
Hanya keheningan diantara mereka berdua.
"kak?" Raven memecah keheningan.
"diem!"
"kak?" panggilnya lagi dengan menoel lengan Aleta menggunakan bolpoin yang ia pegang.
"(menghembuskan nafas) apa?" jawab Aleta tabah.
"aku mau tanya"
"hemm?" hanya berdehem.
"soal yang ini bagaimana cara ngerjainnya? aku belum faham, soalnya tadi waktu jam pelajaran ini aku nggak ikut dan Arga juga nggak nyatat materinya"
"kenapa nggak ikut?"
"tadi pagi kan aku di hukum, kak"
"ya lagian salah siapa dateng terlambat, dihukum kan" ucap Aleta masih fokus ke bukunya.
"karena semalam aku nggak bisa tidur"
"kenapa?"
"kakak lupa? kan tadi udah aku bilang waktu di UKS"
"ya ngapain juga lo mikirin gw semaleman sampai nggak bisa tidur?"
"terus nggak sarapan" lanjutnya.
"kakak khawatir, ya? maaf.." ucapnya sambil menunduk.
"dih ngapain juga gw khawatir sama lo? nggak ya"
"tapi tadi kakak peluk aku sambil nangis, kalau nggak khawatir terus apa?" pernyataan Raven bikin Aleta kelabakan.
"t-tadi lo nanya apa? soal? soal mana yang belum faham?" sambil membolak-balikkan buku Raven di atas meja.
"bukan buku yang itu kak, yang ini.." lalu Raven menjukkan buku yang ia maksud.
"ooh, yang mana?" beralih ke buku yang Raven maksud.
"yang ini kak"
"oke, gw bakal jelasin satu kali dan nggak akan gw ulang jadi lo harus dengerin baik-baik" titah Aleta.
"siap bu boss" seolah sedang memberi hormat ke arah Aleta.
"apaan sih" ucapnya lirih.
"apa kak?"
"nggak, gw jelasin sekarang" lalu Aleta mulai menjelaskan materi ke Raven. Bukannya memperhatikan buku dia malah menatap Aleta.
"lihat ke buku jangan lihat gw" Aleta sadar kalau Raven sedang menatap dirinya bukannya fokus mendengarkan penjelasannya.
"ti-tidak, daritadi aku lihat ke buku kak" lalu Raven menatap buku di depannya.
"alesan" gerutu Aleta dalam hati.
"perhatikan baik-baik" lalu Aleta kembali menjelaskan.
tok tok (suara ketukan dari balik pintu kamarnya)
"Aleta..Raven.. ayo turun kita makan malam"
"iya ma kita turun" teriak Aleta dari dalam.
"mama tunggu di bawah" lalu Mala turun.
"kita lanjut nanti" ucap Aleta.
"oke kak" kemudian mereka menuruni anak tangga menuju meja makan.
Di meja makan...
"pasti aku ngerepotin kamu lagi, Mal"
"sama sekali nggak ngerepotin kok, malahan aku seneng"
"mama..tante.." Aleta menyapa kedua wanita yang sedang mengobrol di meja makan.
"sini sayang, ayo kita makan" lalu Raven dan Aleta duduk berhadapan.
"Vania di mana ma?" tanya Raven pada mamanya.
"tadi dia bermain boneka sampai ketiduran"
__ADS_1
"adek kamu sangat menyukai boneka, bahkan tadi dia tidur sambil memeluk boneka" kekeh Mala.
"apakah tadi Vania bawa boneka kesayangannya?"
"sebenarnya tadi sudah mama siapkan, tapi mama cari di dalam tas nggak ada, pasti ketinggalan di meja"
"tumben banget Vania bisa tidur tanpa boneka kesayangannya"
"mama juga bingung"
"mungkin karena dia senang bisa bermain boneka yang banyak" sahut Mala.
"terimakasih ya sayang, sudah meminjamkan boneka kamu untuk Vania" ucap Zanna menatap Aleta.
"iya tante, Al juga senang kalau dia senang" jawabnya sambil senyum.
"oiya, ini tadi yang masak Aleta lhoo" ucap Mala menatap Raven sebentar.
"benarkah? kak Aleta yang masak semua ini?"
"nggak, bukan semuanya. Sama mama juga kok" Aleta malu-malu.
"kalau begitu mari makan.."
"oiya, Raven. Kamu nggak usah ambil sendiri, biar Aleta yang mengambilkannya untuk kamu" titah Mala, membuat Aleta spontan menoleh ke mamanya.
"kok Al sih ma yang ambilin? biar dia ambil aja sendiri"
"iya ma, biar Raven ambil sendiri aja" ucap Raven.
"enggak enggak, pokoknya Al yang harus ambilkan" Mala masih kekeh menyuruh.
"lagian kenapa juga harus Al yang ambilin" menyuap sesendok ke dalam mulutnya.
"apa kamu sudah lupa kalau Raven itu calon suami kamu?"
"uhuk..uhuk.." mendengar itu Aleta sampai tersedak.
"minum kak" dengan cepat Raven memberikan gelasnya kepada Aleta dan Aleta segera meminumnya.
"kakak nggak apa-apa?" tanyanya begitu Aleta selesai minum.
"nggak apa-apa" jawabnya singkat.
"kamu kenapa sayang?" tanya Zanna khawatir.
"tidak apa-apa kok tante, Al mau ke toilet sebentar. Permisi" lalu Aleta berlalu pergi dan Raven masih menatapnya sampai hilang dari balik tembok.
"Raven, kamu lanjutkan makan kamu" ucap Mala.
"sini mama ambilkan"
"tidak usah ma, biar Raven ambil sendiri"
"baiklah" tak lama setelah itu Aleta kembali dari toilet.
"ma..tante.., Al ke kamar dulu ya" pamitnya kemudian menaiki anak tangga.
"kamu nggak lanjut makan? kalau nggak makan nanti kalau sakit bagaimana, Al?" perkataan Mala sama sekali tak di gubris.
"Al? habiskan dulu makan nya" tetap saja tak ada jawaban.
"anak ini" saat ia akan beranjak dari duduknya, Raven memanggil.
"ma, biar Raven yang menemui kak Aleta. Sekalian bawa makan nya ke atas" ucap Raven dan disetujui Mala.
"kamu sudah selesai makan?" tanya Mala.
"sudah ma, kalau gitu Raven bawa ke kamar kak Aleta" lalu Raven menuju kamar Aleta.
"sudahlah Mal, kamu jangan seperti itu sama Aleta. Mungkin dia masih belum bisa menerima semuanya, kita beri dia waktu lagi untuk berfikir" ucap Zanna menenangkan sahabatnya.
"iya Zan, tapi seharusnya dia tidak bersikap seperti itu. Andai saja ayahnya melihat pasti dia akan dimarahi"
"semoga Raven bisa membujuknya" lanjutnya.
"kamu tahu, saat aku sedang marah Raven mencoba berbagai cara untuk meredakan amarahku. Dan menurutku dia pandai membujuk" ucap Zanna.
"kamu berhasil menjadi seorang ibu yang bertanggungjawab dan berhasil mendidik anak-anak kamu menjadi sosok yang baik, Zan" ucap Mala dengan mata berkaca-kaca.
"yaudah, ayo kita lanjutkan makan kita" dibalas anggukan Mala, kemudian melanjutkan makan malan mereka.
Disisi lain, Raven sudah berdiri di depan pintu kamar Aleta dengan membawa piring ditangan kanan dan gelas berisi air putih ditangan kirinya.
"kak Aleta.." teriaknya dari luar karena tidak bisa mengetuk pintu.
"kak, buka pintunya" tak ada jawaban.
"kok kak Aleta diam saja" ucapnya lirih.
__ADS_1
"aku bawain makan buat kakak"
"aku masuk ya, kak" lalu ia mendorong pintu menggunakan bahunya kemudian masuk, melihat sekeliling ruangan dan mendapati sosok yang tengah duduk melipat kakinya di tengah ranjang dengan menenggelamkan kepalanya dilutut, ya itu Aleta.
"kak Aleta?" Raven meletakkan piring dan gelas di atas meja lalu menghampiri Aleta.
"kakak kenapa?" tanyanya ikut duduk dipinggir ranjang.
"kak.." saat tangannya hendak menyentuh pundak Aleta, dengan cepat Aleta menepisnya.
"jangan ganggu gw!" ucapnya masih menenggelamkan kepalanya di tulut.
"kakak kenapa?" tanyanya sekali lagi.
"pergi!"
"aku nggak akan pergi sebelum kakak mau bicara sama aku"
"gw bilang pergi ya pergi!" kini ia berteriak menatap Raven dengan kedua matanya yang sudah memerah.
"kakak ngangis?" memegang pipinya dengan cepat Aleta memalingkan pandangannya kesamping.
"kenapa kakak nangis? kalau aku salah aku minta maaf"
"keluar!"
"enggak mau"
"keluar dari kamar gw sekarang!"
"tadi aku kesini bawain makan buat kakak dan aku nggak akan keluar sebelum kakak makan"
"nggak usah sok peduli sama gw, sekarang lo keluar" Raven tak mendengarkannya lalu meraih piring dan menyendok nasi.
"kakak makanlah" menyodorkan sendok ke depan Aleta. Aleta menggeleng.
"ayo makanlah kak, kalau nggak makan nanti kakak bisa sakit"
"biarin"
"memangnya kakak nggak kasihan sama orangtua kakak? kalau kakak sakit mereka pasti akan khawatir"
"nggak mau, gw udah kenyang"
kryukukk~~~ (suara dari dalam perut Aleta) spontan Aleta memegang perutnya.
"itu apa? masih mau bilang sudah kenyang? cacing di perut kakak udah manggil minta makan"
"ayo makan aaa" Raven membuka mulut mengarahkan Aleta untung mengikutinya. Namun ia masih menutup rapat mulutnya.
"ayolah kak, pegel lho tangan aku gini terus kalau kakak nggak makan"
"ya siapa suruh orang gw nggak mau masih dipaksa"
"kalau kakak nggak mau makan aku bakal tidur di sini" menaikkan kedua kakinya ke ranjang, kini mereka duduk berhadapan.
"j-jangan! nggak boleh, enak aja mau tidur di sini"
"mangkanya kakak makan kalau nggak mau aku tidur di sini" Aleta terdiam seperti berfikir apakah dia menerima suapan dari Raven atau tidak.
"iya-iya oke gw makan, tapi lo jangan tidur di sini"
"siap bu bos" Raven mulai menyuapi Aleta dan Aleta membuka mulutnya.
"aaa" Raven menyuapinya lagi, Aleta tersenyum sembari mengunyah. Apa mungkin dia sudah mulai nyaman dengan perhatian dari Raven? entahlah.
Beberapa menit kemudian...
"ini minumnya" memberikan gelas berisi air putih kepada Aleta.
"sudah?" tanya Raven lembut dan Aleta mengangguk.
"kalau begitu aku bawa piringnya ke dapur" saat akan beranjak, Aleta menahan lengannya.
"ada apa kak? apa kakak perlu sesuatu? biar aku ambilkan"
"terimakasih" ucapnya lalu melepas lengan Raven kemudian berbaring membelakangi Raven. Sedangkan Raven meletakkan piring di tangannya di meja lalu berjalan mendekati Aleta, menarik selimut dan menyelimuti tubuh Aleta. Kemudian berbisik di dekat telinganya.
"sama-sama kak" kemudian mengambil piringnya lalu berjalan keluar.
Aleta yang semula menutup mata, setelah Raven keluar dari kamarnya ia membuka mata dan menyunggingkan senyumnya sambil meremas selimutnya, tak lama setelah itu ia terlelap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo guys...😊
Aku up lagi, semoga klalian suka dengan ceritanya
Mohon maaf kalau ada typo😄
__ADS_1
Terimakasih♥
Happy reading♥