
UP LAGI NIHH..
SIAPA AJA YANG UDAH NUNGGU EPS SELANJUTNYA? COBA ANGKAT KAKI, eh? ANGKAT TANGAN MAKSUDNYA HEHEE
LIKE DULU DONG SEBELUM BACAš
(2000 kata)
HAPPY READINGā”!!
.
.
.
Di kelas XII IPA 1
Aleta tengah mencatat materi yang tadi diterangkan oleh guru. Sedangkan Fany menunggunya untuk menanyakan banyak hal kepadanya.
Sungguh, Fany merasa dirinya sebagai sahabat tidak tahu apapun soal yang terjadi pada Queen-nya.
Dirasa Aleta hampir selesai mencatat, kini saatnya ia mulai mewawancarai sahabatnya itu.
"Al, gue mau tanya deh."
"Tanya apa?" jawab Aleta sambil memasukkan bukunya ke tasnya. Kemudian menatap Fany.
"Gue ngerasa nggak tahu apa-apa sumpah sebagai sahabat lo."
"Kenapa gitu?"
"Yaa gue ngerasa kalau gue sebagai sahabat tuh kek nggak tahu apapun tentang lo gitu."
"Maksudnya gimana sih? Coba deh, katakan dengan bahasa yang lebih bisa difahami."
"Huft. Sebenarnya gue tuh tipe orang yang nggak suka nanya soal urusan orang lain. Tapi karena ini sudah sangat mengganggu fikiran gue dan sudah merajalela rasanya. Gue terpaksa harus bertanya sama lo."
"O-oke. Lo mau nanya soal apa?"
"Soal... Hubungan lo sama adkel itu." Aleta mengernyit tak mengerti kemudian segera diperjelas oleh Fany.
"Soal lo sama Raven. Kalian punya hubungan apa sebenarnya? Kenapa setiap lo ilang, Raven selalu yang mencari lo. Dan lo juga, saat ada cewek yang deketin Raven, lo kayak nggak suka dan pergi gitu aja. Sebenarnya ada apa? Please kasih tahu gue, gue maksa nih. Soalnya ini tuh udah mengganggu tidur, makan, belajar, bahkan sampai ke pekerjaan gue." cerocos Fany tiada henti.
Aleta hanya terkekeh mendengar sahabatnya itu yang mulai cerewet.
"Fany, bukannya gue nggak mau curhat sama lo. Gue cuman nggak mau nambahin beban lo, itu aja. Dan soal gue sama Raven memang ada sedikit hubungan sih tapi untuk saat ini kami cuman temenan, nggak lebih. Dan untuk yang lebih detailnya, mungkin gue belum bisa ceritain ke lo. Gue harap lo ngerti, ya?."
"O-oke. Jadi kalian berdua masih temen? Kenapa nggak pacaran aja?"
"Emangnya gue sama dia terlihat cocok? Umur kami bahkan beda dua tahun, dan gue yang lebih tua dari dia."
"Nggak apa-apa weh, sekarang tuh lagi jamannya pacaran sama berondong. Lo kalau udah punya jangan disia-sia in. Dan gue juga tahu dan yakin seyakin-yakinnya kalau dia cowok baik. Banget malah." ucap Fany dengan yakin.
"Bahkan orang lain pun tahu kalau lo cowok baik." batin Aleta yang semakin dibuat takjub oleh seorang cowok bernama Raven Nandana Gibran.
"Kata Arga juga dia belum pernah pacaran. Jadi bisa dibilang dia cowok baik-baik dan dari sudut pandang gue, Raven tuh tipe cowok polos dan lugu. Lo mesti beruntung sih bisa sama dia, karena cowok kegitu tuh lebih penurut dan bisa diandalkan."
"Kok lo jadi bijak gitu sih?"
"Bukannya jadi bijak, tapi emang gue udah bijak dari dulu, Aleta!. Lo nya aja yang baru sadar"
"Thanks Fan, lo udah jadi sahabat terbaik gue. Love you Bestie!"
"Love you more, Bestie!"
Mereka berua berpelukan layaknya teletubis yang hanya berjumlah dua.
SKIP
Pulang sekolah.
"Raven. Lo pulangnya sama siapa?" tanya Bella yang sudah berdiri di bangku depan Raven. Sedangkan Raven masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tas miliknya.
Arga berdiri di tengah-tengah pintu kelas, dan sesekali diomeli oleh murid cewek karena merasa jalan mereka terhalang oleh tubuhnya.
"Aku pulangnya... Kenapa ya Bell?" jawabnya setelah berfikir sejenak untuk tidak mengatakan bersama siapa dia pulang.
"Enggak, gue cuman mau ngajak lo ke toko buku. Gue mau beli buku gambar, kan minggu depan pelajaran Seni Budaya disuruh menggambar." jelas Bella.
"Oh iya?. Aku juga belum beli pensil warnanya."
"Gimana kalau kita beli sama-sama? Sekalian biar ke beli semuanya." usulnya dan terdapat akal bulus di baliknya.
"Tapi Bell, aku nggak mau kalau cuman kita berdua. Aku boleh ajak Arga? Pasti dia juga belum beli." tanya Raven.
Bella berfikir sebentar dan terpaksa mengiyakan walau merasa tidak setuju kalau Arga itu harus ikut. Niatnya biar bisa jalan berdua malah ada pengganggu si Arga itu. Tapi tak apalah, yang penting ajakannya kali ini diterima.
Kemudian Raven berjalan menghampiri Arga yang masih berdiri menghalangi pintu.
"Ga! Lo mau nggak ikut kami?"
Merasa terpanggil, si empu menoleh. "Ikut ke mana?"
__ADS_1
"Ke toko buku buat beli peralatan menggambar buat minggu depan." ucap Raven.
"Sekarang?"
"Tahun depan! Ya sekarang lah, gimana sih." sewot Bella.
"Hei. Santai dong girl, oke gue ikut. Bukan karena gue tertarik buat beli alat-alat menggambar itu, tapi gue mau awasi lo supaya nggak deket-deket sama Raven!." diakhiri melirik tajam ke Bella.
"Dan lo Rav, lo harus izin dulu sama Kak Aleta kalau lo mau pergi. Jangan sampai kakak itu hilang lagi karena cemburu." lanjut Arga.
"Iya Ga, nanti aku minta izin."
"Tapi kalau nggak diizinin nggak usah ikut Bella. Mungkin kakak itu yang bakalan ngantar lo beli." lanjut Arga.
"Kok gitu? Kan gue yang ngajak Raven. Kenapa jadi harus minta izin segala sih elah ribet amat." sewot Bella (lagi).
"Lo-diem!" tekan Arga ke arah Bella.
"Apasih! Nanti kalau nggak diizinin, lo harus maksa biar diizinin." ucap Bella kepada Raven.
"Jangan Rav! Lo harus nurut sama kakak itu kalau lo nggak mau lihat dia ilang lagi." sahut Arga tak setuju.
"Terserah Raven lah mau pergi ke manapun-sama siapapun. Toh juga tu kakel nggak ada hubungan apa-apa sama Raven." cerocos Bella dengan yakin.
"Nggak ada hubungan yaa? Oohh lo belum tahu aja kalau Raven sama kakak it-..." sebelum Arga meneruskan ucapannya, buru-buru dipotong oleh Raven.
"Arga-Arga sudah cukup! Cukup! Ayo kita keluar."
"Awas aja lo Bella!" peringat Arga sebelum menjauh meninggalkan Bella. Karena tangannya ditarik paksa oleh Raven.
"Dasar Arga sialan!" desis Bella sebelum segera berlari menyusul kedua cowok di depannya.
.
Kali ini Fany pulang diantar oleh Aleta, tentu saja karena paksaan dari Aleta dan terpaksa mengiyakan.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil Aleta. Tinggal menunggu satu penumpang yang belum datang.
"Jadi Raven tinggal di rumah lo? Kalian tinggal serumah? Waaww Impresif.." pekik Fany tak percaya dengan yang baru saja ia dengar.
"Apasih Fan, nggak usah lebay deh. Lo udah tahu kan sekarang hubungan gue sama Raven itu gimana? Jadi lo harus bisa jaga rahasia ini, oke?!" ucap Aleta.
"Heem! Rahasia lo insya Allah aman di tangan gue. Fany Gayatri!"
"Nice!"
Yap! Aleta sudah menceritakan semuanya kepada Fany. Mulai dari saat pertama kali dirinya bertemu dengan Raven, dijodohkan, dan hubungan mereka sekarang. Ia ceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan satupun. SEMUANYA. Mereka memang sahabat sejati.
Namun, ada satu yang belum Fany ceritakan kepada sahabatnya. Yaitu soal keadaan neneknya yang masih sakit, Fany harus bekerja ekstra. Untuk merawat neneknya, membiayai pengobatan sang nenek dan membiayai sekolahnya sendiri, serta harus belajar karena sebentar lagi ia akan lulus. Dan entah apa yang akan terjadi padanya setelah lulus, mampukah dia menanggung biaya kuliah yang jumlahnya berkali lipat dibanding di SMA.
Ditambah ia memiliki sahabat yang sangat baik dan selalu bersedia membantunya bila terdapat masalah dengan ekonominya. Sungguh beruntung sekali dirinya.
Tak lama terlihat orang yang mereka tunggu akhirnya berjalan mendekat. Terlihat ada dua orang yang berjalan di belakangnya. Dan itu sedikit membuat senyum Aleta luntur tatkala melihat seorang cewek yang tak ia sukai muncul di belakang cowok itu.
"Ngapain tuh parasit ngintil?!" gerutu Aleta dalam hati sambil menatap tak suka ke arah cewek itu.
"Itu di belakangnya Raven ada Arga sama cewek, siapa?" Fany menyipitkan matanya menatap Raven beserta cewek yang berjalan di belakang Raven.
"Bella. Cewek yang selalu deketin Raven! Pengen banget gua sentil empedunya." gerutu Aleta geram.
"Buehh ngeri! Tapi dia cantik juga." Fany bergumam sambil terus menatap si Bella.
"Lebih cantikan juga gue." Aleta membatin. Membatin saja, bisa malu kalau sahabatnya itu mendengar.
Raven sudah berdiri di samping mobil, perlahan Aleta membuka kaca itu lalu Raven sedikit membungkukkan badannya untuk bisa melihat ke dalam.
"Ada Kak Fany? Hai Kak.." sapa Raven ramah setelah melihat siapa yang duduk di samping Aleta.
"Hallo maniss.."
"Lama banget sih, ngapain aja?" tanya Aleta sedikit ketus.
"Maaf Kak, tadi aku ngobrol bentar sama Arga dan Bella." jawabnya lirih.
"Yaudah masuk cepat!" titah Aleta namun sepertinya cowok itu ingin mengatakan sesuatu.
"Kak Al."
"Apa lagi? Buruan masuk!"
"Aku mau minta izin buat keluar sebentar sama Arga dan Bella. Mau-.." perkataannya terhenti karena Aleta memotongnya.
"Ke mana? Awas kalau kelayapan."
"Enggak, bukan! Kami mau pergi ke toko buku buat beli peralatan menggambar."
"O-oke, tapi sama Arga kan? Nggak berdua doang sama tu Boneka Hantu?" tanyanya memastikan.
Raven mengernyit tak mengerti. "Boneka, apa Kak?"
"Lupain aja. Yaudah sana kalau mau pergi, gue tunggu di rumah. Abis dari sana langsung pulang, jangan kelayapan." remember dari Aleta dan diangguki olehnya.
"Siap Kakak!!"
__ADS_1
"Arga?!" teriak Aleta memanggil Arga, kemudian yang dipanggil berjalan mendekatinya.
"Iya Kak? Panggil gue?"
"Tolong lo awasi tu cewek supaya nggak modus sama Raven! Kalau ada apa-apa segera kabarin gue!" bisik Aleta dan sekilas melirik cewek yang berdiri tak jauh dari Arga dan Raven.
"Siap komandan!"
"Gue pulang duluan, kalian hati-hati.." pamit Aleta kepada dua cowok itu.
"Dadaahh kakak cantik." Arga menjawab.
Membuat Raven meliriknya sambil menyipitkan mata tanda tak suka. "Kamu tadi bilang apa, Ga?"
"Kakak cantik. Emang kenapa?" dan Arga mengulangi ucapannya.
"Nggak apa-apa" lirihnya setelah memalingkan wajahnya ke bawah.
"Cemburu yaa? Tenang aja, gue nggak bakalan embat Kak Aleta. Masa udah tahu milik sahabat malah diambil? Gue nggak se f*ck itu, Bro!" ujar Arga seraya menepuk pundak sahabatnya itu.
"Iya, aku percaya."
.............................
Toko Buku
"kata gurunya tadi buku gambarnya yang ukuran A3 ya?" tanyanya basa-basi kepada Raven. Padahal ia sudah tahu.
"Iya. Aku udah punya bukunya, jadi tinggal beli pensil warnanya saja." jawabnya sambil memilih pensil warna yang tersusun rapi di rak depannya.
"Oalah oke. Gue juga mau beli pensil warna. Gimana kalau kita belinya samaan?" usul Bella.
"Boleh. Aku mau beli yang ukuran kecil aja yang isi 12. Biar lebih hemat juga pengeluarannya."
"Ternyata lo itu selain baik, lo juga suka menghemat dan tak menghamburkan uang." puji Bella yang semakin dibuat takjub oleh cowok lugu itu.
"Enggak, biasa aja. Aku hanya melakukan apa yang mamaku ajarkan." jawab Raven dengan kejujurannya.
"Pasti mama lo orang baik, buktinya sifatnya menurun ke lo."
"Aamiin. Makasih Bella."
Saat keduanya memilih untuk membeli peralatan menggambar. Arga malah duduk santuy di kursi sambil memantau kondisi, jika saja Bella berani macam-macam dengan Raven.
"Arga, kamu beneran nggak beli sekalian?" Raven bertanya untuk kesekian kalinya kepada sahabatnya itu.
"Nggak perlu." jawabnya singkat.
"Kenapa? Minggu depan harus sudah dikumpulkan lohh."
"Dengerin ya. Gue tuh punya sahabat, gunanya sahabat itu menolong dan membantu sahabat lainnya. Seperti yang gue lakuin sekarang ini. Yaitu menggunakan pertemanan di saat keadaan genting. Contoh kecilnya nih ya, gue nggak punya buku gambar dan nggak punya pensil warna. Nahh.. Barulah sahabat gue nolong gue, ya nggak?" cerocos Arga yang berlagak sok bijak.
"Sama aja lo manfaatin pertemanan!" sembur Bella sewot.
"Kamu nggak boleh seperti itu, Arga. Yang namanya teman atau sahabat memang harus saling membantu, bukan berarti selalu menyusahkan teman. Itu tidak baik, Arga." Raven mencoba memberikan pencerahan untuk sahabatnya itu.
Arga nampak berfikir sejenak, kemudian ia bermonolog dalam hatinya. "Ini gue lama-lama bakal jadi murid teladan kalau deketan sama Raven. Ahh tapi yang dia omongin ada benernya juga, nggak seharusnya gue selalu manfaatin temen. Kenapa gue jadi positif vibes gini sih elah!"
Melihat Arga melamun membuat Raven bingung. Lalu ia mencoba menyadarkan lamunan sahabatnya itu dengan menariknya ke tempat buku gambar berada.
"Nih! Kamu beli sekalian, biar nanti nggak repot pinjam. Lagian kalau punya buku sendiri itu lebih enak loh, cobain deh." titahnya setelah tiba di rak buku berada.
"Ini.. Beneran? Gue beli?" ujarnya sedikit ragu sambil menunjuk ke rak buku.
"Iyaa.. Ayo pilih salah satu sama yang lain juga yang kamu belum punya apa aja?"
"Gue cuman punya penghapus doang sih, itupun hasil mutilasi punya lo." gumamnya asal sambil mangguk-mangguk.
Raven terkejut dengan yang baru saja ia dengar. "Pantesan penghapus aku kayak kepotong gitu, ternyata kamu yang bikin?"
"Iya hehehee.. Maafin ya.."
"Nggak apa-apa. Kamu pilih cepat, aku mau bayar punyaku dulu."
"Gue ikut ya, Rav?" sahut Bella dari belakang mereka.
"Ayo Bell." kemudian Bella dan Raven membayar lebih dulu belanjaan mereka.
"Baru kali ini gue punya teman yang bener. Yang pernah-pernah sih pada sesad semua, malah gue yang kaya begini dikata terlalu baik menurut mereka. Giliran sama Raven, gue yang ngerasa paling sesad. Hadehh.." batin Arga seraya mengangkat buku gambar yang akan ia beli. Kemudian segera menyusul sahabatnya.
.
.
.
Gimana sama episode ini?? apa ada yang mau tulis pendapatnya?
Mohon maaf kalau ada typo.
Next? coba komen yang mauu
Like nya jangan sampai lupaš”
__ADS_1
.