A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
49. Kamar or Kapal Pecah?


__ADS_3

Sampai di rumah, Aleta masuk ke dalam rumah dan di susul Raven dibelakangnya.


"kita pulang.." ucapnya setelah masuk.


"kak Aleta.." panggil Raven berlari ke arah Aleta.


"ada apa?" tanyanya berbalik.


"kakak marah ya sama aku?"


"kenapa lo ngomong gitu?"


"karena dari tadi pagi kakak diem aja"


"emang kalau gw diem itu tandanya gw marah?"


"i-iya bukan gitu, maksud aku.."


"udahlah gw mau ke kamar"


"oiya, mama di mana?" tanyanya karena tak melihat keberadaan Mala di rumah.


"iya juga, mama mana?" Aleta sadar tak ada mamanya di rumah.


"biar gw telfon" lanjutnya kemudian mengambil ponsel dari saku lalu menelfon mamanya.


tut tut tut.. (sambungan masuk)


"ada apa, Al?" tanya Mala dark seberang sana.


"mama di mana?" tanya Aleta.


"ouh, mama sedang di rumahnya Zanna"


"sama siapa mama ke sana?"


"tadi mama naik taksi"


"kenapa nggak tunggu Al pulang, biar Pak Safar yang ngantar?"


"sudahlah tidak apa-apa, oiya makanannya sudah mama siapkan. Nanti kalian makan, ya?"


"i-iya ma, terus mama kapan pulang?"


"nanti sore mama pulang"


"terus Al di rumah sendiri dong?"


"kan ada Raven, kamu di rumah berdua sama dia" Aleta melirik ke arah Raven dan kembali menatap kedepan.


"masa sama dia sih?" batin Aleta.


"yaudah kalau gitu mama matikan ya, nanti makanannya jangan lupa di makan"


"i-iya ma"


"dada sayang"


"dada.." sambungan berakhir dan Aleta memasukkan ponsel ke dalam sakunya lagi.


Raven menatapnya penuh tanya.


"mama ada di rumah lo"


"rumah aku? naik apa?"


"naik taksi katanya"


"terus?"


"nanti sore pulangnya"


"terus?"


"tadi mama udah siapin makan"


"terus?" tanyanya sekali lagi.


"udah" Aleta menjawab tabah.


"terus apa lagi?"


"udah gitu doang"


"ouh, oke" Raven menjawab santai.


"yaudah gw mau ganti baju" Aleta berjalan menaiki anak tangga dan di susul Raven di belakangnya.


"aku juga"


Tak lama setelah itu Aleta turun dan menuju meja makan.


"waktunya makan.." ucapnya sambil meletakkan piring di atas meja dan duduk.


"uwaaoo.. enak banget nih pasti" mengagumi masakan. Lalu mulai menuangkan nasi dan lauk ke piringnya tanpa melihat keberadaan Raven, pada saat ia hendak menyuap ke dalam mulut ia ingat kalau Raven tidak ada.


"oh iya? Raven mana kok belum turun?" tanyanya pada diri sendiri dan meletakkan suapannya.

__ADS_1


"Raven!?.." teriak Aleta namun tak ada jawaban.


"mana sih? apa perlu gw samperin?"


"gw samperin aja kali ya?" lalu ia beranjak dari duduk dan menuju kamar Raven.


tok tok tok..


"Rav.. ayo makan" teriaknya dari luar.


"Raven!?" tak ada jawaban.


"kemana sih si Raven, dipanggil daritadi nggak nyaut" lalu ia sedikit mendorong pintu ternyata tak dikunci.


"astaga.. ini kamar apa kapal pecah?" gerutunya melihat seisi kamar berantakan. Ikat pinggang, dasi, tas tergeletak di lantai sedangkan pemiliknya tengah tidur di kasur. Lalu Aleta masuk.


"katanya ganti baju malah tidur" ucapnya menggeleng kepala.


"berantakan banget sih ni kamar, perasaan kemarin rapi deh" gerutunya sambil menyomoti barang yang berantakan lalu ia letakkan di tempatnya.


"keknya lo capek banget, lagian lo ngapain pakek ngebersihin kamar mandi segala, hah? pasti lo baru makan tadi pagi doang" ucapnya memandangi Raven.


"sorry ya, mungkin sikap gw ke lo kadang nyakitin"


"sebenarnya gw nggak mau bersikap kayak gitu, cuman gw pengen bikin lo ilfil dan ngejauhin gw biar perjodohan yang nggak masuk akal itu nggak terjadi. Gw juga tahu dan gw percaya kalau lo cowok yang baik, tapi gw udah janji sama diri gw sendiri kalau gw nggak bakal berhubungan lagi sama cowok" ucapnya dalam hati menatap sendu Raven.


"hmm.." Raven menggeliat lalu membuka mata.


"kak Al?" tanyanya kaget melihat Aleta berdiri di sampingnya dan duduk.


"lo bangun?" Raven mengangguk sambil mengucek kedua matanya.


"kakak udah lama di sini?"


"eng-nggak" memalingkan wajah ke samping.


"astaga, tadi kamar aku(melihat sekeliling sudah rapi) kok?(mengucek matanya bingung)" lalu menatap Aleta.


"udah gw beresin" ucap Aleta.


"aduh kak, maaf ya aku pasti ngerepotin"


"iya, ayo makan"


"se-sebentar, aku ganti baju dulu"


"yaudah gw tunggu di bawah" Aleta berlalu keluar meninggalkannya, sedangkan ia segera mengganti pakaian tak lama ia turun.


"maaf kak, udah bikin kakak nunggu" ucapnya berlari menuju meja makan.


"cepat makan, pasti lo kelaperan kan?"


"tahu lah, pasti tadi pas istirahat lo nggak ke kantin"


"iya hehe"


"kenapa nggak ke kantin?" tanyanya disela kunyahan.


"belajar" Raven menjawab sebelum menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. Tak lama setelah itu mereka selesai makan dan Aleta segera membawa piring kotor untuk di cuci.


"udah apa belum makan nya?" tanya Aleta sambil menumpuk beberapa mangkuk di meja.


"dikit lagi kak" dengan cepat Raven menyendok ke dalam mulutnya sampai belepotan.


"makan pelan-pelan nggak usah buru-buru" ucapnya melihat Raven makan tergesa-gesa sudah seperti belum makan tiga hari.


"sudah kak, ini" menyodorkan piringnya ke Aleta.


"sudah?" tanyanya lembut berjalan mendekatinya.


"heem" Raven mengangguk lalu minum.


"itu mulut lo belepotan, cepet bersihin" ucap Aleta berlalu mencuci piring Raven tadi.


"bersihinnya pakek apa kak?"


"pakek tissue kan bisa"


"mana? nggak ada tissue di sini" mencari keberadaan tissue.


"di meja"


"mana?" masih mencari namun tak ketemu.


"huuft.. itu lhoo di meja di wadah kotak" Aleta mulai emosi.


"mana lho kak nggak ada"


"ini... apa ini..." memegang kotak tissue di atas meja dapur.


"ouh.. ternyata di sana hehe"


"daritadi gw juga udah bilang kalau di meja"


"tapi aku udah cari di meja ini nggak ada"


"ya emang nggak ada di meja makan RAVENN.." sedikit menekan kata 'Raven'.

__ADS_1


"lap sampai bersih" titahnya lagi.


"iya iya kak" mengelap bibirnya sendiri.


"udah kak, gimana? udah bersih kan?" menunjukkan kepada Aleta.


"bersih apanya? masih ada gitu kok"


"mana? tadi udah bersih kok"


"bukan di situ"


"di mana?" Aleta memberi isyarat di bawah dagunya.


"di sini?" Raven malah ngelap ngawur. Aleta yang geram meraih tissue dan langsung ia usap di bagian bawah dagu milik Raven.


"di sini" Raven sampai mendongak karena Aleta memegang dagunya. Aleta merasa jantungnya tak bisa di kontrol, jantungnya berdetak sangat cepat saat berdekatan dengan Raven.


"apa sudah?" pertanyaan Raven membuyarkan lamunanya, ia menjatuhkan lengannya dan melihat ke bawah sambil meremas tissue bekas Raven tadi.


"su-sudah" Aleta menjawab terbata masih menunduk.


"terimakasih kak"


"hah?" Aleta mendongak hingga pandangan mereka bertemu, mereka saling tatap lumayan lama. Mata Raven yang semula menatap mata Aleta beralih menatap ke bawah. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, merasa tak tahan melihat bibir pink milik Aleta.


"enggak enggak, enggak boleh aku sudah janji tidak mengulanginya" batinnya sambil menggelengkan kepala supaya ia sadar dengan yang ia pikirkan. Aleta bingung dengan tingkah Raven lalu ia memegang lengan Raven.


"lo kenapa?"


"a-aku kenapa?"


"di tanya malah nanya balik, gimana sih"


"nggak apa-apa, ka-ka-kalau gitu a-aku ke kamar ma-mau belajar" lalu Raven berjalan ke kamar meninggalkan Aleta di tempatnya.


"dia kenapa sih? aneh banget" gerutu Aleta lalu ke ruang tv dan menonton tv.


Di sisi lain.. Zanna dan Mala sedang mengobrol sambil menonton tv.


"kira-kira apa yang anak-anak lakukan saat di tinggal berdua di rumah ya, Mal?" tanya Zanna.


"aku nggak tahu juga sih"


"apakah mereka bakal ngelakuin hal aneh-aneh?" ucap Mala asal bicara.


"eh kamu ini bicara apa, nggak mungkin kalau mereka macem-macem"


"bisa aja kan Raven melakukan hal itu"


"aku rasa Raven nggak akan pernah macem-macem sama Aleta"


"bener juga sih, Raven itu kan anaknya polos dan nggak mungkin bakal macem-macem, tapi nggak ada yang tahu lho Zan. Bisa aja Raven melakukannya, ingatlah dia itu laki-laki, nggak ada laki-laki yang nggak bisa nahan nafsunya saat di rumah berdua sama perempuan"


"oiya, aku belum kasih tahu ke kamu soal Raven"


"apa itu? apa dia nyusahin kalian? dan apa dia susah di bilangin? kalau begitu biar aku marahin dia"


"bukan, bukan itu Zan. Raven baik-baik aja kok, dia juga nurut"


"lalu apa?"


"kemarin mas Evan lagi ngobrol sama Raven terus aku denger dari dapur, Raven bilang kalau dia nyium Aleta"


"apa?" Zanna membungkam mulutnya syok.


"terus aku lihat dia sampai berlutut meminta maaf, astaga aku kasihan banget ngelihatnya. Dia sampai bersikap kayak gitu"


"aku tidak tahu kalau Raven bisa melakukan hal itu, aku minta maaf ya Mal karena Raven lepas kendali sampai berani mencium Aleta"


"sudahlah, jangan berlebihan gitu. Lagian malah bagus dong kalau Raven berani, jadi mereka bisa lebih dekat lagi"


"tapi aku takut Mal"


"takut? takut apa?"


"aku takut kalau Raven sampai melakukan lebih dalam dan malah bikin Aleta nggak suka"


"aku tahu apa yang kamu pikirkan, sebenarnya aku juga takut hal itu terjadi. Tapi mau gimana lagi, Aku merasa kalau Al cuman anggep Raven sebagai adek kelas dan teman sekolah saja"


"apakah Al tidak mungkin bisa menerima perjodohan ini?" tanya Zanna sendu.


"kamu jangan berkata seperti itu, aku yakin Al pasti akan menerimanya dan mungkin untuk saat ini dia masih belum membuat keputusan"


"aku percaya sama kamu Mal, aku serahkan semua ke kamu dan Evano"


"baiklah" Mala mengangguk menyetujui.


Halo guys..😊


Maaf lama up, dikarenakan kemarin aku sakit dan sekarang masih dalam pemulihan😊


Doain semoga author sehat supaya bisa up tiap hari ya😁


Mohon maaf kalau ada typo😅


Terimakasih♥

__ADS_1


Happy reading



__ADS_2