A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
77. Baru Suka, Belum Cinta


__ADS_3

Tok tok tok


"Raven.. Mama pulang bawa kue kesukaan lo dari mama Zanna." teriak Aleta dari depan kamar Raven sambil terus mengetuk pintu kamar itu.


"Simpan saja di kulkas, nanti aku makan kalau lapar." jawaban dari dalam kamar.


"Ouh, baiklah. Gue di bawah sama Mama, kalau lo udah lapar segera turunlah." Tak ada jawaban, kemudian Aleta kembali menemui mamanya di dapur.


"Raven mana, kok nggak ikut kesini?" tanya Mala sesampainya Aleta di sana tak melihat keberadaan Raven.


"Katanya belum lapar." jawabnya.


"Kenapa? Nggak biasanya." Mala bergumam heran.


"Al boleh ambil satu nggak punya Raven? Kayanya enak." tanyanya, seraya melihat tote bag mini di tangan mamanya.


"Nggak boleh! Ini untuk Raven" Mala menarik tote bag itu menjauhi Aleta.


"Yaahh.." Aleta memasang wajah kecewanya karena mamanya tak memberinya.


Mala merasa tak tega melihat wajah putrinya itu, akhirnya mau tidak mau Mala memberikannya. "Tapi, satu aja ya?"


"Heem." Aleta mengangguk cepat. Kemudian Mala mengambilkan satu untuk putrinya.


"Oiya, apa terjadi sesuatu dengan kalian saat mama tidak di rumah tadi siang?" tanya Mala kepada Aleta yang tengah melahap kue itu.


Aleta menggeleng kemudian menjawab setelah menelan kue di dalam mulutnya. "Nggak ada. Semuanya baik-baik saja."


"Lalu, kenapa Raven tidak mau keluar kamar? Kamu bilang sudah dari tadi siang dia di kamarnya."


"Benar juga." batin Aleta.


"Jawab mama, apa kamu melakukan sesuatu yang membuatnya sedih?" tanya Mala memastikan.


"Apa maksud mama? Al nggak melakukan apapun."


"Bukannya mama menuduh kamu. Tapi, kata Zanna, kalau Raven sedang merasa dirinya tidak baik-baik saja, dia akan mengurung diri di kamar."


"Masa sih? Tapi beneran, Al sama sekali nggak bikin dia sedih atau... (Aleta menggantung ucapannya karena langsung teringat akan suatu hal)


'gue suka sama teman lo ini. Ngeselin tapi lucu'


Astaga!" pekik Aleta sampai membuat Mala terlonjak kaget.


"Ada apa, Al? Kamu mengejutkan mama." Mala terkejut sampai memegang dadanya.


"Mungkin Al tahu kenapa Raven mengurung diri." gumamnya yang nampak syok.


Mala mengernyit tak mengerti. "Maksud kamu?"


"Sebentar." tanpa memberitahu mamanya apa yang sebenarnya terjadi, Aleta langsung berlari menaiki anak tangga.


"Aleta, apa yang terjadi?" Mala berteriak namun tak dijawab oleh putrinya.


.


Tok.. Tok.. Tok..


"Raven! Rav.. Buka pintunya.." Aleta kembali mengetuk pintu kamar Raven.


"Raven! Woy! Cepatlah buka pintunya!" Aleta berteriak karena tak mendapat sahutan dari orang di dalam.


"Lo mau lihat kaki gue sakit karena kelamaan nunggu lo bukain pintu? Cepat buka!." teriaknya lagi dan tak lama pintu itu terbuka.


Ceklek


"Masuk..." Aleta mendorong tubuh cowok itu masuk kembali ke kamar kemudian menutup pintu. Hingga punggung Raven menabrak tembok dan tubuhnya langsung dikunci oleh Aleta.

__ADS_1


"A-ada apa?" Raven terbata karena terkejut mendapat pergerakan Aleta yang tiba-tiba mendorongnya masuk dan menghadang kedua sisi tubuhnya menggunakan tangan milik Aleta.


Aleta sedikit mendongak untuk bertanya apa yang terjadi dengan cowok itu. "Apa yang terjadi sama lo, hm?"


"Ti-tidak ada. Memangnya apa?"


"Jawab aja!"


"Ap-apa yang harus aku jawab?" Raven semakin gugup. Pasalnya tubuh cewek itu semakin dekat dengannya.


"Apa ada yang bikin lo sedih?" tanyanya lagi dengan nada selembut mungkin.


Raven menggeleng, lalu segera menjawab, "Sedih? Tidak."


"Jawab nggak?! Kalau nggak jawab jujur, gue marah!" gertaknya dan itu semakin membuat Raven gemetar.


Raven memejamkan kedua matanya rapat-rapat, lalu mengatakan, "Ja-jangan marah.."


"Makanya jawab jujur! Ada apa?"


"Ta-tadi.. Waktu.. Arga mau pulang. Kak Aleta bilang kalau.. Kakak su.. Kak Aleta suka sama Arga." jelasnya dengan mata terpejam. Ia tak berani bertatapan dengan Aleta.


"Jadi karena itu, lo sedih?" tanya Aleta setelah menurunkan kedua lengannya dari sisi tubuh Raven.


Perlahan Raven membuka mata dan melihat ke lantai. "Bukan sedih, tapi.. Aku nggak mau kalau kakak suka sama Arga." lirihnya.


"Bukan kegitu Raven.. Tadi gue bilang suka itu maksudnya, gue suka sama Arga sebagai teman. Karena dia walaupun ngeselin tapi dia lucu." jelas Aleta dengan perlahan.


"Tapi kak Aleta suka sama Arga." lirihnya setelah mengangkat wajahnya menatap sendu Aleta.


"Baru suka, kan? Belum cinta." Aleta menggeleng pelan seraya mengatakan kalimatnya.


"Cinta? Kak Aleta cinta sama Arga?" tanya Raven dengan kepolosan yang ia miliki.


"Bukan Raven.. Lo itu ya, gemesin kalau udah nanya-nanya. Mirip anak kecil yang ingin tahu banyak hal." geram Aleta sambil menahan gemasnya.


"Tapi lo udah SMA, jadi lo udah gede."


"SMA kelas 10, emang udah gede?"


"Heem. Sudah SMA berarti udah gede."


"Jadi aku udah gede? Tapi kakak lebih gede dari aku."


Aleta mengernyit. "Apanya yang gede?"


"Umurnya."


"Umur nggak menjamin kedewasaan seseorang. Dan gue percaya kalau lo lebih dewasa. Berbeda dengan gue yang kadang masih kekanak-kanakan."


"Jadi kakak beneran suka dan cinta sama Arga? Lalu bagaimana denganku?" pertanyaan dari cowok lugu itu sekali lagi membuat Aleta termenung.


Aleta membatin.


"Aduh Raven.. Jangan nanya soal ini. Gue nggak tau mau jawab apa. Karena gue juga masih bingung sama perasaan gue."


"Bagaimana denganku?" Raven mengulangi pertanyaannya.


"Mama Zanna bawain roti kesukaan lo, ayo turun. Keburu basi nanti." dan Aleta memilih untuk mengganti pembicaraan mereka.


"T-tapi aku masih kenyang. Nanti akan aku makan."


"Baiklah. Kalau gitu gue ke kamar. Oiya, boneka yang kemarin gue kasih ke lo ketinggalan di kamar gue. Mau ambil?" tanyanya sebelum membalik badan.


"Boneka Dino? Oiya, aku sampai lupa.."


"Ayo!" lalu Aleta menarik lengan cowok itu dan membawa ke kamarnya.

__ADS_1


.


"Mereka berdua sedang apa? Pegangan tangan masuk ke kamarnya Aleta." batin Mala bingung dari ruang tengah yang dapat melihat ke lantai atas.


.


"Lo, duduklah. Gue ambil bonekanya."


"Iya, Kak." jawabnya setelah duduk di pinggiran ranjang milik Aleta.


Kemudian Aleta membuka lemarinya untuk mengambil boneka Dino yang kemarin ia berikan kepada Raven.


"Nih! Lo simpan boneka ini baik-baik." ucapnya sambil menyodorkan boneka itu ke depan Raven.


"Pasti akan aku jaga dengan baik. Terimakasih Kak Aleta." Raven memeluk boneka itu setelah menerima dari tangan Aleta.


"My pleasure."


Hening.


Raven sibuk memainkan boneka Dino, sedangkan Aleta sedang rebahan di kasurnya sambil membaca buku. Dilihat doang sebenarnya tapi nggak dibaca. Matanya menatap punggung Raven yang duduk membelakanginya sambil memainkan boneka Dinonya.


"Lo suka sama bonekanya?" tanya Aleta tiba-tiba dan Raven menoleh ke ke arahnya.


"Heem. Suka banget! Apalagi ini pemberian kak Aleta." ia mengangguk cepat sambil tersenyum sangat manis.


"Baguslah. Gue kira lo nggak akan suka." kekehnya yang terlihat kaku.


"Aku suka. Sama kakak juga suka." gumam Raven yang kembali fokus dengan dunianya sendiri. Memainkan boneka Dino maksudnya.


Aleta nampak berfikir, kemudian memanggil cowok itu lagi.


"Rav.."


"Iya?" Raven kembali menatapnya penuh tanya.


"Nggak jadi. Oiya, lo ambil gih roti di dapur."


"Ouh? Baiklah." lalu Raven beranjak dari duduknya sambil menggenggam bonekanya.


"Dan.. Kalau lo mau kesini gue izinin, kapan aja terserah lo." ucapnya lirih.


"Heem. Aku akan segera kembali."


"Iya." setelah itu Raven keluar dari kamar Aleta.


"Semoga keputusan gue kali ini baik untuk hidup gue kedepannya. Aamiin.." Aleta membatin seraya menatap punggung itu hingga menghilang ditelan pintu.


.


.


.


Jarang-jarang Raven ngambek xixixi..


Doa-in terus supaya Aleta segera membuka sepenuh hatinya untuk Raven. Bosen juga lama-lama lihat kisah mereka berdua yang cuman itu-itu teruss. Nggak ada progres sebiji pun!


Bantuin mereka dekat sampai nikah yuk?! Yang setuju komenn😂


Ditambah dengan kedatangan Bella diantara mereka yang sudah siap kapan aja memisahkan mereka berdua.


Next? Komen duluuu


Like nya jangan sampai ketinggalan!!


.

__ADS_1


__ADS_2