
Perjalanan ke rumah Fany.
"Gimana keadaan nenek lo?" Aleta bertanya, dan itupun membuat Fany sedikit sulit untuk menjawab.
"Hah? Ne-nenek baik." jawab Fany terbata sambil berusaha membuang muka.
"Alhamdhulillah, gue seneng dengernya. Semoga nenek lo selalu diberikan kesehatan sama Tuhan." ucap Aleta terdengar tulus.
"Aamiin. Makasih, Al."
"Kalau lo butuh sesuatu, bilang aja sama gue. Gue selalu siap bantu lo kapan aja."
"Iya Al, pasti. Lo emang sahabat terbaik gue. Makasih udah mau temenan sama gue yang derajatnya lebih rendah diantara anak-anak yang lain."
"No! Jangan pernah sekalipun lo berfikir kegitu. Harus bersyukur masih dikasih sehat setiap harinya."
"Heem."
.
Setibanya di depan gang. Sayangnya mobil tidak bisa masuk karena jalannya terlalu sempit, hanya bisa dimasuki motor/sepeda saja. Jadi, Fany harus berjalan kaki bila diantar pulang oleh sahabatnya. Dan jarak ke rumahnya juga lumayan dekat.
"Makasih Al, udah nganterin gue. Dan maaf, gue nggak bisa ajak lo ke rumah gue karena mobil nggak bisa masuk." ucapnya merasa tak enak hati.
"Ngeselin banget nih gang! Kenapa nggak dilebarin aja sih.. Awas aja ntar kalau gue jadi presiden, bakalan gue renovasi ini gang biar muat dimasukin pesawat." gerutu Aleta geram sambil menatap tajam gang di depannya.
"Aamiin.. Semoga berhasil, hahahaaa.." kekeh Fany.
"Gue serius, Fan! Pengin banget gue main ke rumah lo tapi males jalan kaki."
"Yaudah, lain kali ajak Raven aja. Kan dia punya motor." usulnya.
"Ap-apasih lo. Ngapain bahas dia.." Aleta membuang muka sambil merasakan panas di pipinya.
"Eh eh? Pipi lo merah tuh udah mirip tomat, hahahahaa.." godanya kepada sahabatnya itu yang wajahnya sudah hampir merah padam.
"Fanyy!! Udah ih sana masuk. Gue mau pulang, mau lihat apakah Raven udah di rumah atau belum" tukasnya.
"Ciee.. Queen udah mulai nunjukin protektif nya niihh.." godanya lagi ditambah senyum tengilnya.
"Bukan protektif, tapi gue nggak mau kalau nanti mama mikir yang enggak-enggak karena dia pulangnya nggak bareng sama gue." jelasnya yang langsung membuat Fany terdiam.
"Emangnya tante Mala bakal mikir apa?"
"Yaa nggak tahu! Pokoknya gue sampai di rumah Raven harus udah ada, titik!" tekannya dengan yakin.
"Iya deh iyaaa.. Kayanya lo udah mulai naksir deh sama adkel itu."
"Enggak!" pekiknya. Siapa sangka tangannya terangkat dan menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa sangat gatal.
Fany menyadari reaksinya jika Aleta sedang berkata bohong akan menggaruk hidung. "Heleh bohong. Buktinya lo garuk hidung."
"Eh? Enggak ada. Gue nggak garuk hidung." sontak Aleta menjatuhkan tangannya dan menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.
"Yaelah tinggal bilang 'iya gue suka sama Raven' gitu aja susah amat lo." pekik Fany geram.
"Udah udah sana pulang! Semoga nenek lo sehat selalu." ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan yang sudah membuat hidungnya gatal.
"Yaa! Makasih tumpangannya, Bestie!"
"Heem."
Fany keluar dari mobil kemudian segera berjalan masuk ke gang.
"Tenang saja, non. Saat non Aleta tiba di rumah pasti Raven sudah di rumah." kata Safar sambil melirik ke spion mobil yang mengarah ke wajah Aleta.
"Pak Safar diam! Ayo pulang." titahnya dan seketika membuat supir itu bungkam.
"Baik, non." kemudian mobil bergerak pulang.
SKIP
"Gue laper nih. Gimana kalau pulang dari sini kita beli makan? Udah waktunya makan siang kan ini?" ajak Bella.
Mereka masih di tempat toko buku. Mereka bertiga berdiri di teras setelah membayar belanjaan mereka.
"Maaf Bell, aku makan di rumah saja." jawab Raven menolak.
"Gue juga." sahut Arga.
"Kenapa? Gue traktir, gimana?" ucap Bella yang sudah seperti godaan yang menggiyurkan menurut Arga, tidak berlaku bagi Raven.
"Serius lo?" Arga memastikan.
"Nggak usah. Aku makan di rumah aja." Raven tetap pada jawaban pertama.
"Makan gratis loh ini. Lo beneran nggak mau?" ucap Arga yang mencoba menggoda sahabatnya itu.
"Kalau kamu mau, silahkan pergi sama Bella. Aku nggak usah." jawabnya masih yakin dengan jawabannya.
"Yaudah. Kalau Raven nggak mau, kapan-kapan aja deh gue traktirnya." ujar Bella dengan wajah sedikit kecewa karena tawarannya ditolak oleh orang yang seharusnya.
"Gue mau, Bell!" ucap Arga menyodorkan dirinya.
"Nggak jadi." ketus Bella.
"Yaahh di PHP gue."
"Yang gue tawarin Raven ya, bukan lo, Arga!." ucap Bella penuh penekanan kepada Arga.
"Bilang aja modus!" pekiknya kesal.
"Sudah-sudah. Kenapa jadi debat lagi sih kalian. Ayo pulang!." Raven mencoba melerai perdebatan yang tidak akan ada ujungnya itu.
"Rav, lo pulang bareng gue gimana? Gue anterin lo pulang." ajak Bella kepada Raven.
"Enak aja, nggak! Dia kesini bareng sama gue, jadi pulangnya juga sama gue! Dan lo pulang sana ke habitat lo." sembur Arga sedikit sewot.
__ADS_1
"Habitat apaan maksud lo, hah?!" sentak Bella yang sudah mulai emosi dengan cowok itu.
"Ke rumah lo, maksudnya. Baper banget lo jadi cewek."
"Makanya kalau ngomong itu yang bener."
"Gue udah bener kok. Di mana letak kesalahan gue, coba?"
"Lo itu ya!." saat Bella akan meninju perut Arga, buru-buru Raven memisahkan mereka berdua.
"ARGA! BELLA! CUKUP KALIAN BERDUA, DIAM!" sentak Raven dan langsung membuat mereka berdua bungkam.
"Ayo pulang sekarang!." Raven menarik lengan sahabatnya itu menuju motor Arga.
"Wlee.." masih sempat Arga menjulurkan lidahnya dengan tampang tengilnya ke arah Bella.
"Dasar cowok nyebelin! Awas aja lo."
"Dadaahh CEGAT, hahahahaaa.." teriak Arga setelah menaiki motornya.
"Ce-ce apa tadi?" Bella tak mengerti.
"CEWEK GATEL!..." setelah mengatakan dua kata itu, Arga melajukan motornya meninggalkan Bella di sana. Sendirian.
"Enak aja. Awas lo besok gue tumis, Arga!" teriak Bella yang ingin mengejar cowok itu namun tak bisa.
.
"Hahahaa.. Seru banget gue ngerjain si Bella." tawa Arga dalam perjalanan sambil menyetir motornya.
"Jangan kegitu Arga, tidak baik." tegur Raven dengan suara sedikit berteriak.
"Ngapain bersikap baik sama orang yang nggak baik." ucapnya santai.
"Awas nanti lama-lama kamu suka sama Bella."
"WHAT?! SUKA-SAMA-BELLA? Nggak mungkin!" tolak Arga keras.
"Nggak ada yang tahu nanti gimana, ya kan?"
"Udah lupain aja."
SKIP
Aleta tiba di rumah dan tak mendapati tanda-tanda makhluk hidup di sana.
"Mama? Mama ke mana? Apa ke rumah Mama Zanna? Pasti ke sana. Gue telfon aja deh." gumamnya sambil berjalan ke kamarnya.
Tutt.. Tutt..
"Hallo, kenapa sayang? Apa kalian sudah sampai di rumah?"
"Iya, Al sudah di rumah. Apa mama di rumahnya mama Zanna?"
"Iya sayang. Mama kangen sama Vania jadi mama main ke sini. Oiya, tadi mama nggak sempat masak buat makan siang kalian. Mungkin makanan tadi pagi tinggal sedikit. Nanti kamu masak sendiri aja ya? Bahan-bahannya ada di kulkas."
"Iya sayang. Nanti kamu minta bantuan Raven katanya dia jago masak."
"Iya, ma.."
"Yaudah, dadaahh sayang.."
"Heem.."
Tutt -panggilan berakhir.
"Huft.. Ganti baju deh terus masak. Raven juga belum pulang." gumamnya, kemudian Aleta masuk ke kamarnya. Ganti baju.
.
"Dia belum pulang? Pasti kelayapan. Oke! Lebih baik gue masak sekarang." gumamnya seraya menuruni anak tangga dan segera ke dapur.
Di dapur...
Aleta membuka kulkas dan menemukan pare di sana. "Apa gue bikin tumis pare aja kali ya? Pasti Raven suka. Iya! Gue masak ini aja."
Setelah pare itu ia cuci, kemudian ia letakkan pare tersebut di talenan untuk ia potong.
"Tapi gimana caranya? Sudahlah, dipotong tipis-tipis aja kayak yang biasa mama masak."
Aleta sibuk memasak untuk makan siang....
.
Di sisi lain,
"Silahkan duduk, Ga. Aku ganti baju dulu. Oiya, kamu nggak sekalian ganti? Pakai baju aku nggak apa-apa." ucapnya setelah Arga duduk di sofa ruang tamu.
"Nggak perlu. Lagian di sini gue cuma bentar."
"Ouh baiklah."
Arga mengendus-endus sudah seperti seekor anjing mencari tulang yang tersembunyi di dalam tanah.
Langkahnya terhenti di tempat yang hidungnya bawa.
"Eh, ada kakak cantik lagi masak." Arga bersandar di tembok sambil menyapa Aleta yang baru kembali dari belakang. Sepertinya habis membuang sampah.
"Arga? Kok lo ada di sini? Raven mana? Tadi dia nggak deket-deket kan sama Bella?" tanyanya setelah melihat Arga di hadapannya.
"Tenang aja, Kak Aleta nggak usah khawatir, semuanya berjalan dengan baik. Sekarang Raven sedang ganti baju." jelasnya.
Aleta mangguk-mangguk mengerti. "Ouh, oke. Thanks ya."
"Wokeyy!."
.
__ADS_1
"Arga.. Kamu di ma-.. Eh? Kak Aleta sedang masak apa?" setibanya di tangga terakhir, Raven mendapati Aleta di dapur dan sudah ada Arga di sana.
"Ini, gue bikin tumis pare. Nggak tahu nanti rasanya enak apa enggak." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Waahhh.. Pastinya enak banget, Kak."
"Iya nih, gue jadi laper." sahut Arga.
"Yaudah, lo makan di sini aja. Lagian gue sama Raven juga mau makan." ajak Aleta kepada Arga.
"Ayo Rav, ajak teman lo ke meja makan." sambungnya sambil menyuruh Raven membawa Arga ke meja makan.
"Iya Kak. Ayo ke sana." Arga berjalan lebih dulu ke meja makan dan duduk di sana.
Raven menghampiri Aleta untuk membantu membawa. "Aku bantu bawain tumis pare nya ya, kak?"
"Iya, nih. Hati-hati bawanya." ucapnya setelah mangkuk berisi tumis pare beralih ke tangan Raven.
"Iya kakak!" kemudian Raven pergi menyusul Arga yang sudah santuy duduk di kursi.
.
Meja makan.
"Pasti enak banget nih masakannya." sepertinya Arga sudah tidak sabar untuk menyantap menu mkan siangnya.
"Benar! Aku sudah lapar." seru Raven yang juga sudah tak sabar.
"T-tapi, gue nggak yakin sama rasanya. Baru pertama kali masak pare soalnya, hehehee.." kekehnya sedikit kaku.
Kemudian Arga menyuap sesendok pare ke dalam mulutnya. "Enak loh! Jago banget kakak masak. Bener kan, Rav?" melirik Raven untuk memastikan.
Raven mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Heem."
"Baguslah kalau kalian suka. Btw, ternyata lo suka sama pare?." tanya Aleta heran kepada Arga.
"Pare itu makanan terenak menurut gue." kata Arga.
"Ternyata cuman gue yang nggak suka sama pare." gumam Aleta dan bisa didengar keduanya.
"Kenapa masak ini doang? Terus kak Aleta makannya pake apa?" Raven bertanya.
"Pake pare juga kok. Tenang aja, sedikit-sedikit gue mulai suka sama pare." jawab Aleta sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
"Sedikit-sedikit juga kak Aleta suka sama Raven." gumam Arga namun masih bisa didengar dengan baik. Mulutnya dalam keadaan penuh.
"Arga, ditelan dulu baru ngomong!." pekik Aleta memperingati.
"I-iya. Sampai muncrat makanannya." timpal Raven sedikit terkekeh.
Uhukk.. Uhukk..
Tiba-tiba Aleta tersedak dalam suapan ketiganya.
"Minum, kak." Raven memberikan gelasnya kepada Aleta. Sesaat Aleta menatap Raven kemudian segera meminum airnya.
"Makasih." ucapnya setelah minum disuapi Raven. Pasalnya tadi saat ia akan memagang gelas sendiri, Raven tak melepas gelas itu. Alhasil tangan keduanya saling bersentuhan.
"Ekhem! Sangat tidak ramah bagi jomblo seperti gue."
"Arga-diam!" sentak Raven yang nyaris berbisik.
"Ya ya.."
.
"Gue mau balik. Thanks kak buat makanannya. Enak banget. Lain kali gue dateng lagi, hehehe.." kini Arga sudah berdiri di luar. Akan pulang.
"Ja-jangan! Ke sini kamu ngerepotin kak Aleta." Raven menolak.
"Nggak apa-apa, lagian gue suka sama teman lo ini. Ngeselin tapi lucu." ucap Aleta sambil melempar senyum ke arah Arga.
"Kak Aleta suka sama Arga?" Raven membatin sambil menatap keduanya bergantian.
"Gue juga suka sama kakak cantik. Ketemu besok kak, Rav." kemudian Arga segera menaiki motornya.
"I-iya."
"Hati-hati.." teriak Aleta saat Arga sudah menstater motornya.
"Siapp!" kemudian Arga pergi bersama motornya.
Aleta membalik badan ingin melangkah masuk ke rumah. Namun ia melirik ke orang di sampingnya yang sedang menundukkan kepala.
"Lo kenapa?"
Raven mengangkat wajahnya menatap Aleta. "Hah? Enggak, nggak apa-apa. A-aku ke atas dulu." lalu Raven berlari menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya.
"Eh? Ada apa dengannya?" gumam Aleta bingung sambil menatap kepergian Raven.
Kemudian Aleta menutup pintu dan masuk juga ke kamarnya.
.
.
.
Cocok nggak nih singkatan yang diberikan Arga untuk Bella?? CEGAT.
Raven tetaplah Raven, cowok polos nan lugu yang mudah percaya dengan perkataan orang lain. Termasuk perkataan Aleta barusan.
Akankah Raven berfikir kalau Aleta menyukai sahabatnya, atau menganggap perkataan itu hanya bercanda? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Next? Coba komen dong siapa aja yang mau lanjutt..
Jangan lupa klik jempolnya Readers!!
__ADS_1
.