
Setelah membahas hal yang sudah lama tak ada kepastian itu, Evano kembali ke kantor. Mala sedang berbincang dengan Zanna lewat vidio call, menyampaikan kabar bahagia ini kepada sahabatnya itu. Sedangkan Aleta dan Raven kembali ke lantai atas.
"Ada apa, Kak?" tanyanya saat Aleta menahan lengannya.
"Gue menerima perjodohan demi Mama dan Papa" ucapnya lirih, dan entah kenapa hidungnya sedikit gatal tapi ia berusaha menahan untuk tidak menggaruk.
Dan anehnya, saat tadi ia mengungkapkan bahwa ia bersedia menikah dengan Raven, hidungnya sama sekali tak gatal. Apakah ia benar-benar menerima perjodohan itu dari lubuk hatinya? Apa ia sudah mulai mencintai cowok lugu itu?
"Aku mengerti, Kak Aleta tidak perlu memberitahuku. Kakak juga pastinya terpaksa menerima perjodohan itu" ucap Raven lirih, menatap lengannya yang digenggam oleh Aleta.
"Dan soal kejadian semalam.." Aleta menggantung ucapannya.
Raven mengangkat wajahnya menatap Aleta, kemudian mengatakan, "Itu juga, mari kita lupakan saja. Anggap semua itu tak pernah terjadi, jika mengingat itu membuat kakak merasa tak nyaman. Aku akan menerimanya." lirihnya dengan wajah sedih, dan Aleta tahu itu.
"Lo jangan kegitu, Raven! Jangan terlalu baik sama orang! Kalau lo terus kegitu, kapan lo menang?!" pekiknya sedikit geram setelah melepas genggamannya dari lengan Raven.
"Menang? Aku tidak ikut pertandingan atau sesuatu untuk dimenangkan." tanyanya dengan kepolosannya.
"Nggak usah sok polos dan nggak tahu apa-apa! Gue tahu dan dengar semalam lo bentak-bentak Riki bahkan sampai menghajar dia! Dari situ gue mulai yakin kalau lo itu bisa lebih berani dan mengerti setiap hal. Bukannya sok polos saat di depan gue!" ucap Aleta sambil berusaha menahan amarahnya.
"Satu lagi, harusnya lo itu bisa lebih tegas saat ditindas! Bukan malah dengan mudahnya lo maafin orang itu!" sambungnya dengan memelankan suaranya.
"Aku bisa melakukan itu semua. Tapi aku tidak ingin membuat orang lain tersakiti karena sikap dan perkataan aku. Karena aku sendiri kalau dibentak, dimarahi, dan ditindas merasa sakit. Dan aku nggak mau orang lain merasakan itu." lirihnya dan itu sukses membuat Aleta merasa bersalah telah mengatakan kalimatnya.
"Raven.."
"Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Biarkan orang lain melakukan seenaknya padaku. Karena aku yakin, setiap orang bisa menyakiti tapi nggak semuanya kuat ketika mendapatkan itu semua." lanjutnya sambil menatap kedua mata Aleta dalam.
Aleta membatin seraya menahan untuk tidak menangis. "Lo emang orang yang baik, bahkan sangat baik. Pantas saja Mama dan Papa keukeuh milih lo buat jadi pendamping hidup gue."
"Sayangnya lo lebih muda dari gue" ucap Aleta yang nyaris bergumam.
"Tidak masalah untukku. Karena umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Kak Aleta pernah bilang gitu sama aku, kan?" kata Raven.
"Bahkan lo mengingat setiap hal yang gue ucapkan." batinnya sambil menggigit bibir bawahnya supaya air matanya tak keluar.
"Kalau kakak emang belum siap juga tidak apa-apa. Aku akan memberikan waktu lagi. Dan kalau memang tetap tidak bisa, maka sudah waktunya aku berhenti. Aku tak ingin menunggu lagi. Aku harap Kak Al mengerti maksudku" ucapnya sebelum berlalu pergi masuk ke kamar. Meninggalkan Aleta di depan kamarnya.
"Ra...ven.." panggilnya tanpa suara sesaat sebelum Raven menutup pintu kamar itu.
"Sial!" dengusnya kemudian masuk ke kamarnya.
SKIP
Seperti biasa, yang dilakukan siswa/i sekolah saat jamkos pastinya kalian semua sudah pada tahu. Jika kemarin Fany tidak masuk membuat Aleta seolah menjadi kacang yang kehilangan kulitnya, kali ini Aleta tidak masuk dan beralih Fany menjadi kacang kehilangan kulit.
Yaaa.. Pastinya sangat membosankan tak bersama Bestie saat jamkos atau berdua di kelas. Meski ada teman sekelas, tapi mereka semua tetap tak se-seru seorang Bestie.
Seperti halnya saat ini, seharian penuh jamkos karena sebulan lagi adalah hari kelulusan.
Fany merasa lemas, lesu, lunglai, love you.. Eh? Pokoknya kaya nggak ada tenaga deh, karena sohibnya nggak masuk dan nggak ada kabar. Sudah ditelfon, di-chat, di-sms, dan di-dm tapi belum juga mendapat jawaban.
__ADS_1
Kini ia tengah melamun di bawah kipas angin. Sedangkan teman sekelasnya sudah menghilang entah kemana. Mungkin ada yang bolos, ke kantin, ke kelas lain, atau pacaran sama adkel? Pokoknya ada aja deh kelakuan mereka. Tapi hari ini para siswa cowok tidak bikin konser dadakan di kelas 12 IPA 1. Kemungkinan mereka membuat konsernya di kelas lain?
Fany duduk bersandar di bangkunya, sambil merasakan sentuhan angin sepoi-sepoi yang berasal dari kipas angin di atasnya, karena suasana siang ini begitu terik dan panas. Ditambah ia memejamkan mata, semakin membuat sejuk di sekujur tubuhnya.
"Nih si Aleta kenapa pake izin segala, kan gue jadi sendirian. Mana jamkos lagi sehari penuh. Bosan!" gerutunya setelah membuka roomchatnya yang tak kunjung dibalas oleh Aleta.
"Kak Fany.." panggil seseorang dari jendela kelasnya.
Kepalanya menoleh ke sumber suara dan menajamkan penglihatannya pada seseorang. "Arga? Ngapain tu anak ke sini?"
"Kak Fany.." panggil orang itu lagi dengan suara lebih keras.
"Ck!" decaknya kemudian berjalan menghampiri orang itu.
"Ada apa?" tanyanya ketus sesampainya di depan pintu.
"Kak Aleta masuk nggak?" tanya Arga sambil mengintip ke seluruh ruangan kelas di belakang Fany.
"Nggak." jawabnya datar.
"Berarti bener! Soalnya Raven hari ini juga nggak masuk." Arga menjentikkan jarinya tanda tebakannya benar.
"Raven nggak masuk? Kok bisa barengan gitu izinnya?" tanyanya sambil mengernyit.
Arga menghendik acuh. "Jangan-jangan mereka berdua izin karena mau nikah?" tebaknya santai.
"Ssttt!.. Jaga mulut lo! Nggak tahu tempat banget lagi bahas apaan." sembur Fany.
"Gue udah coba chat tapi belum di bales" kata Fany.
"Nah! Sama. Si Raven juga nggak dibales. Awas aja kalau mau nikah nggak undang gue" cerocos Arga ngawur (menurut Fany).
"Undang gue juga!" sahut Fany sedikit sewot.
"Iya-iyaa.."
"Tapi nggak mungkin lah kalau mereka nikah secepat itu. Mungkin mereka emang ada urusan" ucap Fany menebak-nebak.
"Yaa emang kenapa kalau lebih cepat? Malah bagus dong! Bentar lagi bakal jadi uncle nih gue" ucap Arga kegirangan.
"Belum nikah udah uncle-uncle-an! Sabar napa, Raven masih kelas 10 dan mau naik ke kelas 11. Yakali dah mau jadi Pahmud?" sewot cewek itu.
"Dan Kak Aleta jadi Mahmud?" ujar Arga sambil menahan tawanya.
"Kok lucu ya kalau dibayangin. Mau lihat ntar gimana kalau Aleta yang manja itu punya anak" Fany terkikik geli saat berusaha membayangkannya.
"Kalau Raven sih gue percaya dia bakalan bisa. Secarakan dia punya adik dan dia sayang banget sama adiknya" ucap Arga yakin.
"Eh-eh? Kok jadi bahas mereka punya anak sih, nikah aja belum!"
"Ini tuh persiapan namanya." ucap Arga.
__ADS_1
"Persiapan apaan?" tanya Fany polos. Arga menunjukkan senyum miringnya sambil menggeleng.
"Btw gue gabud banget nih, jamkos seharian penuh. Tahu gini gue juga izin dan bisa kerja dari pagi" cerocos Fany yang sepertinya ia keceplosan.
Arga mengernyit tak mengerti, "Kerja? Kak Fany kerja apa?"
"Oh? Itu... Bukan apa-apa. Maksud gue, bantu nenek gue jualan" jawabnya sedikit terbata.
"Nenek lo jualan apa?" tanya Arga kepo.
"Ru-rujak" Fany menjawab sedikit ragu.
"Rujak? Pasti enak banget tuh rasanya. Bisa dong lo buatin spesial buat gue, ya?" kalau soal makanan sih Arga pasti berdiri paling depan.
"Kalau mau, harus beli!" kekeh Fany.
"Iya-iya gue bakalan bayar kok. Nggak bakalan ngutang"
Fany mengangkat kedua jempolnya ke depan wajah Arga. "Nah gitu dong!"
"Sekalian bawain juga buat sohib gue. Ntar kan yang bayar si Raven." lah ternyata cuman akal-akalan Arga doang😐
"Temen gada akhlak! Bisanya manfaatin temen doang!" ucap Fany tak habis fikir.
"Kalau nggak dimanfaatin, terus gunanya temen apa? Dateng pas butuh doang? Heleh dah biasa!" jawabnya merasa sok benar.
"Nggak boleh gitu, Ga." tegur Fany dan diangguki oleh cowok itu. "Iya deh"
"Tapi bener ya, besok bawain gue rujak?" Arga bertanya memastikan.
"Kalau nggak lupa" ucap Fany acuh.
"Besok gue jemput biar gue ingetin"
Fany menggeleng cepat tanda menolak. "Nggak usah! Gue nggak lupa"
"Nah, gitu dong!"
.
.
.
Jadi, gimana? Besok dah married lohh🙊 (spoiller)
Kalau nikahan mereka nggak sesuai sama ekspektasi kalian, mohon untuk tidak membenci novel ini, please...
Jangan lupa Like!
.
__ADS_1