
Sekumpulan orang suruhan Riki kembali ke basecamp dengan keadaan yang sedikit mengenaskan. Tidak menyangka bahwa teman musuhnya itu sangat jago bela diri, bahkan dirinya sampai kewalahan dibuatnya.
Di sana juga ada Qhia dan Parran yang memang bekerja di cafe yang dijadikan basecamp itu.
Melihat kegagalan Riki membuat Qhia ingin menertawai, tetapi ia memilih untuk menghindar dari Riki. Karena ia masih marah padanya.
"Nggak ekspek banget kalau temennya jago" ucap salah satu anak buah Riki.
"Gimana, Rik bayaran kami?" tanya orang satunya.
"Nanti gue TF, tenang aja"
"Yang penting gue udah berhasil bikin tu anak bonyok, tapi itu masih belum seberapa sebelum gue bener-bener berhasil dapetin Aleta lagi"
"Gue heran aja kenapa Raven nggak ikutan nyerang padahal dia juga jago"
"Bukannya anak itu polos? Tadi temennya teriak gitu"
"Dia nggak sepolos itu, asal kalian tau. Karena tu anak yang kemarin bikin gue bonyok"
"Serius, Lo?"
SKIP
"Kenapa Raven belum sampai rumah juga sih, katanya tadi udah otw?" gumaman kecil dari bibir cewek yang notabenya istri dari cowok bernama Raven Nandana Gibran tersebut sambil berulang kali melihat jam di layar genggamnya.
"Macet kali, Al, tunggu aja ntar juga sampai" ucap Fany.
"Iya juga ya? Tapi, perasaan gue nggak tenang gini dari tadi, ada apa ya?" Aleta tampak gelisah.
"Lo tenang dulu, bisa jadi lo nggak tenang gara-gara pembantu lo itu?" ujar Fany mencoba menenangkan.
"Mungkin juga sih, soalnya gue udah kesel banget sama bu Urmi. Kerjanya bagus sih, masakan dia juga enak tapi, yang jadi masalahnya itu dia kalau kumat seketika bikin gue darah tinggi sama kelakuannya" cerocos Aleta.
"Lo sabar aja, pelan-pelan pasti bu Urmi bakalan jinak kok. Lo harus percaya sama perkataan papa lo" kata Fany.
"Iya tapi, kapan?" tanya Aleta.
"Nona, nona!" pembantu itu datang dengan histeris.
"Ishh, ada apa lagi bu Urmi?" Aleta mendengus kesal melihat kedatangan pembantunya.
"Bu Urmi kenapa kaya orang panik gitu sih?" sahut Fany ikut bertanya.
"Gawat nona" kata pembantu itu lagi.
"Gawat kenapa? Cepetan ngomong yang jelas!" geram Aleta.
"Gawat! Di depan supir nona ganteng banget! Nggak kuat saya ditatap terus" kata pembantu itu dengan salah tingkah.
"ASTAGA BU URMI!! GUE KIRA ADA APA! Nggak tahunya kumat lagi sengkleknya!" sentaknya geram.
"Yaa habisnya dia lihatin saya terus, dia suka ya sama saya, makanya dilihatin terus?" tanya pembantu itu polos.
"Pak Safar lihatin ibu itu bukan karena dia suka sama bu Urmi tapi, karena dia lagi ngawasin bu Urmi jika sewaktu-waktu kumat" ucap Aleta.
"Tapi, nona-.." ucapan Urmi terhenti sebab terdengan suara yang mengalihkan pendengaran ketiganya.
"Non Aleta!" panggil Safar dari arah pintu utama.
"Ayo cepat bawa dia masuk!" titah Arga kepada Safar yang menggendong sahabatnya.
Melihat adegan di hadapannya, lantas Aleta berdiri mematung. Seolah semua organ dalam tubuhnya berhenti bekerja, dikala melihat suaminya digendong supirnya dengan keadaan pingsan.
"Rav..en? L-lo kenapa?" tanya Aleta sesampainya Raven, Arga dan Safar di hadapannya.
"Begitu dia parkir motornya, tiba-tiba dia jatuh dan pingsan" jelas Safar. Raven masih stay di punggung si supir.
"Rav?" tangan Aleta terangkat untuk melihat wajah suaminya yang tertutup rambut cowok itu.
"Astaga Tuan? Tuan tampan kenapa?" Urmi datang dengan rusuh.
"Lo ajak Raven ngapain? Godain cewek orang lagi?" tanya Fany pada Arga yang ada di sampingnya dengan tatapan tajam.
"Bukan! Nanti gue jelasin" ucap Arga pada Fany yang langsung menyerangnya.
"Raven, bangun! Lo kenapa bisa pingsan kegini, hm?" air mata sudah lolos jatuh di kedua pipi Aleta.
"Non Aleta, sebaiknya kita bawa Raven ke dalam" ujar Safar dan diangguki cepat oleh Aleta.
"I-iya, bawa dia ke kamar. Cepat!" sahut pembantu itu yang ikut khawatir dengan keadaan majikannya.
Kemudian Safar menggendong Raven ke kamar.
"Raven kenapa, Fan?" Aleta terus terisak mengadu pada sahabatnya. "Pantesan perasaan gue dari tadi nggak enak soal dia" sambungnya dengan suara bergetar.
"Lo tenang dulu, jangan nangis ya?" Fany menyeka air mata di kedua pipi sahabatnya.
"Iya kak, jangan nangis" sahut Arga membantu menenangkan.
"Bu Urmi, tolong ambilin kompres sama kotak P3K dan bawa ke kamar" titah Aleta pada Urmi.
__ADS_1
Pembantu itu mengangguk patuh, "Baik, nona" kemudian melenggang pergi.
"Arga, apa yang terjadi sama Raven? Cepat jelasin!" tagih Fany sembari mencengkeram kerah seragam milik Arga.
"Kakak tenang dulu, nanti gue jelasin" ucapnya.
"Lebih baik sekarang lo lihat kondisi suami lo dulu" ucap Fany pada sahabatnya setelah melepas kerah seragam cowok itu dengan kasar.
"Iya, suami gue? Kalian jangan pulang, tetap di sini ya? G-gue samperin Raven" ucap Aleta dengan suara bergetar. Kemudian melenggang pergi ke kamarnya.
"Jelasin sekarang, apa yang terjadi sama kalian sampai Raven pingsan?" tanya Fany lagi pada Arga.
"Tadi.."
.
"Apa Raven udah sadar?" tanyanya pada Safar saat papasan di depan pintu.
"Sudah, non, dia di dalam. Tadi suruh saya panggilkan non Aleta" ucap Safar sambil mengangguk.
"Baik, terimakasih pak" ucapnya kemudian masuk menemui suaminya. Safar berlalu pergi keluar.
"Raven? Apa yang terjadi, hm?" tanyanya khawatir setelah duduk di samping Raven yang sedang bersandar di punggung ranjang.
"Kak Aleta baik-baik aja kan? Nggak terluka? Dia nggak ke sini kan? Aku takut banget" cerocos Raven tiada henti.
Aleta mengernyit tak mengerti, "Dia siapa yang lo maksud?" tanyanya.
"Tadi, di jalan waktu aku sama Arga mau ke sini tiba-tiba kami dihadang tiga orang. Yang dua orang menghajar Arga. Orang yang satunya.." jelas Raven.
"Dia ngehajar lo? Siapa? Siapa yang udah bikin lo kegini, jawab?!!" potong Aleta.
"Ri-Riki" ucap Raven dengan suara lirih.
"Riki? Bener-bener ya tu orang, maunya apa sih?!" Aleta mendengus sebal setiap mengingat orang bernama Riki itu.
"Kak.." panggil Raven pada Aleta.
"Di mana yang sakit, hm?" tanya Aleta, menatap teduh kedua mata suaminya.
"Semuanya" jawab Raven sambil meringis merasakan sakitnya.
"Tahu gitu kenapa nggak bales pukul? Bukannya lo juga bisa bela diri?" tanya Aleta pelan. Cowok itu menggelengkan kepala.
"Aku, aku takut. Mereka serem-serem" ucap Raven sambil menunduk.
"Astaga, Raven!" tangannya memukul dada bidangnya, membuat Raven meringis kesakitan sambil memegang dadanya.
"Sakit kak!" pekik Raven.
"Eum.. Bu Urmi mana sih suruh kesini kok lama banget" Aleta menarik telapak tangannya dari dada Raven.
"Gini aja, kak" Raven menarik lengan Aleta, membuat tubuh Aleta terhuyung ke depan dan bibir mereka bersentuhan. Cukup lama. Raven memejamkan kedua matanya, Aleta melototkan matanya terkejut dengan pergerakan spontan Raven.
Awalnya tadi Raven hanya ingin menarik kembali tangan Aleta yang memegang dadanya tapi, ternyata ia terlalu kuat menarik lengan Aleta. Membuat keduanya kembali merasakan kelembaban bibir keduanya.
.
"Beneran bisa diandelin nggak sih tu pembantu?" tanya Arga pada Fany yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Urmi di dapur sana.
"Sejauh ini sih bisa" ucap Fany sambil mangguk-mangguk.
"Bu, bu! Sini deh bentar" panggil Arga saat Urmi berjalan melewatinya.
"Ada apa Tuan tampan? Apa ada yang bisa yayang Urmi bantu?" tanya Urmi pada Arga setelah mendekati Arga.
"Idih si najis, idih idih si najis" batin Arga merasa geli.
"Mau dibawa ke kamar Raven ya?" tanya Arga.
Wanita itu mengangguk, "Betul sekali"
"Boleh pinjam bentar nggak, buat kompres luka di wajah saya?" tanya Arga lagi. Pembantu itu nampak menimbang-nimbang keputusannya.
"Tapi, nona Aleta menyuruh Urmi buat bawa ke kamar segera" ujar Urmi.
"Bentaran doang, masa nggak boleh sama cowok ganteng kaya saya?" ucap Arga dengan tatapan dibuat memohon.
"Tentu saja boleh, silahkan Tuan. Apa perlu yayang Urmi bantu kompreskan?" ucap wanita itu dengan senang hati menawarkan bantuan.
"Bole-.."
"Eh jangan! Biar saya aja bu" potong Fany seraya mengambil nampan yang dibawa Urmi.
"Kak Fany beneran?" tanya Arga memastikan.
"Iya. Biar bu Urmi ambil lagi buat Raven" bisik Fany.
"Serius cuma karena itu?" Arga memincingkan matanya merasa tak yakin dengan jawaban cewek itu.
"Iya lah, apa lagi?" ucap Fany memberikan boombastic side eyes pada cowok itu.
__ADS_1
Arga menggeleng, "Bukan apa-apa, yaudah bu, ambilkan lagi air untuk Kak Aleta" pintanya pada Urmi.
Urmi mengangguk, "Baiklah, yayang Urmi permisi dulu" kemudian kembali ke dapur mengambil air yang baru.
"Yayang-yayang, Asu! Jyjyk banget gue dengernya" Arga mendengus sebal dengan panggilan aneh pembantu di rumah sahabatnya ini.
"Kualat loh ngatain orang tua" tegur Fany sambil terkekeh pelan.
"Biarin, lagian aneh banget" ucapnya.
"Yaudah nih, kompres sendiri" Fany memberikan nampan di tangannya kepada Arga.
"Katanya tadi mau dikompresin?" tanya Arga setelah nampan itu berada di tangannya.
"Nggak jadi"
"Lah? Ikutan jadi bu Urmi, ya?" tanya Arga.
"Enak aja kalau ngomong!" sembur Fany sewot.
SKIP
Urmi membawa nampan berisikan wadah yang di dalamnya air dingin itu ke kamar majikannya. Atas perintah Aleta sebelumnya.
"Ini air dinginnya, nona, Tua-.. Astaghfirullahaladzim!" begitu masuk, Urmi melihat pasutri muda itu sedang bercumbu, hampir saja benda yang ia bawa terjatuh.
"Bu Urmi?" beo keduanya bersamaan setelah melepas perekat mereka dan melihat keberadaan Urmi yang berjalan ke arahnya.
"Ma-makasih bu" Aleta menerima nampan dari tangan Urmi lalu Aleta letakkan di meja depannya.
"S-saya kembali ke luar. Maaf mengganggu waktu kalian. Pe-permisi" pamit pembantu itu dengan terbata, masih syok dengan yang baru saja ia lihat.
"Maaf.." Raven menatap selimut yang ia remas di pangkuannya.
"Lagian lo sih main nyosor aja. Untung yang lihat bu Urmi, kalau Fany atau Arga tadi gimana? Bisa heboh pasti" cerocos Aleta. Cowok itu masih di posisi yang sama. Meremas selimutnya, Raven menggigit bibir bawahnya. Bibir Aleta masih terasa di sana.
"Yaudah sini, angkat wajahnya biar gue kompres" titah Aleta seraya mengangkat handuk kecil yang sudah ia celupkan di air dingin. Dan mulai ia tekan-tekan di luka suaminya.
"Pelan-pelan.." ucap Raven saat Aleta menempelkan handuk itu ke lukanya.
"Iya, ini udah pelan" Aleta menekan dengan perlahan dan sesekali ikut meringis.
"Sssakitt, Kak!" pekik Raven saat merasakan sakit pada luka di pipinya.
"Mau dipanggilin dokter?" tanya Aleta.
"Nggak mau! Gini aja udah sembuh" lirih Raven, membawa tangan Aleta ke wajahnya.
"Beneran?" Raven mengangguk, lalu Aleta melanjutkan mengompres wajah suaminya dengan telaten.
"Bentar, gue mau balikin ini" ucap Aleta setelah selesai dengan ritualnya.
"Di sini aja" sergah Raven mencekal lengan Aleta yang sudah berdiri agar tak pergi meninggalkannya.
Aleta menatap kedua netra di depannya dalam, Aleta membatin. "Jujur, gue mulai kecanduan sama bibir lo. Ingin rasanya tiap detik gue rasain rasa manis itu" sorot matanya tertuju pada bibir pink pucat suaminya.
"Kakak kenapa melamun? Duduk sini" tunjuk Raven di kasur sebelahnya, membuyarkan lamunan Aleta.
"Lo ganti baju dulu kalau mau rebahan, lagian baju lo kotor kena aspal kan?" ucap Aleta melepas cekalan tangan Raven di tangannya.
"Iya, hhehe.." kekehnya.
"Gue bantu ambil baju, lo lepas seragam lo nanti gue cuci" titah Aleta, menaruh kembali nampannya dan berjalan ke lemari berada.
Raven mengangguk patuh, sembari melepas kancing seragamnya.
"RAVEN!! Ngapain lo telanjang di depan gue?!" pekik Aleta kaget saat membalik badan melihat cowok itu sudah bertelanjang dada. Aleta menutup matanya erat-erat.
"T-tadi katanya suruh lepas?" ujar Raven dengan tampang polosnya.
"Ya nggak sekarang juga! Tunggu gue keluar dulu!" ucap Aleta masih memejamkan matanya.
"Kenapa? Lagian kita kan udah nikah, jadi sah-sah aja kalau lihat tubuh masing-masing" ucap Raven memakai kembali seragam sekolahnya.
"Pakai lagi seragam lo! Dan jangan dilepas sebelum gue keluar." titah Aleta berjalan pelan mendekati Raven. Matanya ia buka sedikit untuk melihat ke lantai.
"Nih, pake! Gue tunggu di luar, kalau udah panggil gue aja" Aleta melempar pakaian Raven asal kemudian berlari keluar.
"B-baiklah" jawab Raven dan segera berganti baju.
.
.
.
Pokoknya jangan lupa Like Komen dan Vote, yaa..
Follow akun aku juga🤗
Makasih yang masih mau bertahan sampai episode ini, pokoknya aku sayang kalian banyak-banyak🥰
__ADS_1
Aku minta maaf juga kalau lama update, tapi aku pastiin akan tetap lanjut😇🫶
Share juga ke temen-temen kalian biar pada ikutan baca, hehee