
Halloww A&R update lagi niihhh
Like dulu dong sebelum mulai baca hehehee..
Selamat membaca😇
-
Aleta masih di dalam kamar mandi, sedangkan Raven mencari pakaiannya yang sudah dipindah semuanya ke kamar Aleta. Sebagian pakaian mereka sudah dikemas di dalam koper untuk kepindahan mereka.
Saat Raven akan mengenakan celananya, terdengar ponsel di atas meja rias berbunyi tanda ada yang menelfon. Raven melirik pintu kamar mandi masih tertutup rapat, kemudian ia menghampiri ponsel tersebut.
Diangkatnya ponsel itu dan ia membaca nama si penelfon.
"Riki?" gumamnya sambil mengernyit, saat ia akan menjawab telfon itu ternyata panggilan berakhir.
Saat ia akan meletakkan kembali ponsel itu, terlihat ada pesan masuk. Karena dia kepo, jadi ia membuka roomchat dari orang bernama Riki tersebut.
Raven membaca setiap pesan di layar itu dengan serius. Bahkan ia lupa akan memakai celananya.
Riki
'Temuin gue di cafe **** sekarang!'
"Riki? Apa dia cowok yang kemarin? Sekaligus mantan Kak Aleta?" tanyanya entah kepada siapa.
Ting!
Riki
'Gue tunggu. Kalau lo nggak dateng, gue bakal ke rumah lo saat ini juga!'
"Apa ini?! Aku tidak akan mengizinkan Kak Aleta pergi sendiri lagi, apalagi untuk bertemu dengan cowok ini. Kak Aleta nggak boleh tahu" kemudian ia membalas pesan tersebut.
'Otw' -send
Ceklek -mendengar pintu terbuka, buru-buru ia meletakkan ponsel itu di atas meja lalu segera memakai celananya dan berlalu keluar. Tak lupa ia mengambil jaketnya yang tersampir di gantungan baju milik Aleta.
"Ngapain dia lari-larian?" Aleta mengernyit bingung dengan tingkah suaminya.
Lalu ia segera mengenakan pakaiannya.
SKIP
Saat Raven berjalan ke pintu utama, ternyata tak ada yang menyadari kepergiannya. Karena para orangtua tengah berbincang di belakang. Tepatnya di pinggir kolam renang.
Supaya suara motornya tak terdengar orang rumah, ia mendorong motor itu keluar gerbang.
Sempat ada Safar yang lewat, namun ternyata kepergiannya juga lolos dari penglihatan supir di rumah itu.
"Aku nggak akan pernah ngebiarin Kak Aleta disakiti oleh cowok itu lagi!" gumamnya setelah itu ia melajukan motornya ke cafe yang ditunjukkan oleh Riki.
.
Hampir 1 jam Aleta di kamar, tapi Raven tak kunjung kembali. Awalnya ia berfikir kalau suaminya itu sedang bersama dengan para orangtua, namun setelah difikir-fikir tidak mungkin orangtuanya membiarkan cowok itu berlama-lama meninggalkannya.
Akhirnya ia memilih untuk menghampiri orangtuanya yang ternyata sudah berada di kamar masing-masing. Mulai sekarang Zanna dan Vania resmi tinggal di kediaman Evano.
Aleta berjalan menuju kamar Zanna dan Vania, berharap kalau orang yang ia cari berada di sana. Siapa tahu cowok polos itu ingin bersama adiknya.
Pintu tak dikunci, ia membuka pintu itu dan tak melihat keberadaan Raven. Kemudian ia kembali menutup pintu itu perlahan.
"Kemana perginya tu anak?" batinnya seraya berjalan ke pintu utama.
Dibukalah pintu itu dan langsung berhadapan dengan Safar yang sepertinya juga akan membuka pintu.
"Pak Safar ngagetin aja." ucapnya sambil memegang dadanya, terkejut.
Pria itu membungkuk memberi hormat. "Maaf, non. Saya kira non Aleta tidak akan membuka pintu."
"Lupakan saja. Ada yang lebih penting sekarang. Apa Pak Safar melihat Raven?" tanyanya to the point.
"Kebetulan saya ingin menanyakan kepada non Aleta." kata Safar.
Aleta mengernyit tak mengerti. "Maksudnya?"
"Jadi, tadi saya abis dari belakang. Nah, pas saya balik ke bagasi mau ngambil kunci motor Raven, tiba-tiba motornya udah nggak ada. Padahal sebelum saya tinggal motornya masih ada" jelas supir itu.
"Berarti Raven yang bawa pergi motornya? Tapi kemana? Kok nggak pamit sih kalau mau keluar?" gumamnya dan didengar oleh Safar.
"Saya juga nggak tahu, non. Tapi Ravennya ada nggak di rumah?" tanya Safar memastikan.
"Tidak ada, Pak. Makanya gue nyari dari tadi.." sepertinya Aleta mulai cemas tentang keberadaan Raven.
"Udah coba telfon apa belum?" Safar bertanya lagi.
__ADS_1
"Oh iya, bentar gue ambil hp dulu. Pak Safar bisa kan bantu untuk tungguin Raven kalau pulang?" pinta Aleta pada Safar.
Safar mengangguk patuh, "Siap, non Aleta!"
"Gua masuk dulu. Ntar segera kabarin kalau dia udah pulang" diangguki oleh Safar.
"Satu lagi, jangan beritahu orang rumah kalau Raven pergi. Pak Safar mengerti?" titahnya dan dengan ragu Safar mengangguk meng-iya-kan "B-baik, non Aleta"
Kemudian Aleta kembali ke kamar untuk menelfon Raven. Pintu ditutup oleh Safar dan segera melakukan perintah majikannya.
SKIP
Raven sudah tiba di cafe yang ditunjukkan oleh Riki. Ia menautkan alisnya seraya memasuki cafe tersebut. Ternyata cafe yang ia datangi merupakan cafe yang sama dengan yang didatangi oleh Aleta beberapa bulan yang lalu.
Dengan langkah ragu, akhirnya ia berhasil masuk ke cafe tersebut.
"Udah gue duga kalau lo yang bakalan dateng. Nggak mungkin Aleta mau dengan semudah itu kalau tahu yang ngajak ketemuan itu gue." ucap seseorang dari samping kirinya.
Kepalanya menoleh ke sumber suara "Apa mau kamu?"
"Mau gue? Ayolah, mau gue masih sama kaya sebelumnya. Malam itu..." orang itu menggantung ucapannya seraya berjalan mendekati Raven.
"Apa maksudmu?!" sentak Raven sudah mulai emosi.
"Karena lo yang dateng ke sini, gimana kalau kita ngobrol sambil minum-minum?" ajaknya sambil membuka penutup botol minuman di hadapannya.
"Nggak akan! Minuman seperti itu dilarang, aku tidak mau!" tolak Raven.
"Btw, selamat karena sekarang lo udah resmi jadi suami Aleta." ucapnya santai. Kini ia menuang minuman itu ke gelas.
"Dari mana kamu tahu?"
"Tapi gue nggak peduli dengan status kalian sekarang. Yang pasti Aleta akan jadi milik gue, secepatnya!" diakhiri menatap tajam ke Raven.
Raven menggeleng cepat, "Aku tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi!"
"Apa lo lupa kalau gue udah nyiptain sesuatu di lehernya kemarin, hm?" ujarnya santai.
"Kurang ajar!" dengusnya. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Seharusnya lo beruntung karena setelah itu lo yang jadi pelampiasannya. Ups! Bisa dibilang lo nikmatin bekas gue? OMG!" ucap Riki seolah syok sambil menutup mulutnya menggunakan kelima jarinya.
"Jaga mulut kamu, ya!" tunjuk Raven tepat di depan wajah Riki.
"Santai, Bro! Duduk dulu sini sambil minum. Cobain deh, senikmat ini rasanya. Kayanya lo bakalan nyesel kalau nggak nyobain" ucap Riki sambil meneguk habis segelas minuman itu.
Riki tersenyum miring, kemudian melirik ke seseorang yang berdiri tak jauh darinya yang ternyata orang itu sembunyi dari penglihatan Raven. Terlihat Riki seperti memberikan kode kepada orang tersebut.
Dirasa yang dikode sudah mengerti, Riki kembali menatap Raven.
"Oke. Kalau lo nggak mau cobain sendiri, berarti lo butuh seseorang untuk bantu lo minum" ucapnya dan tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan menangkap tubuh Raven.
GRAP!!
"Ada apa ini?! Lepas!" Raven berusaha meronta namun tenaganya tak sebanding dengan orang itu.
Riki tersenyum penuh kemenangan saat orang suruhannya berhasil menangkap tubuh Raven dan mengikatnya di kursi.
"Apa yang kamu lakukan?! Lepas!" rontanya lagi.
Lalu Riki berjalan mendekati Raven sambil membawa sebotol minuman dalam genggamannya.
Raven melirik benda yang dibawa Riki itu mulai memberontak, namun kedua tangannya diikat kuat di belakang tubuhnya.
"Jangan berani macam-macam!" ancam Raven yang tidak mengancam sama sekali menurut Riki.
"Lo yang udah berani macam-macam sama gue! Lo udah berani rebut Aleta dari gue!" ucapnya penuh penekanan.
"Aku nggak rebut dia dari kamu! Bukannya kamu sendiri yang ninggalin dia!"
"Hampir benar.. Hanya saja tidak sepenuhnya benar!" gumam Riki santai.
"Jangan lakukan!"
"Buka mulut!" Raven menggeleng cepat sambil menutup mulutnya rapat-rapat saat Riki menempelkan ujung botol itu di bibirnya.
"Mau dipaksa? QHIA!" setelah itu Riki memanggil seseorang.
Merasa dipanggil, orang itu segera menghampiri Riki. "Giliran gue?" tanya orang itu dan diangguki oleh Riki.
"Nih! Buat dia minum sampai tak berdaya malam ini. Biar gue rekam dan kirim ke Aleta" titahnya seraya memberikan botol dari genggamannya ke tangan Qhia.
Sontak Raven terbelalak, "Jangan! Kumohon jangan direkam.."
"Lo fikir gue bakalam denger perintah lo? Nggak!" sentaknya tepat di depan wajah Raven.
__ADS_1
"Mulai Qhia!" titah Riki dan Qhia segera memulai aksinya. "Oke!"
Lalu wanita itu mengambil alih botol minuman dari tangan Riki dan mendekati Raven. Sedangkan Riki mundur dan siap merekam aksi Qhia terhadap Raven.
"Buka mulutmu, sayang.." bisiknya dengan suara seksinya. Raven menggeleng cepat sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kayanya gue suka sama lo, walaupun lo masih bocil. Lo sangat tampan, tubuh lo bagus. Aroma tubuh lo juga wangi. Tapi kurang wangi sebelum tubuh lo bau minuman ini" tangan Qhia mulai menggerayahi dada bidang itu.
Raven terus saja menutup mulutnya sambil menggeleng. Qhia yang mulai geram itupun mulai beraksi, ia duduk dipangkuan cowok itu seraya mengalungkan lengannya di leher Raven.
Tentu saja Raven terkejut, ingin memberontak namun kedua tangannya diikat sangat kuat di belakang. Bergerak sedikit saja orang itu akan semakin mengeratkan tali di tangannya.
Jarinya menyusuri seluruh wajah cowok itu. Mulai dari dahi hingga dada. Ingin ke bawah lagi namun lebih dulu disentak oleh Riki.
"Cepat kasih minuman itu, Qhia!" bentak Riki yang sudah siap mengarahkan kameranya ke arah Raven dan Qhia.
"Iya-iya" Qhia mengangguk dan mulai menempelkan ujung botol itu di bibir Raven.
"Ayo minum, sayang.." Raven berusaha meronta, namun lehernya berhasil ditahan oleh wanita itu.
"Buka mulutnya.." terpaksa Qhia membuka mulut itu.
"Pintar! Gitu dong daritadi" ujarnya setelah Raven berhasil meneguk minuman itu.
"Mau kalian apa sebenarnya?!" sentak Raven disela nafasnya yang sedikit memburu. Bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Mau kami? Salah satunya ingin menghancurkan malam pertama kalian. Ups! Malam pertama? Benar juga, malam ini?" sarkas Riki yang berlagak tak tahu.
"Kalian jahat!" pekik Raven.
"Kami jahat menurut orang baik kayak lo!" tekan Riki tepat di wajah Raven.
"Kasih minum lagi!" lanjutnya menyuruh Qhia memberikan Raven minuman lagi.
"Lepa-..." tepat saat Raven membuka mulut, memudahkan Qhia kembali memasukkan lubang botol itu ke mulutnya. Hingga air itu berhasil lolos masuk ke tenggorokannya.
"Minum lebih banyak lagi. Kalau bisa sampai habis!" titah Riki dengan perasaan puas.
1 botol habis tak tersisa. Kini Raven sepertinya sudah mabuk. Qhia sudah turun dari pangkuan Raven.
Dan kini waktunya Riki mengirim rekaman itu kepada istri korban.
'Lihat kelakuan suami lo di malam pertama kalian!'
Send
1 video terkirim..
_
"To..long..lepas..kan...a..ku.." pinta Raven dengan suara lemah.
"Masih sadar ternyata? Kasih dia sebotol lagi!" titah Riki kepada wanita itu.
Dan Qhia kembali memberikan sebotol minuman lagi kepada Raven. Sedangkan Raven sudah lemas tak berdaya.
Di sisi lain, saat Aleta ingin menelfon suaminya, ia mendapat pesan vidio dari Riki.
Ditontonnya vidio tersebut memperlihatkan Raven memangku seorang wanita, dan wanita itu memberikan Raven sesuatu.
"Ap-apa semua ini?" Aleta syok. Kedua matanya membulat sambil menajamkan penglihatannya ke layar genggamnya.
"Pasti ini semua kerjaan Riki! Awas aja kalau dia berani macam-macam dengan Raven!" gerutunya yang mulai tersulut emosi.
Kemudian ia membaca pesan sebelumnya.
Riki
'Temuin gue di cafe **** sekarang!"
'Otw'
Betapa terkejutnya ia saat Riki mengajaknya bertemu namun yang membalas pesan tersebut Raven.
"Astaga! Jadi Raven lihat chat gue sama Riki? Riki ngajakin gue ketemuan dan Raven yang dateng? Pantesan tadi dia langsung pergi waktu gue keluar dari kamar mandi. Nggak bisa dibiarin, gue harus samperin ke sana"
.
.
.
Apa yang bakal terjadi selanjutnya??
Katakan sesuatu kepada Riki...
__ADS_1
Jangan lupa Like!
.