A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
88. Can You Love Me?


__ADS_3

Langsung dibaca aja guyss..


Double up Bestiee!!


**Kalau kalian semangat baca, like, dan komen. Insya Allah aku juga bakalan semangat nulisnya.😍


Selamat membaca**..


-


"Biarkan aku pulang.." pintanya dengan suara yang terdengar sangat lemah.


"Sepertinya Aleta akan datang ke sini" ucap Riki santai.


"Kak Aleta? Jangan! Jangan kasih tahu dia kalau aku di sini" ucap Raven sambil menggeleng.


Sungguh, penampilannya saat ini terlihat sangat mengenaskan. Rambutnya acak-acakan, kaos beserta jaketnya basah akibat tumpahan minuman yang dipaksa untuk ia minum. Wajahnya terlihat sangat lesu dan kedua pipinya memerah.


Bisa dipastikan kalau Raven tidak kuat, Raven akan sakit keesokan harinya. Semoga dia kuat.


"Kenapa?" Riki bertanya seolah penasaran.


"Karena.. Nanti dia melihatku seperti ini.." gumamnya sambil berusaha menyeimbangkan posisi duduknya.


"Malah bagus dong! Sekalian biar dia langsung cerai-in lo dan dia jadi milik gue!" ucap Riki dengan percaya diri.


"Kok kalian jahat sih?"


"Masih bisa ngejawab berarti masih kurang banyak. Bawakan dua botol lagi!" titahnya kepada Qhia.


"Tapi lo harus bayar lebih" pinta wanita itu.


"Tenang aja soal itu mah" ujarnya acuh kemudian wanita itu mengambil dua botol lagi untuk diberikan kepada Raven.


SKIP


"Pak Safar!" panggilnya kepada lelaki yang tengah duduk di teras.


Sontak lelaki itu berdiri dan menghampiri Aleta. "Iya, non Aleta?"


"Gue mau keluar" ucapnya.


"Ke mana, non?" tanya lelaki itu dengan wajah bingung.


"Jangan bilang sama siapapun kalau gue keluar"


"T-tapi kalau nanti mereka khawatir bagaimana?" tanyanya semakin bingung.


"Sudah biarkan saja. Ini lebih penting, gue harus selamatkan Raven" jelasnya.


Safar mengernyit semakin bingung, "Ada apa sama Raven?"


"Nanti gue jelasin. Pak Safar carikan saja taksi buat gue" titahnya.


"Biar saya antarkan"


"Tidak! Nanti mereka dengar kalau ada suara mobil" Aleta membantah.


"Saya tidak mau non Aleta pergi sendiri" tolak lelaki itu.


"Pak Safar mau terjadi sesuatu sama Raven?"


"Ti-tidak. Tapi non Aleta hati-hati, ya?" terpaksa supir itu membiarkan majikannya pergi.


"Iya" jawabnya, lalu Safar segera mencarikan Aleta taksi.


"Terus, nanti saya jawab apa kalau ibu sama bapak bertanya?" tanyanya begitu satu mobil taksi berhenti di depannya.


"Itu terserah Pak Safar aja. Yaudah, gue pergi dulu, bye!" setelah mengatakan itu, Aleta masuk ke mobil taksi.


"Hati-hati, non!"


Mobil taksi melesat pergi.


.


3 botol sudah diminum oleh Raven. Ia semakin tak berdaya, dan itu membuat Riki semakin puas dengan aksinya. Saat Qhia ingin memberikan botol ke-4, ternyata tangannya ditepis oleh Raven, membuat botol tersebut terlempar dan pecah.


PRAKK!


Setelah itu, sepertinya Raven mulai kehilangan kesadarannya. Raven pingsan.


"My Wine?!.. Dasar bocil sialan!" terlihat Qhia meratapi nasib botol minumannya yang pecah di lantai.


"Sudah! Lebih baik kalian lempar saja dia keluar. Toh juga dia udah pingsan." titah Riki.


"Gitu doang?" tanya Qhia cengo.


Riki mengangguk acuh, "Iya"


"Bangs*t lo! Setelah dia bikin minuman gue pecah?!" murka Qhia sembari menunjuk wajah Riki.


"Tenang aja, Qhi. Bakalan gue ganti semuanya. Atau nggak lo bisa ambil uang anak itu" tukasnya.


"Parran! Lo ambil dompetnya!" titah Qhia kepada pria bertubuh kekar yang berdiri di belakang Raven.


Parran merupakan anak buah Qhia, sekaligus bagian dari pendosa itu. Tetapi, Parran lebih pendiam dan tak banyak bicara.


"Baik" jawabnya, kemudian pria bernama Parran itu mulai merogoh satu-persatu saku yang ada dipakai Raven.


"Dia tidak bawa dompet. Dan dia tidak punya barang berharga, bahkan ponsel saja dia tak bawa" ucap pria itu setelah merogoh saku tak menemukan apapun di sana.


"Cih! Ternyata miskin" decak Riki.


"Yaudah, ntar gue yang ganti semuanya." lanjutnya.


"Gue tunggu!" ucap Qhia dengan nada mengancam.


"Yaudah sana buang dia ke jalanan!" titah Riki saat Parran menggendong tubuh Raven keluar.


SKIP


"Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa sama Raven. Dan Raven juga, ngapain sih dia pake mau segala nerima ajakan Riki." gerutunya saat hampir sampai di cafe yang ditunjukkan Riki.


Kedua matanya tak lepas dari jalanan depannya, dan pandangannya terpaku kepada sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan.


"Raven?" gumamnya sambil menajamkan penglihatannya.


"Berhenti, Pak! Saya turun di sini" ucap Aleta kepada supir taksi. Mobil taksi berhasil berhenti.


Setelah itu Aleta turun dan berlari mendekati Raven yang sudah tergeletak tak berdaya di trotoar.


"Rav? Lo kenapa?" tanyanya sambil menepuk pelan wajah cowok itu.


"Raven! Bangunlah! Apa yang terjadi?" gumamnya yang kini tubuhnya sudah bergetar karena khawatir. Bahkan air mata sudah lolos mengguyur kedua pipinya.


Perlahan mata itu terbuka dan menatap Aleta sendu. Raven berhasil duduk dibantu Aleta. "Ka..kak?" panggilnya dengan suara lemah.


"Kok lo bau... Lo minum?" tanya Aleta membelalakkan mata. Tak percaya dengan yang baru saja terlintas di fikirannya soal bau itu.


Raven mengangguk lemah. Membuat Aleta mematung seketika.


"Ayo pulang.." rengeknya sambil meremas jemari Aleta.


"Apa Riki yang bikin lo kaya gini?" tanya Aleta memastikan seraya menangkup wajah sendu itu.


"Riki? Orang jahat itu? Aku tidak suka.." ucap Raven seperti anak kecil.


"Riki benar-benar sudah kelewatan! Nggak cukup apa kemarin dia kasih gue minuman yang dikasih obat perangsang? Dan sekarang dia malah bikin anak ini minum?" batin Aleta murka.

__ADS_1


"Ayo pulang..." rengeknya lagi sambil menarik-narik tangan Aleta.


Aleta mengagguk, "Iya-iya, ayo kita cari penginapan saja."


"Ayo pulang.." cowok itu kembali merengek dan hampir menangis.


"Bentar gue cari taksi. Jangan nangis ih, kaya anak kecil." ucapnya sambil terkekeh pelan.


Setelah mendapat taksi, Aleta memapah tubuh cowok itu masuk ke mobil. Dan mobil melesat ke penginapan terdekat. Tepatnya sebuah penginapan tempat mereka menginap sebulan yang lalu.


.


"Lo istirahat dulu di sini. Gue mau telfon Mama, kalau mereka tiba-tiba nyariin.." ucapnya setelah membaringkan tubuh Raven di kasur dan sudah menyelimuti tubuh itu hingga dada.


Tetapi, saat ia akan beranjak pergi, Raven menahan lengannya. "Jangan pergi.." pinta Raven dengan mata terpejam.


"Gue cuman bentar.."


"Nggak mau.. Jangan ditinggalin..hiks..hiks.." rengeknya lagi, kini Aleta melihat aliran air dari sudut mata Raven.


"Lo nangis?" tanya Aleta memastikan, kemudian menyeka air mata itu.


Membuat tangisan cowok itu semakin keras, dan itu membuat Aleta semakin panik. "Hiks..hiks.. Takut..hiks.."


"Nggak apa-apa, gue di sini. Gue temenin, udah jangan nangis. Lo tidur.." digenggamnya jemari itu kuat seraya menyugar rambut yang menutupi dahi yang sudah basah akibat keringat.


Dirasa Raven lebih tenang dan sudah berhenti menangis, sepertinya Raven sudah tertidur. Barulah Aleta mengeluarkan unek-uneknya.


"Maunya apa sih tu orang, udah bikin gue sama Raven jadi kegini itu maksudnya apa??.. Heran!


Dan lo juga, ngapain sok-sok an ketemu sama Riki? Jadi kegini kan lo sekarang." omelnya kepada cowok itu.


"Sekarang lo suami gue! Suami? Kalau dibayangin kayak masih nggak nyangka banget gue bakalan nikah sama cowok yang lebih muda dari gue. Lo juga orang yang baik, tapi sayangnya gue masih belum bisa sepenuhnya kasih hati gue ke lo. Meski sekarang kita udah resmi jadi suami-istri" batinnya masih tak percaya dengan status barunya sekarang.


"Jhh.. Suami.. Istri.. Kek gimana gitu di denger, masih belum terbiasa gue dengan status baru ini. Semoga yang kali ini gue nggak salah pilih. Karena ini pilihan Mama sama Papa." gumamnya seraya mengelus punggung tangan Raven.


"Dan lo, kalau sampai gue ngelihat atau tahu lo selingkuhin gue, awas aja!" ancamnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Raven.


"Lo lucu kalau lagi manja gini. Apa gue udah mulai suka sama lo, Raven? Kalau iya, semoga perasaan gue ini benar-benar nyata." Aleta kembali bergumam.


Raven membuka mata dan mengerjap beberapa kali menatap Aleta. Aleta semakin dibuat gemas dengan cowok itu, pasalnya wajah lesu dan kedua pipi yang merah akibat minum terlalu banyak itu semakin menambah lucu dan imut di wajah Raven.


Raven tak henti-hentinya menatap Aleta dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dibukalah mulut itu untuk mengatakan sesuatu,


"I Love You, Kak Aleta"


Awalnya Aleta terkejut, namun ia segera mengangguk. "Iya.."


"I Love You.." ucap Raven lagi dengan suara lemah.


Aleta mengangguk cepat, namun kecil. "I-iya, gue tahu"


Raven berusaha bangkit.


"Mau kemana? Lo istirahat dulu.."


Raven memaksa dan ia berhasil duduk dibantu Aleta. Tangannya terangkat dan jemarinya mendarat di pipi kanan Aleta.


"Mau apa? Makan atau minum? Nanti gue beliin di-.. Eh?" Aleta terkejut saat Raven mendekati wajahnya, digenggamnya jemari Aleta kuat supaya Aleta tak menjauhinya.


"K-kak.."


Aleta diam mematung saat wajah mereka semakin dekat. Raven terus mendekatkan wajah mereka membuat Aleta memejamkan mata.


Aleta berfikir bahwa kejadian malam itu akan terulang lagi, jika kemarin mereka melakukan itu masih belum resmi menjadi suami-istri. Tetapi, saat ini mereka sudah resmi menjadi suami-istri.


Sungguh, Aleta tak bisa membayangkan semuanya akan terjadi padanya. Bahwa sebentar lagi ia akan kembali merasakan kekenyalan dari bibir itu. Biarlah malam ini menjadi malam pertama mereka.


Seharusnya mereka bermalam di hotel mewah, namun saat ini mereka malah menginap di sebuah penginapan yang bisa dibilang kecil.


"Can you love me?"


"Rav.."


Dan cowok itu kembali memejamkan mata. Tubuhnya ambruk ke pelukan Aleta, membuat Aleta harus menopang setengah berat badan cowok itu.


Air mata Aleta lolos membasahi kedua pipinya. Tanpa sadar.


"I'm sorry.. Hiks.." dipeluknya erat tubuh itu sambil terisak.


"Maafin gue, Raven." sambungnya sambil berbisik.


"Mulai sekarang, gue akan jadi sosok istri yang baik buat lo. Gue akan berusaha." ucapnya kepada Raven dan untuk dirinya sendiri.


"Dingin.." Raven kembali merengek seraya membalas pelukan Aleta.


"Dingin? Yaudah baring lagi dan pake selimutnya biar anget"


"Heem.." Raven mengangguk, dan perlahan Aleta menjatuhkan tubuh Raven ke kasur.


"Istirahat ya, suami kecilku" ucapnya sambil menyelimuti tubuh Raven.


Cup


Sebuah kecupan berhasil mendarat di pipi kiri Raven. Lumayan lama. Raven menarik tubuh Aleta hingga terjatuh di sampingnya.


GRAP!


Eh? -Aleta terkejut untuk kesekian kalinya.


Mata itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesekali mengerjab dan kembali menatapnya.


"Tidur aja untuk malam ini. Mau peluk?" Aleta bertanya dan diangguki lemah olehnya.


"Hmm!"


"Sini.." Aleta merentangkan sebelah tangannya yang bebas, Raven memajukan tubuhnya dan menelusup masuk ke tubuh Aleta.


"Jangan ngedusel, geli.." Aleta mengerang saat wajah cowok itu masuk ke dadanya.


"Dingin.." rengekan dari dalam sana.


"Pake selimutnya nih!" ditariknya selimut itu hingga menutupi tubuh mereka berdua.


Dielusnya rambut itu dengan sayang.


"Istirahat ya.. Biar besok kembali fit. Biar orang rumah nggak mikir aneh-aneh soal kita" ucapnya sambil terus mengelus rambut itu.


Merasa tak mendapat pergerakan lagi, Aleta mengintip dengan sedikit memundurkan tubuhnya supaya dapat melihat wajah Raven.


"Rav? Udah tidur? Gue ikut tidur aja deh"


"Good Night. Mimpi indah, suamiku" dan Aleta kembali mengeratkan dekapannya.


Mereka terlelap dan saling menyelam dalam mimpi masing-masing.


.


Keesokan paginya.


"Vania mau sampelin kakak ke kamal, ah.." anak kecil itu berlari kecil menuju tangga dan menaiki anak tangga itu dengan hati-hati.


Kemudian masuk ke kamar Aleta yang tak ditutup itu.


"Kakak!! Ayo bangun... Eh? Kakak di mana? Kok ngggak ada?" sesampainya di dalam, anak kecil itu tak mendapati keberadaan siapapun.


"Mamaa..." kemudian ia berteriak memanggil sang ibu.

__ADS_1


Mala yang mendengar lengkingan suara Vania itupun mencari keberadaan sumber suara dan mendapati Vania yang sedang menuruni anak tangga. Sedangkan Zanna masih tertidur, ternyata Vania kebangun karena tiba-tiba ingin menemui sang kakak.


"Ya ampun Vania.. Kamu ngapain di sana?" tanyanya setelah berjalan menghampiri Vania.


"Vania mau bangunin kakak, tapi nggak ada di kamalnya" adu anak kecil itu.


Mala mengernyit. "Kakak nggak ada? Ke mana?"


Anak kecil itu menghendik sambil menggeleng kecil. "Vania nggak tahu"


"Yaudah, mama antar kamu ke bawah. Biar mama yang bangunin kakak" ucap Mala memberi pengertian.


"Siap, mama!" jawab anak kecil itu kemudian berlari ke kamarnya.


.


Sesampainya di bawah, Mala sudah mengecek kamar Aleta, namun tak menunjukkan keberadaan Raven dan Aleta di sana. Kemudian ia memutuskan untuk bertanya kepada si supir.


"Safar..." panggil Mala tepat di depan pintu utama.


"Iya, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sesampainya di hadapan majikannya.


"Begini Safar, Aleta dan Raven tidak ada di kamarnya. Apa kamu melihat mereka?" tanya Mala to the point.


Safar tersentak, "E... Eum.. Anu.. Itu Bu, mereka anu..."


"Yang jelas Safar, ngomongnya!" sembur Mala.


"Itu, Bu. Mereka.."


"Apa telah terjadi sesuatu? Aleta kabur dan Raven pergi mengejarnya? Atau malah sebaliknya?" tebak Mala memastikan.


Safar menggeleng cepat, "Bukan seperti itu, Bu. Tapi.."


"Katakan kepada saya, jangan turutin perintah Aleta kalau dia menyuruh kamu untuk berbohong. Ayo katakan!" pinta Mala yang seperti sudah tahu bahwa supir itu disuruh putrinya untuk berbohong.


"Mereka.. Pergi keluar untuk..." Safar menggantung ucapannya.


"Untuk?" Mala mengulangi untuk mendengar perkataan Safar selanjutnya.


Terlihat Safar berfikir keras untuk mencari jawaban yang pas menurutnya, karena ia juga tak tahu majikannya pergi kemana. "Untuk.. Honeymoon!.." jawabnya dengan cepat.


Mendengar jawaban si supir, Mala mengernyit tak mengerti.


"Apa? Masa sih? Kenapa nggak bilang sama orangtuanya kalau memang menginginkan honeymoon di luar, kan kami bisa mempersiapkan semuanya untuk mereka"


"S-saya kurang tahu, Bu." jawab supir itu.


"Apa mereka membawa koper mereka?" tanya Mala lagi.


Safar menggeleng. "T-tidak"


"Loh? Jadi mereka honeymoon tidak membawa apapun? Yang benar saja, kamu tidak berbohong kan, Safar?" ucap Mala sedikit heran.


Akhirnya Safar memutuskan mengatakan yang sebenarnya kepada majikannya. "Sebenarnya, semalam non Aleta pergi mencari Raven.."


"Jadi Raven yang kabur? Kenapa dia kabur?" tanya Mala menggebu.


"Bukan kabur, saya kurang tahu soal itu. Karena saya tidak melihat kepergian Raven, dan tahu-tahu motornya udah tidak ada dan non Aleta pergi mencarinya" jelasnya.


"Lalu kenapa kamu tidak pergi bersamanya?" tanya Mala.


"Untuk itu, non Aleta melarang saya" Safar menjawab sambil menunduk, tak berani menatap Mala.


"Astaga Safar! Seharusnya kamu itu memaksa ikut karena sudah kewajiban kamu untuk selalu mengantar kemanapun Aleta pergi. Yasudah, semuanya sudah terjadi. Maafkan saya sudah memarahi kamu. Saya akan mencoba menelfon Aleta lagi" ucap Mala.


Safar mengangguk. "Baik, Bu."


"Tolong segera beritahu saya kalau kereka sudah pulang" pinta Mala dan diangguki oleh Safar. "Siap, Bu!"


SKIP


Aleta bangun lebih dulu dan Raven masih berada di dalam pelukanya. Sepertinya posisi semalam tidak berubah. Raven masih membenamkan wajahnya di dadanya sambil memeluk sangat erat pinggang itu.


"Rav.. Bangun.."


Aleta mencoba menjauhkan tubuhnya namun Raven mengikuti Aleta dan kembali mendusel ke dadanya.


"Bangun, udah pagi" ucapnya lagi sambil berusaha menjauhkan tubuhnya.


Tangan itu malah semakin erat memeluknya. "Jangan pergi.. Hiks.."


"Raven? Lo nangis?" tanya Aleta saat mendengar isakan, Raven menggeleng lemah.


"Kenapa nangis? Coba lihat sini" pinta Aleta.


Raven mengangkat wajahnya dan langsung bertemu dengan wajah Aleta yang menunjukkan raut khawatir plus raut wajah bangun tidurnya.


Sedangkan Aleta langsung melihat wajah cowok itu. Kedua matanya merah, hidung beserta pipi cowok itu merah. Serta keringat yang telah membanjiri hampir seluruh rambutnya.


"Apa dia masih mabuk?" tanya Aleta dalam hati.


Mata cowok itu mengerjab, tangannya terangkat untuk mengucek kedua matanya. Seperti anak kecil yang baru bangun tidur, lucu. Menurut Aleta.


"Jangan dikucek terus nanti sakit" ucap Aleta nyaris berbisik, sontak tangan itu berhenti mengucek.


"Maaf.." lirih Raven sambil memalingkan pandangannya ke bawah.


"Gimana keadaan lo? Apa udah lebih enakan?" Aleta bertanya.


"Pusing.." jawabnya dengan lirih.


"Yaudah lo istirahat, kalau udah pulih kita pulang" kata Aleta dan diangguki olehnya. "Heem"


Raven kembali menutup mata. Entah ia tertidur atau hanya menutup mata.


Ditatapnya lekat wajah itu, kemudian ia bermonolog dalam hatinya.


"Raven.. Gue tahu lo anak yang baik, sayangnya kebaikan lo sering dimanfaatin orang. Dan salah satu orang itu, gue. Gue akui, kalau lo orang paling baik dan tulus yang pernah gue temuin dalam hidup gue.


Gue harap lo nggak akan bikin gue kecewa. Gue harap lo nggak akan ngerusak kepercayaan gue. Please, tetap sama gue dan jangan tinggalin gue. Meski ada yang mau pisahin kita, mari kita lawan sama-sama buat pertahanin pernikahan kita."


"I Love You Too." untuk saat ini Aleta hanya bisa membalas ungkapan cinta Raven dari dalam hati.


Cup


Diciumnya pipi itu lama sambil memejamkan mata. Raven membuka mata karena merasa ada yang hangat menempel di pipinya. Ia terkejut sesaat lalu mengukir senyumnya dan kembali menutup mata.


.


.


.


Ciyeeehhhh suit-suitt ekhemm!


Yang baper coba angkat tangannyaaaa


Aku tuh bingung mau lanjutin gimana, yaa semoga kalian suka sama karya aku😇


Enaknya si Riki di apain?


Kalian lebih kesel sama Bella atau Riki?


Kalau Qhia gimana? Apa ada gambaran soal wanita itu?


Jangan lupa Like dan Koment!


.

__ADS_1


__ADS_2