A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
18. Kesepakatan


__ADS_3

Perusahaan Purnama, merupakan nama perusahaan warisan dari keluarga Evano Prasetya yang merupakan pewaris tunggal dari keluarganya. Evano bekerja keras untuk mengembangkan perusahaannya mulai dari ia berusia 20 tahun hingga sekarang.


"apa ada jadwal untuk malam ini?" tanya Evano pada sekretaris pribadinya.


"ada, Pak. Meeting untuk membahas kelanjutan kesepakatan dengan perusahaan yang kemarin"


"saya minta untuk dipending dulu, karena nanti malam saya ada acara penting"


"baik, Pak" kemudian sekretaris itu keluar dari ruangan Evano.


"baik, karena sudah tidak ada pekerjaan. Sekarang aku telfon mama kalau aku pulang sekarang, siapa tahu mama mau nitip sesuatu'' ucapnya pada diri sendiri.


druuttt druutt druuttt (suara ponsel Mala)


"hallo, Ma?"


"hallo, ada apa Pa?"


"tidak, begini.. papa sekarang mau pulang, siapa tahu mama mau nitip sesuatu. Nanti biar papa belikan"


"emm..apa ya? ohiya pa, apa papa bisa belikan cincin tunangan? sekalian nanti kita bahas soal hubungan mereka, bagaimana?" ucap Mala antusias.


"cincin tunangan, ya? hmm.. bisa ma tenang aja"


"oke pa, kalau begitu mama tunggu di rumah. Papa hati-hati di jalan"


"iya ma, I LOVE YOU"


"I LOVE YOU TOO" sambungan berakhir, kemudian Evano segera keluar meninggalkan kantor dan menuju toko perhiasan.


"semoga saja Aleta mau menerimanya" ucap Mala menggenggam ponselnya erat.


tin tin (suara klakson mobil)


"itu mereka sudah datang" kemudian Mala bergegas membuka pintu.


"silahkan Bu" ucap Safar membukakan pintu untuk Zanna.


"terimakasih ya, Safar" ucap Zanna.


"terimakasih Pak Safar" ucap Raven.


"akhirnya aku bertemu lagi dengan Mala, jujur aku sangat merindukannya" ucap Zanna dalam hati.


ceklek (suara pintu terbuka)

__ADS_1


Mala dan Zanna saling tatap kemudian berjalan mendekat dengan wajah bahagia.


"Zanna"


"Mala" ucap mereka bersamaan kemudian berpelukan, saling melepas rindu mereka, tak terasa mereka meneteskan air mata haru sambil mengeratkan pelukan mereka. Safar dan Raven yang memperhatikan dari belakang ikut merasakan kehangatan pelukan dua wanita paruh baya itu pun ikut menyunggingkan senyumnya.


"aku sangat merindukan kamu, Zanna" ucap Mala setelah melepas pelukan kini beralih menggenggam kedua tangan Zanna.


"aku juga sangat merindukan kamu, Mala" ucapnya tak kalah erat menggenggam tangan Mala.


"bagaimana kabar kamu selama ini? kenapa sama sekali tidak ada kabar"


"kabar aku baik, maaf tidak pernah menghubungi kamu"


"tidak, jangan seperti itu"


"kok tamunya nggak diajak masuk, ma" ucap Evano yang sudah berada di belakang, mereka yang ada di sana kaget dan menoleh ke arah Evano.


"om" sapa Raven sambil meraih tangan Evano dan menciumnya.


"oohh jadi ini yang namanya Raven? kamu anak yang manis" ucap Evano membuat Raven malu dan tersenyum. Mala yang melihatnya pun merasa gemas.


"tuhkan apa mama bilang, kalau dia itu manis. Lihat aja senyumnya, rasanya pengin mama bungkusin" kekeh Mala.


"tante ingin bungkus Raven?" tanya Raven dengan wajah polosnya dan semua orang yang ada di sana tertawa melihat tingkah polosnya itu, kecuali Aleta. Karena Aleta masih ada di kamarnya.


"iya iya, aku sampai lupa mempersilahkan kalian masuk"


"ayo silahkan masuk" lanjutnya sambil membuka pintunya lebar.


"gimana pa? udah beli belum?" begitu Raven dan mamanya masuk, ia mencegat suaminya dan berbisik.


"sudah kok ma, tenang aja" dengan mengacungkan jempol. Kemudian mereka masuk dan menutup pintu, sedangkan Safar memindahkan mobil ke garasi.


"silahkan duduk" ucap Evano mempersilahkan duduk, dan mereka duduk di ruang tamu.


"aduhh kamu cantik banget, nama kamu siapa sih?" tanya Mala mendekati Vania.


"Vania, tante" jawab Vania.


"ooh Vania, hallo Vania. Eh, jangan panggil tante dong. Mulai sekarang kamu panggilnya 'mama' ya"


"mamanya Vania kan namanya mama Zanna, telus kalo tante mamanya Vania belalti Vania punya dua mama dong?"


"iya sayang, Vania sekarang punya dua mama" kekeh Mala sambil menoel hidung Vania.

__ADS_1


"holeee.. Vania punya dua mama" tawa Vania sampai terdengar dari kamar Aleta.


"itu, itu kok ada suara tawa anak kecil ya. Apa mereka sudah sampai? kalau mereka sudah sampai berarti itu suara tawa adiknya Raven" tanyanya pada diri sendiri.


"oiya ma, Aleta mana kok belum turun?" tanya Evano pada istrinya.


"mungkin Aleta masih berdandan, biasalah anak cewek" kekeh Mala menatap ke arah Zanna.


Para orang tua mengobrol sambil menunggu Aleta turun di ruang tamu. Sedangkan Raven sedang bermain bersama Vania di ruang tengah.


"bagaimana dengan kesepakatan kita dulu?" ucap Evano.


"kesepakatan?" tanya Zanna sedikit bingung.


"sebelumnya kami minta maaf, sebenarnya belum lama ini kami sudah tahu mengenai suami kamu. Kami turut berduka cita atas meninggalnya alm. Eko, suami kamu" ucap Evano.


"sejujurnya aku sangat syok setelah mendengar kabar itu, namun mau gimana lagi mungkin Tuhan lebih menyayanginya" ucap Mala menangis dan Evano mengelus pundak istrinya untuk menguatkan. Memang berpisah dengan sahabat dari kecil itu menyakitkan, apalagi maut yang memisahkan mereka. Namun apalah daya, kita hidup hanya sementara dan tidak ada yang abadi selain Tuhan YME.


"tidak apa-apa, mungkin memang sudah jalan takdir. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya" ucap Zanna menggenggam tangan Mala. Ia mengerti dengan keadaan Mala saat ini, tidak beda jauh rasanya dari waktu dia kehilangan suaminya dulu. Sakit memang, tapi rasa sakit itulah yang menjadikan kita lebih kuat.


"sudah ma, jangan seperti ini. Mama jangan mengingatkan kembali kepada Zanna, mama harus bisa kuat juga, ya" ucap Evano.


"iya, pa" Mala menatap suaminya sambil tersenyum.


"oh iya, tadi kita membicarakan tentang kesepakatan yang kita buat dulu. Untuk menjodohkan anak-anak kita" Evano membuka suara.


"sebenarnya, sebelum suami saya meninggal ia memberi pesan terakhir" ucap Zanna menunduk seperti sedang menahan tangis. Dengan cepat Mala menggenggam erat tangan Zanna memberi kekuatan.


"ia berpesan untuk menjodohkan anak-anak kita saat mereka sudah bertemu" mendongak menatap Evano dan Mala bergantian.


"jadi, kita harus bisa bikin mereka deket dan kalau bisa mereka harus saling suka supaya mudah nantinya jika mereka akan menikah" ucap Mala bersemangat.


"tapi, apa anak kamu mau? Secara kan Raven lebih muda dari dirinya"


"kalau masalah usia tidak penting, yang penting itu perasaan mereka. Kalau mereka saling suka, usia tidak diperlukan lagi" kekeh Mala.


HALLO GUYS..🙌


AKU UP LAGI NIHH... GIMANA CERITANYA? SERU NGGAK? KALAU KALIAN SUKA JANGAN LUPA UNTUK SELALU TINGGALKAN JEJAK KALIAN BERUPA


LIKE KOMEN DAN VOTE


MOHON MAAF JIKA ADA TYPO😂


TERIMAKASIH♥

__ADS_1


HAPPY READING♥


__ADS_2