A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
65. Ulang Tahun Vania


__ADS_3

HALO TEMAN-TEMAN SEMUANYA, MOHON MAAF KARENA UP NYA SANGAT LAMA DAN BERBULAN BULAN TIDAK UP. PASTI KALIAN SEMUA PADA KANGEN SAMA RAVEN DAN ALETA? ATAU KANGEN SAMA AUTHORNYA? HEHE...


ALASAN AKU NGGAK UP KARENA KEMARIN AKU LAGI FOKUS BELAJAR BUAT PAS DAN MUMPUNG PAS SUDAH HAMPIR SELESAI AKU BAKAL USAHAIN BUAT UP LAGI. KALIAN NGGAK PERLU KHAWATIR CERITA INI AUTHOR GANTUNG KARENA AUTHOR BAKALAN LANJUTIN SAMPAI AKHIR.


JADI, JANGAN BOSEN YA NUNGGU KELANJUTAN CERITANYA...


SEKALI LAGI AKU MINTA MAAF KEPADA KALIAN SEMUANYA YANG UDAH NGIKUTIN CERITA INI DARI AWAL, AKU HARAP KALIAN SELALU SUPPORT CERITA INI DAN IKUTIN SAMPAI AKHIR YA...


INI DRAFT YANG UDAH AKU TULIS DARI KEMARIN-KEMARIN AND BARU BISA AKU UP HARI INI, SEMOGA KALIAN MASIH SEMANGAT BACA NYA YA...


HAPPY READING...


.


.


.


Kini sudah pukul 6 malam, Aleta tengah bersiap karena acaranya pukul 8 malam. Sedangkan kedua ibu tengah me make over Vania, Raven di kamarnya juga tengah bersiap memilih baju.


"aku pakek baju apa ya? kok aku bingung" gumamnya sambil memilah-milah baju di dalam lemarinya. Hari ini Arga tidak jadi datang dikarenakan katanya ia diajak ke rumah neneknya di kampung, jadi terpaksa tidak hadir.


Di sisi lain, Aleta juga kebingungan memilih baju.


"aneh, mendadak gw nggak punya baju" gerutunya sambil menempel-nempelkan baju di tubuhnya.


"kok gw jadi ribet gini sih cuman milih baju doang, biasanya juga buka lemari langsung dapet tu baju. Lah sekarang kok kagak ada yang pas gitu" dan terdengar ketukan pintu.


"bentar Pa, Al masih milih baju" teriak Aleta dari kamarnya, sedari tadi Evano menunggunya di bawah, merasa lama Evano menghampiri putrinya ke kamarnya.


"ayo Al, keburu mulai lho acaranya, kasihan mereka menunggu" ucap Evano.


"iya Pa, bentar lagi Al selesai"


"baiklah, Papa tunggu di mobil 15 menit lagi kamu harus turun"


"iya Pa.." setelah itu Evano turun dan memasuki mobilnya yang sudah ada Safar di kursi kemudi.


"aduh, Papa kasih waktu segala. Udah ah baju ini aja" akhirnya ia memutuskan memakai celana panjang dan atasan serba hitam. Selesai berpakain ia langsung turun menemui Papanya yang sudah menunggu di dalam mobil, tak lupa membawa kado boneka untuk Vania sedangkan boneka yg satunya ia tinggal di meja belajarnya



"maaf sudah membuat Papa menunggu" Evano mengangguk.


"jalan sekarang" titah Evan kepada Safar, kamudian mobil bergerak menuju rumah Raven.


Disepanjang perjalanan hanya keheningan, hingga Evano memecah keheningan itu.


"Al, Papa mau bicara sama kamu"


"apa Pa? bicara saja" Aleta menoleh ke Papanya.


"Papa udah tahu dari mama kalau kamu setuju menerima perjodohan ini" Aleta menunduk dan mengangguk pelan.


"terimakasih ya sayang kamu sudah mau nurut sama permintaan Mama dan Papa" Aleta mengangguk sambil tersenyum.


"jadi, apa kamu sudah siap jika nanti kalian bertunangan?" pertanyaan Evan membuat Aleta kaget dan tak percaya, Tunangan?.


"ap-apa Pa? Tu-tunangan?" tanya Aleta terbata masih tak percaya.


"iya sayang, Papa sama Mama sudah menyiapkan cincin buat kalian" Aleta hanya terdiam tak habis fikir.


"apa semua ini? kenapa ini harus terjadi? apa tadi? Tunangan? hah gw masih nggak percaya, nanti gw bakal tunangan sama Raven?" batinnya.


"gimana sayang? kamu bersedia kan menerima pertunangan ini?" tanya Evano.


"gw harus jawab apa, gamungkin kalau gw nolak jelas-jelas gw udah setuju buat nikah sama Raven, tapi kenapa sekarang? ah ini hanya tunangan, mungkin nanti mereka bakal berubah fikiran dan membatalkan perjodohan ini" batinnya.


"iya Pa, Al bersedia" jawabnya sambil berfikir mungkin mereka akan merubah keputusan mereka. Evano tersenyum sekilas mengacak pucuk ramput putrinya.

__ADS_1


"oiya, itu kado buat Vania?" tanya Evan melihat kotak kado dipangkuan putrinya.


"iya Pa" jawab Aleta sambil tersenyum, Evan mengangguk. Keadaan kembali hening.


Di sisi lain, Vania berdiri di samping kue ulang tahunnya dan sudah ada beberapa teman-temannya di sana dengan ditemani orangtua mereka. Mala menemani Vania sambil menerima kado dari teman-temannya, sedangkan Zanna berdiri di depan pintu menyapa orangtua dan anak-anaknya.


Raven masih di dalam kamar, entah apa yang ia lakukan sedari tadi belum keluar.


"Vania seneng nggak? ulangtahun dan banyak temen-temen Vania yang dateng?" tanya Mala memposisikan dirinya jongkok setinggi Vania.


"Vania seneeeng banget temen-temen Vania semua dateng kesini, tapi..." ucap Vania sambil tersenyum, ucapannya menggantung membuat Mala menautkan alisnya.


"tapi kenapa?"


"kak Al belum dateng, Ma??"


"ouh itu, kak Al masih di jalan, sama Papa Evan juga dateng"


"benelan ma?" Mala mengangguk mengiyakan.


"yeayy.. " Vania loncat-loncat kegirangan. Mala hanya menatapnya sambil tersenyum.


Tak lama terdengar suara mobil, Aleta dan Evano sudah tiba di sana dan langsung disambut ramah oleh Zanna.


"Evan.. Aleta.." Zanna menghampiri Aleta dan Evan yg baru saja keluar dari mobil.


"hai ma, selamat malam" sapa Aleta meraih telapak tangan Zanna lalu menciumnya.


"selamat malam sayang, kamu cantik sekali malam ini" puji Zanna sukses biki Aleta malu-malu.


"tentu saja cantik, anak siapa dulu" ucap Evan penuh percaya diri, Zanna menahan ketawanya.


"yasudah ayo kita masuk, acaranya sudah mau mulai" ajak Zanna lalu menggandeng pergelangan tangan Aleta mengajaknya masuk. Diikuti Evan di belakangnya.


"mama.." Aleta menghampiri mamanya dan langsung memeluknya.


"kenapa harus malu? kan Al anak mama" ucapnya masih memeluk erat mamanya.


"kamu emang anak mama, tapi lihatlah kamu ini sudah besar" Aleta melepas pelukannya dan beralih menatap Vania di sampingnya.


"yaampun Vania kamu cantik banget. Selamat ulang tahun cantik" Aleta berjongkok sambil menoel pipi gembul Vania.


"telimakasih, kakak juga cantik"


"ah kamu bisa aja, tapi Vania lebih cantik"


"oiya ini kado untuk Vania" memberikan nya ke Vania, Vania menerima dengan senang.


"makasih kak" memeluk Aleta dan Aleta membalas pelukan Vania.


"sama-sama sayang"


"tapi bener deh, hari ini adek cantik banget" ucapnya sekali lagi setelah melepas pelukan.


"iya dong siapa dulu yang me make over" sahut Zanna dari samping lalu berdiri di samping Mala.


"iya iya, Vania tanpa make up pun udah cantik banget"


"hallo selamat malam" sapa Evan datang dari belakang mereka sudah bersama Raven di sampingnya, tadi Evan bertanya kepada Zanna keberadaan Raven karena belum terlihat ikut berkumpul. Lalu Zanna memberitahu dan sekalian menyuruhnya mengajak Raven keluar.


"selamat malam, uwaahh.. anak mama tampan sekali" heboh Zanna dan Mala, sungguh emak-emak rempong.


"makasih ma" jawabnya malu-malu. Aleta berdiri lalu menghadap ke arah Raven sambil memegang kedua pundak Vania dari belakang.


"hai kak" sapa Raven pada Aleta.


"hai" jawab Aleta. HENING....


"ouh yaudah ayo kita mulai saja acaranya" ucap Mala dan disetujui semua orang. Acara berjalan dengan lancar, semua orang tampak menikmati acaranya. Mulai dari menyanyikan lagu ulangtahun, tiup lilin dan potong kue, mereka semua terlihat tampak bahagia termasuk Vania, Aleta dan Raven. Walaupun Aleta dan Raven berjauhan.

__ADS_1


Acara selesai pukul 22.20 pm semua tamu sudah pergi, kini tinggal mereka ber-6. Aleta menemani Vania di kamar, kedua ibu membereskan rumah, sedangkan Evano dan Raven tengah mengobrol di teras ditemani secangkir kopi tapi Raven tidak minum kopi hanya Evano saja.


"aku seneng banget malam ini melihat adek bahagia di hari ulangtahunnya"ucap Raven.


"saya juga senang akhirnya setelah sekian lama tidak ada acara kaya gini dan malam ini saya ikut merayakannya, yaa walaupun ini ulangtahunnya Vania tapi saya ikut senang"


"iya Pa"


"oiya Rav"


"kenapa Pa?"


"kamu masih bersedia kan menerima perjodohan ini?" Raven mengangguk.


"jadi rencananya malam ini kita ingin kalian bertunangan" mendengar kata 'tunangan' Raven membelalakan mata.


"memangnya kak Al sudah siap?" tanya Raven sambil menunduk.


"kamu tak perlu khawatir, Papa sudah bicara dengan Al"


"iya Pa"


"yaudah ayo masuk" ajak Evan, kemudian mereka berdua masuk. Sampai dalam ternyata kedua ibu tidak ada di sana.


"kenapa rumah sepi? kemana mama?" tanya Raven begitu masuk tak melihat keberadaan kedua mamanya.


"mungkin mama kamu ada di dapur" ucap Evan. Lalu Raven berjalan ke dapur namun tak ada di sana juga.


"mama nggak ada di dapur, Pa" ucapnya pada Evan setelah kembali dari dapur.


"kalau tidak ada, mereka di mana?" Raven menggeleng.


"yasudah, kamu cari di kamar Vania biar papa cari di luar sekalian Papa ada telfon" Raven mengangguk, Evan berjalan keluar dan Raven masuk ke kamar adiknya.


tok tok tokk...


Raven mengetuk pintu kamar Vania, tak ada jawaban.


"Ma.. apa mama di dalam?" teriaknya masih tak mendapat jawaban.


"kok nggak ada suara?" batinnya, lalu tangannya terangkat menggenggam gagang pintu dan mendorong hingga pintu terbuka. Pandangannya tertuju ke kasur Vania, di sana sudah ada Vania yg tertidur tertutup selimut dan disampingnya ada Aleta yang tidur dengan posisi duduk di tepi kasur.


"Vania udah tidur? dan kak Al juga" gumamnya masih berdiri di ambang pintu.


"kak Al udah tidur pasti dia capek" Raven kembali menutup pintu, dan ternyata Aleta hanya pura-pura tidur. Setelah pintu tertutup, Aleta membuka mata.


Dan ternyata kedua ibu berada di belakang rumah menata halaman belakang menjadi begitu cantik dan sudah ada banyak bunga bertaburan dan dibentuk hati.


"sudah apa belum, Mal?" tanya Zanna selesai menyalakan lilin yang dia letakkan di tengah-tengah meja bundar itu.


"dikit lagi, nah... beres juga akhirnya" ucap Mala. Kedua ibu sudah selesai mempersiapkan sesuatu yang tidak diketahui kedua anaknya, Evan sudah tahu tapi dia hanya pura-pura tidak tahu. Yang sebelumnya Evan pamit ke luar untuk menelfon ternyata menemui istri dan sahabatnya di belakang rumah.


"udah selesai kan?" tanya Evan berjalan mendekat. Kedua wanita paruh baya itu kompak mengangguk.


"apa langsung aja kita bawa mereka kesini?" tanya Zanna.


"oiya, cincinnya?" Evan merogoh kantong di celananya dan menggenggam kotak kecil yang terdapat cincin di dalamnya.


"Mama..." terdengar suara Raven dari dalam, mereka bertiga mulai panik.


"aduh itu suara Raven, ini kita sekarang gimana? apa langsung aja kita bawa Raven kesini?"


"tapi Aleta gimana? dia di kamar Vania" ucap Zanna.


"yasudah, Raven biar Papa yang handle kalian susul Aleta dan ajak kesini" titah Evan, semua setuju dan meninggalkan tempat. Evano menghampiri Raven yang sepertinya akan berjalan kebelakang rumah.


"Raven..." merasa terpanggil Raven mencari sumber suara dan menemukan ternyata Papanya yang memanggil.


"iya Pa?..." Raven berbalik dan menghampiri Evan yang sudah berada di dalam rumah, Evan berlari dari pintu depan dan langsung menuju pintu belakang. Huh! apa tidak lelah? tentu saja.

__ADS_1


__ADS_2