
Di sisi lain, Raven keluar dari kamar Aleta tak henti-henti dia memegang bibirnya sambil senyum-senyum menuju dapur.
"apa yang aku lakukan? kenapa aku berani mencium kak Aleta?" gumannya dalam hati sampai di dapur.
"bagaimana kalau kak Aleta marah sama aku? kenapa aku tadi sampai kelepasan" batinnya mulai gelisah, ia menepuk-nepuk bibirnya sambil mengingat kejadian barusan.
"kenapa aku ceroboh banget" ia berdiri dengan lututnya di samping meja dapur sambil memukul-mukul kepalanya di meja dapur. Ternyata Mala sedang berjalan ke arahnya dan melihat langsung berlari menghampirinya.
"astaga, apa yang kamu lakukan?" memegang kepala Raven dan mengangkatnya.
"ma-mama? kenapa mama?" ucapnya gugup.
"kamu tadi sedang apa? lihatlah dahi kamu sampai merah" Mala meraba dahinya yang sedikit merah akibat ia jedukkan ke meja dapur.
"benarkah?" meraba dahinya sendiri.
"kamu kenapa?"
"a-aku ngg-nggak ap-apa apa kok ma" ucapnya terbata tanpa menatap Mala.
"ohiya, tadi mama abis darimana?" Raven mengalihkan pembicaraan.
"tadi mama habis nganter mama sama adek kamu pulang ke rumah"
"pulang? kenapa nggak bilang sama Raven? terus sekarang mama sama adek nggak balik kesini?"
"tadi pagi tiba-tiba mama kamu dapet pesenan kue, jadi dia harus pulang"
"kok Raven ditinggal?"
"kamu nginep lagi di sini"
"t-tapi besok sekolah, terus barang-barang aku gimana?"
"kamu tenang aja, tadi Zanna udah izinin kamu buat nginap di sini dan barang-barang kamu udah mama bawa ke sini semua"
"semua? maksud mama?"
"iya semua barang-barang kamu"
"semuanya?" Mala mengangguk pasti.
"t-tapi kenapa?"
"kamu tenang aja, ini kami lakukan untuk membuat Aleta dekat sama kamu begitupun sebaliknya"
"itu berarti Raven akan tinggal di sini?" Mala mengangguk.
"tapi Raven nggak mau jauh dari mama dan adek"
"kamu nggak perlu khawatirin soal itu, setelah kalian menikah mereka akan pindah ke rumah ini"
"maaf ma, sepertinya Raven nggak bisa tinggal di sini" Raven menunduk sedih.
"kenapa sayang? ada apa? mama Zanna ngizinin kamu kok"
"ini bukan tentang diizinin atau tidak ma, tapi tentang kenangan. Rumah itu peninggalan papa satu-satunya, hasil kerja keras papa. Dan Raven nggak bisa ninggalin rumah itu begitu saja, menurut Raven itu sama saja kalau Raven juga menggalkan kenangan bersama papa waktu papa masih ada"
"mama tahu dan mama kamu juga berkata seperti itu, tapi jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Ingatlah, papa kamu sudah tenang di sana dan mama yakin kalau kamu bahagia papa kamu juga bahagia"
__ADS_1
"Raven tahu kalau papa sudah tenang di sana, tapi..."
"mama nggak akan paksa kamu untuk tinggal di sini, tapi mama mohon hanya untuk sementara saja sampai ulangan kenaikan kelas selesai. Biar kalian bisa belajar bareng dan Aleta perlahan bisa menerima kamu" jelas Mala lembut.
"kamu bersedia, kan?"
"tapi ma.." tiba-tiba Safar memanggil.
"barang-barangnya ditaruh di mana, Bu?" tanya Safar dengan membawa dua koper ditangan kanan dan kirinya.
"kamu bawa ke atas dan masukkan ke kamar sebelah kamar Aleta" titah Mala.
"baik, Bu" kemudian Safar berlalu pergi.
"lebih baik sekarang kamu ke kamar dan menata barang-barang kamu" ucap Mala lembut.
"t-tapi ma.." Mala mengangguk mengiyakan kemudian berlalu pergi ke atas mengikuti Safar.
"kenapa jadi gini?" batin Raven sambil menaiki anak tangga.
"aku memang senang bisa dekat dengan kak Aleta, tapi kalau sampai tinggal mungkin aku belum bisa. Tapi.. kata mama Mala hanya sampai ulangan selesai, tapi itu lama" ia sudah sampai dan berdiri di depan pintu kamar.
"Raven? saya taruh kopernya di sini, kamu tata sendiri ya" ucap Safar kemudian berlalu meninggalkannya.
"iya Pak, terimakasih" ucapnya lirih kemudian masuk dan menutup pintu.
"pa.. apakah Raven bisa meninggalkan rumah kita dan tinggal di rumah tante Mala?" ia berdiri di depan jendela sambil menatap langit.
tok tok tok (ketukan dari balik pintu kamar Raven)
"apa mama boleh masuk?" teriak Mala dari luar, Raven langsung menoleh ke sumber suara.
"Rav.." panggil Mala berjalan mendekat dan meraih tangan Raven.
"mama tahu mungkin kamu belum bisa ninggalin rumah kamu, tapi mama mohon sekali sama kamu, kamu mau ya tinggal di sini?" ucap Mala lembut penuh permohonan.
"sejujurnya Raven mau bahkan senang bisa tinggal di sini, tapi kalau untuk meninggalkan rumah Raven sepertinya tidak bisa"
"mama mengerti bagaimana perasaan kamu, mama akan beri kamu waktu untuk memikirkan semuanya dan om Evano akan bicara empat mata sama kamu"
"Raven akan memikirkannya, ma"
"mama percaya sama kamu, yasudah kalau gitu kamu tata dan masukkan barang-barang kamu ke dalam lemari" Raven mengangguk pelan.
"gimana kalau mama suruh Al buat bantu kamu?" ucap Mala bersemangat.
"ti-tidak usah, ma. Biar Raven beresin semua sendiri, lagian nggak banyak.." belum selesai bicara Mala berlalu keluar dan langsung memanggil Aleta.
"ma.. Raven bisa beresin sendiri" teriaknya karena Mala sudah hilang dari balik pintu.
"kenapa mama harus panggil kak Al, terus kenapa aku jadi gugup gini" gumamnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
tok tok tok(ketukan dari balik pintu kamar Aleta)
ceklek(begitu mendengar ketukan pintu, Aleta langsung membukanya)
"mama?" ucapnya setelah membuka pintu melihat mama di hadapannya.
"kamu sedang apa? nggak lagi sibuk, kan?" tanya Mala.
__ADS_1
"eng-nggak" Aleta menggeleng sambil mengucapkan eng-nggak bergantian.
"baguslah"
"ada apa ma emangnya?" tanya Aleta bingung.
"enggak, cuma mama mau minta tolong sama kamu buat bantuin Raven menata barang-barangnya. Kamu mau kan sayang bantu Raven?"
"barang-barang? maksud mama?"
"oiya, mama belum kasih tahu kalau buat sementara ini dia tinggal di sini"
"APA?!" ucap Aleta sedikit berteriak.
"kenapa? apa ada yang salah?"
"mama tanya apa ada yang salah? tentu salah lah ma, ngapain dia pakek tinggal di sini segala" Aleta memutar matanya malas.
"lho? kamu ini gimana, apa kamu lupa kalau kalian akan menikah?"
"bisa nggak sih, mama jangan bahas soal itu? maaf Al sibuk, Al mau belajar besok udah ulangan" Aleta masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Al?" tak ada jawaban.
"bagaimana aku bisa mendekatkan mereka? dan bagaimana kalau Al tidak akan pernah mau menerimanya? apa yang harus aku lakukan?" batin Mala sedih.
"kenapa sih mama selalu bahas soal pernikahan yang nggak masuk akal itu?" gerutunya kesal duduk di kursi belajarnya.
"dan untuk apa dia mau disuruh tinggal di sini? bikin mood gw tambah jelek aja. Kenapa hari ini gw sial terus"
"mantan ngehubungin gw bukannya udah bahagia sama tunangannya, pipi gw di cium sama dia, terus dia bakal tinggal di rumah gw. Kenapa sih gw nggak bisa ngerasa tenang sehari aja" gerutunya kesal sambil memukul-mukul meja belajarnya.
Di sisi lain, Mala kembali ke kamar Raven.
"Rav? apa kamu sudah selesai menata barang-barang kamu?" tanya Mala begitu masuk.
"belum selesai ma, baru sebagian. Sekarang aku mau belajar, akan aku lanjutkan nanti" ucapnya.
"tadi mama sudah suruh Al buat kesini tapi katanya lagi sibuk jadi nggak bisa" ucap Mala.
"ouh? tidak apa-apa kok ma, mungkin kak Aleta juga sedang belajar sekarang"
"terimakasih Rav, kamu selalu bisa mengerti Aleta"
"tidak, mama jangan berkata seperti itu"
"yasudah kalau gitu mama mau siapkan makan malam, nanti kalau sudah akan mama panggil"
"iya, terimakasih ma" Mala mengangguk kemudian berlaku meninggalkan Raven.
"apa kak Aleta marah karena kejadian tadi? aku akan bicara dengannya nanti dan meminta maaf" ucapnya kemudian melanjutkan belajar.
Hallo guys.. Aku up lagi😊
Jangan lupa Like Komen dan Vote ya
Mohon maaf kalau ada typo😄
Terimakasih♥
__ADS_1
Happy reading♥