
"Kita sudah sampai, non Aleta." ucap Safar kepada anak dari majikannya tersebut setelah menepikan mobil di depan gerbang sekolah.
"Terimakasih Pak Safar. Ayo Rav." setelah menjawab supirnya, Aleta mengajak Raven yang sedang memakai ransel di pundaknya dengan perlahan.
"Raven, ayo! Lo mau kita terlambat masuk kelas?" ajaknya lagi setelah keluar dan berdiri di luar samping pintu yang di dalamnya terdapat Raven.
"T-tapi Kak? Aku takut.." gumam cowok itu.
"Siapa yang lo takutin? Denger ya, stop takutin sesuatu yang bahkan lo sendiri nggak tahu sesuatu itu apa!." ucap Aleta penuh penekanan.
"Arga udah datang belum?"
"Ngapain nanyain Arga? Udah ayo! Susah banget suruh keluar doang."
Setelah Aleta berhasil menarik cowok itu keluar dari mobil, Safar segera menjalankan mobil itu pulang.
Menyisakan Aleta yang masih menggenggam lengan cowok itu.
Tak lama, mereka dikejutkan dengan tangan seseorang dari pundak Aleta.
"QUEENN!! Eh? Raven?"
"Hai Kak Fany.." sapa Raven ramah.
"Ngagetin gue aja lo!." pekik Aleta sambil memegangi dadanya. Terkejut.
Kemudian kedua bola mata milik Fany melirik ke tengah-tengah dua orang di hadapannya ini. Tangan Aleta masih menggenggam lengan kekar cowok itu. Sontak Fany membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya tak percaya.
"Jangan bilang kalau kalian berdua... Pacaran?" tanya Fany sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah mereka berdua secara bergantian.
"Hah? Eh? (kemudian Aleta melepas genggamannya setelah melirik ke tangan mereka). Apa sih, ngomongnya gitu? Ayo kita masuk kelas."
"I-iya benar." sahut Raven, walau terdapat perasaan aneh di dalam dadanya.
"Iya dah gue percaya, tapi kalau dilihat-lihat kalian berdua cocok banget. Kenapa nggak pacaran aja?" usul dari Fany.
"Kakak tanyakan sama Kak Aleta sendiri, hehehee.." kekehan Raven terlihat dan terdengar kaku.
"Lihat Al, dia suka sama lo.." heboh Fany sambil menatap sahabatnya itu.
"Berisik lo! Udah ah ayo masuk!." kemudian Aleta menarik lengan Fany begitu saja.
"Dadah Kak Aleta.." teriaknya kepada Aleta.
"Dadaahh ganteng, muahc.." Fany lah yang membalas.
.
"Hei! Kaget nggak?" Raven juga dikejutkan dengan kedatangan seseorang dari belakangnya.
"Astaga Bella? Sedikit kaget sih. Kamu baru datang?" Raven memegangi dadanya.
"Oiya, semalam gue nggak bisa tidur gara-gara novel yang gue baca di perpus kemarin. Sampai-sampai gue suruh pembantu gue buat temenin gue tidur." cerocos Bella tiada henti.
"Yaampun Bella, kamu kasihan banget. Kamu nya sih, udah dibilang nggak usah baca malah keukeuh buat baca. Nggak bisa tidur kan?"
"Iyaa.."
"Yaudah, masuk yuk?"
"Heem."
"Gue nggak akan biarin lo rebut Raven dari gue! Lihat aja, sebentar lagi Raven akan jadi pacar gue!." batin Bella dengan tersenyum licik, sambil berjalan ke kelas.
.
Kantinn!
Aleta dan Fany berjalan masuk ke kantin. Kedua mata Aleta langsung terkunci di salah satu cowok yang duduk di sana sambil meneguk jus Alpukat miliknya.
Senyuman langsung terukir di bibir cewek itu. Dan Fany yang melihat sahabatnya senyum-senyum sendiri sedikit merasa khawatir, kalau sahabatnya ini terkena gangguan jiwa. Dengan cepat Fany menghalau fikiran tidak masuk akal itu dan langsung mengikuti arah mata Aleta. Dan BOOM!! Fany menemukan dua cowok yang sedang santuy di tempat duduk yang tak jauh darinya dan Aleta.
Dari situ, Fany mulai yakin bahwa sahabatnya ada hubungan dengan cowok itu. Raven.
Fany menyipitkan kedua matanya heran saat mengikuti langkah Aleta yang mendekati meja dua cowok itu.
Namun, belum tiba di sana, langkah Aleta terhenti karena melihat ada satu cewek yang lebih dulu menempati tempat duduk di samping Raven.
Dan yang lebih membuatnya tak suka adalah saat Raven dengan mudah tertawa bersama cewek itu. Berbeda dengan Arga yang memang sudah tidak menyukai cewek itu dari kemarin-kemarin. Ya! Cewek itu Bella.
"Kenapa berhenti, Al?" tanya Fany.
"Gue mau ke perpus aja, lo kalau mau di sini nggak apa-apa." setelah mengatakan itu, Aleta membalik badan kemudian berlari kecil menuju perpus. (maybe)
"Aleta?!." teriak Fany sedikit keras saat kepergian sahabatnya itu yang meninggalkannya seorang diri.
"Kak Aleta?" gumam seseorang sebelum meneguk jus Alpukat miliknya. Dengan kedua matanya keliling mencari keberadaan pemilik nama.
"Raven, pulang sekolah lo ada acara nggak?" tanya Bella basa-basi dan Raven menatapnya.
"Nggak ada. Kenapa Bell?"
"Kayanya tadi gue lihat Kak Aleta deh, Rav." ucap Arga tiba-tiba dan kepala Raven menoleh ke Arga.
__ADS_1
"Di mana?"
"Tadi dia mau jalan ke sini, tapi nggak tahu kenapa dia tiba-tiba pergi ninggalin temennya, sebelum temannya mengikutinya." jelas Arga. Memang tadi ia melihat Aleta dan Fany yang ingin berjalan ke arahnya.
"Kenapa pergi?"
"Menurut gue, Kak Aleta pergi karena melihat Bella yang tiba-tiba datang. Makanya kakak itu pergi." Arga berbisik supaya Bella tak mendengarnya.
"Masa sih, Ga?" tanya Raven memastikan.
"Lo itu bener-bener telmi tingkat akut parah! Tentu saja kakak itu nggak suka lihat lo deketan sama cewek lain." pekik Arga geram.
"Kenapa? Aku sama Bella cuman temenan kok. Dan Kak Aleta sudah tahu."
"Lo itu emang nggak ngerti soal cewek!" Arga geram.
"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Bella sambil mengernyit bingung.
"Itu Arga bilang kalau tad-.." ucapan Raven terhenti saat Arga memotongnya. "Bukan apa-apa, lo nggak usah kepo!." Arga melirik sinis ke arah Bella.
"O-oke" jawab Bella sambil mengguk-mangguk sedikit ragu.
SKIP
Aleta tidak pergi ke perpus, melainkan ke belakang sekolah. Dari kantin tadi ia tak melepaskan dadanya yang terasa begitu menyiksanya. Rasanya seluruh organ dalam tubuhnya seperti sedang bertarung di sana.
"Aaarrghhh..." terikan demi teriakan ia lontarkan kepada pepohonan besar yang berada di hadapannya.
Teriakan itu semakin lama mulai melemah dan digantikan oleh suara tangis. Kemudian tubuhnya meluruh bersandar di dinding. Ia menangis sepuasnya, meski ia tak tahu apa yang sedang ia tangisi. Ia merasa ingin menangis. Jujur, dadanya terasa sesak saat ini.
.
"ALETA! LO DI MANA?" teriak Fany sambil keliling mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Ke mana sih perginya tu anak? Apa gue kasih tahu Raven soal ini? Ah iya, gue mesti balik lagi ke kantin buat kasih tahu Raven kalau Aleta hilang lagi." lanjut Fany sambil bergumam.
Setelah itu Fany menghampiri Raven dan Arga di meja kantin, menghiraukan keberadaan Bella di sana.
"Raven!." panggil Fany setibanya di depan Raven dan Arga.
"Kak Fany? Ada apa Kak?" Raven terkejut dengan kedatangan Fany, kemudian berdiri.
"Aleta hilang lagi, lo harus cari dia." ucap Fany dengan nafasnya yang masih ngos-ngosan akibat berlari tadi.
"Ap-apa? Kenapa bisa?"
"Tuhkan Rav, apa yang tadi gue bilang kalau kakak itu tadi lihat lo sama Bella." sahut Arga membenarkan omongannya sebelumnya.
"T-tapi..."
"Cari ke mana?" tanya Raven yang sudah mulai panik.
"Ke ruangan Kepala Sekolah! Ya lo cari ke mana, atau nggak lo bisa cari ke tempat yang kemarin lo temuin dia." usul Arga.
"Baiklah. Kalau gitu aku pergi cari Kak Aleta." setelah itu ia berjalan melewati Bella, namun lengannya dicekal oleh cewek itu. "Raven, lo mau ke mana?"
"Sorry Bell, gue pergi dulu." singkatnya setelah itu melepas cekalan Bella.
Kemudian Raven pergi dari kantin diikuti Fany dk belakangnya.
"Raven kenapa sih?" gumam Bella dan bisa didengar oleh Arga.
"Harusnya yang kenapa itu lo, Bella! Lebih baik lo jauh-jauh deh sama Raven. Kalau lo masih berkeliaran diantara mereka, akan gue pastikan lo akan menerima sakit hati." ancam Arga.
"Apasih Ga? Gue tuh cuman mau temenan doang sama Raven. Emangnya salah?"
"SALAH! Secara nggak sengaja lo bakalan ngehancurin hubungan orang lain!" tekan Arga sebelum pergi meninggalkan Bella di sana. Sendirian.
Bella terdiam sambil menatap kepergian ketiga orang itu hingga menghilang. Dan ia memutuskan untuk kembali ke kelas.
.
Raven terus berlari melewati banyaknya pintu kelas, diikuti Fany di belakangnya yang sudah tertinggal jauh karena langkah mereka yang tak sama.
Dan Fany kehilangan jejak Raven saat ia menghentikan langkahnya untuk mengambil nafas.
"Yaahh.. Raven ke mana?" gumamnya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Raven yang sudah menghilang dari penglihatannya. Lalu ia memutuskan untuk mencari bangku dan duduk di sana. Istirahat.
Setibanya Raven di belakang sekolah, ia bisa bernafas lega karena orang yang ia cari berada di sana. Kemudian ia menghampiri orang itu dengan langkah gontai.
Aleta duduk bersandar di dinding sambil melamun. Ia tak sadar bahwa Raven ikut duduk di sampingnya.
Raven mengikuti arah mata Aleta dan perlahan menyandarkan kepalanya di pundak itu. Aleta terkejut saat merasakan berat pada pundak kirinya. Kemudian ia menoleh ke samping dan mendapati seorang tengah bersandar di pundaknya.
"Kenapa Kak Aleta selalu ke sini? Bukankah pohon-pohon besar itu terlihat menyeramkan? Kalau tiba-tiba ada seekor ular besar datang dan menghampiri Kak Aleta, bagaimana?" lirih Raven yang sedang mengamati dua pohon besar di hadapannya.
"Gue menyukai tempat seperti ini."
"Kenapa?"
"Karena menurut gue itu bisa membuat gue tenang dan... Lupain aja." sedikit malas untuk Aleta bercerita.
"Apa Kak Aleta tadi lihat aku sama Bella, makanya ke sini?" Aleta diam tak menjawab.
__ADS_1
"Aku mau tanya sesuatu yang mengganggu tidurku dari kemarin. Soal yang Kak Aleta bisikkan padaku kemarin, di tempat ini." lanjutnya.
"Ap-apa?"
"Kumohon jujurlah padaku, aku takkan bilang ke siapapun. Apa kakak menyukaiku?" kini Raven merubah duduknya menghadap Aleta. Bukan lagi bersandar.
"Kenapa lo bisa ngomong gitu?" tanya Aleta sambil berusaha menghindari eye contact dengan cowok di depannya.
"Aku hanya merasa kalau Kak Aleta sudah mulai menyukaiku sejak di perpus kemarin. Kata Arga, kemarin kakak cemburu lihat aku sama Bella, dan katanya kalau cemburu itu tandanya suka." cerocos Raven dengan kejujuran dan kepolosannya.
"Kenapa dia mengatakan yang sejujurnya." batin Aleta heran.
"Memangnya kemarin gue cemburu?" tanya Aleta sambil memalingkan wajahnya menghindari Raven. Entah kenapa hidungnya terasa gatal, namun ia tak mau menggaruknya.
"Oh? Enggak ya? Berarti Arga berkata bohong. Berbohong itu nggak baik." Raven bergumam.
Aleta tersentak, ia hanya bisa berbicara dalam hati sambil menatap kedua mata indah yang menatapnya dari tadi.
"Ya Tuhan, Engkau ciptakan hati anak ini dari apa? Gue jadi nggak tega buat jauhin dia. Apa gue benar-benar mulai menyukainya? Tapi, gue masih takut untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Ketika gue lihat dan rasakan ketulusan hati anak ini, kenapa.. Ah, nggak mungkin!" diakhiri menggelengkan kepala, berusaha menghalau fikiran yang menurutnya sudah ngelantur kemana-mana.
Kemudian Aleta memutuskan untuk berdiri dan diikuti Raven.
"Rav.." panggilnya sambil menatap Raven dalam.
Merasa terpanggil, Raven menatap Aleta.
"Gue.. Gue mau nanya sesuatu sama lo. Ap-apa lo benar-benar suka sama gue?" Aleta berhasil mengucapkan kalimatnya meski keadaan hatinya sudah tak karuan saat mengatakannya.
"Kenapa Kak Al bertanya? Tentu saja aku suka."
"Kenapa?"
"Hah? Maksud Kak Al? Kenapa aku bisa suka sama kakak?" Aleta mengangguk mengiyakan. Dan menunggu jawaban Raven selanjutnya.
"Aku suka karena itu Kak Aleta, bukan orang lain. Kalau untuk orang lain, perasaanku beda lagi. Tidak seperti yang aku rasain saat bersama Kak Aleta." mendengar jawaban dari mulut cowok lugu itu, semakin membuat Aleta tersentuh dan rasa ingin menjauhi cowok itu seketika lenyap bagaikan ditelan hiu paus.
"Kadang gue mikir, apa lo beneran orang baik atau pura-pura baik saat di depan gue doang. Kadang gue mikir, haruskah gue percaya atau enggak sama semua ucapan lo ke gue. Dan kadang gue mikir, apa gue udah bener-bener lupain masalalu gue. Setelah selama ini kenal sama lo, gue ngerasa ada yang berubah dari diri gue. Gue... Gue ngerasa nyaman dan aman saat di dekat lo. Raven."
"Gue nggak tahu apa yang terjadi sama gue. Yang pasti, gue masih berusaha buat cari tahu apa yang terjadi sehingga gue ngerasa lo itu benar-benar orang yang tulus." sambungnya.
Raven termenung, mencoba mencerna semua kata yang diucapkan Aleta padanya. Namun, Raven tetaplah Raven yang memiliki telmi tingkat akut (kalau kata Arga). Jadi ia harus berfikir sangat lama untuk mencari inti dari perkataan Aleta padanya.
Aleta meraih kedua tangan Raven dan menggenggam jemari itu. Raven menunduk menatap jemarinya yang digenggam, lalu mengangkat wajahnya menatap Aleta yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.
"Lo mau nggak bantu gue buktiin apa gue beneran suka atau enggak?."
"Apa Kak Aleta menyukaiku?" batin Raven.
"Lo mau kan? Bantu gue." Aleta mengulangi ucapannya. Raven mengangguk cepat. "Heem. Aku mau!"
"Thanks. Raven." ucap Aleta dan sekilas mengacak rambut Raven.
"Dan soal di kantin tadi, aku dan Bella sama sekali nggak ada apa-apa. Kami cuma teman, nggak lebih. Aku tahu, mungkin Bella menyukaiku, tapi aku tidak. Kuharap Kak Aleta percaya padaku." jelas Raven.
"Gue percaya."
"Dan maaf, karena sudah membuat Kak Aleta tidak nyaman."
Mendengar cowok lugu itu yang selalu mengucapkan maaf padanya, sedikit membuat Aleta merasa sangat bersalah. Bagaimana tidak, yang salah dirinya sudah berulang kali menolak cowok itu, tapi yang selalu meminta maaf itu Raven.
"Mau peluk?" ucap Aleta tiba-tiba, membuat Raven mendongak cengo.
"Mau peluk nggak?" ucap Aleta sekali lagi sambil melebarkan kedua tangannya.
"Boleh?" tanya Raven memastikan dan diangguki oleh Aleta.
"Kenapa tiba-tib-..." belum selesai bicara, tubuhnya sudah berada dalam pelukan Aleta. Tentu saja Aleta yang menarik tubuh cowok itu.
Perlahan kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan itu. Masih terlihat kaku.
Aleta mencoba mengeratkan dekapannya, seolah ingin merasakan detak jantung cowok itu. Dan benar saja, jantung Raven berdetak sangat cepat dan besar-besar. Aleta semakin yakin bahwa cowok itu tulus mencintainya.
.
.
.
Tanda-tanda akan apa nihh???
Kayanya Aleta sudah mulai menyukai Raven deh. Waahh, kalau kegini sih bisa lebih tenang. Daripada kemarin, Raven diabaikan terus sama Aleta.
Setidaknya cinta si cowok lugu nan polos itu perlahan akan terbalas.
Tulis kritik dan saran kalian di kolom komen dongg.
Jangan lupa Like and Vote yaaa
.
......Mampir juga ke karya kedua aku yaa 😋......
__ADS_1
TERIMAKASIH♡!!