
Cerita A&R update lagi yaayy!!
Masih semangat dong pastinya buat baca hehee..
Semangat puasanya! Bagi yang menjalankan😊
Oke!
Happy Reading!
.
.
.
Sesampainya di rumah.
Aleta masuk lebih dulu meninggalkan Raven yang masih di belakangnya. Semua pertanyaan yang cowok itu berikan sejak diperjalanan tadi sama sekali tak diberi jawaban olehnya.
"Al pulang..." teriak Aleta saat memasuki rumah.
"Kak Aleta, tunggu!.." Raven berlari dari belakangnya.
"Jangan lari-larian, nanti jatuh." tegur Mala yang berjalan ke arah mereka dan Raven hanya cengengesan.
"Yaudah, kalian segera ganti baju terus makan siang. Mama udah siapkan." titah Mala dan diangguki keduanya.
Aleta berjalan lebih dulu dan diikuti Raven di belakangnya.
Sesampainya di depan pintu kamar, Aleta akan membuka pintu itu, namun lengannya lebih dulu dicekal oleh Raven.
"Ada apa?" tanya Aleta setelah membalik badan menghadap Raven.
"Kak Aleta belum jawab pertanyaan dari aku."
"Pertanyaan apa?"
"Soal... Yang tadi... Di.. Sekolah. Yang Kak Aleta bilang ke aku." Raven berbicara dengan terputus-putus.
"Ap-apa? Lupain aja, gue mau ganti baju dulu. Lo juga ganti gih. Nanti Mama kelamaan nunggu. Bye.." setelah itu Aleta melepas genggaman Raven dari tangannya, kemudian masuk ke kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu itu.
"Aku akan bertanya lagi sebelum Kak Aleta kasih aku jawaban yang jelas!." teriak Raven dari luar dan tentu saja bisa didengar oleh Aleta.
Kemudian Raven masuk ke kamarnya yang berada di samping kamar Aleta.
SKIP
Malamnya, setelah makan malam. Aleta mengunci dirinya di kamar, sedangkan Raven juga di kamarnya. Seperti biasa yang dilakukan anak sekolah di malam hari adalah.. Belajar. Meski tak yakin setiap anak sekolah melakukannya.
Saat Aleta sedang memakai skincare rutinnya dan Raven di kamar tengah belajar (mungkin). Tiba-tiba listrik di rumah itu mati. Bagi Aleta tidak apa-apa karena ia tidak takut gelap. Yang jadi masalahnya sekarang adalah penghuni kamar di sebelah.
Yaa, Raven. Anak itu ternyata sangat takut gelap. Bukan takut akan kegelapan, melainkan ia takut akan ada sesuatu pada kegelapan tersebut.
Alhasil, tak lama setelah lampu di kamarnya tiba-tiba mati. Cowok itu berteriak histeris. Sampai membuat Aleta terlonjak kaget sambil menyalakan lilin di mejanya untuk melanjutkan pemakaian skincare nya.
Kedua orangtuanya mungkin sudah tidur jam segini. Dan mungkin tidak menyadari bahwa sedang mati lampu, dikarenakan di kamar dua pasangan suami istri itu dipasang lampu yang tetap menyala saat listrik mati.
Ritual perskincare an sudah selesai dan Aleta akan menaiki kasurnya. Namun, baru naik satu kaki ke ranjang. Ia harus berhenti sebab terdengar suara teriakan yang sedari tadi ia dengar tapi belum juga hilang.
"Raven lagi ngapain sih, teriak-teriak?." gumam Aleta sambil berjalan ke pintu dan akan membukanya dengan membawa senter lewat ponselnya.
Sedangkan di kamar sebelah, ternyata Raven berada di dalam kamar mandi saat mati lampu. Jujurly, ia sangat takut gelap. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak minta tolong. Cowok itu berdiri sambil menempelkan punggungnya ke tembok dengan sangat ketakutan. Bahkan tubuhnya sampai bergetar.
__ADS_1
Tok tok tok -ketukan dari balik pintu kamar Raven.
"Raven? Lo kenapa?" teriak Aleta dari luar, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban dari si pemilik kamar.
Dan.. Raven terus saja berteriak, semakin lama teriakannya semakin melemah.
"Mamaa huaaa tolongin Ravenn.. Takutt.. Mamaa.."
Kira-kira seperti itulah teriakan Raven yang terdengar di telinga Aleta.
"Lo ngapain Rav?" teriak Aleta sekali lagi dan dengan terpaksa ia membuka pintu itu, kemudian menyorot ruangan gelap itu menggunakan senter dari ponselnya.
Aleta melangkah masuk dengan perlahan, mencari keberadaan pemilik kamar dan mencari sumber suara.
"To..to..long.." suara Raven terdengar melemah dan Aleta berjalan mendekat ke pintu kamar mandi itu.
Kemudian mencoba mengetuk pintu itu.
Tok tok
"Raven? Apa lo ada di dalam?"
Seketika netra cowok itu menatap ke pintu yang memperlihatkan bayangan hitam. Mungkin karena efek dari senter Aleta.
"Si-si-siapa?"
"Ini gue! Lo ngapain gelap-gelap di kamar mandi?"
"Huaa Kak Aleta.. Tolongin akuu.. Takutt.. Di sini gelap.." rengekan dari dalam kamar mandi. Dan Raven sama sekali tidak berani bergerak, ia diam di tempat.
Lalu Aleta ingin membuka pintu itu, namun pintunya terkunci dari dalam.
"Buka pintunya, Rav.. Lo kunci dari dalam."
"Nggak ada apa-apa, cepetan buka! Lo mau di dalam sampai pagi?"
"Tapi Kak Aleta tetap di sini?"
"Iyaa, gue tetap di sini."
"Baiklah, akan aku buka."
Raven mulai melangkahkan kakinya bergantian mendekati pintu kamar mandi. Perlahan tapi pasti, dengan merayap di tembok akhirnya ia sampai di depan pintu. Lalu mencari si kunci, dirasa sudah ketemu ia langsung memutar kunci itu dan pintu berhasil terbuka.
GRAP!
Raven langsung memeluk seseorang yang pertama ia lihat setelah pintu terbuka. Aleta merasakan getaran dari tubuh orang yang memeluknya. Gemetar karena ketakutan.
"Takut.. Di sana gelap.." lirihnya dengan suara gemetar sambil mengeratkan dekapannya.
Perlahan tangan Aleta terangkat ke punggung Raven dan menepuk punggung itu supaya lebih tenang. Dirasa sedikit tenang, Aleta mengajak Raven untuk duduk di pinggiran kasur. Dengan Raven yang masih memeluknya, walaupun agak susah berjalan dengan posisi seperti itu.
"Duduk dulu." Raven duduk diikuti Aleta dan kembali memeluk cewek itu.
"Lepas dulu ya? Gue mau ambil lilin di kamar gue. Lo tunggu di sini." ucap Aleta dan Raven menggeleng cepat.
"Biar ada cahaya, Raven.."
"Takut sendirian.." lirihnya.
"Yaudah, ayo ikut kalau takut sendiri." ucap Apeta seraya melonggarkan pelukan Raven darinya.
Raven mengangguk, "Janji ya jangan ditinggal?"
__ADS_1
"Yaa.."
Kemudian Aleta berjalan keluar diikuti Raven di belakangnya sambil memegang ujung pakaian Aleta.
.
"Udah terang kamar lo, gue balik ke kamar ya?" ucap Aleta setelah berhasil menyalakan lilin di meja kamar Raven.
"Yeayy! Terimakasih Kak Al. Maaf karena udah ganggu Kak Aleta malam-malam." ucapnya sambil menunduk. Seperti biasanya.
"Nggak apa-apa. Dasar penakut."
"Bukan penakut, cuman nggak berani aja kalau berada di ruang gelap." kekeh Raven setelah mengangkat wajahnya menatap Aleta.
"Sama aja! Yaudah, kalau gitu gue tinggal ya?"
"Nggak mau! Di sini aja temenin aku, ya?" pinta Raven sambil memeluk lengan Aleta.
Melihat Raven memohon padanya, membuat jantungnya tidak karuan. Aleta membatin. "Astaga kenapa dia terlihat menggemaskan sekali. Bikin gue nggak mau ninggalin dia."
"Gue temenin, sampai listriknya hidup. Setelah itu gue pergi." Raven mengangguk cepat.
Tangan Aleta terangkat sedikit ragu, tak lama mendarat di kepala Raven, dan mengelus rambut itu dengan lembut. Membuat Raven menatapnya sambil tersenyum sangat manis.
"Aku udah lebih tenang sekarang, karena Kak Aleta di samping aku." Aleta tersenyum menanggapi.
"Tadi lo ngapain di kamar mandi, sampai mati lampu lo teriak-teriak?"
"Biasa Kak, dapet panggilan alam. Hehee.." kekehnya.
(Aleta menguap, ia mengantuk)
Sekarang sudah pukul 11.40 pm dan listrik di rumah itu tak kunjung hidup. Bahkan lilin di hadapan mereka sudah menyusut dan hampir padam.
Aleta sudah tidak bisa menahan kantuknya, sedangkan Raven sepertinya sudah tidur di sandarannya, masih memeluk lengannya.
Kemudian Aleta mencari wajah Raven dan menemukan ternyata sudah memejamkan mata.
Ingin membangunkan, tapi Aleta tak tega. Kemudian ia merebahkan tubuh Raven perlahan dengan lengannya yang masih dipeluk erat olehnya.
"Berat banget sih lo." gumam Aleta setelah berhasil merebahkan tubuh itu, kini saatnya ia menarik lengannya dari genggaman Raven.
"Aduuh.. Nggak mau dilepas lagi, gimana gue balik ke kamar kalau kegini?" gumamnya. Sambil berusaha menarik lengannya.
"Rav.. Lepasin tangan gue, gue mau tidur." Aleta berbisik kepada orang yang tengah tertidur sangat pulas itu.
Namun, bukannya dilepas, si empu malah semakin mengeratkan pelukannya ditambah ia sekarang menarik lengan Aleta hingga membuat Aleta terjatuh di atasnya.
Aleta terkejut saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Raven. Meski orang di bawahnya sedang memejamkan mata, masih terlihat manis menurutnya.
Gawat! Rasa kantuk kembali menyerangnya, ia tak bisa menahan kantuknya. Dan pada akhirnya tubuhnya terjatuh di atas cowok itu.
Bayangkan sendiri bagaimana posisi mereka. Kepala Aleta terjatuh di dada bidang milik Raven.
.
.
.
Ciee mereka tidur bareng lagi..
Ada yang masih ingat nggak, kapan mereka tidur bareng dan apa yang terjadi setelahnya? eum.. kira-kira tidur bareng yang sekarang bakal seperti apa yaa?
__ADS_1
Next? Coba komen yang pengin lanjut siapa ajaa..