A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
84. Bersedia


__ADS_3

Tak lama mereka tiba di rumah dan langsung disambut hangat oleh Mala.


"Sayang.." Mala langsung memeluk dan mencium keduanya bergantian.


"Syukurlah kalian baik-baik saja." lanjutnya setelah melepas pelukan dari kedua anaknya.


Aleta dan Raven saling tatap dengan perasaan was-was. Takut kalau Mala menyadari leher mereka.


"Ayo ke dalam." ajaknya dan diangguki keduanya.


.


"Mama khawatir sama kalian karena semalam nggak pulang. Mama takut kalian kenapa-kenapa di jalan. Tapi untungnya pas ditelfon Raven bilang kalau kalian ada di penginapan, Mama bisa lebih tenang." cerocos Mala.


"Iya, Ma"


"Karena semalam juga hujan deras jadi Mama izinkan kalian menginap di luar" sambungnya.


"Iya, Mama" jawab keduanya bersamaan.


Wanita itu sedikit merasa aneh dengan kedua anaknya. Pasalnya keduanya menjadi canggung dan tak banyak bicara. Tapi, ia mengesampingkan rasa penasarannya karena sebentar lagi ia akan membahas sesuatu dengan keduanya beserta suaminya.


Karena hari ini Mala ingin membicarakan sesuatu, jadi pagi ini Evano juga izin pulang lebih awal. Evano akan pulang sebentar lagi.


"Mama, Al mau ke kamar" ucap Aleta pada Mala.


"Lo juga kan, Rav?" lanjutnya sambil melirik Raven.


Cowok itu mengangguk saja. "Ah iya. Aku juga"


"Yasudah, kalian mandi dan berganti pakaian. Oiya, nanti Papa pulang lebih awal."


Aleta mengernyit. "Tumben? Tadi kata Pak Safar, Mama mau ngomong sesuatu sama kami berdua?"


"Benar! Tapi tunggu Papa sampai." ucap Mala.


"Ya-yaudah, kami ke atas dulu" pamit Aleta.


"Iya. Terus kalian turun, sarapan."


"Siap, Mama!"


"Ayo, Rav!" ajaknya setelah menjawab Mamanya.


"Ada apa dengan mereka berdua? Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Heum.. Aku harus mencari tahu" Mala bergumam seraya menatap punggung kedua remaja itu dengan menyipitkan matanya.


.


"Kak!"


"Ssttt.. Nanti setelah lo mandi jangan lupa pakai foundation lagi buat nutupin leher lo. Oiya satu lagi, lo pakai baju yang tebal supaya nggak nerawang. Lo ngerti?! Sama satu lagi, lebam di pipi lo juga lo tutupin. Bisa heboh nanti satu rumah kalau tahu lo terluka. Tadi udah lolos dari penglihatan Mama, nanti harus bisa lolos lagi. Oke?!" cerocos Aleta memerintah.


Raven mengangguk patuh, "I-iya. Kakak juga jangan lupa pakai baju panjang dan pakai foundation lagi."


"Oke! Yaudah, gue masuk. L-lo juga" diakhiri senyum canggungnya Aleta menggaruk leher bagian belakangnya yang tak gatal.


"Heem.."


Kepergian Raven, Aleta masih berdiri di depan kamarnya sambil memikirkan sesuatu. Tepatnya sesuatu itu adalah tentang kejadian semalam ia bersama Raven.


Jika diingat ia merasa malu dan sedikit senang? Hah? Senang? Bagaimana bisa dia merasa senang? Ia tak tahu dengan perasaannya saat ini. Lalu tangannya terangkat dan jemarinya terhenti di bibir bawahnya. Ia tekan pelan sambil tersipu malu. Dan mungkin kedua pipinya memerah saat ini.


Kemudian ia masuk ke kamarnya.


SKIP


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsallam. Mas? Kamu sudah pulang?" wanita itu menghampiri sang suami sepulang dari kantor.


"Di mana anak-anak? Apa mereka sudah pulang?" tanya pria itu pada istrinya.


Mala mengangguk, "Mereka sedang mandi"

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Evano memastikan.


"Mama nggak yakin" gumamnya sambil menatap luris ke depan.


Evano mengernyit tak mengerti, "Maksud Mama?"


"Ayo, Pa. Duduk dulu." ajaknya. Kemudian menggiring sang suami untuk duduk di sofa.


"Baik. Jadi, ada apa? Mereka nggak bikin masalah kan?" tanyanya setelah berhasil duduk.


"Bukan. Tapi, Mama merasa ada yang aneh dengan tingkah mereka berdua." jelas Mala sambil memelankan suaranya.


"Aneh? Ada apa sebenarnya?" Evano semakin tak mengerti dengan yang dikatakan istrinya.


Mala menggeleng, "Entahlah. Mama juga nggak yakin, tapi Mama ngerasa telah terjadi sesuatu diantara mereka"


"Apa itu?" tanya Evano, lagi.


Mala menghendikkan kedua pundaknya acuh.


SKIP


Mereka berempat, tepatnya Mala, Evano, Aleta dan Raven. Sedang berkumpul di ruang tengah, karena ada yang ingin disampaikan oleh kedua orangtua tersebut.


Hening. Hingga salah satu dari mereka bersuara.


Evano berdehem sebelum mulai bicara.


"Papa suruh kalian berkumpul di sini karena ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan kepada kalian berdua"


"Ada apa ini sebenarnya? Sampai kami izin tidak masuk sekolah dan Papa juga tumben pulang cepat?" tanya Aleta yang sudah penasaran sejak tadi.


"Itulah yang ingin kami bicarakan." sambung Mala.


"Ada apa, Ma? Pa?" Raven bertanya sambil menatap keduanya bergantian.


"Jadi begini, kalian kan sudah sama-sama dewasa dan sudah tinggal di dalam satu rumah yang sama. Kalian juga pastinya tidak lupa dengan hubungan kalian." ucap Evano pelan.


"Karena kalian semalam sudah tidur di penginapan dan di kamar yang sama, jadi menurut Mama hal itu sudah tidak bisa dipungkiri lagi kalau kalian tidak berbuat apa-apa." sambung Mala.


"Ma-maksud Mama?" Aleta semakin tak mengerti arah ucapan sang ibu.


Mala meraih pergelangan tangan putrinya, digenggamnya tangan itu dengan erat. "Sayang.. Tidak ada laki-laki dan perempuan yang tinggal sekamar dan tak melakukan apapun. Mama harap kalian mengerti."


"I-iya Al mengerti. Tapi.." Aleta mangguk-mangguk sedikit ragu, ia menggantung ucapannya.


"Dengarkan kami bicara." datar Evano.


"Baiklah. Lanjutkan" ucap Mala mempersilahkan sang suami.


"Papa harap kalian tidak melupakan soal perjodohan itu. Dan kalian tidur bersama tak hanya sekali atau dua kali, bukan? Kalau sudah terjadi seperti ini lebih baik disegerakan saja daripada kedepannya tidak kejadian yang tidak diinginkan." jelas Evano.


Sontak Aleta berdiri, mungkin karena ia terkejut dengan perkataan Papanya. "Apa maksud perkataan Papa?!"


"Kak, duduklah.." bisik Raven sambil menarik lengan Aleta supaya terduduk kembali.


Aleta kembali duduk.


"Kami sepakat bahwa kalian akan menikah secepatnya!" jelas Evano mantab.


"APA?!!" kedua mata Aleta rasanya akan keluar saking terkejutnya. Sedangkan Raven hanya membuka mulut saja dan tidak sampai berteriak seperti Aleta.


"Papa tahu kalau kamu masih butuh waktu, tapi setelah kejadian semalam dan kemarin itu sepertinya sudah cukup sebagai jawaban dari waktu yang kamu minta." ucap pria itu.


"Papa?!"


"Semua ini sudah kami bicarakan dengan Mama Zanna. Dan dia juga setuju dengan keputusan ini." sambung Mala.


"Tapi..."


"Mama dan Papa tidak tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tetapi kalau sudah tidur sekamar sepertinya kami sudah cukup faham." ucap Mala pelan.


"Bukan seperti itu, Ma.." Aleta ingin membantah, namun yang dikatakan mamanya ada benarnya.

__ADS_1


"Dan pagi ini Mama merasa kalian sedang menyembunyikan sesuatu" lanjut Mala.


"Menyembunyikan apa? Tidak ada." timpalnya.


"Yaa semoga saja memang tidak ada, tapi hati mama berkata lain, sayang.." ucap Mala selembut mungkin.


Raven diam merenung. Ia pasrah bila akan menikah diumurnya yang akan menginjak 17 tahun dengan Aleta yang berumur 19 tahun itu. Pasalnya ia juga telah disentuh oleh Aleta semalam. Jadi ia hanya bisa menurut.


Tapi, bagaimana dengan Aleta? Apakah waktu untuk memikirkan tentang perjodohan itu sudah mendapatkan jawabannya atau belum. Namun, saat ini ia sedikit merasa senang bila cowok polos itu yang akan menjadi suaminya nanti.


Dan, sepertinya ia juga sudah kecanduan dengan rasa manis dari cowok polos itu. Apalagi kalau bukan setiap perlakuan manis dan penuh kasih sayang dari cowok itu padanya. Serta salah satu dari rasa manis itu ialah kenikmatan dari bibir cowok itu.


Jika ia kembali mengingatnya, rasanya ia ingin menghilang dari planet Bumi dan berpindah ke Matahari, supaya ia bisa menyamarkan rasa panas yang sudah ia rasakan di kedua pipinya sedari tadi.


"Jadi bagaimana? Apa kalian sudah siap kalau pernikahan kalian satu bulan lagi. Bertepatan saat Aleta lulus dan Raven naik kelas?" ucapan Mala membuyarkan lamunan Raven.


"T-tapi, Mama.." Aleta ingin membantah namun menggantung ucapannya.


"Kami hanya tidak mau kalau kelamaan akan terjadi yang tidak diinginkan nantinya" kata Evano.


"Kalau memang Kak Aleta masih belum siap sekarang, tidak apa-apa. Mungkin nanti saja menunggu Kak Al siap" ucap Raven, seperti biasa.


Ia akan menunggu, dan menunggu hingga kapan ia tak tahu.


"Lihat, Al. Apa kamu tidak kasihan dengan Raven? Dia sudah sabar selama ini nungguin kamu menerima perjodohan ini. Dia juga sangat sabar selama ini menghadapi sifat kamu yang kurang baik dengannya. Apa kamu tidak bisa menerima ketulusan Raven kepada kamu?


Raven itu anak yang baik. Dia juga sosok lelaki yang bertanggungjawab. Karena kami tahu betul dengan Papanya, dia lelaki yang sangat baik. Tidak beda jauh dengan sifat Raven sekarang. Papa berharap kalian bisa menjadi Satu!" tegas Evano kepada putri semata wayangnya itu.


Aleta nampak berfikir. Ia berfikir keras saat ini. Memikirkan jawaban apa yang terbaik untuk kehidupan kedepannya. Apa ia menerima perjodohan ini saja? Tetapi ia masih belum siap, di sisi lain ia ragu dengan keputusannya. Kenapa harus menikahi adik kelas, padahal masih banyak di luar sana cowok yang umurnya di atasnya?.


Mengapa harus Raven?


Mengapa harus adik kelas?


Mengapa bukan kakak kelas atau seumuran saja? Ah iya, kan saat ini ia menjadi kakak kelas. Jadi pilihannya tinggal dua.


Adik kelas atau teman sekelas?


Aleta nampak berfikir, kemudan ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengatakan jawabannya.


"Baik. Al bersedia... Menerima perjodohan itu. Al bersedia menjadi istrinya Raven. Al bersedia, Ma, Pa." diakhiri menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Kak?" panggil Raven tanpa bersuara. Ia tak menyangka bahwa akhirnya Aleta menerima perjodohan ini.


"Alhamdhulillahirrobbil'alamin..." ucap kedua orang tua itu bersamaan dengan perasaan senang.


"Terimakasih sayang. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan baik dan hubungan kalian langgeng hingga akhir hayat" kata Mala disela senyum bahagianya.


"Bagus anak Papa!" lanjut Evano seraya menepuk pundak putrinya.


Lalu Aleta melirik Raven yang masih melongo itu, dan ia meraih jemari itu. Digenggamnya jemari itu kuat sambil memberi senyuman terbaiknya. Membuat Raven sedikit membalas senyumannya.


SKIP


"Ada apa, Kak?"


"Gue menerima perjodohan demi Mama dan Papa"


.


.


.


FINNALLY!! Akhirnya setelah beberapa abad nunggu jawaban Aleta, pada episode ini terjawab sudah!


Maaf ya readers, kalau nikahannya ntar nggak sesuai ekspektasi kalian hehehe..


Jangan bosen-bosen baca novel ini, walaupun viewers nya segitu-gitu aja😣 sedih sebenarnya novel ini nggak se-rame novel yang lain, tapi nggak apa-apa. Karena kalian masih mau bertahan sampai detik ini aja udah bikin aku seneng. Makasih yaa😍


Jangan lupa Like!


.

__ADS_1


__ADS_2