
Kembali ke Aleta dan Raven di ruang tv.
ting! (ponsel Aleta berbunyi)
Aleta menonton tv sedangkan Raven masih tidur disandarannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi ia langsung meraih dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"nomor baru?" ucapnya setelah melihat ponselnya.
"kok nomor nya sama kayak yang telfon gw kemarin?"
'hai Al apa kabar?' (pesan masuk)
"siapa sih?" gumamnya mulai bingung, lalu ting!
'gw Riki' (Dan betapa terkejutnya ia membaca pesan kedua itu)
"Rik-Riki?" ia membungkam mulutnya sembari membaca pesan.
"kenapa dia?"
"biarkan saja" ia tak ingin terlibat dengan masa lalunya lagi, Aleta menghapus pesan itu dan kembali menonton tv.
"kenapa dia kembali?" batinnya kesal.
"dan, darimana dia dapat nomor gw?" batinnya bingung.
"hemm.." Raven menggeliat dipundak Aleta.
"Rav (menepuk pundak Raven) bangun" Raven perlahan membuka mata dan kembali duduk tegap menghadap Aleta.
"ma-maaf kak aku tadi ketiduran di pundak kak Aleta" Aleta hanya diam dan melanjutkan menonton tv.
"apa aku berat? apa pundak kak Aleta pegal? dan.." belum selesai bicara Aleta menatap tajam ke arahnya.
"ma-maaf kak" lalu Aleta beranjak meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"ada apa lagi dengan kak Aleta? apa aku buat kesalahan lagi? tapi aku tidak melakukan apapun" gumamnya, lalu menyusul Aleta ke dapur.
"darimana dia dapat nomor gw" ucap Aleta lirih sembari mengambil minuman di dalam kulkas dan meminumnya.
"kak?" Raven memanggil dari belakang, Aleta meletakkan kembali minuman ke dalam kulkas tanpa memperdulikan Raven di belakangnya.
"kak Al" saat Aleta berjalan melewatinya, dengan cepat ia menahan lengan Aleta.
"ada apa?" Aleta berbalik.
"kakak kenapa lagi?"
"hah?"
"kenapa kakak diemin aku lagi?"
"gw nggak apa-apa, cuman sedikit nggak enak badan aja"
"kakak sakit? (memegang dahi Aleta)"
"enggak, gw mau ke kamar" lalu Aleta berlalu pergi meninggalkan Raven masih berdiri ditempatnya.
"apa aku bikinin bubur buat kak Aleta?" ucapnya pada diri sendiri lalu mulai membuat bubur.
__ADS_1
Di sisi lain, Aleta masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"kenapa dia kembali?" hanya pertanyaan itu yang ia ucapkan berulang kali.
Tak lama setelah itu ada yang mengetuk pintu.
tok tok tok..
"kak Al, apa aku boleh masuk?" teriak Raven dari balik pintu.
"masuk aja" Aleta menjawab, lalu Raven membuka pintu dan masuk dengan membawa mangkuk berisi bubur yang ia buat.
"apa itu?" tanya Aleta melihat Raven seperti kepanasan membawa mangkuk.
"tadi aku bikin bubur buat kakak"
"bubur? ngapain lo bikin bubur buat gw?"
"sebentar kak aku taruh ini di meja dulu, panas.." lalu Raven meletakkan mangkuk di meja samping kasur.
"lagian udah tahu itu panas kenapa nggak di taruh di nampan atau pakai kain bawa nya"
"ohiya aku lupa hehe" ucap Raven terkekeh.
"kakak beneran sedang sakit?"
"(menghembuskan nafas pelan) enggak, gw nggak lagi sakit, gw sehat" ucap Aleta pelan.
"tadi katanya lagi nggak enak badan"
"emang kalau nggak enak badan tandanya lagi sakit? enggak kan?"
"buka mulutnya aa.." Raven mulai menyuapinya.
"nggak mau" Aleta menolak.
"ayolah kak makan"
"gw bilang nggak mau, ting!" tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi dengan cepat ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Al, lo apa kabar?" pesan itu tertulis dilayar ponselnya, masih di nomor yang sama. Aleta membaca sambil melototkan matanya, sedangkan Raven mengerutkan dahinya bingung.
"setelah kejadian itu kenapa dia kembali? malah sok-sok an nanyain kabar gw segala" batin Aleta masih menatap layar ponselnya. Raven mulai menyuapi dan tanpa sadar Aleta memakannya, berulang kali.
"gw harap lo masih secantik dulu" isi pesan kedua.
"apa-apaan dia, kek orang nggak bersalah nanyain kabar. Dia nggak inget apa dulu nelantarin perasaan gw gitu aja" batinnya mulai kesal setelah membaca pesan kedua dari mantannya. Dan ia masih saja memakan setiap suapan dari Raven.
"tadi katanya nggak mau, sekarang malah dimakan hampir habis" batin Raven heran.
"gw bales nggak ya? tapi kalau gw bales dikira kalau gw masih suka lagi sama dia, tapi kalau nggak dibales pasti dia bakal ngirim pesan ke gw terus" batinnya mulai bingung, sedangkan bubur di mangkuk sudah ia makan sampai habis.
"yeaay! udah habis" ucap Raven sedikit keras hingga Aleta kaget.
"astaga, apa yang habis?"
"ini (menunjukkan mangkuk kosong ditangannya) buburnya udah habis"
"siapa yang habisin? lo yang makan? tadi katanya buat gw" tanyanya masih belum sadar.
__ADS_1
"lho? bukan aku kak. Kan kakak sendiri daritadi yang makan"
"hah? apa? gw?" sambil menunjuk ke dirinya sendiri. Raven mengangguk.
"masa sih, tapi kok gw nggak ngerasa"
"tadi waktu kak Aleta serius lihatin ponselnya, emang siapa sih yang ngirim pesan? sampai kak Aleta nggak ngerasa sedang makan?"
"hah?(bingung) bukan siapa-siapa" ucapnya sedikit gugup.
"kalau bukan siapa-siapa kok serius gitu sih bacanya?"
"atau jangan-jangan kak Aleta udah punya pacar?" tanyanya asal bicara.
"apaan sih lo, bukan"
"ouh aku kira kakak udah punya pacar" Raven menunduk sedih.
"emang kenapa kalau gw udah punya pacar?" tanya Aleta sedikit tertawa, karena merasa gemas melihat Raven yang sepertinya sedang ngambek.
"jadi bener? (mendongak menatap Aleta) kalau kak Aleta udah punya pacar? siapa?"
"emm siapa ya?" Aleta mulai jahil, sedangkan Raven menunggu jawaban Aleta.
"adadeh, lo nggak perlu tahu"
"kak Aleta nggak denger ya yang aku katakan tadi pagi?" Raven meletakkan mangkuk di meja dan beralih menatap mata Aleta.
"maksud lo? kata yang mana?"
"nggak boleh ada cowok yang deketin kakak selain aku"
"emang kenapa? terserah gw mau deket sama siapapun, kenapa lo jadi ngatur-ngatur?"
"pokoknya nggak boleh, karena kak Aleta cuma punya aku"
"punya lo? HAHAHAHA.. lo ada-ada aja" Aleta tertawa mendengar pernyataan dari Raven.
"kenapa kak Aleta tertawa? kakak nggak percaya?"
"ya enggak lah, kenapa juga gw jadi milik lo? dasar aneh" ucap Aleta sedikit tertawa, namun Raven malah mencium sekilas pipi kanannya.
"ini tanda kalau kakak cuma punya aku" setelah mencium pipi Aleta ia meraih mangkuk dan berjalan keluar dari kamar Aleta menuju dapur, sedangkan Aleta masih diam mematung di atas kasur. Tak lama ia tersadar dan langsung memegang pipi bekas ciuman Raven.
"a-ap-apa ini? berani-beraninya dia nyium pipi gw!" gerutunya dalam hati, namun ada rasa senang di dalam hati kecilnya. Sambil mengusap-usap pipinya.
"kesucian pipi gw huaaa.." teriaknya dari dalam kamar.
Hallo guys aku up lagi nih😁
Selalu tinggalkan jejak kalian berupa,
LIKE KOMEN dan VOTE
Mohon maaf kalau ada typo😄
Terimakasih♥
Happy reading♥
__ADS_1