
Like dulu sebelum baca!
.
Seperti biasa yang dilakukan seorang ibu rumah tangga adalah memasak, membersihkan rumah, dan masih banyak lagi. Termasuk di pagi hari.
Mala sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami, anak, serta calon menantunya. Dan untuk dirinya sendiri.
Sedangkan di sisi lain.
Di kamar Raven.
Posisi semalam, kini telah berpindah. Aleta tidak lagi berada di atas tubuh cowok itu, melainkan saat ini mereka berbaring bersebelahan. Setidaknya posisi mereka pagi ini tidak meresahkan.
"Eugh.." salah satu dari mereka mengolet dan perlahan membuka mata. Cahaya gelap dengan perlahan memperlihatkan wajah seorang yang begitu berarti baginya. Wajah seorang yang ia nanti-nantikan untuk segera membuka hati untuknya, dan wajah seorang yang sangat ia cintai sedang memejamkan mata di hadapannya.
Kemudian ia teringat akan kejadian tadi malam. Saat dirinya berada di dalam kamar mandi saat mati lampu dan ditolong oleh seorang wanita. Kemudian menemaninya di sana hingga kapan ia tak tahu setelahnya apa yang terjadi, mungkin karena ia sudah terlelap.
Memang, semalam ia bermimpi bisa tidur bersama lagi dengan wanita itu. Namun, mimpi hanyalah mimpi yang tidak mungkin bisa terjadi di kehidupan nyata. Jikalau ada, mungkin hanya suatu kebetulan.
Perlahan tangannya terangkat untuk menggapai wajah itu, setelah itu jemarinya mulai mengelus pipi mulus itu sambil menyunggingkan senyum manisnya. Lalu menepis beberapa helai rambut yang menutupi dahi dengan perlahan.
Melihat wanita itu sepertinya masih tertidur pulas, ia memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. Bukan modus loh iniii, wkwk.
Kemudian ia menggeser kepalanya mendekati wajah Aleta, dan ia mendekatkan bibirnya ke dahi itu.
CUP
Bibirnya mendarat di dahi bidang milik Aleta. Lumayan lama. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka begitu saja, dan...
Wanita paruh baya yang ingin membangunkan anak-anaknya itu saat membuka kamar salah satunya, dikagetkan dengan adegan yang mampu membuat orang yang melihat akan mengakibatkan kesalahfahaman.
Dan benar saja, setelah pintu kamar terbuka Mala dikejutkan dengan adegan yang mungkin pernah ia lakukan juga bersama suaminya, Evano Prasetya. Namun, saat ini adegan tersebut ia lihat secara langsung-secara nyata dengan mata kepalanya sendiri dilakukan oleh kedua anaknya.
Raven yang masih menempelkan bibirnya di dahi Aleta juga tak kalah terkejut saat melihat siapa yang membuka pintu kamarnya. Perlahan ia melepas kecupan itu dan malah pura-pura tidur.
Kemudian Mala keluar dan kembali menutup pintu. Membiarkan kedua anaknya tidur. Meski ada ratusan bahkan ribuan dan jutaan serta milyaran juga trilyunan pertanyaan dalam otak pintarnya, Mala memilih untuk memendamnya untuk sekarang.
Setelah kepergian Mala, barulah Aleta terbangun dari mimpi indahnya dan merasakan berat di pipinya. Oh, ternyata Raven belum menurunkan telapak tangannya dari pipi Aleta. Aleta langsung mendapati dada bidang yang tak asing baginya, serta aroma dari tubuh orang itu yang mungkin dengan mudah ia kenali.
Kemudian wajahnya mendongak untuk melihat wajah dari pemilik tubuh tersebut. Anehnya, Aleta tak terkejut saat melihat wajah itu. Ia malah menampilkan senyumnya kemudian meraih tangan yang berada di pipinya lalu ia turunkan dengan perlahan.
Setelah itu, Aleta bangkit dan keluar dari kamar itu. Sedangkan Raven tetap diam sampai Aleta pergi dari sana.
Raven bisa membuka mata lagi sambil bernafas lega. Kemudian kembali mengukir lengkungan di kedua pipinya. Tapi, ia langsung teringat dengan Mala.
"Mama tadi masuk ke sini dan melihat aku sedang..." Raven menggantung ucapannya sebelum segera membungkam mulutnya menggunakan selimut tebal itu.
SKIP
Sarapan
Kewajiban seorang istri adalah melayani suami. Salah satunya bila sedang berada di meja makan, yaitu melayani sang suami dengan membantu mengambilkan sarapan. Seperti yang dilakukan Mala di setiap harinya, dan pagi ini ia tak lupa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Raven menunggu Mama dan Papanya itu mengambil sarapan lebih dulu dengan sabar. Sedangkan Aleta sudah akan mengambil nasi untuk ia tuangkan ke piringnya.
Namun, ia sedikit melirik cowok di sampingnya itu tengah menunggu dengan sabar untuk bagiannya. Setelah Mala mengambilkan nasi beserta lauk ke piring sang suami juga untuk dirinya. Aleta yang sudah akan menjatuhkan nasi ke piring miliknya, ternyata Raven menatapnya. Oh, bukan menatap Aleta, melainkam menatap sendok yang ada di genggaman Aleta yang berisi nasi.
Dan Raven masih menunggu dengan sabar.
Saat Raven menatap ke tangannya, ia bisa leluasa menatap wajah cowok itu.
Mala yang akan memasukkan nasi+lauk ke dalam mulutnya itu pun terhenti karena melihat putrinya tidak segera menuang nasi itu.
"Al, cepat ambil sarapan kamu. Kasihan Raven udah nunggu." ucapan Mala membuyarkan lamunan Aleta.
Raven menatap Mala. "Tidak apa-apa, Ma." jawab Raven dengan senyuman, seperti biasanya.
"Ayo Al, gantian sama Raven." titah Evano setelah menelan makanannnya.
Kemudian Aleta kembali menatap sesendok nasi yang belum ia tuangkan ke piring miliknya. Lalu, ia melirik piring Raven yang masih kosong dan Raven yang sudah mengganggam sendok dan garpu di kedua tangannya itu pun memiliki keinginan.
"Nih!" Aleta menuangkan sesendok nasi itu ke piring Raven.
Dan tentu saja pasutri itu terkejut dengan sikap putrinya yang tiba-tiba mau mengambilkan Raven sarapan. Jika mengingat kejadian dulu, para orangtua menyuruh Aleta melayani calon suaminya. Namun, Aleta menolak keras pada saat itu. Pagi ini, seperti sebuah keajaiban datang. Seolah membuat Aleta akan segera membuka hatinya untuk cowok itu.
Tentu saja cowok itu tak kalah terkejutnya. Tanpa sadar ia kembali mengukir senyumnya sambil menatap cewek itu. Sungguh, ia semakin yakin bahwa tidak lama lagi cintanya akan terbalas.
Menyadari sedang ditatap, Aleta menarik kembali tangannya kemudian mengatakan, "Tadi, gue ambil nasinya kebanyakan. Jadi gue kasih aja ke lo, daripada gue balikin." cerocos Aleta sambil berusaha menahan gugupnya.
__ADS_1
"Kebanyakan atau emang mau ngambilin Calmi sarapan?.." cibir Mala sambil terkekeh.
"Calmi apaan, Ma?" tanya Evani tak mengerti.
"CALON SUAMI..." bisik Mala dekat telinga sang suami.
"Mama sama Papa ngapain sih bisik-bisik gitu?" tanya Aleta kepada mamanya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Bukan apa-apa. Lanjutkan makan kalian, takutnya kesiangan sampai di sekolah." Mala mengganti topik.
"Iya Mama.." jawab keduanya, setelah itu mereka saling tatap sesaat sebelum memalingkan wajah mereka.
Sedangkan pasutri itu yang menyaksikan hanya terkekeh pelan.
Evano selesai sarapan lebih dulu, lalu segera berangkat ke kantor. Di antar sang istri tentunya sampai di depan.
"Aleta, Raven, Papa berangkat duluan ya?. Kalian di sekolah belajar yang rajin, terutama buat kamu Aleta. Tidak lama lagi kamu akan lulus, jadi harus belajar lebih giat lagi supaya nilainya bagus. Oke anak Papa?!." ucap Evano sebelum beranjak dari duduknya.
"Siap Papa! Hehehee..." seru Aleta bersemangat.
"Berangkat sekarang, Mas?" tanya Mala lembut.
"Iya, Sayang." jawab Evano setelah Mala mencium punggung tangannya dan diikuti kedua anaknya.
"Hati-hati Papa.." ucap Raven sambil tersenyum dan diangguki oleh laki-laki itu.
"Kalian lanjut sarapannya. Mama mau antar Papa kalian ke depan." pamit Mala dan diangguki kedua anaknya.
Setelah kepergian Mala dan Evano. Mereka berdua kembali duduk dan melanjutkan sarapan mereka.
"Kak/Rav" keduanya memanggil bersamaan.
"Lo duluan." lempar Aleta.
"Kak Aleta duluan." lempar Raven.
Aleta menghembuskan nafasnya kasar. "Gue semalam tidur di kamar lo. Karena lo pegang tangan gue dan nggak bisa gue lepas." jelas Elvina terlihat santai, namun terdapat kegugupan di dalamnya.
"Maaf."
"Tapi lo tenang aja, kita sama sekali nggak ngelakuin apapun! Iya kan?" tanya Aleta dan diangguki oleh Raven.
"Ha? Eum.. Itu.." Raven tidak tahu ingin menjawab apa, pasalnya ia terlalu malu untuk jujur.
"Gini aja, sekarang giliran lo yang ngomong. Tadi mau ngomong apa?" pinta Aleta dan diangguki olehnya.
"Soal kita tidur bareng lagi, dan Mama.." Raven menggantung ucapannya karena buru-buru dipotong oleh Aleta.
"Apa mama lihat kita?" Raven mengangguk sebagai jawaban sambil menunduk.
"Tapi tadi, Mama kok biasa aja sih? Kalau lihat kita berdua tidur bareng?" gumam Aleta merasa bingung dan heran.
"Aku nggak tahu, Kak. Maafin aku, karena semalam aku bikin Kak Aleta tidur di sana." lirih cowok iti sambil menunduk.
"Nggak apa-apa, lagian lo sih penakut. Masa cowok takut gelap?." ucap Aleta sambil terkekeh. Dan itu sedikit menghilangkan kegugupan dalam diri Raven.
"Bukan takut gelap, tapi aku takut kalau tiba-tiba ada yang culik aku di tempat gelap itu. Kan serem.." ucapnya sambil.bergidik ngerti setelah mengangkat wajahnya menatap Aleta.
"Apa sih, kenapa dia lucu banget. Masa iya ada yang nyulik kalau di tempat gelap?" gumam Aleta sambil menahan gemasnya.
"Ngawur! Nggak ada kaya begituan di dunia ini, Ravenn.." pekiknya sambil berusaha menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang meresahkan pada cowok itu.
"Ada, aku pernah nonton filmnya sama Arga. Padahal dia tahu kalau aku takut sama film kegitu, tapi dia malah maksa aku buat nonton." adu nya kepada Elvina.
"Dasar temen gada akhlak!" murka Aleta dari dalam hati.
"Yaudah. Mama udah jalan ke sini, lebih baik lo habisin makan lo dan berangkat." titah Aleta kepada Raven yang sarapannya tinggal beberapa sendok lagi. Berbeda dengan dirinya, Aleta telah menghabiskan sarapannya sedari tadi.
Uhuk! Uhuk!
"Pelan-pelan minumnya.. Bentar, gua ambil tissue." dan untuk kedua kalinya Aleta melakukan hal itu.
Ia berjalan mendekati Raven, lalu sedikit membungkuk untuk menyeka sisa susu yang tumpah di dagu cowok itu. Dengan telaten. Raven menatap teduh wajah itu sambil mengukir senyuman di bibirnya.
Mala yang baru tiba, menghentikan langkah tak jauh dari kedua anaknya itu sambil membungkam mulutnya tak percaya.
"Lain kali kalau minum itu pelan-pelan. Nggak usah buru-buru, lagian nggak bakalan ditinggal kok." omel Aleta seraya membersihkan dagu itu.
"Terimakasih, Kak Aleta." ucap Raven terdengar tulus.
__ADS_1
Ekhem!
Netra keduanya menoleh ke seseorang yang barusan berdehem.
"Ma-mama?" keduanya terbata.
"Sudah apa belum? Kalau sudah, ayo berangkat. Sudah ditunggu Safar di depan." keduanya mengangguk dan memakai tas mereka, lalu berjalan ke luar diikuti Mala di belakang.
Setelah berpamitan, mereka segera masuk mobil dan berangkat ke sekolah.
Di mobil
"Kak.." panggil Raven setelah berhasil meletakkan ranselnya di pangkuannya.
"Iya?"
"Nanti turunin aku di tempat biasa, ya?" pinta Raven.
Aleta mengernyit tak suka sepertinya dengan permintaan cowok itu. "Kenapa?"
"Ha? Yaa nggak apa-apa, seperti yang aku katakan dari kemarin-kemarin kalau aku nggak mau bikin Kak Aleta nggak nyaman kalau anak-anak tahu kita berangkat barengan." jelas Raven dan membuat Aleta semakin tak suka dengan perkataan cowok itu.
Bukannya menjawab perkataan Raven, Aleta malah memalingkan wajahnya ke samping menghindari cowok itu.
"Nanti turunin kami di depan gerbang, nggak perlu turunin dia di tempat biasa." titah Aleta ketus kepada supirnya. Safar mengangguk, sedangkan Raven melotot tak setuju.
"Enggak, Kak Aleta. Pak Safar, nanti turunin aku di tempat biasanya, ya?" pinta Raven yang sudah panik bila diturunkan bersamaan dengan Aleta.
"Pak Safar nggak akan dengerin perintah lo, Raven!." tekan Aleta tanpa memalingkan pandangannya dari jalan di sampingnya.
"Kak Aleta. Jangan seperti ini, aku mohon.." lirihnya dengan tatapan memohon.
Dan mau tidak mau Aleta kembali menatap cowok itu yang terus saja menolak perintahnnya. "Apa salahnya sih, tinggal turun dan masuk kelas? Nggak perlu lo capek-capek jalan kaki dari kejauhan!"
"Aku tidak masalah jika harus berjalan kaki. Yang akan jadi masalah adalah kalau nanti anak-anak yang lain mengira kita berangkat bareng. Aku takut mereka akan mikir aneh-aneh." jelas Raven.
"Mikir apa?!" tanyanya sambil mengernyit. Meski ia masih sedikit emosi.
"Mikir apa? Eum.." bodohnya Raven kembali bertanya entah kepada siapa.
"Lo nggak tahu kan? Yaudah sih santai aja. Gue nggak peduli mereka mau ngomongin apa tentang lo sama gue!" ucap Aleta finall.
"Tap-.." ingin membantah, namun lebih dulu dipotong oleh Aleta.
"Diem!."
"Kak Al-.."
"Lo itu bisa diem nggak sih?!" ucap Aleta penuh penekanan, sepertinya ia sudah tersulut emosi.
"Ma-maaf Kak.. Aku akan diam. Tapi nanti turunin aku di jalan biasanya ya?" lirih cowok itu dan semakin membuat Aleta marah.
"Satu lagi! Nggak boleh ngebantah apapun yang gue omongin! Lo mengerti?" tekan Aleta lagi dengan nada yang terdengar sangat tidak boleh dibantah.
Raven mengangguk patuh sambil mendekap ranselnya di dadanya. "Anak pintar!" puji Aleta dengan suara lembut. Tak seperti tadi yang masih terdengar penuh emosi.
.
.
.
Jiakkhh hahahaa.. Ada apaan nih di episode ini?
Pada kangen nggak nih lihat kelakuan dua manusia yang... yang apa hayoo hahahaa.
Pokoknya pantengin terus dan jangan sampai ngelewatin buat klik tanda jempol dan silahkan komen bila ada typo atau kalau ada sesuatu yang sedikit mengganggu fikiran kalian.
BTW GUYS.. AKU BARU AJA UP CERITA BARU LOHH. KALIAN JANGAN LUPA MAMPIR YAA.. UNTUK TAHU LEBIH JELASNYA, SILAHKAN BUKA PROFIL AKU DAN KALIAN BISA LANGSUNG LIHAT KARYA KEDUA AKU.
JUDUL : KARRA (Bangku Kosong)
GENRE : HOROR
SEMOGA KALIAN SUKA YAA!
Ada sedikit spoiller tentang cerita itu, bukan tentang percintaan. Melainkan tentang sebuah misteri gitu yang harus dipecahkan. Dari genrenya pastinya kalian sudah mendapat gambarannya seperti apa. Daripada penasaran lebih baik yukk buruan kalian bacaa!!
Itung-itung sambil nunggu update-an A&R yang ngaret, hiks..
__ADS_1
Tencuu😘