A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
82. Penginapan


__ADS_3

Riki sengaja memasukkan obat perangsang dalam minuman Aleta. Dan orang-orang yang menurut Aleta menyeramkan itu merupakan teman-teman Qhia, cewek penggoda penjaga bar tersebut. Yap! Tempat seperti cafe itu ternyata adalah sebuah bar minuman keras dan tempatnya pendosa berada. Salah satunya Riki.


Sebenarnya semua ini merupakan rencana Qhia. Ia kesal setiap hari Riki selalu mengadu padanya menyesal karena sudah mencampakkan Aleta dahulu.


Lalu Riki meminta saran dari Qhia, bagaimana caranya agar Aleta kembali padanya. Salah sendiri meminta saran kepada cewek penggoda, yaa seperti ini jadinya.


"Nggak ada AC sayang.. Adanya gue" bisiknya dekat telinga Aleta dengan tatapan menggoda.


"Lepasin gue, aahhh!! Gue mau pulang!" tubuh Riki sedikit menjauh saat Aleta mendorongnya.


"Tidak semudah itu, Baby.." dan Riki kembali memegang kedua pundak Aleta setelah menangkap tubuh Aleta yang hampir terjatuh.


"Please.. Lepasin gue Rik, gue mohon.." pintanya dengan tatapan memohon.


"Lo tahu? Lo itu sangat cantik, tubuh lo bagus. Beruntung banget cowok yang cobain pertama kali" ucapnya sambil menyusuri setiap inch tubuh Aleta.


"Apa? Aahh! Lepasin gue!" rontanya lagi.


Dan Riki semakin memancing Aleta dengan meraba kaki mulusnya hingga masuk ke dress selutut milik Aleta. "Rik, aahhh! Sshhh.. Jangan sentuh aahh.."


"Candu banget denger ******* lo." bisiknya dengan perasaan puas.


"Sshhh.. Lo mau apa? Setelah lo ninggalin gue dulu, dan sekarang lo mau lakuin apa lagi ke gue?!!" sontak Riki menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Aleta dalam.


Perlahan jemarinya meraba punggung Aleta dan mencari letak sesuatu. Ah ketemu! Cowok itu menarik resleting dress yang dikenakan Aleta. Perlahan tapi pasti dibarengi dengan meraba punggung mulus itu menciptakan suara yang sangat ia sukai.


"Lepasin gue! Gue mau pulang.." ucap Aleta lirih.


"Besok gue anterin lo pulang." bisiknya dengan tangan yang masih sibuk menarik resleting itu.


"Please.. Jangan lakuin ini.." pinta Aleta memohon, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Tangannya beralih memegang leher jenjang milik Aleta. Lalu Ia memasukkan wajahnya di sana, dan kembali menciptakan ******* manis dari bibir cewek itu.


"Aahhhh.. Ri.. Ki..." Aleta mendesah saat Riki menjilat lehernya. Menciptakan rasa panas di lehernya dari nafas Riki.


"Yes, Baby?" Tanya Riki nyaris berbisik dekat telinga Aleta.


"Gue mau..." ucapannya menggantung saat Riki kembali menciumi lehernya.


"Mau baby dari gue?" bisiknya lagi.


"Pulang.." lirih Aleta dengan isak tangis.


"No! Tidak sekarang!"


Kemudian ia kembali menarik tengkuk Aleta dan memasukkan wajahnya di sana lagi. Kini ia sudah menciptakan sebuah warna merah di leher jenjang itu. Menambah keras suara desahannya. Dan itupun membuat Riki menyunggingkan senyum penuh kemenangannya.


Lalu ia melihat setiap inchi wajah cewek itu yang memejamkan mata dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


Cowok itu tersenyum penuh nafsu kemudian mendekatkan wajah mereka.


"Pasti bibir ini belum ada yang menyentuhnya. Gue akan jadi yang pertama. HA HA HA HA.." diakhiri tawa jahatnya Riki merangkup wajah Aleta.


Sebelum ia melakukan aksi liciknya, terdengar ketukan pintu dari luar itupun membuat Riki menghentikan aksinya dan berjalan mendekati pintu meninggalkan Aleta di sana sendirian.


Kemudian Aleta berjalan gontai menuju sofa yang ditunjukkan Riki tadi.


"Siapa sih, ganggu aja!" gumamnya setelah sampai di depan pintu.


"Kak?! Apa Kak Aleta di dalam?" teriak seseorang dari luar sambil mengetuk pintu berulang kali.


"Siapa bocah tengil ini? Beraninya dia datang ke sini." gumam Riki seraya mendekat ke jendela untuk melihat siapa orang itu.


"Kak Aleta?!!" teriak orang itu lagi dan lebih keras.


"Hah! Nggak penting!" dengusnya setelah melepas tirai yang menutupi jendela itu.


Lalu Riki kembali menghampiri Aleta yang sedang berguling di sofa. Memudahkannya untuk langsung menindih tubuh ringkih itu, namun ia masih ingin membuat cewek itu merasakan sesuatu yang luar biasa dulu.


Sedangkan orang yang tadi mengetuk pintu, kini beralih mengintip lewat jendela. Dan ia langsung dikejutkan oleh aksi dua orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Ya! Sepertinya Riki akan menciptakan banyak c*pangan di leher jenjang itu.


Cowok di luar melototkan matanya dikala melihat cewek itu. Perasaan panik mulai menyerangnya. Dengan cepat ia mendorong pintu itu dengan sekuat tenaganya.


"Semoga itu bukan Kak Aleta. Semoga orang lain. Aku mohon semoga itu bukan Kak Aleta. Hiks.." ia terus berusaha mendobrak pintu sambil menahan untuk tidak menangis.


Sungguh, dadanya saat ini terasa sesak saat melihat seseorang yang ia cintai melakukan adegan panas bersama cowok lain.


Dengan tubuhnya yang bergetar kuat dan air mata yang sudah lolos membasahi wajahnya. Akhirnya pintu itu berhasil terbuka dan ia langsung berlari ke arah dua orang itu.


"APA YANG KAMU LAKUKAN PADANYA?!!" sentaknya setibanya di dalam sana.


"Pergi! Jangan ganggu kami!" titah Riki dengan datar tanpa menatap orang yang baru saja datang.


"Nggak! Kamu yang pergi. Lepaskan cewek itu!" pinta orang itu yang masih sabar.


Riki menunjukkan smirk nya kemudian berdiri dan mendekati cowok itu.


"Lo, suruh gue pergi dan lepasin cewek ini? Nggak akan pernah!" ucap Riki penuh penekanan.


"Tolong lepaskan dia.. Kumohon.." pinta orang itu lagi dengan tatapan memohon.


"Dasar bocil! Nggak usah sok jadi pahlawan kemaleman deh lo! Malam ini dia akan jadi milik gue, SEUTUHNYA." ucap Riki dan menekankan satu kata terakhirnya.


Membuat orang itu menggeleng cepat. "Apa maksud kamu? Tidak!"


"Lihat saja, apa yang udah gue lakuin ke dia." tunjuknya.


Lalu cowok itu menatap Aleta dan melihat ada banyak noda merah di leher itu.


"Ap-apa yang kau lakukan?!" murka orang itu setelah melihat keadaan Aleta di sana.


"Kau sungguh tak mengerti?" tanya Riki sambil mengangkat sebelah alisnya.


Lalu orang itu berlari menghampiri Aleta. "Kak? Kak Aleta tidak apa-apa? Sadarlah!" diguncangnya tubuh ringkih itu pelan.


"Raven? Lo kesini jemput gue? Ayo kita pergi dari sini, gue nggak mau ada di sini" lirihnya disela isakan setelah terduduk.


"Ayo kak, kita pulang" Raven mangangguk kemudian membantu Aleta berdiri.


"Hey! Hey! Lo mau bawa dia ke mana? Urusan gue sama dia belum selesai. Gue belum cobain bibir manis dia." tubuh Riki menghadang Raven yang akan membawa Aleta pergi dari sana.


"Tidak! Jangan macam-macam!" tekan Raven sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Riki.

__ADS_1


"Banyak bac*t!"


BUGH!!


Raven jatuh tersungkur ke lantai. Memar sudah tercipta di pipi mulusnya. Aleta kembali terduduk di sofa.


"Kacang!" gumam cowok itu sambil mengusap kepalan tangannya. Seolah membersihkan bekas pukulan yang barusan ia lontarkan.


"Pergilah, gue akan melanjutkan malam bersama Aleta." dan Riki mendorong tubuh Aleta hingga tubuhnya kembali menindih Aleta.


"Tidak! Tidak boleh terjadi! Aku harus menolong Kak Aleta." gumam Raven yang kemarahannya sudah memuncak.


"JANGAN PERNAH LO SENTUH ALETA! ATAU LO GUE BUNUH SEKARANG JUGA!!" bentaknya setelah bangkit dan menarik lengan Riki kemudian memukulnya dengan brutal.


BUGH!!


BUGH!!


BUGH!!


Kini Riki yang jatuh tersungur dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Beraninya kau?!!" gumam Riki penuh amarah.


"GUE NGGAK AKAN BIARIN LO SENTUH ALETA! MESKI SEHELAI RAMBUT PUN!" tekan Raven tepat di depan wajah Riki.


"Lo fikir gue bakalan dengerin yang lo bilang? Nggak akan! Emang lo siapa, hah?!" sentak Riki sambil berusaha berdiri.


"Lo mau tahu gue siapa? Dengerin baik-baik karena gue cuman mau kasih tahu sekali dan nggak akan gue ulangi." ucap Raven pelan namun penuh peringatan.


"Oke! Lo siapa?" tanyanya seperti menantang setelah berhasil berdiri dengan kedua kakinya.


"GUE.. RAVEN NANDANA GIBRAN.. CALON SUAMI DARI ALETA QWENBY ELVINA!"


Akhirnya.. Akhirnya...


Riki terkejut dengan ucapan cowok itu. Bagaimana bisa cowok ini calon suami dari mantannya.


"Gue nggak percaya! Lo fikir gue bakalan percaya semudah itu?" timpal Riki yang seperti belum percaya seutuhnya.


"Gue akan buktikan sekarang juga kalau dia punya gue!" tekannya dengan rasa bangga.


"Gue mau lihat!" ucap Riki menantang.


"Silahkan menonton sampai pada detik terakhir!" tekan Raven sembari memberi tatapan tajam ke arah Riki.


Kemudian Raven berjalan mendekati Aleta yang duduk di sofa dengan keadaan bajunya yang berantakan. Bahkan dalaman yang dikenakan Aleta hampir terlihat.


Aleta menatap sayu ke arah Raven yang berjalan mendekatinya.


"Ayo pulang.." lirihnya setelah Raven duduk di sampingnya.


Raven melihat penampilan Aleta dari bawah hingga atas. Sungguh, hatinya sangat sakit melihatnya. Apalagi bekas merah-merah di leher itu. Menambah rasa sakit yang tak terbantahkan.


Perlahan tangannya memegang kedua pundak Aleta dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Lalu tangannya menjulur ke punggung Aleta untuk menarik kembali resleting tersebut ke atas. Dan ******* mulai ia dengarkan.


Perlahan ia melonggarkan dekapannya dan beralih merapihkan rambut pendek itu yang terlihat berantakan. Diusapnya dengan penuh kasih sayang. Jemarinya berhenti di leher itu dan Aleta malah mengangkat wajahnya. Kedua jarinya menyentuh bekas merah itu sambil berusaha menahan air matanya.


Ia menyesal telah membiarkan cewek itu pergi sendiri walaupun yang meminta Aleta sendiri.


"Pergilah! Gue akan membuktikannya setelah lo pergi." ucap Raven dengan suara lirih tanpa menoleh.


"Mana bisa, git-.." ucapan Riki terhenti saat Raven memotongnya.


"PER-GI!"


"Dan ngebiarin lo cobain dia pertama kali? Hah! Gue nggak mau!" Riki berdecih tak terima.


"Cobain? LO FIKIR DIA APAAN? HARUS DICOBAIN PERTAMA?!!" bentaknya penuh amarah.


"Gue cuman mau incip sedikit bibir dia. Abis itu gue pergi." ucap Riki sekali-lagi sambil menatap bibir Aleta yang menggiurkan menurutnya.


"Cih! Lo pergi sekarang atau mau gue seret keluar?" terdengar lirih namun sangat menusuk.


"Sadis banget lo! Kirain lo cuman cowok bermental Yupi-.." perkataan Riki harus berhenti saat perutnya terkena pukulan untuk kesekian kalinya.


BUGH!!


"Gue bilang pergi ya pergi! Ngerti bahasa Indonesia nggak sih?!" murka Raven sambil menatap tajam orang di bawahnya.


"Sial!" desis Riki sambil meremas perutnya yang sakit luar biasa.


"Pergi!" titah Raven dengan menormalkan emosinya.


"Iya! Awas kalau kita ketemu lagi" ancam Riki.


"Semoga tidak bertemu!" setelah itu dengan susah payah Riki bangkit dan berjalan keluar.


Raven kembali menghampiri Aleta. Kini penampilannya sedikit bisa dilihat lebih baik. Hanya saja bekas itu bagaimana cara menghilangkannya.


"Maafkan aku.." ucap Raven lirih dan terdapat penyesalan di dalamnya.


"Rav.. Tolongin gue.." pinta Aleta dengan suara seraknya.


"Kenapa? Kak Aleta terluka?" Raven kembali panik dan meriksa seluruh tubuh Aleta.


Aleta menggeleng lemah, kemudian berkata "Gue butuh lo buat sembuhin reaksi obat itu."


Raven mengernyit bingung, "Obat apa?"


"Please.." pinta Aleta dengan tatapan memohon.


"T-tapi bagaimana caranya?" Raven bertanya.


"Begini"


Kemudian Aleta langsung mendorong tubuh Raven hingga terjatuh ke belakang. Bibirnya mendarat di bibir Raven dan melum*tnya dengan rakus. Sedangkan Raven diam mematung dan perlahan ia menutup kedua matanya. Membiarkan cewek itu melakukan apapun padanya.


Bahkan tangan Aleta sudah meraba kesana-kemari entah mencari apa. Yang jelas mereka berdua menikmati malam panas mereka.


Sedangkan Riki, ia melihat adegan panas itu merasa yakin bahwa cowok itu memang calon suami dari mantannya. Namun, ia tidak boleh menyerah, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan bibir itu yang sejak dahulu telah ia inginkan.


Hampir setengah jam berlalu dan Aleta sama sekali tidak ingin berhenti dan masih saja mencumbu wajah cowok itu. Bahkan ia sudah menciptakan cup*ngan di leher dan dada bidang Raven.


Sungguh, Raven sama sekali tidak menyangka bahwa Aleta akan melakukan itu pada dirinya. Tetapi kalau difikir-fikir lebih baik Aleta melakukan ini padanya, daripada ke cowok brengsek itu.

__ADS_1


Aleta mengangkat tubuhnya menjadi duduk di atas pinggang cowok itu. Perlahan Raven membuka mata dan melihat kalau Aleta sedang mengangkat hoodie nya hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya.


Aleta menyentuh setiap lekukan pada perut itu membuat Raven kegelian dan sesekali mengeliat. Namun, ia langsung tersadar dan menarik tangan Aleta dari perutnya. Lalu ia segera menutup perutnya kembali.


Lagi-lagi Aleta malah ingin membuka kancing celananya, namun dengan cepat tangan kekar itu membawa tubuh rigkih itu jatuh ke dalam pelukannya.


"Kak Aleta tidak boleh melakukan itu. Tunggu nanti setelah kita menikah." bisiknya dekat telinga Aleta.


"Mau sekarang.." rengek Aleta sambil memberontak, namun Raven semakin erat memeluknya.


"Tidak boleh! Sekarang kita cari penginapan saja, besok pagi kita pulang." Kepala Aleta bergerak ke atas-ke bawah tanda setuju. Dan tangannya terangkat untuk mengelus surai hitam milik Aleta.


"Yuk?"


"Gendong.."


Tak perlu waktu lama tubuhnya sudah berada di tangan cowok itu. Aleta mengalungkan tangannya di leher cowok itu sambil membenamkan wajahnya di sana.


Sesampainya di luar, Raven mencari taksi. Sudah mendapatkannya, Raven memasukkan Aleta di sana dan disusul dirinya. Meninggalkan motornya di sana.


"Ke penginapan terdekat ya, Pak" ucapnya kepada supir taksi tersebut. Dan diangguki olehnya.


Mobil taksi melesat ke tempat tujuan.


Di sisi lain.


Mala sedang mondar-mandir di depan pintu utama dan berkali-kali mengintip lewat jendela. Sudah hampir tiga jam berlalu dan kedua anaknya belum juga kembali. Perasaan aneh mulai menghantuinya. Sudah menghubungi Zanna namun Zanna tidak tahu. Supaya Zanna tidak ikut khawatir ia langsung memberitahu bahwa anaknya sudah di rumah. Padahal belum.


Sedangkan Evano kebangun karena tak mendapati istrinya di kamar, ia keluar dan melihat istrinya masih di depan pintu. Ditambah malam ini hujan deras. Semakin menambah kekhawatiran ibu dari satu anak tersebut.


"Kenapa mama belum tidur?" tanya Evano sesampainya di belakang istrinya.


Mala membalik badan menghadap sang suami.


"Anak-anak belum pulang, sudah jam segini. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengan mereka, Mas.." raut wajah Mala terlihat khawatir, panik, takut dan sedih menjadi satu.


"Kamu tenang dulu. Sebentar, biar aku telfon Aleta."


Mala mengangguk. "Iya, Mas."


.


Di sisi lain, Raven dan Aleta sudah tiba di dalam penginapan mereka. Raven memesan satu kamar saja, karena ia hanya membawa uang sedikit. Nanti ia bisa tidur di sofa atau di lantai dan Aleta yang di kasur.


Sesampainya di dalam, Raven segera merebahkan tubuh Aleta di ranjang. Serta melepas sepatu dan tas yang dikenakan oleh Aleta.


Saat ia akan meletakkan tas itu di meja, terdengar dari dalam tas ada yang menelfon.


Ia melirik ke arah Aleta yang sudah memejamkan mata, lalu merogoh tas tersebut dan melihat nama si penelfon.


[My Papa♥]


Itulah yang tertulis di layar genggam itu.


Kemudian ia menjauh untuk menjawab panggilan.


"Hallo Al, kalian di mana? Kenapa belum pulang? Mama khawatir sama kalian berdua." cerocos seorang pria dari seberang sana.


"Hallo, Pa."


"Raven? Kok kamu yang menjawabnya? Di mana Aleta? Oh itu tidak penting. Kalian di mana?"


"Kami.."


"Kalian di mana sayang? Kenapa belum pulang sudah jam segini, mana hujannya deras banget lagi." telfon diambil alih oleh Mala.


"Maaf, ma. Malam ini kami tidak pulang, kami menginap di sebuah penginapan. Karena tadi mau pulang hujannya deras banget, aku takut kalau dipaksa pulang yang ada nanti Kak Aleta bisa sakit."


"Jadi sekarang kalian berada di penginapan?"


"Iya mama. Raven akan menjaga Kak Aleta dengan baik. Raven janji!"


"Yaudah, kalian istirahatlah. Besok pagi mama suruh Safar jemput. Nggak boleh ada penolakan!"


"I-iya, ma."


"Aleta di mana sayang? Mama mau bicara"


"Ah? Kak Aleta.. Dia.. Dia sudah tidur ma, yaudah kalau gitu kami istirahat dulu ya. Selamat malam."


"Selamat malam."


Tut.. -panggilan berakhir.


"Mereka di penginapan?" tanya Evano memastikan dan Mala mengangguk sedikit lega.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka. Kita harus cari tahu, ma. Mama tahu sendiri kan gimana kalau cowok dan cewek tinggal sekamar berdua, pasti nggak mungkin kalau tidak melakukan apapun?" Evano menebak-nebak.


"Sudahlah, Pa. Jangan berfikir negatif sama anak sendiri. Walaupun mereka melakukan aneh-aneh kan tinggal nikahkan saja mereka, dan memudahkan kita juga kan?" ucap Mala sedikit senang.


"Tapi aku tidak ingin kalau putri kita hamil diluar nikah..." cerocos Evano dan langsung ditegur sang istri.


"Eh! Papa ini mulutnya sembarangan kalau ngomong. Mama tahu betul Aleta seperti apa dan Raven itu anak baik-baik. Nggak mungkin dia berani macam-macam dengan anak kita. Kemarin dia mencium Aleta saja dia menangis. Apalagi sampai melakukam lebih." Mala memberi penjelasan.


"Benar juga apa yang kamu bilang. Semoga seperti itu. Yaudah, tidur yuk?"


"Heem."


.


"Maafin Raven, Ma, Pa. Raven bohong sama kalian." gumamnya seraya memasukkan kembali ponsel Aleta ke dalam tas mini itu.


Kemudian ia mendekati Aleta untuk menyelimuti tubuh itu. Dan ia mengambil bantal untuk dirinya tidur di sofa.


.


.


.


Gimana sama episode kali ini? Apa masih seru? semoga masih ya..


Kalau ada typo tolong banget untuk kalian memberitahu. Dan bila alurnya membuat kalian bosan, itu juga tolong ditegur atau kasih kritik dan saran yaa..


Jangan lupa Like!

__ADS_1


.


__ADS_2