
Jangan lupa Like sebelum baca😋
Sampai rumah, Raven langsung disambut papa dan dua mamanya.
"Raven, Aleta mana? kok nggak sama kamu?" tanya Mala yang langsung menghampiri Raven. Raven menggeleng pelan dengan wajahnya yang berantakan.
"ayo kita masuk dulu, kita bicarakan di dalam nggak enak udah malem" kata Zanna. Kemudian Raven dan papa mamanya masuk.
Kini mereka duduk di ruang tengah.
"apa kamu ketemu sama Al?" tanya Zanna dan Raven mengangguk sebagai jawaban.
"terus kenapa dia nggak sama kamu?" Raven diam.
"anak itu bener-bener, apa sih maunya" ucap Evan yang sepertinya sudah tersulut emosi, Mala menggenggam erat tangan suaminya untuk menenangkan.
"Raven sayang, sudah kamu jangan sedih pasti Aleta baik-baik aja" dan Raven menggeleng.
"maafkan aku Ma, Pa.." ucap Raven menatap tiga orang dihadapannya bergantian.
"karena aku Kak Aleta pergi.." Zanna mengelus punggung putranya.
"nggak, kamu jangan berfikir seperti itu"
"tadi Kak Aleta pergi sama cowok naik motor" tiga orang dihadapannya terkejut.
"Aleta pergi sama siapa?"
"aku nggak kenal dengan cowok itu, tapi sepertinya Kak Aleta mengenalnya"
"kamu jangan khawatir, mungkin saja itu temannya kan" ucap Zanna memberi pengertian. Raven diam dan ponsel Evan berdering.
"sebentar saya angkat telfon dulu" Evan berlalu menjauh dan tak lama ja kembali.
"siapa yang telfon Pa?" tanya Mala begitu Evano datang.
"Aleta di rumah" ucap Evano singkat.
"kok bisa? yaudah ayo kita pulang Pa, mama takut Al kenapa-kenapa"
"kamu tenang dulu, biarkan Aleta sendiri, biar dia menjernihkan fikiran" ucap Zanna.
__ADS_1
"jadi Kak Aleta pulang" batin Raven sambil tersenyum lega.
"Ma, Pa.. Raven ke kamar dulu ya" tanpa menunggu jawaban, Raven langsung berlalu pergi dan mengunci pintu kamarnya.
"lebih baik kalian tidur, besok saja pulangnya lagian sudah malam" akhirnya Mala dan Evano memutuskan untuk tidur di rumah Zanna membiarkan Aleta sendiri dulu.
"Raven..ayo kita sarapan.." teriak Zanna mengetuk pintu kamar putranya, tapi tak mendengar sahutan. Zanna kembali mengetuk pintu karena dikunci dari dalam.
"Rav.." panggil Zanna lagi.
"mama sarapan duluan, Raven masih kenyang" teriak Raven dari dalam. Zanna menghembuskan nafasnya.
"yaudah, mama sarapan duluan ya. Abis itu kamu juga sarapan, mama pergi" tak di jawab oleh Raven kemudian Zanna berlalu ke meja makan yang sudah ada Mala dan Vania di sana. Evano? dia sudah berangkat ke kantor, katanya ada rapat.
"di mana Raven?" tanya Mala begitu Zanna duduk. Zanna menggeleng.
"nanti, yaudah ayo mulai sarapannya. Vania mau makan sendiri apa disuapin mama?"
"makan sendili aja ma"
"ouh yasudah" meja makan hening hanya terdapat suara dentungan sendok dan garpu saja.
"Vania main di kamar dulu ya, mama mau nyamperin kakak" ucap Zanna kepada putri kecilnya.
"iya mama.." Zanna mencium pucuk kepala putrinya sesaat sebelum beranjak.
tok tok tok..
"Raven.. kamu nggak sarapan? nanti kamu sakit nak" teriak Zanna dari luar.
"Raven.. kamu dengar mama?" masih tak ada sahutan.
Sedangkan, Raven di dalam kamar duduk dipinggiran kasur sambil melamun dan memainkan benda bulat berukuran kecil di jemarinya. Panggilan dari luarpun tak dia hiraukan. Dia benar-benar ingin sendiri saat ini, banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang tak kunjung mendapat jawaban.
"Aaaarrghh.. srreekk...Prangg!!.." benda yang ada di meja ia sapu menggunakan lengannya hingga berhamburan di lantai. Zanna yang mendengar benda jatuh pun panik, apa yang dilakukan putranya sendirian di kamar?
"Raven buka pintunya, apa yang kamu lakukan di dalam? kamu nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan nak? tolong buka pintunya" Zanna menggedor-gedor pintu namun tetap saja tak mendapat jawaban dari pemilik kamar.
"kamu jangan macam-macan di dalam. Tolong buka pintunya, kalau kamu seperti ini mama beneran nggak akan maafin kamu nak, jadi buka pintu kamu sekarang" tak lama pintu terbuka langsung menampakkan Raven yang sangat berantakan, bayangin aja seberapa berantakan dia sekarang. Segitu frustasinya ya tawarannya di tolak? atau karena menyaksikan Aleta bersama cowok lain? entahlah begitu banyak yang ia fikirkan.
"yaampun Raven anak mama kamu kenapa lusuh kegini" Zanna meraba seluruh badan putranya, Raven hanya pasrah dan melamun seperti tak memiliki energi. Mungkinkan dia membutuhkan charge? tapi charge nya tak ada di sana.
__ADS_1
"ayo ikut mama sekarang kamu makan" Raven menggeleng namun Zanna tetap memaksanya ke meja makan.
"buka mulutnya.." titah Zanna, Raven hanya diam.
"Rav.. mama tahu kamu sedih tapi jangan kaya gini, kamu nggak kasihan sama diri kamu? nggak seharusnya kamu nyiksa diri kamu kaya gini nak. Udah, sekarang makan" Raven menatap mamanya sebentar lalu memakan suapan mamanya.
Di sisi lain, Aleta sudah duduk di meja makan sambil melamun. Rencananya hari ini Mala mengajak Aleta pergi ke pasar belanja bahan makanan. Kini mereka berdua sedang sarapan, hening.
"Al.." panggil Mala disela kunyahannya, sepertinya Aleta tak menjawab.
"Aleta, mama panggil kamu" Aleta mendongak menatap mamanya sambil mengunyah.
Mala menghembuskan nafasnya "mama mau pergi ke pasar membeli bahan makanan, apa kamu mau ikut?"
"mama aja yang beli, Al di rumah aja"
"nanti yang bantuin mama bawa-bawa siapa? kamu mau mama bawa banyak barang sendiri?" Aleta menghembuskan nafasnya dibarengi tersenyum.
"yaudah iya" Mala tersenyum lega mendapat jawaban putrinya, kemudian melanjutkan sarapan.
.
.
.
.
.
Hallo temen-temennn ketemu lagiii hehe
Gimana hari ini? pastinya kalian pada sehat dan bahagia terus yaa
Masih semangat nggak kalian nunggu kelanjutan cerita ini..
Jangan lupa Like yaa
Terimakasihh
Happy reading..
__ADS_1