A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
101. Drama di Pagi Hari


__ADS_3

Full episode about kerandoman bu Urmi


-Akan ada benih-benih kebucinan juga.


-Manja-manja


-Ke-prik-an pembantu orgil


Happy reading!


.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum, Queen!" teriak seseorang dari arah pintu utama. Cepat-cepat Urmi membukakan pintu.


Ceklek


"Waalaikumsallam, hallo nona cantik. Pasti temannya nona Aleta ya?" tanya bu Urmi.


"I-iya. Maaf, ibu siapa ya?" tanya Fany heran menatap wanita di hadapannya ini.


"Perkenalkan, saya Urmi, pembantu di rumah ini. Silahkan masuk" ucap Urmi mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


Fany mengernyit bingung, kemudian menerima uluran tangan dari Urmi. "Saya Fany, temannya Aleta" ucapnya kemudian melepas jabatan tangannya.


"Eum, bu Urmi ya tadi namanya? Bu Urmi, bisa tolong panggilkan Aleta?" ucap Fany.


"Mohon maaf sebelumnya, bukannya saya tidak mau memanggilkan tapi, tugas saya di dapur masih belum selesai. Jadi, nona bisa langsung ke kamar nona dan tuan" jawab pembantu itu mempersilahkan masuk tamu majikannya.


"Oh iya-iya. Baiklah kalau begitu, saya permisi" ucap Fany.


"Nemu di mana sih Aleta pembantu bentukkannya begitu?" gumam Fany seraya berjalan masuk mencari letak kamar sahabatnya.


.


Aleta tak menyadari bahwa semalam Raven tidur dengannya, karena Raven bangun lebih dulu supaya Aleta tak menyadari bahwa semalam mereka tidur bersama.


Kini, Raven sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sedang memakai sabuk. Sedangkan Aleta, ia baru keluar dari kamar mandi, kemudian menghampri sang suami yang hendak meraih dasi.


"Gue bantu pakein" ucap Aleta setelah meraih dasi yang hendak diambil Raven.


"Kok lo nggak bangunin gue sih tadi pagi? Mentang-mentang ada pembantu, jadi lo nggak bangunin gue" gerutunya setelah berdiri di depan cowok tinggi yang sekarang menjadi suaminya.


"Kakak tidurnya pules banget, aku nggak tega buat banguninnya" kekeh Raven.


"Gue kalau tidur kan emang pules" gumam Aleta sambil tertawa kecil.


"Lo tinggi banget sih! Duduk sini, gue nggak nyampe nih pakein dasinya" cowok itu lantas menarik kursi di sampingnya untuk ia duduki supaya sejajar dengan Aleta.


"Lo makan apa sih bisa setinggi ini?" tanyanya sambil mengalungkan dasi di leher suaminya.


"Masih makan nasi kok" jawabnya sambil mendongak menatap Aleta.


"Lo fikir gue juga nggak makan nasi? Tapi, tinggi gue cuman segini-gini aja." bibirnya mencebik saat mengatakan keluhannya.


"Harus bersyukur diberi tubuh pendek ataupun tinggi, gemuk atau kurus. Yang penting sehat" ucap Raven menatap dalam mata lentik di hadapannya.


"Dewasa banget pemikiran lo, gue jadi ngerasa dinasehatin sama orang tua" ucap Aleta seraya menyelipkan ujung dasi ke lipatan yang ia bentuk di leher suaminya.


"Aku suami kakak, kan? Dan tugas suami itu mengajarkan yang baik untuk istrinya" ujar Raven.


"Suami-istri nih sekarang?" kekeh Aleta.


"Semalam aku tidur di samping kakak" ucap cowok itu membuat Aleta langsung menatapnya dengan raut terkejut.


"Hah? Serius?"


"Iya, kan kakak sendiri yang suruh" ucapnya jujur.


"Jadi lo denger? Tapi, lo diem aja? Dasar!" tangannya memukul pelan dada bidang cowok itu.


"Maaf, hehee.."


"Udah selesai nih, turun yuk?" ucapnya setelah selesai memakaikan dasi.


"Ada bu Urmi, takut.." rengeknya sambil memeluk pinggang Aleta, menempelkan sisi wajahnya di perut ramping itu.


"Eh-eh? Ngapain peluk?" ucap Aleta terkejut.


"Takut sama bu Urmi.." Raven mengeratkan pelukannya.


"Sumpah, kalau lo gini gue nggak kuat! Siapapun tolongin gue!" batinnya sambil mengusap pelan puncuk kepala Raven.


Ceklek!


"OH MY EYES! Sumpah gue nggak lihat! Gue nggak lihat apapun. Mata gue masih suci"


Atensi keduanya teralihkan ke sumber suara. Terdapat cewek di depan pintu kamarnya dan melihatnya dengan Raven sedang berpelukan. Ralat, Raven yang memeluknya.


"Fany! Lo kenapa sih?" tanya Aleta heran dengan reaksi lebay sahabatnya.


"Selamat pagi, kak Fany" sapa Raven setelah melepas pekukannya dan menatap sahabat dari istrinya.


"Se-lamat pagi. Sorry, gue ganggu kalian ya? Kalau gitu gue tunggu di ruang tengah aja ya?" ucapnya sebelum membalik badan akan keluar.


"Eh lo mau kemana? Kebetulan kami juga mau keluar, cuman tadi Raven takut buat keluar. Takut sama bu Urmi katanya" sergah Aleta membuat langkah Fany terhenti dan berbalik ke arahnya.

__ADS_1


"Habisnya bu Urmi aneh" gumam Raven.


"Oiya, Al. Kayanya pembantu lo itu sedikit miring deh brain-nya" ujar Fany.


"Emang iya. Orang baru keluar dari RSJ" ucap Aleta malas.


Lantas kedua mata Fany melotot tak percaya, "Serius lo?!."


"Ayo Rav" ajaknya pada sang suami.


"Bu Urmi nggak ngelakuin kaya yang semalam kan?" tanyanya, tangannya mencekal lengan Aleta.


Aleta menggeleng dan beralih dirinya menggenggam tangan Raven, "Enggak. Ada gue tenang aja"


Kemudian mereka bertiga keluar, tepatnya menuju meja makan.


"Sarapan dulu, Tuan?" ucap Urmi sambil menarik kursi untuk majikannya.


"Kak.." lirih Raven bersembunyi di belakang tubuh Aleta, tangan keduanya masih bertautan.


"Lo duduk aja sini, biar gue ambilin." ucap Aleta dan Raven mengangguk sedikit ragu.


"Saya bantu ambil-.."


"Tidak perlu! Biarin gue, selaku istrinya yang melayani suami gue!" potong Aleta saat tangan pembantunya akan mengangkat piring untuk Raven. Ada rasa senang dalam diri Raven setiap Aleta menyebut dirinya suami di depan orang lain.


Dengan ragu Urmi mengangguk, "B-baik, nona" kemudian Raven duduk di kursi yang lain.


"Fany, lo juga sarapan." ajak Aleta pada sahabatnya yang berdiri di sampingnya.


"Gue tungguin kalian makan aja. Gue belum laper" ucap Fany. Memang dia belum lapar.


"Yaudah tapi, nanti lo harus makan" ucapnya dan diangguki oleh Fany. "Tenang aja soal itu"


"Tuan tampan, mau dibikinin susu sama yayang Urmi?" tanya Urmi, tangannya akan memegang pundak Raven tapi, dengan cepat cowok itu mengggeser kursi hingga tubuhnya menabrak tubuh Aleta yang masih berdiri di sampingnya.


"Nggak mau! Kak Al.." ucapnya lirih sambil meremas ujung kaos yang dipakai Aleta.


"Bu Urmi bisa diam apa tidak? Nggak lihat suami gue ketakutan lihat bu Urmi?" tanya Aleta dengan nada pelan. Sedang menahan amarah di dalamnya.


"Tuan takut sama yayang Urmi? Tapi, yayang Urmi baik kok" ucap pembantu itu, melihat Raven yang seperti ketakutan melihatnya.


"Bu Urmi bisa tinggalin kami bertiga? Kami mau sarapan dengan tenang dan bebas dari ancaman." ucap Aleta.


"Tuan tampan.." lagi-lagi pembantu itu ingin memegang tangan Raven dan membuat cowok itu kini memeluk Aleta.


"Kak Al.." Aleta bisa merasakan getaran pada punggung suaminya.


"Bu Urmi!! Gue aduin papa biar dipecat, mau?" sentaknya pada pembantu itu.


"Jangan nona, baiklah saya pergi. Silahkan panggil saya kalau kalian sudah selesai sarapan" wanita itu mengangguk patuh. Sepertinya ia takut bila sudah menyangkut pecat-memecat.


"Saya permisi, nona, Tuan" Urmi menoel pipi Raven sebelum melenggang pergi, menambah emosi cewek itu pagi ini semakin menjadi.


"Jangan sentuh suami gue!" bentaknya geram.


"Ciee, suami nggak tuh? Hahahaa..." ucap Fany dengan nada mengejek.


"Apasih, diem lo!" semburnya. Fany langsung kicep.


"Bu Urmi udah pergi, sarapan gih." titahnya kemudian Raven merenggangkan dekapannya dan kembali duduk seperti semula.


"Iya. Kak Fany ayo sarapan" ajak Raven kepada Fany.


Fany menggeleng, "Lo aja. Gue nanti" ucapnya kemudian berjalan ke arah sana, tepatnya ingin duduk di sofa ruang tamu.


"Kakak mau kemana? Di sini aja.." melihat Aleta akan pergi meninggalkannya di sana sendiri, Raven menahan lengan Aleta.


"Gue mau ngobrol sama Fany di sana. Lo duduk manis aja di sini" ucapnya.


"Nanti kalau bu Urmi ke sini lagi, gimana?" tanyanya polos.


"Nggak akan. Percaya sama gue!" ucap Aleta meyakinkan.


"Tapi, jangan jauh-jauh" pintanya setengah merengek.


"Iyaa, bawel banget sih" setelah itu Aleta pergi menyusul Fany. Sekilas mengacak puncuk kepala sang suami dengan gemas. Membuat Raven tersenyum malu.


.


"Suami lo kayanya manja banget, Al?" kekeh Fany setelah Aleta mendudukkan bokong di sofa sampingnya.


"Sebelumnya nggak semanja itu, semenjak ada bu Urmi dia jadi manja banget." ucapnya. Memang benar, sebelumnya cowok itu tak semanja sekarang.


"Emang diapain sama pembantu lo itu?" tanya Fany yang sudah penasaran dari tadi.


"Lo nggak tahu aja kemarin bu Urmi nggak mau lepasin dia, makanya sampai sekarang dia takut banget sama bu Urmi. Takut jika sewaktu-waktu dia dilecehin" jelas Aleta sambil berbisik, tak ingin suaminya mendengar.


"Lagian pembantu lo itu aneh banget" celetuk Fany.


"Papa nih, suruh kirim pembantu malah yang dikirim orgil! Kesel banget gue." kesalnya.


"Kalau gue jadi lo juga pasti kesel banget lah!" ucap Fany membenarkan.


"Btw, tumben lo main kesini pagi-pagi? Ada apa? Lo nggak kerja? Gimana keadaan nenek lo?" tanya Aleta beruntun.


"Banyak banget pertanyaannya, jawab yang mana dulu nih?" kekehnya memastikan.

__ADS_1


"Jawab aja udah, gue kepo pake banget soalnya" ujarnya.


"Alhamdhulillah kabar nenek gue baik. Kalau soal kerjaan tenang aja, gue udah izin buat kerja nanti di shift malam." jelasnya.


"Alhamdhulillah deh kalau gitu, gue seneng dengernya"


"Kalau soal gue dateng kesini, gue mau curhat" lanjut Fany.


"Tumben. Jarang lo curhat ke gue, soal apa?"


"Ini soal.. Sohibnya suami lo" ucap Fany sedikit ragu.


"Maksud lo Arga? Kenapa sama dia? Lo digangguin sama dia? Digodain? Di-.." belum selesai, Fany memotongnya.


"Dengerin gue dulu! Dari kemarin dia dateng ke cafe tempat gue kerja udah dua kali. Yang sekalinya katanya dia lagi nyari ayang" jelasnya.


"Pufftt.. Ngapain dia nyari ayang? Ayangnya hilang?" Aleta mencoba menahan tawanya.


"Gue juga nggak ngerti sama tu anak." ucap Fany jengah.


"Yang kedua?" tagih Aleta.


"Nah, yang keduanya nih yang meresahkan."


"Dia nemuin ayangnya?" tanya Aleta polos.


"Bukan! Masa kemarin dia godain cewek yang cowoknya pergi ke toilet. Pas cowoknya balik dia habis tuh digebukin sama cowoknya" jelas Fany.


"Ya ampun kasihan banget. Terus gimana kondisinya?" tanyanya sedikit merasa iba.


"Sedikit memprihatinkan, cuman udah gue obatin kok"


"Lo yang obatin? Wahh, jangan-jangan lo naksir ya sama dia?" tanya Aleta penasaran.


"Enak aja, enggak!" tolak Fany.


"Terus, apa yang mau lo ceritain ke gue? Itu doang?" tanyanya.


"Masih ada kelanjutannya" kata Fany.


"Tuan.."


Mendengar suara yang tak asing di telinganya, buru-buru ia menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Raven? Hey! Mau ngapain lagi lo? Belum dipanggil juga udah nyelonong masuk aja!" pekik Aleta sembari berjalan ke arah meja makan, sudah ada Raven yang ketakutan di sana karena melihat kedatangan pembantu orgilnya.


"Bu Urmi kangen sama Tuan" ucap pembantu itu dengan santai.


"Nggak sopan banget sama majikan, minta dipecat beneran nih orang" gumam Aleta sesampainya di sana dan pembantu itu langsung ngacir.


"Kabur! Nggak mau dipecat!" pembantu itu berlari seolah dikejar oleh Aleta. Padahal Aleta males banget kalau disuruh ngejar orgil.


"Orang gila beneran" sahut Fany sambil menggelengkan kepala, melihat kepergian Urmi.


"Aku takut, kak" Raven merengek sambil memeluk lengan sang istri.


"Udah-udah, dia udah pergi. Lo udah selesai kan sarapannya?" Raven mengangguk.


"Berangkat sekarang? Daripada lo semakin takut gini, gue kasihan" tanya Aleta, mengambil alin menggenggam jemari sang suami.


"Temenin" ucap Raven setelah berdiri dan menyampirkan tas ransel miliknya di pundaknya.


Aleta mengangguk. "Iya-iya gue anter sampai depan"


"Fan, gue anterin Raven dulu ya? Lo tunggu sini bentar" ucapnya pada Fany dan diangguki olehnya.


"Oke!"


Kemudian Aleta mengantar suaminya ke depan.


"Berangkat gih, belajar yang rajin. Nanti kalau mau pulang kabarin" ucap Aleta begitu Raven sudah di atas motor.


"Iya kak, aku berangkat dulu" pamitnya setelah memakai helm dan melenggang pergi bersama motornya. "Hati-hati" pekik Aleta.


"Mau apalagi bu?" tanyanya jengah saat akan masuk ke rumah mendapati pembantu itu di depannya.


"Tuan sudah berangkat?" tanpa menghiraukan pertanyaan Aleta, pembantu itu malah kembali bertanya mengenai keberadaan Raven.


Aleta menghembuskan nafas kasar. "Iya! Yaudah, gue mau masuk." ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Urmi di sana.


"Sorry ya, Fan, keadaan rumah gue saat ini sedang tidak baik-baik aja semenjak ada pembantu orgil itu" ucapnya pada sahabatnya setelah duduk bersandar di sofa.


"It's oke, gue ngerti" Fany mengangguk.


"Lanjutin cerita lo" lalu Aleta menagih curhatan sahabatnya.


.


.


.


Ketik sesuatu untuk bu Urmi (...)


Kira-kira Fany mau curhat tentang apa ya sama Aleta? Tunggu kelanjutannya pada episode selanjutnya!


Jangan lupa Like Komen dan Vote!

__ADS_1


.


__ADS_2