
"Hoamm.."
Aleta terbangun lebih dulu sebab sinar matahari yang masuk lewat celah jendela di kamar itu menelusup masuk ke pori-porinya.
Lalu ia melihat sekeliling ruangan itu dan matanya terhenti pada orang di sampingnya. Tertutup selimut hingga perut dan dengan keadaan masih tertidur sangat pulas.
Kemudian ia menyadari ada yang aneh pada tubuhnya. Alhamdhulillah aman. Hanya saja, bagaimana bisa ia memakai hoodie? Milik siapa? Seingatnya semalam ia keluar memakai dress selutut.
Ia terkejut lalu melirik orang di sampingnya yang bertelanjang dada.
Apa yang terjadi? -itulah pertanyaan yang pertama kali terlintas dalam fikirannya.
Lalu ia mencoba mengingat kejadian semalam saat ia janjian bertemu dengan Riki, dan..
Hap! Sontak kedua tangannya mencengkeram mulutnya sendiri. Tak percaya.
Kemudian ia melihat leher orang itu yang terdapat bekas merah dan sedikit kebiruan itu mengingatkannya akan kejadian semalam.
Bagaimana bisa ia melakukan itu kepada cowok polos seperti Raven? Apa yang akan Raven fikirkan terhadapnya? Apa Raven tidak menolak atau mencegah dirinya saat akan melakukan hal itu? Atau Raven malah menikmatinya? Begitu banyak 5W+1H yang ada di kepalanya.
Tetapi, ia tersadar bahwa pagi ini ia mengenakan hoodie milik Raven. Jadi bisa disimpulkan bahwa cowok itu tidak berbuat macam-macam dengannya.
Terbesit wajah Riki dalam ingatannya, dan itu membuatnya kembali murka. Bisa-bisanya cowok brengsek itu memberinya obat perangsang. Untung saja ada Raven, yang notabenya adalah calon suaminya sendiri. Menyelamatkan dirinya dari Riki.
Tetapi Riki sudah menciptakan bekas merah sialan itu di leher mulusnya. Dan untungnya ia membalas c*pangan itu kepada Raven. Tapi, bagaimana ia menyikapinya saat Raven tersadar nanti. Bisa malu sendiri dia dengan yang diperbuat semalam.
Melihat tak ada pergerakan dari Raven, perlahan ia turun dari kasur dan berjalan tanpa suara masuk ke kamar mandi.
Setelah berhasil masuk, ia menutup pintu itu dan menguncinya. Lalu ia berjalan mendekati kaca dan melepas hoodie tebal itu dari tubuhnya.
Betapa terkejutnya dia saat melepas hoodie, dress cantiknya sobek parah pada bagian perut hingga dada. Pakaian dalamnya langsung terlihat. Pantas saja Raven meberikan hoodie kepadanya.
"Ap-apa yang sebenarnya terjadi semalam?" gumamnya sambil melihat sobekan pada bajunya itu lewat pantulan kaca.
Semalam.
Saat Raven terlelap dan hampir menyelam ke alam mimpi, ia dikejutkan dengan rasa berat di perutnya. Perlahan ia membuka mata dan langsung menampakkan tubuh Aleta yang duduk di atasnya
"Kak Aleta? Sedang apa kakak kemari? Istirahatlah di sana" titah Raven sambil berusaha menurunkan tubuh Aleta darinya.
Aleta menggeleng cepat namun lemah.
"Gerah!"
"Kakak mandi saja kalau memang gerah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak sampai membuat kakak seperti ini?"
"Riki kasih gue minuman yang dia masukin obat perangsang"
"Ma-maksudnya? Memangnya itu obat untuk apa?"
"Lo nggak akan faham. Gue butuh lo malam ini buat sembuhin gue. Lo beneran serius kan cinta sama gue? Beneran serius mau nikah sama gue? Beneran serius menemani hari-hari gue, dan beneran serius menua bersama bareng gue?" cerocos Aleta yang mulai ngelantur ke mana-mana.
"Apa yang kakak bicarakan? Tentu saja aku beneran serius sama kamu."
Senyuman tipis terukir di sudut bibir Aleta.
"Maka mari lakukan sekarang!"
"Ap-apa? Tidak! Nanti saja setelah kita menikah." kepala Raven menggeleng cepat tanda tidak setuju.
"Sekali saja..." pinta Aleta dengan wajah memelas.
"Tetap tidak!" tolak Raven yang masih berusaha memindahkan tubuh Aleta darinya.
"Lo mau gue kegini terus?"
"Kak, aku mohon.. Jangan lakukan ini sekarang, kumohon sadarlah! Kau bukan Kak Aleta yang aku kenal. Aleta yang aku kenal tidak seperti ini"
"Raven.." Aleta bergumam sambil mencengkeram kerah dress miliknya.
"Jangan lakukan!" pekiknya saat Aleta akan merobak dress cantik itu.
Namun, Aleta malah semakin menarik dressnya kuat hingga sobek tepat di tengah-tengah dadanya.
GREEKK!!!
Raven terkejut saat Aleta berhasil merobek dress cantik itu hingga menampilkan pakaian dalam yang dikenakannya. Sontak Raven memindahkan tubuh Aleta dan menutup kedua matanya sangat erat.
"Pakai kembali bajumu, kak!" pekik Raven dengan mata terpejam kuat.
"Lihat kesini. Lihat gue!" titah Aleta sambil menarik-narik lengan cowok itu supaya menghadapnya.
Raven menggeleng cepat. "Tidak mau! Sebelum Kak Aleta menutup tubuh kakak!"
"Tapi badan gue gerah Raven.." rengek Aleta dan semakin merobek dressnya hingga membuat perutnya terekspos.
"Tutup kembali!" pinta Raven sedikit berteriak seraya memejamkan matanya kuat-kuat.
"Nggak bisa.. Baju gue udah sobek" lirih Aleta yang seperti menyesali perbuatannya yang sudah mengakibatkan bajunya sobek.
"Bagaimana ini? Aku akan melepas pakaianku untuk kakak pakai, tapi aku tidak memakai baju di dalamnya. Jadi, bisakah Kak Aleta menghadap ke belakang dan tidak melihatku melepas baju?" kata Raven.
"Kenapa? Lepas aja." ujar Aleta dengan entengnya.
"Madep sana!" titah Raven.
"Oke!" Aleta menjawab acuh.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Raven memastikan apakah Aleta melakukan perintahnya atau tidak.
Aleta mengangguk malas. "Hm.."
Perlahan Raven melepas jaket hoodie nya kemudian ia membalik badan menghadap Aleta yang ia kira juga membelakanginya, namun ternyata tidak. Aleta melihatnya saat melepas baju.
"Kak Aleta bohong?" Raven terlonjak kaget melihat Aleta tidak menurutinya.
"Boleh gue rasain roti sobek itu?" gumamnya yang mulai menjulurkan tangannya ke arah perut kotak-kotak milik Raven.
Sebelum jari Aleta menyentuh perutnya, ia cepat-cepat mundur dan memberikan hoodie nya kepada Aleta. "Ti-tidak! Nih, segera pakailah baju aku"
"Tapi gue menginginkan itu..." fokus matanya ke arah roti sobek milik Raven.
"Segera paka-.. Eh?"
Aleta bangkit seraya mengangkat tubuh Raven dan menggiring tubuh cowok itu ke ranjang. Lalu menjatuhkan tubuh Raven di kasur empuk tersebut.
Ancang-ancang ia ingin menjatuhkan tubuhnya di sana namun lebih dulu Raven menghindar.
"Kemari kau!" pintanya saat cowok itu menghindarinya.
"Tidaakkk!!" Raven berlari menjauhinya.
"Gue bilang kemari!"
"Tidak akan aku lakukan! Sebelum Kak Aleta memakai pakaianku!"
"Ayolah, di sini panas mana mungkin gue pakai pakaian setebal itu?"
"Tidak tebal, itu hanya hoodie."
"Sama saja. Kemarilah!"
"Tidak!"
"Awas lo, Raven! Gue bakalan kejar lo sampai ketangkap. Dan bibir lo itu bakalan gue makan."
"Itu tidak baiikkk!!"
Jadi, mereka berdua kejar-kejaran di dalam ruangan itu. 15 menit berlalu, Aleta belum berhasil menangkap Raven tapi ia sudah sangat lelah. Lalu ia memutuskan untuk menyerah dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Tak melihat pergerakan dari Aleta. Raven berjalan mendekat dan melihat kedua mata Aleta sudah terpejam. Ia bisa bernafas lega sekarang.
Kemudian ia mengambil hoodie nya dan segera memakaikan hoodie itu pada tubuh Aleta. Dengan kedua matanya yang terpejam kuat supaya tidak melihat lekukan tubuh Aleta di dalamnya.
Setelah berhasil memasang hoodie itu, Raven membenarkan posisi Aleta yang kakinya masih menggantung itu ia menggendong tubuh Aleta ke atas, tepatnya ke bantal berada.
Siapa sangka, saat Raven akan melepas pegangannya dari tubuh Aleta, lebih dulu Aleta mengalungkan lengannya di leher Raven. Membuat si pemilik leher terkejut dan ingin memberontak tapi lebih dulu Aleta menarik tubuhnya hingga terjatuh di atasnya.
Kedua tangan Raven mencoba menahan tubuhnya supaya tidak menempel di tubuh Aleta, namun Aleta mendorong kedua lengan Raven menggunakan sikunya hingga pertahanannya terpeleset dan tubuh mereka berhasil bersentuhan.
"Mari lakukan sekali lagi.." bisiknya sebelum ia menarik tengkuk Raven dan kembali menikmati kekenyalan bibir itu.
Raven yang masih sadar itupun berusaha menjauhkan tubuhnya dari Aleta. Setelah berhasil berbaring di samping Aleta, ia langsung membawa tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.
Didekapnya tubuh itu sangat erat, segala rontaan dan pukulan untuk dilepaskan sama sekali tak ia gubris. Ia tetap memeluk perempuan itu hingga lama-kelamaan rontaannya melemah dan entah apa yang terjadi setelahnya. Mungkin mereka berdua sama-sama terlelap, atau Raven saja dan Aleta tidak?
_
"Bodoh! Bodoh banget sih gue! Kenapa bisa gue ngelakuin itu semua. Mau ditaruh di mana muka gue nanti saat dia bangun?!
T-tapi bagaimana caranya hilangin bekas sialan ini? Mana ada 1.. 2.. 3? Anjir banyak beud! Dasar Riki sialan! Brengsek! Baj*ngan! Awas aja kalau sampai ni bekas nggak hilang. Dikira kenapa nanti sama Mama dan Papa. Nyusahin aja!" gerutunya kesal.
Dengan perasaan yang masih kesal karena perbuatan Riki padanya, ia segera membersihkan wajahnya kemudian keluar.
Ternyata Raven masih terlelap, lalu ia berjalan mendekati Raven.
Matanya menatap lekat pada dua buah c*pangan yang ia ciptakan di leher dan dada Raven. Jika diingat ia merasa geli sendiri.
Aleta membatin, "Untung aja yang gue bikinin bekas itu lo, Rav. Kalau Riki mungkin gue nggak bakalan pernah berhubungan lagi dengan yang namanya cowok! Temenan saja nggak sudi gue!"
"Gue mau lihat reaksi lo waktu lo bangun." gumamnya setelah mendudukkan bokongnya di samping Raven.
"Eugh.."
Melihat pergerakan dari cowok itu, Aleta mulai mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Raven. "Akhirnya lo bangun." batinnya.
Raven terlonjak kaget saat membuka mata langsung melihat Aleta duduk di sampingnya. Kemudian ia duduk,
"Kak Aleta, udah bangun? Jam berapa sekarang? Gimana keadaan kakak sekarang, apa sudah mendingan? Semalam.." cerocos Raven dan langsung dipotong oleh Aleta.
"Ssttt.. Jangan diterusin. Btw makasih buat baju hangatnya" ucapnya sambil tersenyum kecut.
"Ah iya, tidak masalah" lirih Raven, kemudian ia segera menutupi dadanya menggunakan selimut tebal itu.
"T-tapi.." Aleta menggantung ucapannya.
"Ada apa?"
"Gue minta maaf soal kejadian semalam. Tentang sikap gue ke lo yang tiba-tiba penuh nafsu dan membuat tubuh lo sebagai pelampiasannya.
Gue juga minta maaf soal bekas yang ada di leher dan dada lo. Gue benar-benar minta maaf. Gue janji nggak akan ngulangin itu semua."
"Lalu bagaimana dengan bekas di leher kakak? Itu semua karena ulah cowok semalam." tunjuknya ke arah leher cewek itu.
Aleta menunduk dan tiba-tiba menangis sesenggukan. Seolah mengeluarkan rasa sedih, kesal, marah, benci, dan jijik itu menjadi satu.
__ADS_1
Ia meraba bekas merah di lehernya sambil terus menangis.
"Hiks.. Hiks..."
"Kakak kenapa menangis? Ada yang salah dari perkataan aku ya? Maaf.." ucap Raven seolah mengerti bahwa Aleta menangis karena perkataannya.
"Gue kesel banget, gue benci sama Riki! Gue benciii!!" ia memukul selimut tebal yang menutupi dada Raven itu sambil terisak.
"Kak Aleta tenanglah, tolong lupakan saja kejadian semalam. Ingat saja tentang kita." mendengar dua kata terakhir yang diucapkan cowok itu, Aleta menghentikan aktivitasnya.
"Kita? Gue juga minta maaf karena sudah lancang mencium lo" lirihnya dengan sorot mata sendu.
"Tidak apa. Aku malah senang kakak tidak menjadikan cowok itu sebagai pelampiasan dari efek obat yang kakak minum" jelas Raven sambil memberikan senyuman terbaiknya.
"Terus gimana sama lo? Apa lo nggak marah? Nggak benci? Semalam gue nggak bisa kontrol mood gue. Sorry.." ujar Aleta lagi.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Ada yang lebih penting saat ini adalah bagaimana caranya menghilangkan bekas merah ini?" ohiya-fikir Aleta.
"Gimana kalau kita bilang ini gatal karena digigit nyamuk atau serangga? Kan kita tidur di penginapan yang bisa dibilang kecil tapi tidak kumuh. Pasti mereka langsung percaya." usulnya.
"Tidak semudah itu Kak. Mungkin bekas itu hilangnya lama."
"Jadi bagaimana?"
"Samarkan saja menggunakan foundation atau benda padat apapun. Pasti langsung seperti sediakala." kata Raven.
Senyuman Aleta merekah kemudian menjentikkan kedua jarinya, "Pintar!"
Tunggu! Aleta belum menyadari ada memar di pipi kanan Raven karena penglihatannya pagi ini belum sepenuhnya jernih.
.
Dalam perjalanan pulang. Safar sudah menjemput mereke di penginapan. Aleta dan Raven juga telah mengoles foundation pada leher mereka. Yaa walaupun masih bisa dilihat jelas jika dalam jarak dekat. Juga tadi sebelum Safar datang menjemput, Raven membelikan baju untuk Aleta di toko baju terdekat.
"Oiya, gimana sama motor lo?" Aleta bertanya pada Raven.
"Non Aleta tenang saja, karena saya sudah menelfon seseorang untuk membawa motor Raven pulang ke rumah." sahut supir itu.
"Terimakasih banyak, Pak Safar" ucapnya kepada Safar.
"Sama-sama"
"Hari ini kita bolos sekolah?" gumam Raven dan didengar oleh supirnya.
"Untuk itu juga sudah di atur sama ibu Mala" sahut Safar lagi.
Aleta mengernyit tak mengerti. "Mama?"
"Ibu sudah meminta izin kalau kalian hari ini tidak usah masuk sekolah. Karena ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan pada kalian" kata Safar.
"Apa itu?" tanya Aleta kepo.
"Saya kurang tahu, Non" Aleta hanya ber-oh-ria saja sambil mangguk-mangguk.
Kemudian ia melirik ke orang di sebelahnya, "Raven.."
"I-iya?" jawabnya setelah menoleh menatap Aleta.
"Apa leher gue masih kelihatan merah?" tanyanya sambil berbisik, karena tidak ingin supir itu mendengar suaranya. Raven menggeleng sebagai jawaban.
"Tapi punya lo yang masih kurang" lanjutnya kemudian mengambil foundationnya untuk ia berikan lagi pada Raven.
"Ap-apa? Biar aku sendiri saja yang mengoleskannya." ujarnya setelah merebut benda itu dari Aleta yang tadi ingin mengolesnya ke lehernya.
"Bisa?" tanya Aleta memastikan dan diangguki oleh Raven. "Heem."
"Pipi lo kenapa?" tanyanya sambil menunjuk wajah Raven. Ternyata ia baru menyadarinya.
"Oh ini? Eum.." sontak ia menyentuh pipinya yang terdapat memar itu sambil berfikir.
"Pasti karena ulah Riki semalam?" tebak Aleta dan Raven mengangguk lemah.
"Kurang ajar!" decak Aleta.
"Tidak apa-apa, aku sudah membalasnya" lirih Raven yang nyaris berbisik.
"Btw, ternyata lo jago bela diri. Gue baru tahu" gumam Aleta sambil mengguk-mangguk.
"Itu karena... Karena aku sedang marah dengan cowok itu. Aku minta maaf kalau kejadian tadi malam bikin kakak takut." jelasnya lirih.
"Tidak-tidak! Gue malah berterimakasih banget karena lo udah kasih pelajaran ke dia."
"Kalian sedang membicarakan apa?" Safar bertanya, yang sedaritadi mendengar sesuatu yang menurutnya tidak jelas masuk ke telinganya.
"Apa sih Pak Safar jangan kepo deh!" celetuk Aleta dan supir itu langsung kicep.
"Maaf, non Aleta."
"Kami tidak membicarakan apa-apa kok, Pak." kata Raven, dan supir itu mengangguk saja tak ingin bertanya lagi.
.
.
.
Maaf ya ges kalau part ini sedikit gaje, wkwk
__ADS_1
Pokoknya jangan lupa klik jempolnya mantemann
.