A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
94. Menemani di UKS


__ADS_3

"Kok belum dibales sih chat gue dari tadi pagi sama Raven? Sekarang kan waktunya istirahat. Kira-kira bekalnya udah dimakan apa belum? Aduhh.. Kok gue jadi khawatir gini sih, nggak tenang daritadi." gumam Aleta sembari mondar-mandir di depan pintu kamarnya.


"Arga? Apa gue telfon dia aja? Iya, gue telfon aja. Pasti dia sama Raven." ucapnya kemudian meraih ponselnya dari atas meja belajarnya.


Tut.. Tut... Tut..


"Ayo dong angkat!"


Sedangkan di sisi lain.


"Lo itu jadi cowok kenapa lemah banget sih, Rav? Belum sarapan aja udah pingsun." omel Arga sembari menatap sahabatnya yang terbaring di brankar UKS.


"Pingsan!" pekik Bella mengoreksi.


"Itu maksud gue. Mana belum sadar juga dari tadi." gumam Arga.


"Coba lo telfon orangtuanya deh" usul Bella.


"Jangan! Lebih baik gue telfon ayangnya aja" kata Arga nyaris bergumam, namun Bella masih bisa mendengarnya.


"A-ayang?" batin Bella sambil mengernyit tak mengerti.


"HP gue ketinggalan di kelas, haduhh.. Bell, lo jagain Raven bentar, gue ambil HP dulu." ucapnya dan diangguki Bella.


"Iya. Sekalian bawain bekalnya, tadi pagi gue lihat dia bawa deh" titah Bella.


Arga mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. "Oke. Jangan macem-macem sama dia kalau nggak ada gue." ucapnya sambil mengarahkan jari telunjukknya ke wajah Bella.


"Iya, bawel banget sih! Udah sana pergi!" pekik Bella dengan nada mengusir.


"Kalau dia sadar jangan nanya aneh-aneh. Dan.." ucapan Arga tak terselesaikan dikala Bella memotongnya.


"Iyaa!! Udah sana cepetan ambil HP!" pekik Bella geram.


"Oke. Jagain dia!"


"Bawel!"


Kemudian Arga berlalu pergi dari UKS.


"Awas aja kalau sampai dia berani macam-macam, gue aduin ke bininya biar langsung dilabrak." batin Arga seraya berlari ke kelas untuk mengambil ponselnya dan juga ponsel Arga.


.


"Rav, bangun dong. Kenapa sampai ngelewatin sarapan sih, hm?" tanya Bella kepada orang yang terbaring memejamkan mata di sampingnya.


"Kak.. Kak Al.. Ma...af.. Nanti jangan..marah.." gumaman kecil terdengar dari bibir cowok itu, dengan mata terpejam.


"Kak? Siapa?" tanya Bella mencoba memastikan pendengarannya.


"Kak.. Jangan..marahin..aku.." Raven kembali bergumam.


"Siapa yang mau marahin lo? Dan, 'Kak' siapa yang lo maksud? Apa lo punya kakak?" tanya Bella lagi yang semakin penasaran.


"Kak.." gumamnya lagi yang sudah terlihat cemas, bahkan sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Hal itu membuat Bella panik.


"Aduhh.. Arga mana sih lama banget ngambil HP doang."


.


"Anjir! Banyak banget miss call dari Kak Aleta, pasti nyariin Raven karena nggak ada kabar." gumam Arga saat melihat riwayat telfon dari ponsel miliknya seraya berjalan ke UKS.


"Gue coba telfon lagi deh." sambungnya dan menelfon seseorang.


Tut.. Tut...


"Hallo, Arga! Kalian lagi ngapain sih di sekolah jam istirahat ditelfon nggak diangkat?! Raven juga, di chat nggak sibales dari tadi pagi." cerocos seorang cewek dari seberang sana.


"Di mana Raven? Gue mau ngomong sama dia. Bekalnya tadi udah dimakan apa belum?"


"Begini, Rave-.." ucapan Arga terhenti saat Aleta kembali memotongnya.

__ADS_1


"Ada apa sama dia?" tanya Aleta.


"Bekalnya belum dimakan tadi pagi" jawab Arga dengan hati-hati.


"Apa?! Coba kasih HP lo ke dia!" pinta Aleta.


"Masalahnya, Raven.."


"Raven kenapa?" tanya Aleta lagi.


"Tadi pas upacara, dia.." dan lagi-lagi cowok itu menggantung ucapannya.


"Jangan bilang kalau Raven pingsan?" tebak Aleta yang sudah tahu apa yang telah terjadi.


"I-iya. Dia pingsan sejak kurang lebih dua jam yang lalu, dan sampai sekarang dia belum sadar." jelas Arga.


"APA?!" teriakan Aleta membuat Arga harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Kak Aleta tenang dulu, gue dalam perjalanan ke UKS. Tadi gue tinggal ke kelas bentar buat ngambil HP" jelas Arga.


"Lo biarin dia di sana sendirian?" tanya Aleta murka.


"Enggak, dia ditemenin sama Bella" jawab Arga apa adanya.


"Bella?!" lagi-lagi Aleta berteriak dan itu hampir membuat gendang telinga Arga pecah.


"Yaudah, gue lihat kondisi suami lo dulu."


Tut.. -setelah itu Arga segera berlari ke UKS.


"Dimatiin? Waahh, nggak bisa dibiarin nih. Gue harus ke sekolah." gerutu Aleta tak terima karena panggilannya diakhiri sepiham oleh Arga.


.


"Raven? Lo udah sadar? Gimana kondisi lo?" tanya Arga rusuh sesampainya di sana.


"Arga? Iya, masih pusing" lirih Raven seraya memegang pelipisnya.


"APA?! Kenapa dikasih tahu?"


"Dia nanya, ya gue jawab lah" ucah Arga acuh.


"Aduhh.."


"Kenapa sih?" tanya Arga tak mengerti.


"Pasti sampai di rumah dia marahin aku karena nggak makan bekalnya" gumam Raven yang sudah mulai takut jika nanti ia akan dimarahi karena lupa makan bekalnya.


"Emang ada apa sih? Siapa yang marahin lo, Rav?" tanya Bella dengan polos.


Arga dan Raven menoleh menatap Bella sambil memasang tampang terkejut.


"..."


Dan mereka berdua lupa kalau di sana ada Bella.


...°°°°°...


Aleta tidak jadi menjemput Raven ke sekolah, karena Mamanya datang.


Ahh, marahnya ditunda nanti saja saat Raven pulang. Sekarang ia harus memasang wajah bahagianya karena melihat Mamanya berkunjung.


Sayangnya Zanna dan Vania tidak ikut, karena Mala dari kantor suaminya dan pulangnya mampir ke rumah putrinya.


"Gimana kabar kalian? Nggak ada masalah kan, sayang?" Mala bertanya kepada putrinya.


"Kami baik-baik aja, Mama nggak perlu khawatir" jawab Aleta sembari tersenyum.


"Alhamdhulillah. Eh, jam segini sekolah istirahat kan?" ucap Mala dan diangguki oleh Aleta.


"Iya, bentar lagi masuk kayanya"

__ADS_1


"Ouh yaudah, nanti kalau Raven sudah pulang tolong bilang kalau Mama kesini." sambungnya.


"Lho? Mama nggak sampai sore?"


"Nggak, kasihan Mama Zanna dan Vania nanti di rumah sendirian" kata Mala.


"Tapi Al juga di rumah sendirian" gumam Aleta dengan raut murung.


"Maafin Mama ya, sayang. Seharusnya di rumah ini ada pembantu, tapi Papa tidak mengizinkan. Mama sudah mencoba membujuk Papa kamu tapi tetap nggak diberi izin. Mama kasihan kalau kamu urus rumah ini sendirian" ucap Mala prihatin.


"Tenang aja, Mama nggak perlu khawatirin Aleta. Al ingin mencoba mandiri, seperti yang diinginkan Papa" ucap Aleta menguatkan diri.


"Mama tetap nggak sepenuhnya setuju. Pokoknya Mama janji, Mama akan bujuk Papa supaya mengizinkan ada pembantu di sini." ucapnya meyakinkan.


"Terimakasih Mama. Mama emang paling baik dan mengerti Al" Aleta memeluk mamanya dengan sayang.


"Iya, sayang."


SKIP


Sepulang sekolah.


Setelah memasukkan motornya ke bagasi, Raven segera masuk ke rumah.


"Assalamu'alaikum.." ucapnya setelah membuka pintu dan berjalan masuk.


Hening.


"Kak Aleta di mana? Kok nggak ada yang jawab sallam?" gumamnya seraya melihat sekeliling yang sepi.


"Kak! Aku pulang." pekiknya sedikit mengeraskan suaranya, namun tak ada sahutan dari orang rumah.


Hening.


"Apa di kamar? Aku samperin aja deh" ucapnya lalu segera berlari ke kamarnya.


Ceklek -begitu pintu terbuka, ia langsung melihat orang yang ia cari tengah duduk di pinggir ranjang sembari fokus bermain ponsel.


"Kak! Aku udah pulang" ucap Raven untuk kesekian kali, dan hanya dibalas berupa deheman saja oleh cewek itu.


"Huft.. Panas banget cuacanya. Kakan tahu nggak, tadi sepulang sekolah jalanannya macet, aku jadi telat sedikit. Hehehee.." kekehnya setelah meletakkan tasnya di meja dan menghampiri Aleta yang daritadi tak menghiraukan kedatangannya.


"Iya." jawab Aleta singkat tanpa memalingkan pandangan dari ponsel.


"Aku juga udah makan bekalnya sampai habis" ucap Raven dan lagi-lagi hanya dibalas berupa deheman saja.


"Kak Aleta kenapa?" Raven bertanya, karena menyadari semua perkataannya hanya dibalas deheman dan Aleta tak menatapnya sekalipun.


"Nggak apa-apa" jawab Aleta singkat padat dan jelas.


"Tadi, aku.." Raven menggantung ucapannya sambil berjalan mendekat ke arah Aleta, namun buru-buru Aleta berbicara setelah meletakkan ponsel itu di kasur dan beralih menatap Raven.


"Ganti baju habis pulang sekolah, besok seragamnya masih dipakai lagi kan?" tanya Aleta.


Raven mengangguk, "Iya juga. Aku ganti baju dulu ya?" Aleta mengangguk saja dan turun dari kasur.


"Kakak mau ke mana? Di sini aja." Raven mencegah kepergian Aleta dengan mencekal lengan Aleta.


"Gue mau cuci kotak bekal lo." Raven melepas genggamannya.


"Oh, yaudah. Tapi, nanti balik ke sini lagi ya?" tanyanya saat Aleta berjalan membelakanginya.


"Tergantung." jawab Aleta lirih, sangat lirih seraya mengambil kotak bekal dari dalam tas Raven dan segera membawa kotak bekal itu ke dapur untuk dicuci.


"Kalau nggak balik, berarti aku yang samperin kakak!" pekik Raven saat punggung cewek itu menghilang dari balik pintu.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen and Vote!


__ADS_2