A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
53. Nggak pernah ada di hidupnya


__ADS_3

Disepanjang perjalanan pulang Raven memperhatikan ekspresi Aleta yang terlihat tegang dan melamun membuatnya bertanya-tanya.


Tak lama mobil memasuki pekarangan rumah dan Aleta masih melamun.


"kak, kita sidah sampai" ucap Raven dan Safar sudah membukakan pintu di sampingnya.


"kak?" panggilnga sekali lagi.


"oh? udah sampai rumah?" ucapnya seperti linglung.


"i-iya" lalu Aleta keluar di ikuti Raven di belakangnya.


"oiya Raven" panggil Safar, Raven menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Sedangkan Aleta masuk ke dalam rumah.


"iya, ada apa Pak?"


"apa kamu kenal dengan orang yang "berhenti di depan mobil non Aleta tadi?" Raven menggeleng.


"tidak kenal Pak, apa Pak Safar kenal?"


"tidak tahu, tapi saya merasa pernah melihatnya"


"oiya Pak, tadi juga kak Aleta seperti syok gitu ngelihat orang itu"


"kamu masuk saja, biar saya yang cari tahu"


"baik Pak, oiya apa hari ini Pak Safar ada waktu?"


"iya ada"


"kalau tidak keberatan, apa Pak Safar bisa mengantar aku pulang?"


"pulang? baiklah, saya bisa"


"terimakasih Pak, kalau begitu aku masuk"


"iya" Raven berlalu meninggalkan Safar di samping mobil.


ting!


Aleta merebahkan dirinya di kasur, mendengar notif dari ponselnya ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat notif dari siapa.


"temui gw di Cafe xxxx sekarang atau gw ke rumah lo" begitulah isi pesan itu. Aleta terkejut dan duduk menatap lekat layar ponselnya.


"berani banget ni orang, maunya apa sih" gerutunya kesal.


"gw nggak mau" balasan dari Aleta.


ting!


"please.. gw mau ngomong sesuatu sama lo, gw minta maaf soal dulu"


"mau lo apa sih, gw udah lupain lo. Dan lo malah ngehubungin gw" batinnya frustasi tak ingin membalasnya namun ponselnya berdering pertanda ada yang menelfon. Aleta menatapnya malas.


"apaan sih pakek telfon segala" dengan terpaksa ia mengangkatnya.


"Al, please kita ketemu sekarang gw mau ngomong sesuatu sama lo" ucap orang dari seberang sana. Aleta diam mendengarkan.


"gw tahu dulu gw salah dan gw mau minta maaf sama lo" Aleta masih diam.


"please.. temuin gw di Cafe xxxx gw tunggu"


"sekarang" lanjutnya, lalu orang itu mematikan telfon sepihak dengan Aleta masih melamun. Mengingat kenangannya dulu bersamanya.


Flashback on..


"kamu mau es krim?" tanya orang itu kepada Aleta yang duduk di kursi taman dekat sekolahnya. Hari ini hari kamis sepulang sekolah mereka main ke taman yang berada dekat sekolah mereka.


"mau" Aleta mengangguk senang.

__ADS_1


"tunggu di sini ya jangan kemana-mana, aku segera kembali" ucapnya sesaat mengeles rambut Aleta lalu berlalu meninggalkan Aleta duduk sendiri.


"ternyata lo cowok baik tapi kenapa banyak yang bilang kalau lo itu playboy sih, dan selama kita pacaran juga dia nggak pernah macem-macem" dialog Aleta sendiri. Tak lama setelah itu dia kembali dengan membawa dua eskrim di kedua tangannya.


"ini eskrimnya sayang" Riki memberi eskrim rasa coklat kepada Aleta dan rasa vanilla untuk dirinya.


"terimakasih sayang" Riki tersenyum dan mereka menikmati makan eskrim.


"abis ini kita kemana?" tanya Riki sembari menjilat eskrimnya.


"emm.. pulang aja" jawab Aleta.


"hhhh" Riki terkekeh menahan tawa melihat Aleta belepotan memakan eskrim.


"kamu kenapa ketawa?" Aleta menautkan kedua alisnya bingung.


"lagian kamu makan eskrim aja belepotan, kaya anak kecil" ucapnya sambil menahan tawanya.


"kok malah diketawain sih" Aleta cemberut.


"iihh kok cemberut gitu sih? yaudah sini aku bersihin" Riki memegang dagu Aleta untuk menghadapnya lalu mengulurkan jemarinya untuk menyeka bibir Aleta yang belepotan karena eskrim dengan satu tangan karena satunya memegang eskrim, Aleta diam menurut.


"udah apa belum?" tanya Aleta. Bukannya menjawab pertanyaan Aleta, ia malah menatap lekat bibir Aleta seolah ingin menciumnya. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya namun Aleta sadar Aleta menoleh pelan.


"bi-biar aku bersihin sendiri" ucap Aleta gugup tanpa menatap Riki, sedangkan Riki berekspresi dengan wajah yang sulit diartikan.


"bolehkah?" Riki bertanya dengan tatapan kosong. Aleta menautkan alisnya bingung.


"boleh apa?" Riki menatap mata Aleta dan tersenyum tipis dibarengi menggenggam satu tangan Aleta, ingat tangan satunya masih megang eskrim.


"bolehkah aku..." Riki menurunkan pandangannya ke bawah tepatnya ke bibir Aleta, Aleta menyadari arah sorot Riki kemana ia mengerti apa maksudnya.


"ekhem" Aleta berdehem menatap sembarang arah, ia ingin melepas pegangan tangannya namun Riki semakin erat menggenggamnya.


"Rik, kamu.." Riki menarik tangan Aleta ke samping badannya hingga wajah mereka menjadi dekat.


"apa dia akan menciumku? apakah hari ini? jika iya ini akan menjadi ciuman pertamaku" batin Aleta, Riki perlahan mendekatkan wajahnya. Aleta merasa bimbang ia akan menerimanya atau tidak, sebenarnya ia mau apalagi dengan orang yang sangat ia cintai. Namun, disisi lain ia sadar dengan apa yang dia lakukan ini akan salah, waah dia dirubung kebimbangan. Aleta memejamkan matanya dan menarik nafas lalu ia hembuskan dan perlahan membuka mata, saat ia membuka mata ia melihat wajah Riki semakin dekat dengannya, Riki menutup matanya. Ia sangat mengagumi seorang Riki yang teman-temannya bilang dia seorang playboy, tapi Aleta mengacuhkannya ia tak peduli omongan teman-temannya tentangnya. Dia sekarang bersamanya dan Riki tidak melakukan aneh-aneh seperti ia belum pernah melihat Riki bertemu wanita lain selain dirinya. Namun, ada keraguan dari dalam hati kecilnya tentang Riki.


"kenapa sayang?" tanya Riki. Aleta menunduk dan menggeleng pelan.


"apa kamu baru saja menolak ciumanku?" tanya Riki datar.


"hah? Riki, aku.."


"kamu beneran serius nggak sih pacaran sama aku?"


"apa maksud kamu ngomong kaya gitu? aku serius sayang" Riki diam sepertinya dia kesal karena Aleta menolak untuk ia cium. Bahkan ia melepas pegangan tangannya di tangan Aleta.


"Rik, sayang.." Aleta mencoba meraih tangan Riki.


"maafkan aku, tapi itu tidak benar" Riki diam.


"kita masih anak sekolah, tidak baik melakukan hal seperti itu. Aku harap kamu mengerti, ya"


"tapi setidaknya kamu bilang kalau kamu nggak mau, bukannya malah seperti memberi harapan untuk aku melakukannya"


"aku sama sekali tidak memberi kamu harapan"


"kamu memejamkan mata itu sama seperti memberi harapan" ucap Riki penuh penekanan.


"a-aku.."


"sudahlah, masalah kayak gini aja diributin"


"kamu nyalahin aku?"


"aku nggak bilang kalau kamu yang salah"


"Rik, kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering banget kesel gara-gara masalah sepele"

__ADS_1


"sepele? hah, menurut lo sepele tapi menurut gw enggak" tanpa sadar Riki mulai memanggil dengan sebutan "lo, gw" dan melempar eskrimnya kesembarang arah.


"ada apa sih Rik, kenapa kamu jadi kaya gini. Kenapa kamu sekarang manggil pakai lo gw"


"udahlah, gw lagi males ribut"


"daritadi aku juga nggak mau ribut ya"


"udah lah lo diem, kuping gw panas tau nggak dengerin lo ngomel mulu"


"Riki! kamu.."


"udah ya, sekarang gw mau pulang. Lo bisa pulang sendiri, kan? yaudah gw pergi" tanpa menunggu jawaban dari Aleta, Riki beranjak dan pergi menaiki motornya dan meninggalkan Aleta duduk seorang diri.


"kenapa jadi gini" tak terasa Aleta mulai menitikkan air matanya.


Flashback off


tok tok tok


Mendengar ada yang mengetok pintu kamarnya, Aleta berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"ada apa?" tanya Aleta datar, melihat Raven tengah berdiri di hadapannya.


"kak, aku mau pamit" ucap Raven sudah menggendong tas di punggungnya.


"ouh, lo jadi pulang?" Raven mengangguk.


"yaudah" ucapnya acuh.


"kak Al nggak ikut?"


"ngapain juga gw ikut"


"eng-nggak jadi, yaudah kalau gitu aku pamit. Kak Al aku pulang kesini mungkin dua hari lagi dan.."


"iya gw ngerti, nggak perlu izin dari gw toh juga mama udah izinin lo kan?" Raven mengangguk pelan. Memang sebelumnya Raven sudah mengatakan kalau ia akan pulang saat makan malam kemarin.


"aku pergi dulu" Raven membalikkan badannya lalu berjalan menuruni anak tangga, sedangkan Aleta masih berdiri di ambang pintu menatap lekat punggung Raven.


"sepertinya aku memang nggak pernah ada di kehidupan kak Aleta" ucap Raven lirih, sangat lirih.


"maafin gw Rav, gw nggak bermaksud buat cuekin lo. Tapi gw mau bikin lo ngejauhin gw, itu doang kok" ucap Aleta lirih lalu menutup pintu kamarnya.


"kamu udah mau berangkat?" tanya Mala yang tengah duduk minum teh di ruang tengah.


"iya ma" Raven menghampiri Mala dan mencium punggung tangannya.


"Al nggak ikut?" Raven menggeleng pelan.


"kamu kenapa?" tanya Mala melihat raut wajah Raven yang terlihat sedih.


"tidak apa-apa ma, yaudah kalau gitu aku pergi dulu"


"mama antar kamu ke depan, ya" Raven mengangguk lalu mereka berjalan ke luar, sudah ada Safar di sana.


"Safar, hati-hati ya. Antar Raven sampai rumah dengan selamat" pinta Mala pada Safar.


"siap Bu, silahkan masuk" ucapnya membukakan pintu untuk Raven.


"Raven pergi dulu ya ma" ucapnya sekali lagi diangguki Mala. Kemudian Raven masuk disusul Safar di kursi kemudi, mobil bergerak meninggalkan pekarangan rumah Aleta. Tanpa ada yang tahu ternyata sedari tadi ada seoasang mata memperhatikan dari jendela lantai atas, tentu saja siapa lagi kalau bukan Aleta.


Jadi gimana nih gaiss, udah muncul tanda-tanda akan ada konflik nih xixixi


Gasabar sama kelanjutannya? pantengin terus yaa


Dan aku nggak akan bosen loh buat minta dukungan dari kalian, berupa Like Komen dan Vote juga yaahh


Mohon maaf kalau ada typo

__ADS_1


Terimakasih


Happy reading


__ADS_2