
"kakak.." Raven berjalan melompat-lompat seperti anak kecil ke arah Aleta. Aleta menoleh.
"astaga jantung gw, kenapa jalannya kek gitu dan rambut basah itu bikin dia terlihat semakin manis" Aleta membatin sambil susah payah menelan ludahnya.
"aku udah mandi dan wangi" Aleta masih melamun menatap Raven dengan mulut sedikit menganga.
"kak?" Raven melambaikan telapak tangannya di depan wajah Aleta.
"iya?" ucap Aleta tersadar dari lamunanya.
"kakak kenapa melamun? terpesona dengan kegantengan aku ya?" ucapnya sangat percaya diri sambil menaikkan kedua alisnya dua kali.
"apaan sih, enggak ya" Aleta berbalik menonton tv, lalu Raven ikut duduk di sampingnya.
"apaan sih deket-deket" ucap Aleta kesal karena Raven duduk pundaknya menempel di pundak Aleta, namun Raven malah semakin menempelkan pundaknya.
"yaudah gw aja yang geser" lalu Aleta menggeser duduknya, tapi Raven ikut bergeser dan kembali menempelkan pundaknya di pundak Aleta.
"lo geser ke sebelah sana, itu tempatnya masih banyak" ucapnya kesal dan terus bergeser dan Raven masih mengikutinya.
"lo nggak denger yang gw bilang, hah?" Raven diam fokus menonton tv sambil makan cemilan di meja.
"ini anak bener-bener minta di apain sih" batin Aleta frustasi.
"gw bilang jang..." belum menyelesaikan ucapan, Raven menyumpal mulut Aleta dengan cemilan. Dengan kesal Aleta mengunyahnya.
"dasar aneh"
"kakak yang aneh, daritadi ngomel mulu"
"kok gw? lo lah, dari tadi gw suruh geser ke sebelah sana malah ngikutin gw mulu"
"kakak belum tahu ya alasan aku pengin nempel ke kakak terus?" Raven menatap mata Aleta.
"kenapa?" tanya Aleta bingung.
"seperti di UKS kemarin" lalu Aleta mengingat-ingat.
"UKS?"
"aah kakak pasti udah lupa" ucap Raven putus asa.
"apaan sih gw nggak ngerti"
"nge-charge kak" ucap Raven pelan.
"HAHAHAHAHA...." tawa Aleta pecah begitu mendengar pernyataan Raven.
"kenapa kakak ketawa?"
"HAHAH.. lagian lo ada-ada aja, mana ada orang nge-charge tenaga pakek nempel-nempel" ucap Aleta masih dengan tertawa.
"ada lho kak"
"iya ada, cuma lo orangnya"
__ADS_1
"tapi bener lho kak, tadi aku capek dan setelah aku nyentuh kakak capek aku langsung ilang" Raven mengatakan dengan polosnya.
"mana ada kek gituan? dasar aneh" lalu Aleta melanjutkan menonton tv.
"kakak nggak percaya?"
"ya enggak lah" ucapnya sedikit tertawa masih fokus ke tv.
"kalau nggak percaya coba sekarang kakak tatap mata aku"
"ngapain? ogah"
"biar kakak percaya"
"apaan sih gajelas banget"
"coba dulu kak" memegang kedua pundak Aleta unruk menghadapnya.
"lo apaan sih? gw mau nonton tv" ucapnya setelah menghadap ke Raven.
"kakak tahu kan kalau aku suka sama kakak?"
"ma-maksud lo?" Raven masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"lepas!" Aleta berusaha melepas tangan Raven yang memegang kedua pundaknya.
"apaan sih lepasin gw" pinta nya namun Raven masih memegang erat pundaknya, sedangkan Aleta masih berusaha mendorong tubuh Raven, awalnya Raven menahan dorongan Aleta namun pada akhirnya ia membiarkan Aleta mendorongnya hingga ia jatuh kebelakang dan Aleta jatuh tepat di atasnya.
Mata mereka saling pandang, entah apa yang ada difikiran mereka sekarang.
"le-lepas" Aleta berusaha bangun, tapi sayangnya Raven malah menarik tubuhnya hingga wajah mereka sangat dekat. Bahkan nafas mereka saling bertemu.
"l-lo mau apa? lepasin gw" ucapan Aleta sama sekali tidak digubris olehnya, Raven menatap dalam mata Aleta setelah itu perlahan beralih menatap ke bawah, ke bagian bibir berwarna merah jambu milik Aleta. Ia menatapnya sangat dalam, ditambah lagi Aleta membasahi bibirnya dengan ludah menambah aura itu semakin membuat Raven semakin ingin menyentuhnya.
Perlahan Raven menarik pundak Aleta mendekat dan mengangkat kepalanya, wajah mereka semakin dekat dan dekat. Raven masih menatap dalam bibir merah jambu itu, sedangkan Aleta menatapnya dengan sadikit takut. Raven mulai menutup mata saat bibirnya hampir menyentuh milik Aleta, namun tidak dengan Aleta, ia masih sadar dengan fikirannya. Sebelum Raven lakukan hal aneh-aneh dengannya, dengan sigap ia memegang sebelah pipi Raven membuat Raven membuka mata.
"lo mau ngapain, hm?" tanya Aleta lembut.
"aku... maaf kak.." ucap Raven menjatuhkan kepalanya di sofa, Aleta masih memegang sebelah pipinya.
"hei.. ada apa sama lo? kenapa lo jadi kek gini?"
"(menggeleng pelan tak berani menatap Aleta)"
"lo tahu kan kalau itu tidak boleh" Raven mengangguk pelan.
"terus kenapa tadi lo mau ngelakuin itu?"
"maafin aku kak, aku..hiks.." ucapnya seperti sedang menangis.
"kok lo nangis?" tanyanya menatap lekat wajah Raven yang air matanya sudah menggenang.
"lo nagis? kok jadi cengeng gitu sih, hm?"
"maafin aku kak, aku tadi hampir nggak bisa menahannya" sambil mengucek matanya yang mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"nggak apa-apa, udah jangan nangis" meraih tangan Raven yang mengucek mata beralih tangannya sendiri mengusap air mata Raven.
"hiks..hiks.."
"udah bangun, masa anak lakik cengeng" ucap Aleta sedikit tertawa, sambil kembali duduk.
"ayo duduk" menarik tangan Raven supaya duduk.
"hiks..hiks.." Raven masih sedikit terisak.
"udah sih, ngapain lo masih nangisin itu" Aleta mengusap air mata Raven.
"kak Aleta nggak marah kan sama aku?" tanyanya masih sedikit terisak.
"(tersenyum sambil menggeleng) gw nggak marah" mengusap kepala Raven lembut.
"maafin aku kak, hiks.." ia kembali menangis, Aleta langsung memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya.
"kok lo nangis lagi sih"
"nggak apa-apa, udah diem anak lakik nggak boleh cengeng"
"lo lakik bukan sih?" ucap Aleta sedikit meledek.
"LAKIK!" ucap Raven lirih namun terdengar tegas. Aketa hanya tersenyum kemudian melanjutkan menonton tv.
Hampir 30 menit mereka ada diposisi itu, Rave beralih bersandar di pundak Aleta, Aleta masih fokus menonton tv sedangkan Raven mungkin sudah tertidur disandarannya.
"HAHAHAHA.. coba lo lihat deh itu mereka lucu banget asli" Aleta tertawa terbahak-bahak karena ada acara tv komedi yang sangat lucu, namun tak ada respon dari Raven.
"Rav, lihat itu deh HAHAHA.." lagi-lagi Aleta tertawa sendiri.
"lucu banget mereka" lanjutnya, lalu ia menoleh dan melihat Raven sedang tidur dipundaknya.
"astaga ternyata daritadi gw nonton tv sendiri, ketawa-ketawa sendiri udah kayak orang gila dan lo enak-enakan tidur dipundak gw" gerutunya lirih.
"tapi lo lucu tahu kalau lagi ngerasa bersalah kayak tadi" sambil tersenyum.
"kenapa tadi lo mau ngelakuin hal kayak gitu, hm?"
"lo tahu nggak, sebenarnya gw punya rahasia yang belum pernah gw ceritain ke siapapun termasuk mama dan sahabat gw sendiri, bukannya gw nggak mau cerita cuman gw takut kalau mereka bakal khawatir sama gw" ucapnya sambil menatap lurus ke depan, sedangkan lawan bicaranya sedang terlelap.
"ck.. kalau gw ingat kejadian itu, gw ngerasa jadi cewek yang udah nggak ada harganya lagi"
Haiii.. aku up lagii
Gimana ceritanya? seru nggak? pasti seru dong hehehe😅
Aku nggak akan bosen lho buat minta Like Komen dan Vote juga ke kalian😂
(Follow juga ya guys..)
Mohon maaf kalau ada typo😄
Terimakasih♥
__ADS_1
Happy reading♥