A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
69. Boneka Dino


__ADS_3

Aleta masuk rumah dengan mengendap-endap, takutnya Raven sudah sampai di sana. Aleta menghembuskan nafasnya lega karena kondisi rumah sepi, kemana mamanya? entahlah yang penting ia harus segera ke kamarnya. Aleta masuk kamar dengan sukses tanpa ketahuan siapapun.


Tak lama terdengar mobil memasuki pekarangan ruman, Aleta mengintip lewat jendela kamarnya menampakkan Raven dan Zanna menggendong Vania yang tertidur pulas. Mereka disambut hangat oleh Mala, entah dari mana datangnya Mala tiba-tiba sudah nongol aja.


"ayo masuk, yaampun Vania tidurnya pules banget sih" ucap Mala diakhiri menoel pipi gembul Vania.


"Raven.. bagaimana kabar kamu sayang?" tanya Mala kepada Raven.


"alhamdulillah Raven baik ma, mama sendiri bagaimana?" Raven bertanya balik.


"alhamdulillah kabar mama juga baik"


"Zan, kamu tidurkan Vania di kamar biar nyaman" Zanna mengangangguk, Mala mengajak Zanna ke kamar untuk merebahkan Vania, meninggalkan Raven duduk sendirian di ruang tamu.


Raven mendongak ke arah kamar Aleta dengan tatapan sendu, sambil berfikir...


"apakah tadi Kak Aleta? atau aku hanya salah lihat? tapi aku kenal dengan motor itu, motor yang semalam membawa Kak Aleta pergi" gumam Raven.


Mala lebih dulu keluar lalu mendekati Raven dan duduk di sampingnya.


"Raven.. kamu jangan terlalu memikirkan kejadian kemarin malam ya, maafin mama karena sudah memaksakan kemauan mama" ucap Mala.


"iya Ma, bukan salah mama dan salah Raven juga karena udah bikin Kak Aleta membangkang kepada orang tuanya"


"huss.. kamu jangan pernah berfikiran seperti itu, Aleta sama sekali tidak membangkang kepada orangtuanya, jadi kamu jangan berfikir seperti itu ya" Raven menunduk sambil mengangguk pelan.


"mama percaya kamu pasti bisa lewatin semua ini, dan tolong kamu lebih pengertian sama Aleta ya. Karena dia anaknya lumayan keras kepala, sama seperti papa nya"


"iya ma, Raven mengerti" Mala mengelus punggung Raven pelan sambil tersenyum.


"apa kamu mau menemui Aleta? oiya tadi dia izin keluar tapi nggak tahu udah pulang apa belum, kamu lihat di kamarnya.. Mama ke dapur dulu melanjutkan memasak" ucap Mala kemudian beranjak meninggalkan Raven yang masih termenung. Apakah dia harus menemui Aleta? sudah siapkah dia? dia takut kalau Aleta marah padanya. Akhirnya Raven bangkir dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga.


Raven berhenti di depan kamar Aleta, perlahan tangannya terangkat untuk mengetok pintu.


tok..


tok...


Raven memberi jeda pada setial ketukannya, karen jujur dia begitu gugup dan takut. Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu Raven memundurkan langkahnya. Begitu pintu terbuka Raven tak berani melihat ke depan, dia hanya menunduk menatap sepasang sepatu yang ia kenakan.


"mau ngapain?" tanya Aleta datar. Raven diam masih menunduk.


"..." hening.


"kalau nggak ada yang dibicarain gue tutup.." saat Aleta menarik pintu, Raven menahan gagang pintu itu.


"mau ngomong apa? cepetan gue lagi sibuk"


"a..a..aku.."


"bisa ngomong nggak sih, yang jelas"


"Kak Al..aku.."


"emangnya gue ada di bawah?" spontan Raven mendongak menatap Aleta. DEG! tatapan itu, tatapan yang begitu Aleta suka. Entah kenapa ketika Raven menatapnya terdapat rasa nyaman dan rindu? dalam dirinya, benarkah sekarang ia merindukan Raven? padahal baru kemarin mereka bertemu. Namun, ia melihat mata Raven merah dan sayu seperti kurang tidur.


"lo begadang berapa abad sampe mata lo kegitu?" spontan Raven memegang kedua matanya.

__ADS_1


"dari kemarin aku nggak bisa tidur" Aleta menghembuskan nafasnya.


"kenapa? karena kejadian kemarin malam?"


"maaf..."


"untuk?"


"untuk..."


"nggak apa-apa, lagian bukan salah lo juga kan. Lo ngelakuin itu karena paksaan dari mama dan papa, gue ngerti"


"jadi lo jangan mikirin yang aneh-aneh sampe kurang tidur, seharusnya yang kegini itu gue tapi kenapa jadi lo" ucap Aleta diakhiri kekehan.


"jadi Kak Aleta nggak marah sama aku? nggak kesel? nggak benci kan? Kak Aleta masih suka kan sama aku?" Aleta menggeleng, saking senangnya Raven memeluk Aleta. Sedangkan yang dipeluk terdiam sesaat sebelum sadar.


"kenapa peluk gue?.." Raven menjauhkan tubuhnya.


"maaf Kak, aku.."


"nggak cape apa minta maaf mulu"


"ma.."


"sekali lagi bilang kegitu gue marah beneran nih" Raven menurut, setidaknya Aleta tak marah padanya.


"Kak.." panggil Raven terdengar seperti akan mengatakan sesuatu.


"apalagi?.."


"gimana sih, cepetan ngomong.."


"bukan apa-apa kok Kak.."ucap Raven diakhiri senyum pepsodentnya.


"Kak Aleta sedang apa?"


"nggak ngapa-ngapain lagi duduk aja"


"ooh.." jawab Raven manggut-mangut, hening.


"lo nggak turun?" setelah hampir lima menit mereka berhadapan di depan pintu, Aleta memecah keheningan.


"iya"


"yaudah gue mau masuk, lo turun aja nanti dicariin mama"


"aku udah bilang kalau mau kesini, mama juga yang nyuruh aku"


"ooalah oke"


"iya" Astaga kenapa situasi jadi canggung seperti ini...


"lo mau masuk?" ucap Aleta memundurkan langkah seperti akan memberi jalan untuk Raven.


"ha?"


"g-gue punya sesuatu buat lo, kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa"

__ADS_1


"mau.." dengan cepat Raven melangkahkan kakinya masuk ke kamar Aleta, kemudian mengikuti Aleta ke dalam.


"kemarin pas gue ke toko boneka buat beliin Vania hadiah ulang tahun, gue beli dua boneka"


"boneka? tapi kemarin pas bantuin Vania buka, bonekanya cuma satu bukan dua" Aleta membuka lemari khusus boneka dan mengambil boneka dino yang kemarin ia beli.


"satu buat Vania dan satunya buat..." Aleta menjeda ucapannya.


"buat?" tanya Raven.


"buat lo.." lirih Aleta sambil menyodorkan boneka ke Raven.


"buat aku?" Raven menunjuk dirinya sendiri dan meraih pelan boneka dari tangan Aleta.


"kenapa? ulang tahun aku masih bulan depan"


"bukan kado ulang tahun, tapi.. kemarin itu beli satu gratis satu jadi gue kasih ke lo aja, lagian gue nggak suka boneka dino" jawab Aleta asal, pasalnya ia terlalu gengsi buat jujur. Sebenarnya ia sengaja membeli dua. Raven masih heran.


"Makasih ya Kak, aku suka" ucap Raven sambil memeluk erat boneka dino itu.


"sama-sama" Aleta mengelus kepala Raven sesaat, dan itupun membuat Raven menyunggingkan senyumnya.


"aku kangen Kak Aleta elus kepala aku" Raven memegang kedua pinggang Aleta dan menariknya mendekat.


"eh.." Aleta terkejut dengan pergerakan Raven. Mereka bertatapan lumayan lama hingga terdengar ketukan pintu, mereka kompak menoleh ke arah pintu.


"em.. maaf, apa mama mengganggu kalian? kalau gitu mama pergi.." sebelum Mala keluar, Aleta mendorong dada Raven untuk menjauh kemudan berlari menghampiri mamanya.


"mama tunggu.."


"sudah kalian lanjutin aja, mama cuman mau ngingetin nanti malam buat makan bersama aja"


"apa yang mau dilanjutin, kita nggak ngapa-ngapain kok iya kan Rav?.." ucap Aleta dan menoleh ke Raven. Raven hanya mengangguk mengiyakan.


"kalau memang kalian udah saling suka lebih baik kalian segera menikah, nggak perlu kabur-kaburan kaya kemarin malam. Kasihan Raven, kata mamanya dia sampai nggak mau makan karena mikirin kamu Al, dia merasa bersalah telah membuat kamu pergi" bisik Mala dekat telinga putrinya, Aleta diam sesaat setelah itu melirik Raven yang masih di dalam sambil memeluk boneka dino.


"benarkah?" batin Aleta bertanya-tanya.


.


.


.


.


.


Lanjut nggak nih? yang penasaran sama kelanjutannya siapa aja nih?


Kalau ada typo mohon maaf yaa


Like Like Like Like


Terimakasih


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2