpa! ... Tapi, apa hadiahnya?" tanya Jonah.


"Ini!" kata Johan, sambil menyodorkan sebuah kantong kertas, yang masih dipegangnya kepada Jonah.


Sembari tetap digendongan Johan, Jonah membuka bungkusan hadiahnya, dan sementara itu, Johan berbasa-basi sejenak dengan Olivia. 


"Apa kamu sudah lama datangnya?" tanya Johan kepada Olivia.


"Baru saja, Sir," sahut Olivia.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Jericho?" tanya Johan lagi.


"Belum ... Karena setibanya saya tadi, saya langsung diajak bermain dengan Jonah dan teman-temannya," jawab Olivia.


"Grandpa! ... Hadiahmu sama seperti hadiah dari Miss Olivia," ujar Jonah menyela percakapan antara Olivia dan Johan.


Olivia melihat kalau Jonah sedang memegang satu paket mainan Lego, yang mirip-mirip saja dengan pemberian Olivia untuk Jonah tadi. 


"Hmm ... Begitu, ya?! Jadi Jonah tidak menyukainya?" tanya Johan kepada Jonah.


"Aku menyukainya, grandpa! ... Kita harus bermain bersama!" jawab Jonah.


"Okay, okay!" sahut Johan, lalu menurunkan Jonah dari gendongannya.


Sekarang ini, Olivia kemudian bermain Lego, bersama Jonah dan Johan, dan begitu juga teman-teman Jonah yang lain, sambil duduk di lantai, yang beralaskan karpet anti benturan, khusus untuk jadi alas bermain anak-anak.


Sesekali, Olivia melirik Johan, yang selalu saja tersenyum lebar, setiap kali mata mereka beradu pandang, hingga Olivia juga ikut tersenyum melihatnya.


Sembari Olivia menyusun permainan Lego, bersama Jonah dan teman-temannya, Johan tampak ikut-ikutan membantu mereka.


"Daddy! Olivia! Jonah!" 


Suara Jericho yang memanggil nama mereka, membuat Olivia, Jonah dan Johan, secara bersamaan melihat ke arah Jericho.


"Apa kalian masih akan bermain? Kita seharusnya makan malam dulu," kata Jericho.


Selain nada suara dan raut wajah Jericho, yang terlihat seolah-olah dia sedang merasa kurang senang, ada satu lagi hal yang tidak biasa, yang ikut menarik perhatian Olivia.


Seorang wanita yang berwajah cantik, sedang berdiri di sebelah Jericho di situ, dan memandangi Olivia dan yang lainnya yang masih duduk di lantai, dengan memasang raut wajah yang sama seperti Jericho.


Raut wajah tidak suka, dan bahkan seolah-olah, Jericho dan wanita itu, akan memarahi Olivia, Jonah, Johan, dan teman-teman Jonah.

__ADS_1


__ADS_2