A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
71. Drama Perpustakaan


__ADS_3

Author balik lagi, YAAYY!! Mohon maaf atas keterlambatan update nya yaa..


Sebelum masuk ke cerita. Aku, selaku penulis novel A&R mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasa di tahun ini berkah dan diterima sama Allah SWT. Aamiin..


HAPPY READING!


.


.


.


Kini, hubungan Aleta dan Raven menjadi semakin dekat. Yaa walaupun sekedar teman, setidaknya sikap Aleta jauh lebih hangat dibanding sebelumnya. Ia juga sudah bisa menghargai setiap yang dilakukan oleh Raven kepadanya.


Mulai dari menemani Raven belajar, mengajarinya bila ada pelajaran yang belum dimengerti. Serta perlahan-lahan Aleta mencoba makan tumis pare yang sangat ia benci itu sebelumnya. Dan, ternyata rasanya juga tak terlalu buruk. Benar yang pernah dikatakan Raven dulu, awalnya aja pahit, lama-lama bakalan enak. Dan benar saja, Aleta mulai suka dengan masakan tersebut.


Raven juga sudah kembali tinggal di rumahnya. Setiap pagi berangkat bersama, namun Raven meminta Safar untuk diturunkan di luar sekolah. Karena ia tak mau ada rumor yang tidak-tidak soal dirinya dan Aleta.


Dan Aleta mengerti itu, walaupun selalu ada rasa tidak suka kalau Raven terus-terusan menghindarinya. Tidak. Bukan menghindar, melainkan menghindarinya bila di area sekolah atau bersama teman-temannya.


Hari ini semua kelas tidak ada pelajaran karena para guru sedang rapat, tapi muridnya tidak dipulangkan. Nanggung juga, karena rapat mereka hanya sebentar. Karena ujian juga telah selesai, tinggal menunggu ujian selanjutnya bagi kelas 12.


Seperti biasa yang dilakukan para siswa sekolah bila jamkos. Ada yang tidur, ngadain konser dadakan, ke kantin, ke perpus bagi yang suka membaca dan masih banyak lagi aktivitas absurd anak sekolah. Tapi semua itu hal yang wajar, mungkin karena sudah turun-temurun dari angkatan sebelumnya. Dan bila tidak melakukan itu maka vibes nya akan aneh dan seperti ada yang kurang.


Seperti kebanyakan siswa lain, Elvina dan Fany memilih ke perpustakaan. Daripada di kelas, sangat bising dengan anak-anak yang ngadain konser.


Perpustakaan.


Elvina duduk lesehan sambil membaca novel, sedangkan Fany masih sibuk memilih buku yang akan ia baca.


"El, gue bingung nih mau baca yang mana. Soalnya semuanya bagus dan menarik untuk dibaca"


"Ambil aja salah satu, Fan. Terus bawa ke sini, kalau lo cuman memilih dan nggak nyobain, lo nggak akan pernah tahu isinya. Meski covernya menarik, belum tentu di dalamnya juga menarik. Opening itu hanya pemanis."


"Kok lo jadi puitis gitu sih, El? Tapi bener juga yang lo bilang. Yaudah deh, gue ambil ini aja." lalu Fany mengambil salah satu novel itu dan segera duduk di samping Aleta.


Saat mereka berdua tengah fokus membaca novel. Terdengar bell yang berada di pintu berbunyi, pertanda ada yang baru masuk.


.


"Bolos aja yuk, Rav? Gue gabud banget sumpah! Kenapa kita nggak dipulangin aja sih, gurunya rapat juga." ajak Arga kepada sohibnya.


"Kamu nggak dengar apa yang tadi para guru bilang, kalau rapatnya hanya sebentar?." kata Raven.


"Tapi gue pengin boloss.." rengek Arga sembari meletakkan kepalanya di meja.


"Daripada bolos, gimana kalau kamu ikut aku aja?"


"Ke mana? Kantin? Lo yang traktir yak?" Arga bersemangat.


"Enak aja, bukan. Aku itu mau ajak kamu ke perpus, biar nggak gabud lagi, gimana?" ajak Raven.


"Perpus? Nggak mau gue."


"Kenapa? Enak loh di sana, bisa baca buku, ada AC nya juga."


"Lo itu tahu nggak sih kalau gue itu alergi perpustakaan?!" ucap Arga terdengar meyakinkan.


"Mana ada alergi perpus? Yang ada kalau kita ke sana, kita bisa nambah ilmu. Kalau kamu nggak mau, yaudah aku pergi sendiri." saat Raven beranjak, Arga mengikutinya.


"Tu-tunggu! Gue ikut deh, daripada gue sendirian ngang-ngong-ngang-ngong."


"Yaudah, yuk!."


.


Raven sedang memilih buku yang akan ia baca, sedangkan temannya terlihat tak tertarik sama sekali dengan banyaknya buku yang dijejer dengan rapi di hadapannya. Lalu Arga memilih duduk di kursi yang berada tak jauh dari dirinya, kemudian merebahkan kepalanya di meja.


"Gue mau tidur bentar, kalau balik ke kelas bangunin gue."


"Iya, nanti aku bangunin."


Saat sibuk mencari buku, tiba-tiba ia mendengar suara tawa yang tak asing di telinganya. Perlahan ia mengintip lewat sela-sela buku dan mendapati dua cewek yang sedang bertukar tawa. Entah mungkin karena novel yang mereka baca mengandung jenaka atau memang ada hal yang lain.


Tetapi, muncul kehangatan dalam diri Raven. Pasalnya ia belum pernah melihat salah satu cewek itu tertawa selepas itu. Dengan melihat itu saja sudah mampu membuatnya bahagia. Yaa, cewek itu adalah Aleta yang tengah tertawa bersama Fany.


"Baru kali ini aku lihat Kak Aleta ketawa selepas itu. Aku merasa bahagia melihatnya." gumam Raven tak henti-hentinya menyinggungkan senyum manisnya.


Arga yang mencoba tidur tapi tidak bisa itu lalu melirik sohibnya yang terlihat seperti sedang mengintip. Arga berdiri dan berjalan mendekati Raven serta menirukan yang Raven lakukan. Yaitu mengintip lewat sela-sela jejeran buku.


Arga langsung faham begitu melihat Aleta di sana. Pantas saja temannya itu tak segera kembali setelah mengambil buku.


Setelah itu Arga berdehem membuat Raven terkejut. "Astaghfirullahaladzim.. Arga, kamu ngagetin aku. Hoby banget sih ngagetin." nyebut Raven yang kaget.


"Yaa lagian lo ngelihatin cewek sampai segitunya. Daripada cuman dilihatin, lebih baik samperin."


"Nggak! Aku nggak enak sama anak yang lain, nanti dikira aku dan Kak Aleta memiliki hubungan."


"Astaga Ravenn! Nggak segitunya juga kali, Rav. Coba lihat deh, di sana, di sana, ada banyak tuh cowok-cowok yang duduknya deketan sama cewek. Lagian siapa juga yang mau gosipin kalian? Niat lo kesini tadi mau baca buku kan? Yaudah, di mana salahnya?" gerutunya geram.


"Nanti kalau Kak Aleta marah gimana?"


"Coba gue tanya, kalau kakak itu marah, marahnya karena apa?" tanya Arga dengan sedikit mengomel.


"Eumm..."


"Nggak tahu kan lo? Yaudah sih santai aja kayak di pantai, Bro!" diakhiri menepuk sebelah pundak Raven.


"Yaudah, tapi lo temenin gue ya?" finall Raven.


"Iyaa!."


Setelah mengambil satu buku di genggamannya, Raven dan Arga menghampiri dua cewek itu. Namun, sepertinya kedua kaki Raven seperti di tahan untuk melangkah, langkahnya putus-putus.


Arga yang geram dengan pergerakan lambat sahabatnya itu akhirnya mau tidak mau mendorong punggung Raven hingga orangnya jatuh tersungkur tepat di samping Aleta.


BRUG!


Hampir saja Aleta melempar buku novelnya saat ada yang terjatuh di sampingnya. Kemudian Aleta melihat orang itu yang terjatuh dengan posisi tengkurap sambil menutupi wajahnya menggunakan buku.


Sedangkan di depan mereka terlihat Arga sedang menahan tawanya. Fany menatap cowok itu. "Kenapa main dorong-dorongan sih? Nggak tahu apa ini perpus?"

__ADS_1


"Iya-iya maaf, Kak. Soalnya tadi dia jalannya lelet banget, kan gue jadi gregetan." adu Arga.


"Kalau sampai dia terluka gimana? Lo mau tanggung jawab?" Arga terdiam sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Aleta melirik Arga dan ia langsung tahu kalau ada Arga berarti juga ada Raven. Berarti cowok di sampingnya ini adalah Raven.


"Rav, ngapain lo diem aja? Bangunlah!" titah Arga dan perlahan ia menurunkan buku dari wajahnya dan langsung bertatapan dengan Aleta yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kemudian perlahan ia bangkit dan berdiri di samping Arga sambil memeluk bukunya dengan erat. Dan sambil menuduk seperti biasanya.


Yookkss, siap-siap di interogasi oleh Fany.


"Lo Raven, kan?" tanya Fany memastikan dan orang yang bernama Raven itu mengangkat wajahnya dan menatap Fany.


"Iya Kak." jawabnya singkat, lalu Fany melirik Aleta yang terus menatap Raven sedari tadi.


Fany berbisik kepada Aleta, "Al, dia beneran Raven kan? Cowok lo?" dan Aleta mengangguk sedikit ragu.


"Sini, Rav. Lo mau baca buku juga kan?" tanya Aleta dan kedua mata Raven langsung berbinar. Tak menunda lagi, ia duduk di samping Aleta. Dan sengaja duduknya sampai lengan mereka menempel.


Raven meletakkan bukunya di meja lalu membuka lembar pertama.


"Lo baca apa, Rav?" tanya Aleta dan Raven menjawab dengan terkekeh. "Aku baca cerpen, hehe.."


"Oke. Gue baca novel"


"Iya."


Lalu Aleta melirik sahabatnya itu yang masih mengomeli Arga soal yang terjadi barusan.


"Fan, udah deh marah-marahnya. Ingat, kita diperpus dan nggak boleh berisik." Aleta menegur Fany.


"Bener tuh yang Kak Aleta bilang. Gue duduk di samping lo, boleh kan? Boleh. Makasih Kak Fany.." tanya sendiri dijawab sendiri. Hadeehh..


Mereka berempat fokus membaca buku masing-masing. Arga juga ikut membaca tentunya, ia membaca buku resep makanan.


Tak lama terdengar bell, pertanda ada yang baru masuk lagi.


Orang itu menyusuri ruangan perpus yang luas itu, seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Merasa orang yang ia cari berada di depan mata, ia langsung menghampiri.


"Hey Rav! Gue cari lo ke mana-mana ternyata di sini."


Kepala Raven mendongak ke sumber suara, "Bella? Ah iya, aku ke sini tadi sama Arga."


"Kok ke perpus nggak ngajak-ngajak sih? Kan gue juga pengin.."


"Yaudah, kamu ambil buku terus ikut gabung sama kita."


"Rav! Nggak boleh, lo nggak boleh gabung sama kita." tolak Arga.


"Kenapa? Oiya Raven, lo mau nggak bantu pilihin gue novel yang bagus? Gue bingung banget nih mau baca yang mana.."


"Lo punya tangan kan? Punya mata, punya kaki? Cari sendiri, nggak usah manja!" cibir Arga tak suka.


Namun sepertinya Bella tak memperdulikan larangan dari Arga. "Lo mau kan, Rav? Bantuin gue?"


"Baiklah, aku bantu kamu cari novel."


"Yaayy! Thanks Raven!" girang Bella lalu melirik sekilas ke arah Arga yang menatapnya kesal.


"Hahahaa.. Bella, kamu serius mau baca ini? Masa baca novel horor sih?"


"Yaa nggak apa-apa, gue pengin aja nyoba, gitu baca yang beginian. Itung-itung buat uji nyali, hahahaa.."


"Kalau nanti malam kamu nggak bisa tidur, aku nggak mau tanggungjawab yaa?"


"Tenang.. Gue itu pemberani! Lo aja yang belum tahu."


Ternyata sedari tadi dibalik matanya yang membaca banyaknya huruf di buku novelnya, ternyata telinganya mendengar semua perbincangan seru Raven dan Bella.


Semakin lama rasanya ia semakin tersiksa dengan perasaannya sendiri. Tidak tahu kenapa, di dalam dadanya terasa sesak dan muncul perasaan aneh lainnya. Bahkan nafasnya sampai terdengar besar-besar.


Dirasa sudah tak tahan menahan semua perasaan tidak masuk akal itu, tiba-tiba ia menjatuhkan buku novelnya ke meja dengan kasar kemudian beranjak melenggang pergi dari sana. Begitu saja.


Fany yang melihat Aleta pergi, ia melongo kemudian berdiri dan ingin menyusul Aleta. Namun, lengannya dicekal oleh Arga.


"Lepas! Gue mau nyusul Aleta!"


"Jangan, gue tahu kenapa temen lo kegitu. Menurut sepengetahuan seorang Arga, kalau Kak Aleta itu sedang cemburu."


Fany mengernyir tak mengerti. "Cemburu? Maksudnya?"


"Lo nggak denger tadi apa yang dilakukan Raven dan Bella? Tentu saja temen lo itu sudah pasti cemburu melihat Raven ketawa bareng cewek lain." bisik Arga yang berlagak sok tahu.


"Masa sih? Tahu ah, lepasin tangan gue, gue mau kejar Aleta sebelum jauh."


"Daripada lo yang kejar, lebih baik kita suruh Raven yang kejar Kak Aleta. Gimana?"


"Lo yakin?"


"Yakin!"


"Oke."


Kemudian Arga memanggil Raven. "Rav.." si pemilik nama menyahut, "Ada apa, Ga?"


"Sini deh, gue mau kasih tahu sesuatu sama lo."


"Apa?"


"Sini dulu!"


"Bentar ya, Bell." pamitnya kepada Bella dan diangguki olehnya.


Sesampainya Raven di samping Arga.


"Kenapa, Ga?"


"Lo harus kejar Kak Aleta sekarang?!"


"Memangnya ada apa dengannya?"

__ADS_1


"Ravenn! Lo itu peka dong jadi cowok. Kakak itu lagi cemburu sama Bella! Lo sih bukannya di sini sama Kak Aleta malah temenin Bella!" tekan Arga geram.


"Jangan bercanda kamu, Ga. Nggak mungkin Kak Aleta cemburu. Lagian kenapa juga cemburu sama Bella? Kami cuma temen kok."


"Bodo amat lah, pokoknya lo cari kakak itu sampai ketemu dan minta maaf. Lo nggak mau kan kalau dia sampai kenapa-kenapa?"


"Nggak mau lah! Ke mana perginya Kak Aleta?"


"Dia nggak bilang mau ke mana, soalnya dia langsung keluar gitu aja." sahut Fany.


"A-aku cari Kak Aleta dulu ya, nanti kalau udah ketemu aku kabarin kalian."


SKIP


Sepasang sepatu berwarna putih melangkah bergantian dengan langkah cepat, melewati kerumunan siswa di setiap pintu kelas. Ia berlari entah ke mana ia tak tahu. Rasanya hatinya seperti diiris dan ditusuk. Dadanya sesak, bahkan tanpa sadar air matanya lolos membasahi kedua pipinya.


Di sisi lain, Raven mencari Aleta di kelas namun ternyata yang dicari tak di sana. Lalu ia bertanya ke siswa yang lain, ia mendapat jawaban yang sama, yaitu 'tidak tahu'.


"Kak Aleta di mana? Kak!.." Raven mulai berteriak memanggil Aleta, tapi tak kunjung mendapat sahutan.


Ia berlari kesana-kemari mencari alamat- eh? Mencari Aleta maksudunya.


Merasa lelah, ia istrirahat di kursi taman sambil melihat sekeliling siapa tahu ia akan segera menemukan yang ia cari.


"Kak Al di mana? Apa benar kalau Kak Aleta tadi cemburu? Bagaimana bisa?" monolog Raven.


Ponselnya berbunyi, dengan cepat ia menjawabnya.


"..."


"Belum ketemu."


Yaa, yang menelfonnya adalah Arga. Atas perintah Fany tentunya, karena ia tak mempunyai nomor Raven. Ingin menelfon Aleta, ternyata ia meninggalkan ponselnya di meja perpustakaan.


"Aarrghhh!!" Raven mengacak rambutnya dengan kasar.


Raven melangkah pelan menuju belakang sekolah, entah kenapa ia ingin mencari Aleta di sana. Sesampainya di belakang sekolah, lekukan bibirnya terangkat hingga kedua pipinya mengembang.


"KAK ALETA?" teriaknya kemudian berlari ke sana.


"Aku cari kakak di mana-mana, nggak tahunya di sini."


"Ngapain lo di sini?" tanyanya ketus.


"Tadi kata Arga dan Kak Fany, kamu tiba-tiba pergi."


"Yaa terus kenapa? Terserah gue mau pergi kemanapun."


"Kak Aleta marah ya?"


"Nggak!"


"Apa Kak Aleta... Cemburu lihat aku sama Bella, tadi.." tebak Raven memastikan.


"Ngapain juga gue cemburu?!" pekik Aleta sedikit sewot. "Gue mau balik ke kelas." lanjutnya dan akan berlalu pergi.


Saat Aleta sudah berjalan melewatinya, Raven memeluk Aleta dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Aleta. "Apapun itu yang Kak Aleta katakan padaku, aku tidak akan pernah jauhin kakak. Karena itu janji aku." bisik Raven tulus.


"Walaupun Kak Aleta masih belum bisa membuka hati untuk aku, aku akan tetap menunggu itu. Sampai kapanpun!" lanjutnya dengan yakin.


"Rav.."


"Aku sama Bella nggak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman. Jadi, kalau Kak Aleta suruh aku jauhin Bella, akan aku lakukan. Asal Kak Aleta nggak diemin aku. Rasanya lebih menyiksa saat kakak diemin aku."


"Raven, lo..."


"Kalau kakak suruh aku jauhin Bella, akan aku lakukan."


"Raven, lepas!" pintanya, kemudian Raven melepas pelukannya dan menunduk.


"Maaf.." lirih Raven. Dan Aleta memutar tubuhnya menghadap Raven.


Aleta menatap teduh kedua mata cowok itu. "Hey.. Kalau lo jauhin seseorang hanya karena gue, gue ngerasa jadi orang paling jahat. Jadi, stop salahin diri sendiri."


"Kak Aleta nggak marah kan?" tanya Raven.


"Tadinya marah, cuman sekarang udah enggak." mendengar itu Raven merasa lega dan kembali memeluk cewek itu. "Kak Aleta.."


"Eh? Kok peluk? Ingat, masih di area sekolah." Raven melepas pelukannya lalu bertanya. "Jadi, nanti boleh dong peluknya di rumah?" dengan kedua matanya berbinar.


"Tergantung." singkat Aleta.


"Tergantung apa?"


"Mood." Raven mengernyit tak mengerti.


"Untuk sekarang begini dulu.." Aleta mengusap kepala Raven.


"Kak Aleta tahu nggak, saat kakak elus kepala aku itu rasanya menenangkan banget.." lirih Raven dengan senyuman manisnya.


"Masa? Yaudah, ntar kalau lo lagi ngerasa nggak tenang, lo samperin gue. Nanti gue elus kegini."


"Selain menenangkan, Kak Aleta juga pengisi semangat buat aku. Makanya setiap aku lagi kecapean, aku selalu butuh charge dari kakak."


"Lo boleh semau lo datang ke gue. Gue siap jadi penyemangat buat lo, Rav.." ucap Aleta terdengar tulus.


"Terimakasih, Kak Aleta." dari Raven untuk Aleta.


"Terimakasih, Raven. Calon Suamiku." setelah mengatakan dua kata terakhirnya, Aleta langsung ngacir meninggalkan Raven yang masih terpelongo di tempat.


"Calon, apa tadi?" gumamnya masih tak percaya dengan yang barusan ia dengar. Lalu ia berlari menyusul Aleta.


.


.


.


**Gimana gengss wohoo! Ciee yang cembokurr wkwk.


Sepertinya udah muncul benih-benih apeni? Benih apa coba, hahahaa..

__ADS_1


Yang pasti doa in aja yang terbaik untuk hubungan mereka berdua.


JANGAN LUPA LIKEE**


__ADS_2