
"mama.." saat Mala dan Zanna tengah asik mengobrol, terdengar suara anak kecil dari belakangnya.
"Vania? udah bangun?" ucap Mala begitu melihat Vania berdiri di depan pintu.
"sini sayang" Zanna melambaikan tangan menyuruh Vania mendekat ke arahnya, lalu Vania berlari ke mamanya.
"kok kamu udah bangun?" Vania hanya mengangguk.
"mama.." Vania memanggil.
"iya sayang, kenapa?"
"kakak di mana?"
"kakak ada di rumah mama Mala sayang, kamu kangen ya sama kakak?" ucap Mala dan Vania mengangguk.
"kalau Vania kangen sama kakak, Vania ikut mama mau?" sahut Mala.
"ikut ke lumah mama Mala?"
"iya sayang"
"mau mau, aku ikutt" Vania mengangguk antusias.
"ma.." Vania mendongak menatap mamanya.
"iya sayang?"
"Vania boleh ikut?"
"iya boleh, tapi Vania harus janji nggak boleh nakal dan harus nurut sama mama Mala"
"Vania janji" Zanna tersenyum.
"oiya, Zan aku mau pamit pulang"
"udah mau pulang?"
"iya, udah sore kasihan anak-anak ditinggal sendiri di rumah"
"iya juga Mal, oiya Vania jadi ikut?" Zanna bertanya kepada Vania yang duduk dipangkuannya.
"Vania ikut kalau mama juga ikut"
"mama nggak ikut sayang, mama masih ada pesanan"
"yaah.. kalau mama nggak ikut Vania nggak jadi ikut"
"kok gitu? kenapa Vania nggak jadi ikut?" tanya Mala sedih.
"kasihan mama nanti di lumah sendilian"
"kamu memang anak yang baik dan sayang sama mama kamu, yasudah tidak apa-apa"
"nanti kalau mama udah nggak sibuk, kita main ke rumah mama Mala ya sayang" Vania mengangguk.
"yaudah kalau gitu aku telfon Safar dulu"
"oiya, sebentar aku bawain sesuatu buat kamu dan anak-anak"
"bawain apa? tidak usah Zan" Mala membantah namun Zanna tetap mengambilkannya, Zanna ke dapur dan mengambil beberapa kue buatannya dan juga kue kesukaan Raven dan ia masukkan ke dalam tote bag.
"Vania beneran nggak jadi ikut?" Vania menggeleng.
"enggak ma"
"yaudah"
"ini Mal" Zanna menyodorkan tote bag ke depan Mala.
"apa ini Zan? tidak usah" Mala menolak.
"terimalah"
"baiklah aku terima, terimakasih Zan" akhirnya Mala pasrah menerimanya.
"iya, aku titip Raven sama kalian. Kalau dia berbuat macam-macam segera hubungi aku"
"iya tenang aja, pasti dia nggak akan berani macam-macam" Mala terkekeh, tak lama terdengar suara klakson mobil yang sepertinya Safar sudah sampai.
"jemputanku udah sampai, aku pamit pulang dulu ya"
"iya Mal, kamu hati-hati"
"iya, dada" Zanna mengangguk sambil tersenyum, Mala masuk ke dalam mobil lalu Zanna menutup pintu dan kembali duduk.
"mama, Vania kangen kakak"
"kangen banget emangnya?" Vania mengangguk.
"yaudah, gimana kalau sekarang kita vidio call kakak?" Vania mengangguk senang.
"bentar mama ambil hp dulu terus telfon kakak" Zanna bangkit lalu mengambil ponsel di meja kamarnya.
Di sisi lain, Raven tengah duduk di kursi belajarnya namun bukannya belajar malah melamun. Ponselnya bergetar membuatnya menoleh ke ponsel di atas meja.
"mama vidio call?" ucapnya lirih lalu mengangkatnya.
"hallo ma, eh adek? halo dek" ucapnya begitu melihat wajah Vania memenuhi layar ponselnya.
"kakak, kapan pulang Vania kangen" rengek Vania.
"kakak juga kangen sama adek, gimana kalau besok kakak pulang abis sekolah?"
"yeaayy!! besok kakak pulang" Vania senang sampai melompat-lompat.
"jangan lompat-lompat nanti adek jatuh"
"janji ya kak, besok pulang" ucapnya setelah berhenti melompat.
"iya kakak janji" Raven menunjukkan jari kelingkingnya ke kamera.
"oiya Rav, gimana tadi ujiannya? lancar?"
"alhamdhulillah lancar ma"
__ADS_1
"syukurlah, sekarang kamu lagi apa?"
"ini Raven sekarang lagi belajar" mengarahkan kamera ke meja yang sudah ada beberapa buku di sana.
"belajar yang rajin ya, jangan begadang. Kalau capek istirahat jangan dipaksain"
"iya mama, Raven pasti selalu ingat pesan mama"
"kamu belajar sendiri? Aleta mana?"
"ouh? kak Al ada di bawah"
"kok nggak belajar bareng?"
"enggak ma"
"kenapa? kalian nggak lagi berantem kan? semua baik-baik aja kan?"
"iya ma baik, mama nggak usah khawatir"
"kalau ada apa-apa hubungin mama"
"iya ma, mama juga hubungin Raven kalau ada apa-apa"
"iya tentu saja mama akan hubungin kamu, kan kamu anak cowok nya mama" Zanna terkekeh.
"iya juga ya"
"kamu udah makan?"
"udah ma, tadi sama kak Al"
"tadi mama bawain kue kusakaan kamu dan mama titip ke mama Mala"
"benarkah?"
"iya"
"makasih ma"
"yaudah kalau gitu mama matikan ya, kamu lanjutkan belajarnya"
"kakak jangan lupa besok pulang" tiba-riba wajah Vania nongol memenuhi layar ponselnya.
"iya dek, kakak besok pulang" ucapnya lembut menahan gemas dengan adiknya itu. Panggilan berakhir, Raven memasukkan ponsel ke saku dan turun.
"kak.." teriak Raven menuruni anak tangga.
"ada apa? gw di sini" sahutnya tanpa menoleh ke sumber suara. Raven melihatnya duduk di kursi depan tv langsung menghampiri Aleta dan duduk di sampingnya dan meraih cemilan yang dipegang Aleta dan memakannya.
"kakak nonton apa?" tanyanya sambil mengunyah cemilan.
"liat aja sendiri, tv nya ada di depan" ketus Aleta.
"ouh.. aku ganti ya?"
"ganti apa? udah itu aja"
"ada kartun kak" memang sekarang Aleta sedang menonton sinetron.
"kok kak Al suka nonton sinetron padahal alurnya gitu-gitu aja"
"kalau nggak suka yaudah nggak usah ditonton gitu aja ribet"
"yailah kak Al sensi amat"
"bodo!" Aleta acuh.
"oiya, tadi lo kenapa?"
"aku kenapa?"
"dahlah lupain aja" Raven lanjut menonton tv, tak lama terdengar suara mobil diluar.
"kayaknya itu mama" ucap Apeta lirih menoleh ke pintu utama, Raven fokus menonton tv yang sekarang sudah ia ganti dengan kartun karena memang sinetron yang tadi Aleta tonton sudah selesai.
"mama pulang.." terdengar Mala masuk dengan memegang dua tas di tangannya, satu tote bag dari Zanna yang isinya kue dan yang satunya tas miliknya sendiri.
"bukannya itu suara mama?" tanya Raven seperti mendengar suara Mala.
"iya" ucap Aleta beranjak dari duduknya kemudian berjalan menemui mamanya.
"eh tunggu aku ikut" Raven mengikutinya dari belakang.
"kok mama baru pulang sih?" ucap Aleta sedikit kesal sesampainya di meja makan, Raven berdiri di sampingnya. Sedangkan Mala sudah meletakkan tasnya di atas meja.
"rencananya sih mama belum mau pulang cuman sudah sore jadi mama kasihan ninggalin kalian di rumah berdua"
"ma.. tadi kata mama, mama dibawain kue ya?" Raven bertanya.
"iya bener, kok kamu tahu? pasti Zanna udah kasih tahu kamu" lalu Mala merogoh kue dan meletakkannya di piring.
"makanlah" pinta Mala.
"uwaahh.. ini kue kesukaan aku ma" Raven mengiris kue itu dal langsung memakannya.
"ini kue buatan mama Zanna, ma?" Mala mengangguk, lalu Aleta mengiris dan memakannya.
"enak banget ma"
"kamu suka?" Aleta mengangguk senang.
"Al suka banget"
"suka sama anaknya yang bikin juga nggak?" tanya Raven dengan mulutnya masih penuh.
"gak!" acuh Aleta. Raven mendengar itu menelan kue di dalam mulutnya perlahan.
"yaudah, kalian habiskan. Mama mau masak buat makan malam"
"masak apa ma? Al bantuin ya?" tanya Aleta sudah selesai memakan kue sedangkan Raven masih memakannya lahap.
"Raven juga mau bantu" sahut Raven, Aleta hanya meliriknya sekilas lalu melihat mamanya lagi.
"sebentar mama lihat dulu bahan-bahannya" Mala membuka kulkas dan terdapat pare di sana.
__ADS_1
"ada pare, kita masak pare gimana?"
"setuju!" sahut Raven sudah menyelesaikan makannya.
"enggak ah, Al nggak mau" Aleta menolak.
"kenapa kak? apa kak Al nggak suka sama pare?" Aleta menggeleng.
"pare itu makanan terenak asal kak Al tau"
"enak dari mananya? pahit gitu lo kata enak" Aleta kesal memutar kedua matanya malas.
"emang iya awalnya pahit tapi lama-lama enak kok"
"enggak mau" sepertinya Aleta masih kekeh menolak memasak pare.
"yasudah kalau Al nggak mau mama masakin telur aja ya?"
"emang nggak ada yang lain?"
"enggak ada Al, tinggal dua itu bahan-bahannya mama belum belanja lagi"
"yaudah terserah mama aja, kalu cuman masak telur Al nggak bantu nggak apa-apa?"
"iya sayang nggak apa-apa"
"kalau gitu Al ke kamar mau belajar" Mala mengangguk lalu Aleta berlalu meninggalkan mamanya dan Raven.
"kamu nggak ikut Rav?"
"kan aku mau bantu mama"
"tidak usah, lebih baik kamu ke kamar terus belajar. Nanti kalau udah waktunya makan malam, mama panggil"
"beneran nggak dibantu?"
"iya Raven, udah sana"
"kalau gitu Raven nyusul kak Al ke kamar ya ma?" Mala mengangguk sambil tersenyum dan Raven berlalu menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya.
Sampai kamar, Aleta merebahkan tubuhnya di kasur dan.memejamkan mata, tapi tidak tidur, Sedangkan Raven masuk ke kamarnya sendiri dan mengemas beberapa buku lalu pergi ke kamar Aleta.
tok tok tok
"kak.." Raven memanggilnya dari balik pintu.
"apa lagi?" teriak Aleta masih memejamkan mata.
"apa aku boleh masuk?" Aleta menghembuskan nafas kasar lalu membuka matanya dan duduk.
"masuk aja nggak dikunci" lalu Raven membuka ointu dan masuk.
"mau ngapain?" tanyanya saat Raven berjalan ke arahnya.
"belajar"
"kenapa kesini?"
"aku mau belajar bareng kak Al"
"kenapa lo nggak belajar sendiri aja sih elah ribet amat"
"nggak boleh ya?" tanyanya memohon dengan wajah memelas itupun sukses bikin Aleta meluruh.
"i-iyaudah terserah lo mau belajar di sini" memalingkan wajahnya ke samping.
"jadi boleh?" Aleta mengangguk malas.
"terimakasih kak" Raven berjalan dan duduk di kursi belajar dan diikuti Aleta di belakangnya.
"kalau belajar di sini nggak boleh berisik" peringatan dari Aleta.
"iya kak, aku nggak akan berisik" Aleta diam dan fokus belajar.
"kak.."
"hem" Aleta menjawab dengan hem-an doang tanpa menoleh ke penanya.
"besok aku mau pulang" Aleta diam.
"katanya adek kangen banget, jadi aku.." belum menyelesaikan perkataannya Aleta memotongnya.
"kalau lo mau pulang ya pulang aja ngapain pakek ngomong ke gw"
"aku hanya meminta izin"
"lo nggak ada hak buat dapet izin dari gw dan gw juga nggak ada hak buat izininin lo atau enggak"
"kak.."
"kalau emang lo kangen dan Vania kangen ya lo pulang aja"
"lo juga punya hak buat ketemu sama adek lo dan mama lo"
"kak Al.."
"udah, gw gamau bahas itu. Gw mau belajar" Raven terdiam, mereka melanjutkan belajar tanpa percakapan.
Hai hai hai
Ini nih sebagai pengganti episode yang sebelumnya gasengaja kehapus
Mohon maaf jika agak beda dari sebelumnya
Jangan bosen-bosen buat baca cerita ini
Tinggalkan jejak kalian biar aku tahu keberadaan kalian hehehe
Like Komen dan Vote
Mohon maaf kalau ada typo
Terimakasih
Happy reading
__ADS_1