A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
96. Mencari Ayang


__ADS_3

"Cari alamat rumah baru cewek itu sampai dapat dan langsung kirim ke gue!" titah seorang pria lewat panggilan telefon.


"Jangan harap kalian bisa lari dari gue. Sebelum gue berhasil dapetin Aleta lagi, gue akan tetap ganggu rumah tangga kalian." gumam Riki setelah memutus panggilan yang diduga dari orang suruhannya.


"Udahlah, Rik, biarin mereka hidup tenang. Lo ngapain masih ngejar-ngejar tu cewek, hah? Salah sendiri campakkin dia gitu aja, lo kira hati cewek terbuat dari apa, batu?!" sarkas Qhia yang sedang duduk santai di sofa.


"Diem lo! Gue putus juga gara-gara lo tahu nggak!" pekik Riki sedikit kesal.


"Lah, kok gue?" tunjuk Qhia pada dirinya sendiri.


"Iya lah! Andai aja kemarin kita nggak tunangan, pasti Aleta masih jadi pacar gue, Qhi. Untung kita nggak jadi nikah, gara-gara perjodohan sialan itu gue jadi kehilangan cewek gue." cerocos Riki yang membuat wanita itu lantas bangkit dan berdiri di hadapannya


"Jadi, lo nyalahin gue?! Coba lo fikir lagi deh, bukannya kemarin lo yang nggak ngakuin dia cewek lo?! Dan lo malah bilang kalau kita udah tunangan dua tahun? Maksud lo apa hah?!" murka wanita itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Riki.


"Y-ya waktu itu gue cuman.." ucap Riki menggantung.


"Cuman apa? Bilang aja kalau dulu lo suka sama gue. Playboy mah playboy aja kali. Nggak ada playboy sejati bisa ngerasain sakit hati!" tekan Qhia.


"Karena bokap gue ngancem mau sita motor gue, Qhi, kalau nggak ngakuin lo di depan pacar gue. Karena bokap gue tahu kalau gue punya pacar." jelas Riki lirih.


"Dan asal lo tahu, gue kira gue bakalan nikah sama lo karena dijodohin doang? Ternyata enggak, Qhi. Ternyata bokap gue punya hutang dan keluarga lo mau bantu bayarin hutang bokap gue, dengan cara mengganti hutang itu mereka jodohin kita!" sambung Riki.


Sontak Qhia terkejut sekaligus tak percaya. "Ap-apa? Tapi, Mamah nggak pernah bilang gitu sama gue?"


"Nyokap lo tahu kalau lo suka sama gue!" ucap Riki penuh penekanan.


"Ja-jadi, lo tahu kalau gue suka sama lo? Dan lo nggak bilang itu ke gue?"


"Iya, gue tahu. Makanya dulu gue bilang kegitu sama Aleta biar lo seneng. Tapi, akibatnya Aleta ninggalin gue dan sekarang dia...udah jadi milik orang lain" jelas Riki menyesal.


"G-gue nggak tahu. Tapi, ini semua nggak sepenuhnya salah gue ya! Lo juga salah di sini!" ucap Qhia yang tak mau hanya dia yang disalahkan.


"Gue tahu dan lo nggak perlu kasih tahu. Sekarang kita fikirin gimana caranya biar gue bisa balik lagi sama Aleta" kata Riki, Qhia menggeleng tanda tak setuju.


"Nggak semudah itu, Rik. Lo tahu kan status dia sekarang, dia udah jadi istri orang! Lo mau jadi pebinor?" ucap Qhia.


"Yap! Gue rela jadi pebinor demi Aleta!" tekannya dengan percaya diri bahwa ia bisa merebut Aleta dari Raven.


"Gila lo! Jangan karena cinta lo jadi nggak waras gini!" ucap Qhia tak habis fikir.


"Cinta? Apa sih sebenernya cinta itu? Tak terlihat tapi, kalau patah bisa bikin sakit." Riki bergumam setelah berhasil meneguk habis segelas miras di genggamannya.


"Udahlah Rik, lo ikhlasin dia dan cari cewek lain yang masih sendiri. Lo jangan jadi orang jahat karena keegoisan lo!" ucap Qhia berusaha menasehati.


"Nggak usah sok baik deh lo! Cewek pendosa kayak lo tuh nggak pantes kasih nasehat!" tekan Riki dengan kata tajamnya yang mampu menembus sampai to the bone.


"Riki!" pekik Qhia saat Riki kembali meminum segelas miras keduanya.


"Dahlah gue mau pulang. Lo bisa pulang sendiri kan? Kalau nggak bisa, lo suruh si Parran anterin lo pulang" ucapnya sebelum pergi.


"Nggak usah sok peduli, gue nggak butuh bantuan lo!"


"Okey, bye! Gue balik duluan, Parran."


"Riki bener-bener cowok brengs*k!" murka Qhia saat Riki benar-benar sudah pergi meninggalkannya.


SKIP


"Masuk sini dulu deh, ngopi. Sekalian nyari ayang. Karena sohib telmi gue susah diajak ngopi, terpaksa gue menjomblo tiap nongkrong. Tapi, nggak masalah karena sebentar lagi gue bakalan dapet ayang di sini. Mungkin" gumam seorang Arga seraya berjalan memasuki sebuah Cafe.


"Wadouw, karyawan di sini pada cakep-cakep amat. Nggak ada gitu yang dengan suka rela jadian sama cowok ganteng yang paling budiman ini?" sambungnya setelah mendudukkan bokongnya di kursi sambil kedua matanya keliling mencari keberadaan para betina di sana.


"Ini, Bu, minumnya. Selamat menikmati.." ucap seorang karyawan cafe kepada pembeli.


"Akhirnya dapet mangsa." batin Arga penuh kemenangan.

__ADS_1


"Mbak! Mbak!" panggilnya sambil melambaikan tangan ke arah karyawan tersebut.


"Saya permisi dulu ya, Bu." pamit karyawan tersebut.


"Iya Mas, mau pesan apa?" tanyanya sesampainya di sana tanpa menatap si pembeli.


"Saya mau pesa-.. Kak Fany?" bertepatan saat mendongak, Arga mendapati kakelnya di sana.


"Arga?" beo Fany.


-


"Jadi, selama ini Kak Fany kerja paruh waktu buat biayain sekolah kakak?" tanya Arga memastikan meski sudah dijelaskan berulang kali.


"Iya begitulah." Fany menghendik acuh.


"Memangnya orang tua Kak Fany ke mana? Pisah atau pergi ninggalin kakak bersama nenek kakak?" tanya Arga yang mulai kepo.


"Orang tua gue udah meninggal" jawab Fany dengan raut wajah berubah sedih.


"Kak, gue minta maaf. Gue nggak tahu" ucap Arga tak enak hati.


"It's oke, lagian udah lama mereka pergi ninggalin gue." lirih Fany sembari menunduk meremas jemarinya.


Sedangkan cowok itu terlihat merenung seperti menyesal telah menanyakan soal keluarga Fany.


"Btw, lo ngapain jam segini keluyuran? Mana masih pake seragam lagi. Lo bolos?" tanya Fany memecah keheningan dan merubah topik karena melihat cowok itu masih berseragam sekolah.


"Iya, hehehee.." jawabnya sambil terkekeh.


"Ketawa lagi, dasar! Udah sana cepetan balik ke sekolah. Udah kelas sebelas juga masih aja bandel." omel Fany kepada cowok di hadapannya.


"Gue tuh kesini karena mau nyari ayang. Bukan bolos doang." elaknya.


"Gimana mau dapet ayang kalau kelakuan lo kaya ayam! Lihat kandang kebuka aja langsung kabur." sarkas Fany sambil berusaha menahan tawanya.


"Udah sana balik lagi sekolah yang bener. Lihat noh temen lo si Raven, dia sekolahnya pinter, nggak bolos pelajaran. Sekarang dia dapet ayang sebaik sahabat gue. Lah lo? Bandel kaya gini mau dapet ayang modelan apaan?" kata Fany yang penuh dengan sindiran.


"Raven dapet ayang karena emang mereka dijodohin. Lah gue, ortu gue kagak ada tuh bilang mau jodohin gue sama cewek yang body nya semlehoy kaya gitar Spanyol." ucap Arga membantah.


"Lo fikir dijodohin itu enak? Lagian nih ya, lo itu masih piyik banget buat jadi suami. Tukang bolos kaya lo kalau punya anak mau lo kasih makan apaan hah?" tanya Fany tak habis fikir dengan cowok di hadapannya ini.


"Kalau soal itu mah dipikir keri ae." ucapnya acuh.


"Males gue ngeladenin lo. Mending gue lanjut kerja." decaknya sebelum bangkit dari duduknya.


"Yaudah sana! Kerja yang bener biar ntar kagak dipecat!" ucapan Arga membuat Fany membalikkan badan menghadap Arga.


"Kalau gue dipecat, orang pertama yang gue samperin adalah lo, Arga!" tunjuk Fany tepat di depan wajah Arga dengan memberikan tatapan tajam.


"Kok gue?" tanya Arga cengo sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya.


"Bye!" tak ingin meladeni Arga, lebih baik Fany segera kembali ke cafe.


"Dasar cewek nyebelin! Galak! Gue sumpahin lo dapet cowok yang nyebelin juga! Biar tiap hari ribut mulu. HA HA HA HA.." tawa jahat ia keluarkan setelah kepergian Fany.


Setelahnya, ia merenung sambil memikirkan kembali ucapan Fany. Ada benarnya juga sih, fikirnya.


SKIP


"Arga kemana sih, kok nggak balik-balik. Katanya tadi cuman mau ke depan beli Boba. Apa jangan-jangan dia bolos?" gumam Raven yang duduk di bangkunya sambil melihat jam di ponsel miliknya.


"Raven!" panggil Bella dan duduk di bangku milik Arga yang juga berada di samping Raven.


Membuat Raven terkejut dan memgang dadanya. "Bell? Kamu ngagetin aku"

__ADS_1


"Sorry. Gimana keadaan lo?" tanya Bella basa-basi.


"Aku udah nggak apa-apa. Oiya, makasih ya dan minta maaf, kemarin kamu udah nungguin aku sadar dan jagain aku saat Arga ke kelas ambil HP." ucapnya merasa tak enak hati.


"No problem. Gue seneng bisa bantu lo." ucapnya dengan menampilkan senyum manisnya.


Raven mengangguk sedikit kaku, "I-iya."


"Btw, gue boleh nanya sesuatu nggak?" Bella bertanya membuat Raven menatapnya lagi.


"Nanya apa?"


"Soal fo-..." belum menyelesaikan pertanyaannya, buru-buru tubuhnya didorong menjauh dari bangku milik Arga dan kembali duduk di bangku miliknya sendiri.


"Eits! Jangan deket-deket sama Raven. Enak banget ya nggak ada gue lo bisa seenaknya nempel-nempel ke Raven." omel Arga kepada cewek itu setelah mengambil alih tempat duduknya.


"Apaan sih lo, ganggu aja orang lagi ngobrol juga!" decak Bella kesal.


"Iya nih, kamu dari mana aja kok baru balik?" sahut Raven lalu bertanya.


"Biasalah. Kaya nggak tahu gue aja" jawabnya acuh.


"Halah palingan juga bolos, iya kan?" tebak Bella yang sudah hafal dengan kebiasaan teman sekelasnya itu.


Arga menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Bella, membuat cewek itu memundurkan kepalanya menjauh, "Betul!"


"Astaga, kamu benar-benar bandel" ucap Raven tak habis fikir sambil geleng-geleng kepala.


"Nggak bandel nggak ada kenangan pahit semasa SMA" ujar seorang Arga dengan bangganya.


"Tapi, terlalu bayak kenangan pahit itu nggak baik. Harus punya kenangan manis juga" lanjut Raven berusaha menasehati.


"Betul!" dan lagi-lagi reaksi cowok itu hanya menjentikkan jarinya, kini beralih di depan wajah sahabatnya. Raven.


"Si Arga mah nggak akan punya kenangan manis, karena hidupnya penuh dengan kepahitan. HAHAHAHAA.." sarkas Bella disela tawanya.


"Diem lo!" sembur Arga kepada cewek itu tapi, sama sekali tak membuat cewek itu bungkam.


Arga menatap Raven dan Bella bergantian, kemudian berbicara dalam hati.


"Kalau gue nggak ada di samping Raven, bisa-bisa Bella beneran nyatain perasaannya ke Raven. Nggak bisa. Gue nggak bakal biarin semua itu terjadi. Pokoknya gue harus lakuin perintah Ibu Negara buat jagain Bapak Negara gue!"


"Kamu kenapa, Ga?" pertanyaan Raven membuyarkan lamunannya.


"Mikirin cara depet ayang" ucap Arga spontan.


"Idih si najis" gumam Bella yang jyjyk mendengar ucapan Arga.


Sedangkan Raven mah hanya menggeleng saja mendengar itu.


.


.


.


Gimana episode hari ini?


Ada-ada aja kelakuan Arga, segala nyari ayang😑


Menurut kalian Arga cocoknya sama Bella atau Fany?


Tim Arbell (Arga-Bella) ?


Tim Arny (Arga-Fany) ?

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Vote!


__ADS_2