
Hari sudah sore dan mereka berdua akan pulang. Aleta menghampiri sang ibu di dapur, katanya sih ingin membicarakan sesuatu dengan ibunya. Raven menunggu di depan bersama mama dan adiknya.
"Mama udah bicara sama papa kamu soal harus ada pembantu di rumah kalian" ucap Mala kepada putrinya.
"Mama serius? Terus, gimana? Papa setuju kan?" tanya Aleta dengan mata berbinar.
Mala menggeleng lemah, "Belum tahu, papa kamu bilang masih mau difikirkan dulu. Tapi, kamu tenang aja, mama yakin secepatnya di rumah kalian akan ada pembantu" ujarnya.
"Semoga secepatnya ya, ma. Bukannya Al nggak mampu urus rumah sendiri tapi, biar ada temennya pas Raven nggak di rumah. Di rumah sendirian Al bingung mau ngapain, kalau ada pembantu setidaknya bisa jadi temen ngobrol" ucap Aleta lirih.
Mala menggapai lengan putrinya dan mengusap lengan itu pelan, "Iya sayang, nanti mama tanyakan lagi sama papa. Kalian beneran nggak nginep?"
"Enggak, kan Raven besok masih sekolah dan takutnya besok temennya dateng ke rumah nggak ada orang" ucap Aleta menolak, meski sebenarnya ia mau menginap di rumah lamanya.
"Oh gitu? Kamu bilang aja sama temennya Raven, dia bisa dateng ke sini kapanpun dia mau" ucap Mala.
"Kayanya nggak perlu deh, ma. Soalnya temennya rada gesrek dan kemarin aja Raven cemburu lihat Al sama temennya. Padahal Al cuman bilang kalau Al itu suka sama dia karena lucu doang, nurut sih temennya sama Al, cuman ya gitu deh" jelasnya.
"Mama faham, ya lebih baik kamu jaga perasaan suami kamu. Jangan bikin dia cemburu, kamu tahu sendiri kan Raven itu kalau lagi ada yang mengganggu fikirannya bakalan ngapain? Walaupun kalau dilihat anaknya polos dan kaya nggak mungkin bisa melakukan hal-hal yang membahayakan bagi dirinya dan juga orang lain"
Aleta mengangguk mengiyakan, "Iya ma, Al mengerti."
"Yaudah, kamu susul gih suami kamu."
"Nanti Al main kesini lagi" ucapnya seperti tak rela untuk pergi.
"Pasti dong sayang! Ini juga rumah kamu" Aleta mengangguk pelan.
"Nanti mama pastikan di rumah kalian akan ada pembantu" ucap Mala meyakinkan.
"Siap mama! Al pamit dulu ya"
"Hati-hati. Maaf mama nggak bisa antar kamu sampai depan, karena mama masih ada kerjaan di dapur. Nanti pamit sama mama Zanna, ya?"
"Iya. Kalau gitu Al pergi. Assalamu'alaikum.." ucapnya sebelum pergi.
"Waalaikumsallam.."
.
"Sorry, udah nunggu lama. Tadi gue ngobrol bentar sama mama" ucap Aleta sesampainya di depan.
"Iya nggak apa-apa." jawab Zanna sambil mengangguk.
"Mama, kami pamit dulu ya." pamit Raven dan Zanna mengangguk.
"Vania, nanti kakak dateng ke rumah ini lagi. Dan kamu juga harus ke rumah kakak yang baru ya!" pamit Raven pada adiknya.
"Siap kakak!" seru gadis kecil itu dengan semangat.
"Yaudah, kami berangkat, udah sore nanti sampai rumah takutnya kemalaman." ucap Aleta.
"Iya. Kalian hati-hati. Kalau udah sampai kabarin mama ya?"
"Iya mama"
"Hati-hati, kak!" pekik Vania saat kedua kakaknya masuk mobil.
"Assalamu'alaikum" sallam dari keduanya sebelum Safar menjalankan mobil.
__ADS_1
"Waalaikumsallam."
°°°°°
Perjalanan pulang.
"Tadi gue ngobrol sama mama, katanya mau bantu bujuk papa supaya di rumah ada pembantu. Biar kalau lo lagi sekolah, gue ada temennya" jelas Aleta pada suaminya.
"Benarkah? Aku ikut seneng dengernya, jadi kakak nggak akan bosen kalau di rumah sendirian" ucap Raven senang.
"Saya juga ikut senang, non. Semoga Bapak mengabulkan permintaan non Aleta" sahut Safar yang mendengarkan.
"Aamiin. Makasih Pak"
Tiba-tiba Aleta teringat akan sesuatu. Aleta bicara dalam hati.
"Gini nih kalau abis lulus gue nggak lanjut kuliah, mau kerja juga nggak dibolehin sama papa. Mau kuliah, disuruh nunggu Raven lulus. Bisa ketuaan lama-lama gue, dan bisa-bisa hamidun duluan- eh? Ngomong apa sih gue. Yakali Raven hamilin gue? Nggak-nggak! Tapi,.." Aleta melirik horor ke arah cowok di sampingnya.
"Ada apa, kak? Kok lihatin aku kegitu?" tanya cowok itu yang sadar sedang diperhatikan.
Aleta menggeleng cepat kemudian memalingkan wajahnya menghindari Raven. "Bukan apa-apa"
"Raven polos gitu nggak mungkin bisa hamilin gue. Kecuali dia lagi kumat jadi cowok, yang benar-benar cowok! Mungkin sifat temennya mengalir dalam diri Raven, sifat agak sembrono-nya itu. Buktinya kemarin dia udah berani cium gue, termasuk pagi itu pas di penginapan. Bisa-bisanya dia cium gue sampai segitunya, mungkin efek minumannya masih ada kali ya? Ah gatau deh" batinnya. Memikirkan begitu banyak hal tentang suaminya.
"Kak Aleta lagi mikirin apa sih, serius gitu mukanya?" Raven membatin sambil menatap Aleta dengan kening yang berkerut. Tanda ada banyak pertanyaan dalam otaknya.
"Cepetan dikit ya, Pak, biar cepet sampai di rumah. Udah hampir maghrib nih" titah Aleta pada Safar.
"Siap, non Aleta"
Kemudian Aleta melirik ke orang sebelahnya, "Kenapa lihatin gue kegitu?"
"Kakak emang cantik kok" ucap Raven.
"Udah tahu."
"Mereka berdua memang pasangan yang aneh" batin Safar merasa heran dan tak habis fikir sendiri.
SKIP
"Capek banget gue. Rav, lo buka pintu dulu, nih kuncinya. Nanti gue nusul, gue masih mau rebahan bentar" ucap Aleta saat Raven membuka pintu mobil, akan keluar.
"Baiklah." Raven menerima kunci dari Aleta dan berjalan ke rumah untuk segera membuka pintu.
Ting!
Ponselnya berbunyi, Aleta merogoh ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Fanyyy
'Besok pagi gue ke rumah lo ya?'
Sontak kedua mata Aleta melotot karena terkejut.
"Eh? Gue nggak salah baca kan ini? Fany mau ke rumah gue tanpa gue minta? Eh, kemarin juga gitu. Tapi, kemarin dia ke rumah gue siang, dan ini katanya besok pagi?" gumamnya tak percaya.
"Tumben banget, emang dia nggak kerja? Tahu ah, besok aja gue tanya" ucapnya kemudian membalas pesan dari sahabatnya itu.
'Oke!' -send
__ADS_1
.
Ceklek
"Loh? Kok pintunya nggak dikunci? Perasaan tadi dikunci sama kak Aleta. Aneh" batin Raven bingung, karena pintu rumahnya tak terkunci saat ia dorong.
Raven dikejutkan dengan kemunculan sesosok manusia dari dalam rumah, "Selamat sore menjelang malam, Tuan tampan!"
"Astaghfirullahaladzim! I-ibu siapa? Kenapa bisa masuk?" tanyanya syok sambil memegang dadanya.
"Kenalin, nama saya Urmi. Panggil saja yayang Urmi" ucapnya setelah mengulurkan tangannya ke depan.
"I-iya, bu Urmi ini siapa ya kalau boleh tahu? Dan kenapa bisa masuk ke rumah saya?" tanya Raven, belum menerima uluran tangan wanita itu.
Wanita itu menarik tangannya, "Tuan tampan belum diberitahu ya sama Bapak? Saya pembantu baru di rumah ini, diperintahkan Bapak Evano untuk membantu sekaligus menemani nona Aleta" jelas wanita tersebut.
"Pembantu? Tapi, katanya papa masih memikirkan soal ini" gumam Raven dan bisa didengar oleh wanita yang katanya adalah pembantu di rumahnya.
"Oh ya? Kalau soal itu yayang Urmi tidak tahu. Yayang Urmi disuruh datang ya datang saja, dan diberi kunci rumah langsung sama Bapak untuk membersihkan rumah ini saat kalian pergi tadi" jelas pembantu itu lagi.
"Baiklah. T-tapi, bisakah bu Urmi jangan bersikap seperti ini? Nanti istri saya melihatnya" ucap Raven yang tangannya dirangkul oleh pembantunya.
"Tidak apa-apa, lagian nona Aleta masih diluar" ucap santai pembantu itu.
"Maaf bu Urmi, tolong lepaskan saya" Raven berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita itu yang kini sudah memeluknya.
"Tenang saja, nona Aleta tidak melihat kita"
"Tidak! Tolong lepas!" Raven sudah ketakutan, bukan takut kalau istrinya melihat akan marah, melainkan ia takut akan dilecehkan oleh wanita ini.
"Tidak ap-.."
"RAVEN?!!" atensi keduanya teralihkan ke sumber suara.
DEG!
"Kak Aleta?"
"Nona Aleta?"
"Astaga.."
.
.
.
Satu kata buat Bu Urmi (...)
Penasaran apa yang terjadi selanjutnya?
Spam komen next dongg
Otw ke-100 episode nihhh😬
Jangan lupa Like Komen dan Vote✨
.
__ADS_1