
Di sisi lain, kedua ibu tengah sibuk menghias rumah dan Raven mengajak adiknya bermain yang sudah ada Arga di sana. Raven menelfon Arga untuk menghadiri acara ulangtahun Vania, memang dari Vania masih berumur 2 tahun Arga selalu diundang ke acara ulangtahunnya.
Vania tengah asik bermain boneka barbie nya.
"ciee yang ntar malem ulangtahun, kira-kira dapet kado apa aja ya" ucap Arga menggoda Vania.
"yang pasti mainan yang banyaak dong kak" jawab Vania dengan merentangkan kedua tangannya melebar.
"emm tapi kak Arga nggak mau ngasih kado"
"gapapa juga kalau kak Aga nggak kasih kado, emang kan kak Aga pelit"
"enak aja kalo ngomong, kakak nggak pelit kok cuman berhemat aja"
"sama aja" sedari tadi hanya Vania dan Arga ngobrol, sedangkan Raven diam dan melamun hingga Arga menyadarinya.
"hei Rav, ngelamun mulu awas kesambet lo" Raven sadar dengan lamunannya.
"apa Ga? enggak, aku nggak lagi ngelamun kok"
"terus apa? jadi batu? cosplay jadi malin kundang ya lo hahaha.." Arga tertawa dan Vania ikut tertawa.
"eh dek, kakak lo cosplay jadi malin kundang" adu Arga ke Vania.
"kak Aga jangan ngomong gitu"
"ya lagian daritadi diem aja, lagi mikirin apa sih"
"enggak lagi mikirin apa-apa kok"
"ntar malem bakal jadi malam yang istimewa buat adek kakak yang paling cantik ini" lanjutnya sambil mencubit gemas pipi Vania.
"iya kak, Vania seneng banget"
"kan sekarang Vania udah gede dan udah 4 tahun, jadi Vania nggak boleh nakal ya nggak boleh bandel, pokoknya Vania harus jadi anak dan adek yang baik yaa" ucap Raven tulus. Vania mengangguk.
"oiya, lo nggak undang pacar lo buat dateng?" tanya Arga tiba-tiba.
"siapa?" dengan polosnya Raven bertanya.
"yaelah telmi lo kapan ilangnya sih"
"ouh kak Aleta? kata mama nanti dia dateng"
"ohya? seriusan? kalian udah direstuin emang?" Raven mengangguk pelan.
"waahgilasehh.. hebat bener, cepet banget direstuinnya. Andai gw jadi lo, gw nggak bakal ngelepas tuh cewek, gw bakal jaga dia terus sampek ke kua" ucaan Arga mulai ngawur.
"apaan sih kamu ngawur banget sampek ke kua segala"
"eh gw serius siapa sih yang nggak mau sama cewek secantik dia, eh siapa tadi namanya gw lupa"
"kak Aleta"
"iya itu, namanya aja cakep apalagi orangnya etdah"
"udah udah nggak usah berlebihan, nanti kamu suka lagi sama kak Al"
"tenang brou gw nggak sejahat itu, mana mungkin gw ngembat yang udah jadi milik sahabat gw sendiri"
"kali aja, gatau nanti"
"eh eh gw bilang gw nggak akan nikung, kok lo jadi serius gitu sih"
"iya enggak bukan itu maksud aku, aku percaya kok sama kamu"
__ADS_1
"nah gitu dong"
"btw, udah berapa lama kalian pacaran? kok lo kagak pernah cerita ke gw" tanya Arga merasa dirinya tak pernah diberitahu.
"belum lama kok" jawab Raven.
"belum lama nya berapa lama? berapa bulan? minggu? hari? kalau hari gamungkin, pasti bulan. Berapa bulan?" tanya Arga bertubi-tubi.
"udah jangan bahas itu, belum lama kok" Raven menjawab dengan sabar.
"yaudah kalau lo kagak mau kasih tahu lagian ntar juga pasti dia dateng, biar gw tanya langsung aja"
"e eh, kamu jangan nanya langsung"
"kenapa? kan lo kagak mau kasih tahu yaudah lebih baik ntar gw nanya langsung"
"aku bilang jangan"
"gw bakal tetep nanya" Arga dengan ekspresi songongnya.
"aku bilang jangan, Ga"
"bodo!"
"Argaa.." saat Raven hendak menggaplok sahabatnya itu dengan boneka barbie milik Vania, Vania mencoba melerai.
"hsuutt.... kalian belisik sekali.." ucap Vania sedikit teriak sambil meletakkan jari telunjuknya di mulutnya. Raven kembali duduk ke posisi awal.
"kakak lo ini yang berisik" ucap Arga.
"kamu duluan"
"lo dulu"
"udah udah, aku mau main aja kesusahan ini. Kalau mau belantem di lual aja, nanti mainanku lusak" rengek Vania kemudian merebut mainannya dari genggaman kakaknya.
"kok jadi gw sih yang disalahin, jelas-jelas lo yang mulai duluan kok" kesal Arga tak terima sudah disalahkan.
"kamu duluan yang mulai" ternyata perdebatan mereka terdengar sampai dapur, kedua ibu yang sibuk pun merasa bingung.
"itu di depan ada apa ribut-ribut?" tanya Mala pada Zanna mengdengar suara bising.
"iya ya Mal, ada apa ya? ayo kita lihat" Mala mengangguk lalu menuju ke sumber kebisingan.
"ada apa ini kenapa berisik sekali?" tanya Zanna begitu sampai di tempat Raven Vania dan Arga, tersangka pun terdiam dan menoleh ke arah kedua ibunya.
"ada masalah apa?" Mala bertanya.
"tidak ada apa-apa kok ma" jawab Raven dengan senyuman paksanya.
"tadi kok berisik sekali"
"itu ma, kakak sama kak Aga tad-" belum selesai bicara, Raven membungkam mulut adiknya dengan telapak tangannya.
"tidak ada apa-apa kok ma, serius" ucap Raven masih membungkam adiknya.
"iya kok tante, semua aman" sahut Arga.
"iih apaan sih kak" Vania melepas bungkaman kakaknya.
"kalau nggak ada apa-apa kenapa saat Vania mau ngomong kalian halangi?" tanya Mala menginterogasi.
"em e itu.."
"gini lho ma-"
__ADS_1
"adek, kamu diem dulu yaa" saat Vania ingin menjelaskan apa yang terjadi, Raven berbisik untuk tidak mengatakan apapun.
"nanti kakak beliin Vania eskrim yang banyaak.." rayu Raven.
"benelan kak?" tanya Vania dengan semangat. Raven mengangguk saja.
"hayo tadi kalian ngapain? Vania, coba kamu jelaskan apa yang terjadi. Vania kan anak baik jadi gaboleh bohong" ucap Zanna. Vania bingung tentu saja Raven dab Arga masih mencoba merayunya.
"dek, jangan bilang apapun sama mama nanti kakak beliin eskrim yang banyak" Arga mencoba merayu.
"nanti kakak beliin apapun yang Vania suka" Raven ikut. Vania tengah mempertimbangkan keputusannya.
"Vania, bicara sayang"
"enggak ada apa-apa kok ma" jawaban Vania tentu saja melegakan Raven dan Arga, berarti rayuannya tadi berhasil.
"bener? Vania nggak bohong kan sayang?" Vania menggeleng sambil tersenyum. Tentu saja kedua ibu itu mau tidak mau harus percaya, toh juga ucapan anak kecil selalu benar.
"tuhkan tante, nggak ada apa-apa. Iya kan Rav?" Raven mengangguk sedikit ragu.
"iya"
"yaudah kalau gitu kita balik ke dapur, kalian baik-baik main di sini jangan ada yang berantem" mereka mengangguk mengerti.
"kalau ada apa-apa, Vania lapor ke mama" Vania hanya mengangguk saja kemudian kedua ibu kembali ke dapur.
"pinter banget sih Vania, gitu dong jangan bilang ke mama kalau tadi kita berantem" ucap Arga kepada Vania setelah kedua ibu kembali ke dapur.
"sebenarnya tadi itu tidak baik, Ga. Kita harusnya nggak suruh anak kecil berbohong"
"dahlah Rav, yang penting kita nggak kena omel. Lagian berbohongnya juga demi kebaikan"
"mana ada berbohong demi kebaikan?" Arga mengangguk acuh. Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan mereka.
Di sisi lain.
"Zan.." Mala memanggil Zanna yang berada tak jauh darinya.
"iya Mal? kenapa?" Zanna menoleh.
"gimana kalau nanti sekalian mempererat hubungan mereka"
"maksudnya?"
"kan kemarin Mas Evan aku suruh beli cincin terus Aleta belum bisa menerimanya, jadi gimana kalau nanti malam saja?" usul Mala bersemangat.
"aku setuju Mal, tapi apa Aleta sudah siap?"
"mungkin belum, tapi kemarin Al udah bilang kalau dia bersedia menerima perjodohan ini"
"aku sih terserah kamu Mal yang penting itu yang terbaik buat mereka" Mala mengangguk.
"nanti aku telfon Mas Evan buat pulang cepet dan sekalian bawain cincinnya di rumah" batin Mala kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Hai Hai Hai
Author hai hai mulu kagak up up wkwkw
Maaf ya gais..
Oiya buat yang masih setia baca cerita ini dari awal sampai saat ini, aku ucapin banyak sekali terimakasih karena tanpa dukungan dari kalian mungkin cerita ini belum sampai di episode sekarang. Pokoknya jangan bosen-bosen nunggu up episode selanjutnya dan jangan bosen-bosen juga nunggu author yang sangat ngaret hehehe
Terimakasih atas pengertian kalian
Mohon maaf kalau ada typo
__ADS_1
Terimakasih
Happy reading