
Aleta dan Raven berjalan ke kelas karena kelas mereka searah.
"kak tunggu!" Raven berlari di belakang Aleta karena Aleta meninggalkannya saat keluar dari mobil.
"Qween?!.." Fany berteriak dari depan kelas sambil melambai-lambaikan tangannya. Aleta tersenyum.
"gw masuk kelas, semangat kerjain soal ulangannya" ucap Aleta sesaat sebelum berlari menghampiri Fany.
"i-iya kak, kak Al juga" Raven tersenyum bahagia mendapat semangat dari Aleta.
"oii!!" Arga merangkulnya dari samping membuatnya kaget.
"eh? Arga? kamu ngagetin aku" Raven yang kaget memegang dadanya.
"yaelah gitu doang lo" Arga terkekeh.
"tumben udah datang?" tanya Raven heran melihat temannya sudah datang, biasanya bel masuk aja baru datang.
"lah? kan gw selalu dateng pagi" Arga mengatakannya dengan pede.
"pagi dari mananya? kan bel masuk aja biasanya kamu baru dateng"
"yaelah udah nggak usah di bahas, mending kita masuk kelas keburu bel"
"baiklah" lalu mereka masuk ke kelas.
"eh Al" panggil Fany duduk sebangku bersama Aleta.
"iya? ada apa?" Aleta menoleh.
"tadi gw liat lo jalan bareng adek kelas yang siapa itu namanya gw lupa"
"ouh.. Raven" jawab Aleta santai fokus membaca buku lks nya.
"iya dia, kok lo keliatan jadi deket gitu"
"maksud lo?"
"i-iya nggak biasanya lo berangkat sekolah terus jalan beriringan sama cowok, terus cowoknya adkel sendiri"
"yaudahlah ngapain bahas soal itu, mending bahas ulangan nanti"
"kalian pacaran ya?"
"apaan sih, enggak ya" sewot Aleta.
"santai aja keles, oiya tapi gw liat-liat dia manis juga" Fany mengatakan seolah sambil membayangkan Raven ada di hadapannya.
"manis dari mananya hei, gajelas lo"
"eh mata lo nggak bisa ngeliat yang bening-bening ya? orang dia lucu gitu kok apalagi kalau lagi senyum beh damage nya ya ampun.." Aleta menatap jijik sahabatnya.
"iih apaan sih, gila kali lo"
"gw masih waras keles" Aleta menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"tapi Raven emang manis sih" batin Aleta sambil melamun dengan tersenyum tipis. Guru memasuki kelas namun Aleta masih melamun.
"Al? Bu Ika udah masuk" Fany menyadarkan lamunanya.
"oh? udah mau mulai?" Fany mengangguk, lalu Bu Ika membagikan kertas ujian dan semua siswa mulai mengerjakannya.
Di sisi lain, Bella bingung dengan salah satu soal di kertas ujiannya.
"aduh, gimana nih gw lupa padahal kan semalem gw udah belajar" dumel Bella.
"apa gw minta bantuan Raven aja? kesempatan gw buat bisa lebih deket sama dia" batinnya sambil tersenyum licik.
"Rav, Raven.." Bella memanggil Raven dengan berbisik, karena tempat duduknya di belakang bangku Raven dan Arga. Arga yang merasa ada suara sedikit menoleh ke belakang.
"itu si Bella di belakang berisik banget" dumel Arga didengar Raven.
"ada apa Ga?" tanya Raven.
"itu si Bella daritadi panggil-panggil lo terus, pasti mau nanya jawaban"
"Raven" bisik Bella kesekian kali, Raven menatap guru di depan ternyata sedang memainkan ponsel lalu ia menoleh ke belakang.
"ada apa Bel?" bisik Raven. Lalu Bella memberi isyarat ketiga jarinya.
"nomer tiga?" ucap Raven tanpa suara, Bella mengangguk. Kemudian Raven melihat lembar jawabannya dan memberi jawabannya ke Bella.
"makasih" ucap Bella tanpa suara, Raven membalas dengan acungan jempol lalu kembali mengerjakan soal.
"lo ngapain kasih jawaban lo ke si Bella?" bisik Arga yang sedari tadi memperhatikan.
"udah nggak apa-apa"
"gw juga minta jawaban lo"
"kerjain sendiri" tanpa menatap Arga.
__ADS_1
"yaelah lo mah kalau sama cewek di kasih giliran sama gw enggak" sepertinya Arga merajuk wkwkw.
"yaudah, nomor berapa?" Raven pasrah.
"naah gitu dong, itu baru sahabat gw"
"nomor 1 sampai 40 apa?" lanjutnya ngawur, ga ada akhlak emang pertanyaannya.
"astaghfirullah Arga, kamu nanya atau minta aku yang kerjain semuanya? aku aja belum sampai segitu" Raven syok Arga meminta jawaban semuanya.
"becanda doang kali, serius amat"
"mangkanya kalau nanya yang bener"
"perasaan tadi gw nanya nya udah bener"
"ya tapi jangan jawaban semuanya dong" ternyata sedari tadi guru memperhatikan.
"kalian berdua!" Pak Roy menunjuk ke arah Raven dan Arga yang sedari tadi mengobrol. Seisi kelas melihat ke arah mereka berdua tetapi Raven dan Arga belum menyadari.
"apa kalian tidak mendengar saya berbicara?!" tanya Pak Roy sedikit berteriak.
"Raven Arga, kalian di panggil" Bella memberitahu, lalu mereka menatap Pak Roy.
"a-ada apa Pak?" tanya Arga.
"ada apa ada apa, kalian ini bukannya mengerjakan ulangan malah sibuk mengobrol"
"ti-tidak kok Pak, kita tidak mengobrol" jawab Arga.
"maaf Pak" ucap Raven sambil menunduk.
"kalau mau ngobrol bisa nanti selesai ulangan, kalian mengerti?"
"mengerti Pak" jawab mereka berdua.
"kamu sih Ga, ngajakin aku ngobrol"
"salahin aja tuh si Bella, kan dia duluan yang berisik"
"tadi saya suruh kalian diam, bisa tidak?!" Pak Roy berkata lagi.
"maaf Pak, kami akan diam" ucap Raven.
"yasudah, saya tinggal keluar sebentar tidak boleh ada yang mengobrol!"
"baik Pak" jawab seisi kelas, lalu Pak Roy keluar meninggalkan kelas.
"yaudah ayo cepat kita selesaikan"
"aah males gw, nggak ada yang masuk ke otak padahal udah belajar"
"jangan gitu, ayo kerjakan kurang satu jam lagi"
"yaudahlah gw jawab ngawur aja" mereka melanjutkan mengerjakan soal ulangan.
Bel berbunyi menandakan seluruh pelajaran selesai, seluruh siswa/i dan guru meninggalkan kelas.
"nongkrong yuk" ajak Arga menggendong tasnya hanya sebelah pundak.
"aku nggak bisa, aku mau pulang udah lama nggak ketemu adek" tak sadar Raven mengatakan itu.
"lah emang lo darimana lama nggak ketemu sama adek lo?"
"hah? maksud aku em" sekarang Raven gelagapan tak tahu menjawab apa.
"lo nge kost?" tebak Arga asal-asalan.
"enggak, aku nggak nge kost"
"terus?"
"udah lupain aja, tadi itu maksud aku dari tadi pagi nggak ketemu adek aku sudah kangen" ia berbohong.
"yaelah baru beberapa jam yang lalu aja udah kangen, lebay lo"
"yaudah kapan-kapan kita nongkrong gw balik diluan"
"iya, hati-hati" Arga berlalu hanya membalas dengan acungan jempol. Lalu Raven berjalan perlahan ke parkiran.
"lagi nungguin siapa?" tanya Bella tiba-tiba.
"eh Bella? enggak aku nggak lagi nungguin siapa-siapa kok" ia tersenyum.
"oiya thanks ya yang tadi lo udah bantu gw ngejawab soal, padahal semalem gw udah belajar bisa-bisanya tadi lupa" ucap Bella sambil tertawa.
"iya sama-sama"
"btw motor lo mana?"
"em, aku nggak bawa motor"
__ADS_1
"terus tadi pagi lo berangkat naik apaan?"
"tadi aku naik angkot karena motor aku di bengkel" Raven berbohong, yakali ia bilang kalau dia berangkat bersama Aleta. Kalau Bella nanya kenapa bisa bareng sama Aleta gimana dia jawabnya, gamungkin kalau dia jawab kalau dia tinggal di rumah Aleta.
"ouh, jadi sekarang lo nggak ada barengan? gimana kalau lo bareng gw? rumah kita searah kan?" usul Bella.
"tidak usah Bell makasih, aku bisa naik angkot"
"nggak apa-apa kok"
"beneran nggak usah"
"ouh yaudah kalau gitu, gw pulang duluan"
"iya"
"daa Rav, sampai ketemu besok" Raven mengangguk.
"ekhem" Aleta berdehem dari belakangnya, ternyata sedari tadi Aleta mendengar pembicaraannya dengan Bella. Fany sudah pulang duluan.
"kak Al?" tanyanya bingung.
"siapa?" tanya Aleta datar.
"ouh, tadi itu temen sekelas aku kak namanya Bella"
"oohh temen sekelas" ucap Aleta mangguk-mangguk acuh.
"i-iya, kenapa kak? apa kak Al kenal?"
"aah tidak gw nggak kenal, tadi gw denger dia ngajakin lo pulang bareng"
"iya, kok kakak bisa tahu?"
"kenapa nggak bareng? katanya rumah kalian searah"
"emang searah, tapi aku nggak mau ngerepotin"
"ouh yaudah" Aleta berlalu mendahuluinya dan masuk ke dalam mobil yang sudah ada Safar yang membukakan pintu.
"k-kak tungguin aku" lalu Raven mengikutinya masuk ke dalam mobil. Sepertinya udah jadi kebiasaan Aleta meninggalkan Raven begitupun juga menjadi kebiasaan Raven selalu ditinggalkan.
Sepanjang perjalanan hanya hening, Aleta bersandar pintu mobil sedangkan Raven menatap lurus kedepan. Tiba-tiba ada motor berhenti di depan mobil mereka.
Safar mengerem mendadak membuat Aleta hampir jatuh untung Raven sigap menangkapnya.
"lepas!" ucap Aleta lalu Raven melepas pegangannya.
"maaf non, apa non Aleta tidak apa-apa?" tanya Safar menoleh kebelakang.
"ada apa? kenapa Pak Safar ngerem mendadak?" tanya Aleta kesal.
"maaf non, di depan ada motor berhenti mendadak" lalu Aleta melihat ke depan melihat siapa pengendara yang berhenti di depan mobilnya, dan betapa terkejutnya Aleta setelah melihat siapa yang tengah berdiri sambil melepas helm di dekat motornya.
"Ri-Riki??" batin Aleta, terkejut melihat siapa orang itu.
"sepertinya saya mengenal orang itu" ucap Safar lirih seperti pernah melihat orang di depannya.
"non? apa non Aleta mengenalnya?" tanya Safar kepada Aleta yang masih terbengong.
"kak?" Raven menepuk pundak Aleta membuyarkan lamunannya.
"iya? apa?"
"apa non Aleta mengenalnya?" tanya Safar sekali lagi.
"tidak kenal" jawabnya acuh. Terlihat orang itu mengetik sesuatu di ponselnya lalu meletakkannya di telinganya. Tiba-tiba ponsel Aleta berdering dengan cepat Aleta mengambil dan melihat si penelfon.
"ini kan nomor..?" Aleta membelalakkan mata melihat si penelfon ternyata nomor yang sama yang dari kemarin menghubunginya. Lalu ia mengingat pesan orang itu kemarin untuk menemuinya di taman dekat sekolah.
"ada apa kak? kenapa nggak diangkat?" tanya Raven melihat Aleta tak mengangkat yang menelfonnya.
"nggak penting, nomor nggak di kenal"
"apa perlu saya samperin, non?"
"ti-tidak usah Pak, lebih baik kita pulang saja"
"baiklah" tanpa menunggu lama Safar menggerakkan mobil meninggalkan orang itu masih berdiri di samping motornya.
"tunggu saja nanti" ucap orang itu lalu memakai helm dan menaiki motornya kemudian pergi.
Hai Hai Hai
Aku up lagi nihh
Mohon maaf kalau ada typo
Tinggalkan jejak kalian yaah
Terimakasih
__ADS_1
Happy reading