A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
104. Memastikan


__ADS_3

Gimana kabar kalian semua? Semoga selalu sehat ya dan pastinya semangat.


Aku kembali ya, aku ga akan bikin novelku ini terlantar. Juga ga akan bikin para pembacaku terkasih ini kecewa.


Walaupun aku up nya lama, tapi aku bakalan tetep up kok.


Selamat membaca, semoga kalian masih ingat dengan alur novel ini🥰


∆∆∆∆∆


Berpindah ke sebuah ruangan yang terdapat banyak rak berisi botol-botol minuman keras. Ada tiga orang di sana. Satu orang tengah menuang minuman ke gelas dan dua orang lainnya menonton saja sambil memegangi luka pada masing-masing wajahnya.


"Temennya jago banget berantemnya, kami berdua nggak sanggup" ucap salah satu yang berambut keriting.


"Bener itu, badan gue sakit semua karena dihajar bocah ingusan itu" sahut salah satu yang botak.


"Bos, minta duit. Buat biaya kami ke dokter" pinta si rambut keriting pada orang yang ia panggil Bos itu.


"Iya ntar gue transfer" jawab orang yang dipanggil boss tersebut.


"Yes! Oke, kami pergi dulu" seru keduanya dengan senang. Kemudian melenggang pergi dari hadapan Bosnya.


"Bodo amat gue sama temennya yang jago berantem. Yang penting gue udah kasih tu cowok pelajaran. Kalau dia lembek kaya tadi, bisa lebih mudah buat gue habisin dia" gumam laki-laki itu kemudian meneguk habis segelas miras dalam genggamannya.


"Sini" bisik Qhia membuat langkah dua orang itu terhenti dan menghadapnya.


"Ada apa, Qhia?" tanya si botak.


"Kalian tadi habis dari mana?" tanya Qhia dengan berbisik.


"Oh, tadi kami diajak sama bos ngikutin anak SMA dan hajar mereka" jawab si rambut keriting.


"Anak SMA?" beo Qhia.


"Iya. Kami mau pergi" pamit si rambut keriting lalu berlalu pergi.


"Sumpah, jago banget yang satunya berantem" ujar si rambut keriting dan masih bisa didengar oleh Qhia.


"Kalau yang satunya lembek banget kayanya kalau gue yang serang bakalan menang deh gue" sahut si botak diangguki si rambut keriting.


"Anak SMA yang dimaksud mereka bukan Raven, kan?" tanya Qhia entah pada siapa.


SKIP


"Jadi lo lawan dua orang dan yang satu orang lagi mukulin Raven?" tanya Fany memastikan.


"Iya, kak. Untung gue jago berantem" ucap Arga dengan bangga.


"Jadi kita harus gimana, Al? Nggak lapor polisi aja?" usul Fany pada Aleta di sampingnya.


"Jangan! Maksud gue, kayanya gue kenal sama salah satu dari mereka" ujar Aleta.


"Lo kenal?" tanya Fany.


"Oiya, gue denger dari cowok itu katanya dia nggak akan biarin Raven sama kak Aleta, gitu. Memangnya kakak punya hubungan apa sama dia?" tanya Arga memastikan.


Aleta menggeleng sambil menahan gatal di hidungnya, "Nggak ada." ah lagi-lagi dia harus menahan rasa gatalnya.


"Al, lo lagi nggak sembunyiin sesuatu kan dari gue?" Fany menyipitkan kedua matanya memastikan kalau sahabatnya itu tidak sedang berbohong.


"Nggak ada, Fan. Serius!" ucap Aleta meyakinkan. Hidungnya sangat-sangat gatal sekarang.


"Lagian Raven tuh lembek banget jadi cowok. Harusnya kan dia bales nyerang, lah dia malah pasrah dipukulin. Mau gue bantu, gue lagi ngeladenin dua orang" jelas Arga.


"Fan, Ga, gue boleh minta tolong nggak sama kalian berdua?" keduanya menoleh ke arah Aleta dengan memasang wajah penuh tanya.


"Apa?" tanya keduanya.


"Tolong jagain Raven sampai gue pulang." ucap Aleta.


"Lo mau kemana?" Fany bertanya.


"Jangan bilang kakak mau ketemu sama orang-orang tadi?" tebak Arga memastikan.


"Iya. Gue mau ketemu sama orang tadi" jawabnya.


"Al, lo jangan macem-macem. Kalau mereka apa-apain lo, gimana?" sergah Fany tak setuju.


"Kalian tenang aja, mereka nggak bakal apa-apain gue kok." kata Aleta yakin.


"Tapi, Al..."


"Please.. Kalian jagain Raven di sini, dan jangan kasih tahu dia kalau gue pergi buat ketemu sama orang yang tadi lukain kalian." pinta Aleta pada keduanya.


"Gue nggak setuju! L-lo ditemenin sama Arga, ya?" ucap Fany yang masih tak setuju.


"Gue ke sana sendiri. Kalian di sini aja" ucap Aleta.


"Al.."


"Fany, percaya sama gue" potong Aleta sembari menggenggam tangan Fany erat.


"Yaudah, asal lo hati-hati dan kabarin kalau ada apa-apa" finnal Fany.


"Iya. Makasih. Kalau gitu gue pergi" pamitnya setelah beranjak dari duduknya.


"Hati-hati, kak!"


.


"Untung pak Safar lagi nganterin bu Urmi pulang, jadi gue bisa pergi tanpa sepengetahuan dia" batin Aleta seraya berjalan keluar.


°°°°°


"Lo mau kemana, Rik?" tanya Qhia pada Riki yang melihat penampilan cowok itu sudah sangat rapi.


"Ketemu mantan" jawabnya singkat setelah mengambil kunci motornya di atas meja.


"Tunggu! Tadi lo habis dari mana dan ngapain?" Qhia mencekal lengan cowok itu.


"Kenapa emangnya? Gue mau pergi" Riki menghempaskan pelan tangan yang mencekalnya.


"Lo nggak abis gebukin suaminya kan?" tanya Qhia.


"Suami? Oh maksud lo suaminya Aleta?" Riki bertanya balik.

__ADS_1


"Iya, siapa lagi kalau bukan dia?"


"Memang. Terus kenapa?" tanya cowok itu dengan santainya.


"Rik, lo itu nggak ada kapok-kapoknya ya ganggu rumah tangga mereka?!" sentak Qhia geram.


"Apaan sih lo? Udah deh, diem aja. Terserah gue mau ngapain" ucap cowok itu kemudian melenggang pergi dari hadapan Qhia.


"Riki!" pekik Qhia dengan emosi.


"Gue ikutin aja kali ya? Takutnya nanti Riki berbuat sesuatu sama Aleta" gumam Qhia.


"Parran! Lo jaga cafe bentar, gue mau pergi" titahnya pada temannya.


"Oke"


.


"Gue di sini cuman bisa sampai sore, karena malamnya gue kerja. Kalau Aleta belum pulang juga, gimana ya?" Fany bergumam sembari memisahkan kacang dari kulitnya.


"Gue juga sebenarnya ntar malam ada janji" ujar Arga


"Gue nggak mau pergi sebelum Aleta pulang. Tapi,.."


"Kakak harus kerja, biar gue yang jaga di sini sampai kak Aleta pulang. Lagian kan masih ada supirnya" potong Arga.


"Kak Al?" suara bariton mengalihkan pandangan mereka berdua.


"Raven? Lo ngapain keluar? Istirahat aja di kamar, biar cepet sembuh" titah Arga setelah menghampiri Raven di depan pintu kamar.


"Aku udah nggak apa-apa kok, Ga. Oiya, kak Aleta mana?" tanyanya sembari memegang perutnya yang masih terasa nyeri.


"Aleta?.." Fany melirik Arga dan dibalas tatap oleh cowok itu.


"Kenapa kalian diam aja?" tanya Raven yang tak kunjung mendapatkan jawaban.


"KAK?! KAK ALETA?!" pekik Raven memanggil istrinya.


"Lebih baik lo istirahat aja, Rav" ucap Fany.


"Iya tapi, kak Aleta nya mana?"


"Ngapain nyari bini lo?" tanya Arga mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tadi aku mimpi buruk soal dia" jelas Raven.


"Mimpinya gimana?" Fany bertanya.


"Dalam mimpi itu, aku melihat kak Aleta diculik sama seseorang. Aku takut kalau mimpi aku jadi kenyataan, makanya sekarang aku nyari kak Aleta. Dia di mana?" tanyanya lagi yang mulai sedikit panik.


"Ga, jawab gimana?" itulah arti dari tatapan Fany pada Arga.


"Kak Aleta mana?" tanya Raven lagi. Keduanya masih diam.


"Kalian jangan bikin aku takut dong" Raven menjadi panik karena keduanya seperti sangat sulit untuk menjelaskan.


"Kita duduk dulu, ngobrol sambil duduk" ajak Arga dan Raven menurut.


"Ya ampun, Rav, wajah ganteng lo ternodai. Badan lo pasti remuk ya rasanya? Besok lo nggak usah masuk sekolah deh, nunggu lo sembuh dulu" ucap Arga merasa iba. Ia harap dengan cara ini Raven tak bertanya tentang Aleta lagi.


"Kalian kenapa sih aneh banget? Tadi aku nanya, kak Aleta di mana? Kok dari tadi aku panggil nggak ada sahutan?" ujar Raven bingung.


SKIP


"Hey! Kangen ya sama gue? Awalnya gue nggak percaya kalau lo yang ngajak ketemu duluan. Gue kira bakalan kaya kemarin" ucap cowok itu berlagak sok akrab.


"Gue nggak mau basa-basi. Gue kesini mau ngomong sesuatu sama lo, Riki" ucap Aleta dengan wajah serius.


"Oke, lo mau ngomong apa, cantik?" Riki memajukan wajahnya dan siap mendengarkan.


"Apa lo orang yang udah keroyok Raven sama temennya tadi sepulang sekolah?" tanya Aleta memastikan.


"Mereka cepu?" Riki menyatukan kedua alisnya.


"Jadi bener? Mau lo itu apa sih sebenarnya? Stop ganggu hidup gue!" tekan Aleta sedikit emosi.


"Al, mau gue cuma satu. Satu! Yaitu gue pengin balikan sama lo, itu doang" ucap Riki pelan.


"Nggak bisa, Rik, dan nggak akan pernah bisa! Lo tahu kan status gue sekarang itu apa?" ucap Aleta.


"I know. But, gue mau kalian pisah dan lo jadian sama gue" Riki berucap santai.


"Gila lo! Lo kira gue bakalan mau gitu sama orang kaya lo?" spontan Aleta berdiri dan mengarahkan jari telunjuknya ke depan wajah Riki.


"Al, gue sayang sama lo. Gue nggak rela putus sama lo" ucap Riki ikut berdiri.


"Sayangnya gue udah RELA putus sama lo! Bukannya lo sendiri yang putusin gue waktu itu? Harusnya lo itu mikir dong! Masih punya otak nggak sih?!" tunjuk Aleta penuh dengan penekanan.


"Al, please.. Kasih gue kesempatan lagi buat jadi pacar lo" pinta Riki dengan memohon.


"Stop, Riki, stop! Kita udah nggak mungkin bisa kaya dulu lagi. Jadi berhenti ganggu hidup gue sekarang! Biarin gue hidup tenang, dan lo juga harus hidup sedemikian" jelas Aleta.


"Gue nggak mau ditolak! Lo mau gue bikin kaya kemarin, hm?" cowok itu mengangkat sebelah alisnya, berjalan selangkah lebih dekat dengan Aleta.


"Nggak, Rik, please..jangan kaya gini" ronta Aleta berusaha melepaskan diri dari cekalan Riki.


"Lepasin gue, Rik!" bentak Aleta.


"Nggak akan! Sebelum lo terima cinta gue!" ucapnya lirih dan terus mendorong tubuh Aleta hingga menempel ke dinding.


"Nggak! Gue nggak mau!" Aleta mencoba menolak.


"Jadi lo mau kaya kemarin lagi, hm? Mau gue bikin yang lebih parah lagi?" tekan Riki lirih.


"J-jangan, gue mohon jangan lakuin itu lagi."


"TOLONG!! Siapapun yang ada di sini tolong!" pekik Aleta meminta pertolongan.


"Teriak lebih keras! Karena nggak akan ada yang bisa nolongin lo!" sentaknya. Tak memperdulikan ada banyak pasang mata menyorot ke arah keduanya.


"Rik, please.." lirih Aleta yang sudah ketakutan. Tubuhnya gemetar saat ini.


"Kayanya suami polos lo itu belum sentuh lo. Benar kan?" bisik Riki, jemarinya memegang dagu Aleta.


"Nggak usah sok tahu! Lepasin gue! Gue mau pulang!" ronta Aleta lagi.

__ADS_1


"Lo mau pulang? Gimana kalau sekarang kita cari hotel dan bermalam di sana? Pasti seru" bisik cowok itu tepat di daun telinganya.


"Lo gila! Gue nggak sudi!" gertaknya, menatap tajam cowok di hadapannya.


"Mau ngapain lagi sih Riki sama mantannya?" gumam seorang wanita yang berjalan masuk ke sebuah gedung.


Sebenarnya Riki lah yang menentukan tempat pertemuan keduanya. Aleta sudah mengajaknya bertemu ditempat yang ramai, namun ditolak oleh cowok itu.


SKIP


Disisi lain, Raven masih dilanda panik. Sementara kedua temannya sama sekali tidak memberitahu keberadaan sang istri.


"Aku mau telfon kak Aleta" ucapnya dan mengetik di layar genggamnya.


Arga dengan Fany ingin menahan, namun kalah cepat dengan Raven.


Tut.. Tut..


"Kok nggak diangkat? Kak Aleta kemana? Kalian nggak tahu?" Tanyanya untuk kesekian kali.


"Rav, lebih baik lo istirahat aja deh ya? Nanti kak Aleta pasti pulang kok" ucap Arga pelan.


"Kamu tahu kak Aleta pergi kemana?" Matanya penuh harap ketika menanyakan itu pada Arga, dan membuat Arga merasa iba.


Kepalanya menggeleng sedikit ragu, "G-gue nggak tahu!"


"Tolong kasih tahu aku.." suaranya terdengar bergetar dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Lo tenang aja, Aleta baik-baik aja kok" Fany datang menenangkannya.


"Kak Fany, kak Fany pasti tahu kan kemana perginya kak Al? Kasih tahu aku, kak!" Raven berusaha mengguncangkan tubuh cewek itu untuk mendapatkan jawaban.


Cowok itu tidak menyerah dan terus memanggil-manggil Aleta, namun sama sekali tidak ada sahutan.


"Lo duduk aja, Rav. Nanti lo pusing dan pingsan lagi." Arga juga berulangkali menyuruh cowok itu untuk duduk karena melihat wajah cowok itu sudah sangat pucat.


Karena terlalu keras memanggil Aleta namun tak ada sahutan, kepalanya berdenyut membuatnya hampir tumbang.


"Rav, mana yang sakit? Ayo duduk lagi" Fany membantu Raven duduk di sofa.


"Udah dibilangin, malah batu!" Omel Arga.


Kedua tangannya meremas kuat rambut kepalanya, rasanya semakin berdenyut dan perlahan kesadarannya memudar lalu dia pingsan.


SKIP


"Lepasin gue!" Aleta berusaha melepaskan diri dari cekalan Riki yang semakin mendorongnya mendekat.


Sungguh dia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Niatnya dia mengajaknya bertemu hanya ingin menanyakan soal kejadian tadi sore, tidak berfikir panjang kalau Riki akan mengulangi hal ini lagi.


"Lepasin tangan lo dari dia!" Sebuah tangan menarik kerah jaket Riki dari belakang hingga tubuh Riki terhuyung menjauh dari Aleta.


"Beraninya lo..." Cowok itu menarik jaketnya lalu kembali mendekat.


"Lo nggak apa-apa?" Tanya cewek itu pada Aleta.


Aleta mengangguk pelan, "I-iya"


"Ngapain lo datang kesini? Lo ngikutin gue?" Tanya Riki pada cewek itu.


"Iya! Gue mau hancurin rencana lo buat sakitin Aleta!" Tekannya sembari mengatakan jari telunjuknya kedepan wajah Riki.


"Dia tahu nama gue? Dia siapa?" Batin Aleta merasa heran, bahkan dirinya tidak kenal dengan cewek itu.


"Nggak usah sok jadi jagoan deh lo! Sana pergi!" Usir Riki pada Qhia.


Kembali ke rumah Raven.


Raven kembali mendapat kesadarannya dan langsung menanyakan Aleta. Karena Arga merasa tidak tega, akhirnya mereka memberitahu keberadaan Aleta.


"Katanya dia mau ketemu sama orang yang tadi keroyok kalian" jelas Arga, berusaha menjelaskan secara pelan-pelan.


"Apa?! Kenapa kalian nggak tahan dia pergi?" Spontan Raven berdiri sebelum kembali duduk karena kepalanya berdenyut.


"Aleta sendiri yang larang kami dan suruh kami jagain lo di rumah" sambung Fany.


"Kenapa kak Aleta ketemu sama dia? Kenapa?!!" Teriaknya histeris.


"Raven! Lo tenanglah" tangannya mengusap punggung Raven.


"Kalian pulang, aku mau sendiri" ucap Raven seperti mengusir.


"Aleta suruh kami jagain lo, Rav!" Ucap Fany.


"Aku udah nggak apa-apa. Lagian ini sudah sore, lebih baik kalian pulang saja" lanjut Raven.


"Raven!"


"Pulang!" Tekannya kemudian beranjak pergi, dia kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu dengan keras.


"Gimana kita?" Tanyanya pada Fany, tinggal mereka berdua di ruang tamu.


"Pulang lah, kan udah diusir sama pemilik rumah" jawab Arga acuh.


"Tapi, Aleta gimana? Dia belum pulang loh" Fany masih belum tega bila sahabatnya belum kembali.


"Tenang, pasti dia baik-baik aja kok"


"Jadi, kita pulang beneran?" Tanyanya sekali lagi dan diangguki oleh Arga.


"Gue tahu, Rav, lo kalau lagi marah sifat lo bakalan berubah. Bukan lagi seperti Raven yang gue kenal polos dan lugu seperti biasanya." Arga membatin menatap kepergian Raven. Karena Arga faham betul dengan karakter sahabatnya itu.


"Iya kita pulang aja, Kak. Ayo!" Ajaknya pada Fany, lali mereka berdua pergi dari rumah itu.


"Ngapain sih dia ketemu sama Riki? Kalau Riki berbuat seperti kemarin gimana? Dia kesana sendirian. Suaminya lagi sakit bukannya ditemenin malah ditinggal ketemu mantan. Awas aja kalau udah pulang nanti." Gerutu seorang Raven Nandana Gibran yang bersembunyi didalam selimut tebal itu. Dadanya terasa begitu gatal sebab sudah terlalu kesal.


.


.


.


Pokoknya jangan lupa Like, Komen dan Follow


Tungguin update selanjutnya

__ADS_1


Maaciw🥰🫶


__ADS_2