A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
23. Seperti kacang kehilangan kulitnya


__ADS_3

"Fany kemana, ya?" batinnya.


Istirahat...


"nggak seru nih nggak ada Fany, gw jadi sendirian" ucapnya sambil memangku dagunya.


"Al, ke kantin yuk" ajak Linda.


"nggak ah males, nggak ada Fany"


"emang si Fany kemana?" Tanya Linda ikut duduk di samping Aleta.


"gw juga nggak tahu, daritadi gw telfon nggak diangkat sama dia"


"atau mungkin dia sakit?" tanya Linda menebak.


"nggak mungkin dia sakit orang kemarin dia baik-baik aja"


"lo tunggu aja mungkin nanti dia telfon lo" Aleta mengangguk.


"yaudah kalo gitu gw ke kantin, ya? lo beneran nggak ke kantin?" tanyanya sekali lagi.


"enggak, lo aja" jawabnya sambil menggeleng.


"oke, bye qween" Linda berjalan keluar sambil melambaikan tangan.


Di sisi lain...


Fany sedang menemani neneknya di rumah sakit, karena semalam kondisi neneknya drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Jadi hari ini ia tidak masuk sekolah.


"nenek harus sembuh ya nek, nenek jangan sakit hiks hiks" lirih Fany menangis sambil menggenggam tangan neneknya.


"nenek harus sehat hiks"


Tak lama setelah itu dokter masuk ke dalam ruangan neneknya di rawat untuk memeriksa kondisinya.


"dokter?" panggil Fany kemudian berdiri.


"biar saya periksa kondisi pasien" ucap dokter itu.


"baik dok, kalau begitu saya keluar sebentar" dianggukkan oleh dokter kemudian Fany keluar dari ruangan neneknya dan duduk di depan ruangan.


Fany merogoh ponsel yang ada di sakunya dan mendapati banyak miscall dari sahabatnya, Aleta.

__ADS_1


"ya ampun, Aleta telfon banyak banget. Pasti dia khawatir nyariin gw karena nggak masuk" ucapnya.


"gw telfon lagi"


"tapi.. kalau dia nanya kenapa gw nggak masuk gw harus jawab apa, nggak mungkin gw bilang karena gw nemenin nenek di rumah sakit. Nanti yang ada dia malah tambah khawatir dan mau bantu, gw nggak mau ngerepotin dia" lanjutnya, ia bingung harus bilang apa pada sahabatnya. Karena ia tidak ingin merepotkan orang lain.


"sudah nanti saja" kemudian ia memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan masuk menemui neneknya.


"bagaimana kondisi nenek saya dok?" tanya Fany begitu masuk.


"kondisi nenek kamu sudah membaik, asalkan pola makan nya harus di jaga ya, jangan sampai telat makan"


"hari ini nenek kamu sudah boleh pulang" lanjut dokter itu.


"baik dokter, sekali lagi saya ucapkan banyak sekali terimakasih"


"sama-sama, kamu memang cucu yang baik. Baiklah kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu kemudian keluar dari ruangannya.


"nenek denger apa kata dokter tadi? nenek harus memperhatikan pola makan nenek dan tidak boleh sampai telat makan nya" ucap Fany pada neneknya.


"iya, maafkan nenek karena sudah merepotkan. Kamu sampai tidak masuk ke sekolah gara-gara nenek" ucap nek Nur menggenggam tangan cucunya.


"huusstt.. nenek jangang bicara seperti itu, nenek sama sekali tidak merepotkan Fany"


Aleta di sekolah tidak seperti biasanya, tanpa adanya sahabatnya dia seperti kacang yang kehilangan kulitnya. Seperti tidak ada semangat melakukan apapun, bahkan ia hampir dihukum di depan kelas karena tidak mendengarkan guru menerangkan. Hingga waktu pulang pun ia masih lesu.


"iya" jawabnya singkat kemudian berjalan lesu keluar kelas.


"aah nggak asik banget nggak ada Fany" gumamnya.


"lagian dia kemana sih, ditelfon daritadi nggak diangkat" lanjutnya.


Raven dan Arga berjalan dibelakang Aleta sambil mengobrol.


"eh ada pacar lo tuh" ucap Arga menggerakkan jari telunjuknya ke arah wanita di depannya dan Raven mengikuti arah jari Arga dan ternyata itu sang calon istri.


"kak Aleta?" ucapnya lirih sambil tersenyum sumringah.


"eh kamu pulang duluan aku mau nyamperin kak Aleta"


"idih mentang-mentang ada pacar" kekeh Arga kemudian berjalan mendahuluinya.


"hai kak" sapa Raven mengagetkan Aleta.

__ADS_1


"eh Raven?" jawabnya sedikit lesu. Raven heran sambil mengrenyitkan alisnya.


"kakak nggak apa-apa? kakak sakit?" Raven berdiri di depan Aleta sambil berjalan mundur.


"gw nggak apa-apa, sana minggir" merasa jalannya terhalang, ia menepis pundak Raven untuk bergeser. Raven tidak mau kalah ia meraih lengannya dan langkah Aleta terhenti.


"tunggu kak"


"huuft.. ada apa?"


"(memegang dahi Aleta memeriksa apakah ia demam)"


"lo ngapain sih?" Raven masih menempelkan telapak tangannya di dahi dan pipi Aleta, dan pada saat Raven ingin menempelkan telapak tangannya di leher Aleta...


"apaan sih" Aleta menepis tangan Raven yang ingin memegang lehernya.


"sebentar kak"


"udah deh jangan macem-macem"


"gw nggak apa-apa" lanjutnya.


"aku cuman mau nge cek kak Aleta demam atau nggak" ucapnya sambil menunduk.


"gw nggak lagi demam" ucap Aleta penuh penekanan.


"atau lo mau modus ya?" lanjutnya dan Raven mendongak menggerakkan kedua telapak tangannya ke kanan dan ke kiri sambil menggeleng.


"ti-tidak kak"


"udah, gw mau pulang" kemudian Aleta pergi meninggalkan Raven masih berdiri mematung dibelakangnya.


"ada apa dengannya? apa aku bikin kesalahan? atau kak Aleta marah karena tadi pagi?" tanyanya pada diri sendiri dan berjalan ke parkiran dengan lesu.


HALLO GUYSS...🙌😁


AKU UP LAGI NIHHH😀


GIMANA CERITANYA? SERU NGGAK? KALAU KALIAN SUKA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BERUPA


LIKE KOMEN DAN VOTE


MOHON MAAF BILA ADA TYPO😂

__ADS_1


TERIMAKASIH♥


HAPPY READING♥


__ADS_2