
Malam ini sekitar pukul 18.38, selesai makan malam Aleta masuk ke kamarnya dan langsung bergelut dengan buku-bukunya. Saat ia tengah fokus belajar, ponselnya berbunyi tanda ada yang mengirimi pesan.
ting!
082232xxxxxx
malam Al
udah makan?
Begitulah isi pesan itu.
"apa sih" ucapnya setelah membaca pesan dari Riki yang bahkan nomornya belum ia simpan.
udah.
Aleta membalas singkat. Lalu ia menyimpan kontak Riki dan ia beri nama Riki.
ting!
Riki
lo lagi apa?
belajar
ting!
Riki
ohiya, pasti lo belajar buat ulangan kenaikan kelas ya?
iya.
ting!
Riki
semangat belajarnya Al, gw doain lo dapet nilai yang bagus๐
iya
ting!
Riki
yaudah kalau gitu lo belajar yang rajin, gw nggak akan sms lo malam ini๐
Aleta tak membalas pesannya.
"huuft.. kenapa lo balik lagi sih Rik? gw udah ngelupain perasaan gw ke lo dan sekarang lo malah muncul" ucapnya mengusap wajahnya kasar.
tok tok tok..
"masuk aja ma, nggak dikunci" teriaknya ada yang mengetuk pintu. Mala membuka pintu dan masuk lalu berjalan ke arahnya.
"ada apa ma?" tanya Aleta memutar posisi duduknya menghadap mamanya.
"mama mau bicara sebentar sama kamu, apa bisa?"
"emm, bisa ma. Nanti Al lanjutin belajar habis dengerin mama bicara" Mala duduk di sampingnya dan menggenggam sebelah tangannya.
"Al.." Mala terlihat serius.
"iya?" Aleta menautkan kedua alisnya bingung.
"mama mau bicara serius sama kamu"
"iya mama ngomong aja, ada apa?"
"mama cuman mau bilang kalau kamu harus bersikap baik sama Raven"
"maksud mama? selama ini bukannya Al udah bersikap baik ya sama dia"
"iya mama tahu, tapi sikap kamu ke Raven bikin dia sedih"
"sedih kenapa? Al nggak ngelakuin apa-apa ke dia"
"dan untuk apa dia sedih?" lanjutnya.
"Al, tolong kamu bersikap lebih baik ke Raven. Kamu nggak lupa kan tentang hubungan kalian?" Aleta mengerti apa maksud ucapan mamanya bahwa dirinya dan Raven akan menikah.
"ma.." panggil Aleta menatap kosong ke depan.
"iya sayang? kamu nggak lupa kan?"
"Al bisa bersikap baik ke dia tapi itu bukan berarti Al bisa nerima dia"
"karena Al.." Aleta menggantung ucapannya.
"karena apa Al?"
"karena sampai kapanpun Al nggak akan pernah nerima perjodohan itu" ucapnya menatap mamanya.
"Al.. kamu.."
"tolong ma, jangan paksa Al untuk melakukan hal yang nggak Al inginkan"
"apa kamu sama sekali nggak ada niatan buat nerima perjodohan itu?" Aleta menggeleng.
"enggak ma" Mala menunduk sedih.
"apa kamu tidak sayang dengan mama?" tanya Mala masih menunduk.
__ADS_1
"mama bicara apa? Al sayang banget sama mama"
"kalau kamu emang sayang sama mama, kenapa kamu menolak perjodohan itu? kamu tahu kan seberapa pentingnya itu buat mama?"
"ma.."
"itu adalah salah satu wasiat terakhir dari sahabat mama, dan mama hanya ingin mengabulkan wasiat itu supaya sahabat mama bisa tenang" kini air mata Mala mulai membasahi pipinya.
"apa kamu tahu seberapa berharganya om Eko di hidup mama? kita bersahabat sedari kecil hingga kita masing-masing menemukan pasangan hidup, dan ketika semuanya berbahagia atas kelahiran anak pertama mama dan om Evan berpisah"
"kita berpisah karena masalah ekonomi dan itu aja udah sakit padahal masih bisa berhubungan lewat hp. Tapi saat kita bener-bener berpisah karena Tuhan yang memisahkan kita, mama bisa apa Al"
"mama jangan nangis.." Aleta memeluk mamanya dan menenangkannya.
"mama hanya ingin kamu sama Raven bersatu supaya mama bisa merasakan keberadaannya di sini"
"udah, mama jangan nangis. Kalau mama kayak gini Al juga ikut sedih" perlahan Mala melepas pelukan putrinya.
"kamu mau ya menerima perjodohan ini?" tanya Mala menatapnya sendu. Aleta terdiam berfikir, apa yang akan ia katakan pada mamanya.
"Al, kamu mau ya?" mohon Mala pada putrinya, tentu saja Aleta melihat mamanya bersikap seperti itu merasa tidak tega. Dengan terpaksa Aleta menjawab dengan mengangguk pelan sambil menunduk.
"jadi? kamu menerimanya?" Aleta mengangguk pelan setelah itu menatap mamanya yang sedang tersenyum bahagia.
"mama sebahagia itu gw nerima perjodohan ini? jika memang dengan gw nerima perjodohan ini bikin mama bahagia, gw siap ngelakuin apapun asal mama bahagia" batinnya sambil menatap mamanya yang tersenyum padanya.
"udah, mama jangan nangis lagi, liat mama nangis bikin hati Al ikut sakit" ucapnya sambil menyeka air mata di pipi mamanya.
"maafin mama udah bikin hati kamu sakit" Aleta menggeleng.
"mama nggak perlu minta maaf karena yang salah disini Al, Al yang harus minta maaf karena udah bikin mama nangis" Mala mengangguk dan mengelus pundak Aleta.
"yaudah kalau begitu kamu lanjutkan belajar, mama ke bawah dulu"
"iya ma" saat Mala akan beranjak dari duduknya, Aleta memanggil.
"ma.." Mala kembali duduk.
"ada apa sayang?"
"em.. anu ma.." menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"gimana ya.." gumamnya lirih namun bisa di dengar Mala.
"ada apa sayang? bicara saja"
"apa mama punya nomor Raven?" tanyanya dengan pelan dan lirih tanpa menatap mamanya.
"astaga Al, hahaha.." Mala tertawa melihat tingkah putrinya.
"kok mama malah ketawa sih" Aleta merajuk.
"iya lagian kamu mau nanya gitu doang ragu-ragu" Mala menahan tawanya.
"tadi katanya minta nomornya Raven? nggak jadi?" tanya Mala meledek sambil menahan tawa.
"enggak, udah sana ah mama keluar" mungkin sekarang kedua pipi Aleta sudah memerah karena malu.
"mama nggak punya nomor Raven, kalau nomornya mama Zanna mama punya. Mau? atau mama perlu minta nomor Raven dari mama Zanna?"
"udah sana keluar ah, Al mau lanjut belajar" Alet masih berusaha mendorong tubuh mamanya agar segera keluar dari kamarnya.
"iya iya mama keluar" Mala berjalan ke luar, sampai luar Mala kembali mengintip dari pintu hanya menongolkan kepalanya saja.
"nggak jadi minta nomornya Raven?" tanya Mala senang mengerjai putrinya itu. Aleta berlari ke arah pintu dan langsung menutupnya.
"mama.. udah jangan kayak gitu" rengeknya dari balik pintu.
"iyaudah mama pergi, tapi untuk apa kamu minta nomor Raven?" Aleta terdiam, ia juga tak tahu kenapa tiba-tiba ia ingin punya nomor Raven.
"iya juga ya, ngapain gw minta nomor Raven ke mama?" tanyanya dalam hati merasa heran pada dirinya sendiri.
"nggak jadi mama, udah Al mau lanjut belajar ya" ucap Aleta pelan.
"apa kamu udah kangen baru ditinggal Raven sebentar?" ledek Mala lagi.
"enggak, ngapain juga Al kangen sama dia"
"bisa aja kan"
"udah udah, mama cukuplah ma jangan kaya gitu"
"iyaudah mama ke bawah dulu"
"oiya, nanti kalau mama udah minta nomor Raven dari mamanya, mama akan langsung kasih ke kamu"
"serah mama aja dah" jawab Aleta masa bodo dan kembali duduk di kursi belajarnya.
"dasar Aleta, pasti dia kangen sama Raven cuman dia belum sadar aja" gumam Mala sambil senyam-senyum menuruni anak tangga. Evan yang melihat istrinya senyum-senyum itupun memanggil.
"mama kenapa senyum-senyum?" tanya Evano, Mala berjalan menghampiri suaminya di ruang tengah sudah menghadap laptop dan beberapa berkas di atas meja dan di tangannya. Hari ini ia izin masuk kantor karena kerjaannya tidak terlalu banyak seperti biasanya, jadi ia memutuskan untuk bekerja dari rumah. Toh juga itu perusahaannya sendiri.
"itu lho Pa si Al" ucapnya menahan tawa.
"memangnya ada apa sama Al, ma?"
"masa tadi pas mama mau keluar dari kamarnya, tiba-tiba dia nanya sama mama"
"dia nanya apa mama punya nomor Raven apa enggak"
"terus? udah mama kasih?"
"ya belum lah Pa, orang mama aja nggak punya nomornya"
__ADS_1
"kenapa Al minta nomor Raven? ada apa?"
"yailah Pa, masa gitu aja Papa nggak tahu sih" Evan menggeleng, Mala menarik nafas pelan.
"mama rasa Al udah mulai ada rasa deh Pa sama Raven"
"benarkah?" Mala mengangguk manteb.
"lihat aja sikapnya tadi, baru ditinggal Raven pulang aja udah kangen"
"baguslah Ma kalau Al udah mulai tertarik sama Raven, jadi kita tidak perlu berusaha keras buat mendekatkan mereka" jelas Evano. Mala mengangguk menyetujui.
"ada apa sama lo Al? kenapa tiba-tiba lo kepikiran sama Raven sih, terus gw ngerasa pengin banget liat dia. Tanpa keberadaan dia di rumah ini tuh kayak ada yang hilang gitu" batinnya.
"aakhh.. gataulah mending gw mandi udah sore juga ntar lanjut belajar abis makan malam" Aleta memutuskan untuk mandi, abis mandi ia merebahkan dirinya di kasur. Tak lama kemudian ia tertidur.
"kak Al.." panggil Raven dari seberang jalan sambil melambai-lambaikan tangan kanannya, tangan yang satunya memegang dua buah eskrim. Aleta menoleh ke sumber suara.
"Raven? dia ngapain disitu?" gumamnya.
"Rav.. lo ngapain di situ? cepetan kesini" teriak Aleta.
"iya kak, bentar aku nyebrang dulu"
"iya, hati-hati banyak kendaraan lewat" Raven melangkahkan kakinya perlahan menyebrang jalanan yang banyak kendaraan lewat, tiba-tiba BRUK.. ada motor yang menabrak dirinya sampai jatuh dan kabur begitu saja.
"RAVEN!!.." teriak Aleta histeris melihat tubuh Raven tergeletak di tengah jalanan. Dengan cepat Aleta berlari menghampirinya.
"kak Al.." suara Raven terdengar sangat lirih dan lemah. Kepalanya yang berdarah sudah berada dipangkuan Aleta.
"Rav.. lo nggak apa-apa kan? plis jangan tinggalin gw" kini Aleta menangis sembari mengusap lembut pipi Raven.
"kak.." panggilnya masih dengan suara lirih.
"iya kenapa? ada yang sakit? di mana yang sakit? kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Raven menggeleng pelan.
"kak Al, es-krimnya ja-tuh" ucapnya terbata perlahan mengangkat lengannya berusaha mengarahkan jari telunjuknya ke arah eskrimnya yang terpental tak jauh dari dirinya. Aleta mengikuti arah jari Raven.
"biarin! biarin aja eskrimnya jatuh nggak penting! sekarang lo yang lebih penting, kita ke rumah sakit sekarang, ya" saat Aleta hendak mengambil ponselnya di saku, Raven menahan tangannya.
"ada apa? kenapa? gw mau telfon ambulans" Raven menggeleng pelan.
"nggak usah kak, aku nggak apa-apa"
"nggak apa-apa gimana, kepala lo berdarah Rav" Raven menggenggam erat telapak tangan Aleta dan tersenyum tipis.
"aku nggak apa-apa kak, kakak jangan nangis kalau kak Al nangis aku ikut sedih"
"aku minta maaf karena selama ini aku belum bisa bikin kak Al bahagia saat sama aku" Aleta menggeleng dengan air matanya yang terus mengalir.
"tapi kak Al harus tahu kalau aku sayang tulus sama kak Al, semoga setelah aku pergi kak Al bisa nemuin seseorang yang jauh lebih baik dan bisa bikin kak Al bahagia"
"lo ngomong apa, lo mau pergi? pergi kemana? jangan ninggalin gw, kalau lo pergi gw ikut" Raven menggeleng pelan.
"enggak kak, kakak tetep di sini. Biarin aku pergi"
"enggak, enggak boleh! kalau lo pergi gw ikut" lagi-lagi Raven menggeleng.
"kakak tetep di sini" suara Raven mulai melemah.
"ma-af kan aku kak.." perlahan Raven memejamkan matanya, tubuhnya mulai lemas dan itupun sukses bikin Aleta panik.
"Rav? Raven?!" Aleta menggoncang-goncangkan tubuh Raven, namun tak ada respon sama sekali.
"Raven!..."
"Rav? bangun! plis jangan tinggalin gw..." kini air matanya tak bisa ia bendung lagi.
"RAVENN!!..." Aleta terbangun dari tidurnya dan langsung duduk dengan keringat yang sudah membasahi seluruh wajah dan badannya.
"astaghfirullahaladzim.. mimpi apaan gw tadi" ucapnya dengan nafas ngos-ngos an.
"Al? ada apa Al? kenapa kamu teriak?" tanya Mala sedikit panik memasuki kamarnya mendengar teriakan putrinya sampai bawah.
"hah? mama?" tanyanya seperti linglung, Mala sudah duduk di tepi ranjangnya.
"kamu kenapa? mimpi buruk ya?" Aleta mengangguk dengan ragu.
"astaga Al, mangkanya kalau mau tidur itu baca do'a dulu biar dijauhkan dari mimpi buruk" ucapnya khawatir mengusap keringat putrinya menggunakan tissue.
"kamu mimpi apa sampai keringetan kayak gini hm?" Aleta terdiam, ia juga tidak tahu kenapa dia bisa mimpi seperti itu.
"yaudah sana kamu mandi, baju kamu basah kena keringat"
"tadi Al udah mandi Ma"
"yaudah kamu ganti baju saja, mama udah siapin makan malam. Habis ganti langsung turun ya, mama tunggu di bawah sama Papa" Aleta mengangguk dengan tatapan kosong. Mala beranjak dan keluar dari kamar putrinya.
"kenapa gw bisa mimpi seperti itu?" batinnya, lalu beranjak dan mengganti pakaiannya yang sudah basah karena keringat. Selesai berganti ia langsung turun menemui Mama dan Papanya di meja makan.
Alloww aku kembali hehe
Kebiasaan banget yah aku up nya lama ๐
Maaf ya gais, soalnya kadang kalau mau nulis itu tergantung mood aja, tapi aku tetep usahain buat up kok hm..
Tinggalkan jejak kalian gaiss
Mohon maaf kalau ada typo
Terimakasih
Happy reading
__ADS_1