A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
92. Kunjungan Sahabat


__ADS_3

Aleta dan Raven sedang memasukkan pakaian mereka ke lemari. Mereka tidur sekamar, karena kamar yang lain digembok dan kuncinya dipegang oleh Evano. Benar-benar Papa yang pintar.


Jadi, Aleta sedikit terpaksa harus sekamar dengan cowok itu walaupun sekarang status mereka sudah halal.


Aleta sempat kesal dan menelfon Mamanya untuk meminta kunci kamar lain, namun ternyata Mala tidak berani meminta kunci dari suaminya. Ah sudahlah, lagipula Raven tidak akan macam-macam dengannya. Mungkin.


Tok tok tok


"Siapa yang dateng?" tanya Aleta nyaris bergumam dan Raven mendengarnya.


"Mungkin Arga" kata Raven, membuat Aleta terkejut.


"Arga? Kok bisa?" tanyanya lagi.


"Dia maksa mau ke sini dan minta alamat rumah kita. Yaa aku kasih aja" jelas Raven.


"Tahu gitu gue suruh Fany juga buat dateng kesini" gumamnya.


"Ada kok." ucap Raven dan membuat Aleta menautkan kedua alisnya. "Hah?"


"Arga bilang, dia kesini sama Kak Fany" ucap Raven seraya memasukkan pakaiannya ke lemari.


"Iya gue tahu. Cuman kenapa bisa sama Fany?" tanya Aleta bingung.


Raven menghendik acuh, "Aku juga nggak tahu"


"Oke. Ntar gue tanyain sendiri"


"Yaudah, aku mau bukain pintu dulu ya?" ucapnya setelah memasukkan pakaiannya ke lemari.


"Iya-iya, keburu didobrak kalau kelamaan bukain." kekeh Aleta.


Lalu Raven berjalan menuju ke pintu utama.


.


Tok tok tok


"RAVEN.. KAK ALETA.." teriak seorang cowok tinggi yang sepertinya itu sahabat sesad nya Raven.


"Nggak usah teriak-teriak, inget ini rumah orang!" tegur seorang cewek di sampingnya.


"Bodo amat. Btw lama banget sih buka pintu doang katanya udah nyampe. Atau jangan-jangan mereka..." belum menyelesaikan perkataannya, pintu rumah itu terbuka.


Ceklek -langsung memperlihatkan Raven di hadapan keduanya.


"Eh, pengantin baru.." goda Arga dan hanya disenyumi oleh Raven.


"Hai Raven, Aleta mana?" sapa Fany kemudian menanyakan keberadaan sahabatnya.


"Halo Kak, Kak Aleta ada di dalam sedang menata baju buat dimasukkin ke lemari" jawab Raven.


"Ouh, gue boleh ketemu sama Aleta?" tanya Fany meminta izin.


"Boleh, silahkan masuk" kemudian kedua tamu masuk diikuti Raven di belakang yang masih menutup pintu.


"Nahh.. Gitu dong daritadi, cepetan buatin gue minum" titah Arga setah mendudukkan bokongnya di sofa begitu saja. Sedangkan Fany masih berdiri di samping Raven.


"Lo itu ya, udah manggil teriak-teriak. Sekarang disuruh masuk malah sok Raja!" omel Fany.


"Eyy! TAMU ITU ADALAH RAJA!" tekan cowok itu dengan percaya diri.


"IYY! TIMI ITI IDILIH RIJI! Nyebelin banget jadi orang!" tiru Fany dengan julid.


"Terserah gue lah." Arga tetaplah Arga. Biarlah.


"Tahu gini tadi gue dateng ke sini sendiri" gerutu Fany.


"Lagian siapa juga yang suruh lo mau bareng sama gue?" sarkas Arga.


"Denger ya! Kalau bukan karena tadi ojol yang gue naikin bannya nggak bocor di tengah jalan, nggak mungkin gue mau bareng lo!" tekan Fany sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Arga.


"Nggak tahu terimakasih banget jadi cewek! Udah dibantu malah marah-marah. Emang bener ya, jadi cowok tuh serba salah!" cerocos cowok itu tak terima.


"Bukan serba salah, melainkan kurang effort!" timpal Fany yang juga tak mau kalah.


Sedangkan Raven yang sedaritadi menyaksikan perdebatan keduanya itu merasa jengkel.

__ADS_1


"Udah-udah! Kok malah jadi berantem sih kalian berdua. Kak Fany duduk dulu ya, tunggu sebentar aku bikinin minum. Tapi.." tegurnya dan ia menggantung ucapannya.


"Tapi kenapa? Oiya, tadi gue mau ketemu sama Aleta. Dia ada di kamarnya kan?" Fany bertanya memastikan.


"Iya, Kak Aleta di kamar. Kak Fany masuk aja" ucapnya.


Kemudian Fany berlalu pergi, begitu saja. Tanpa menatap seorang Arga.


"Tapi, Ga, di rumah ini belum ada minuman. Kalau air putih, mau nggak?" tawar Raven.


"Nggak usah, tadi itu gue cuman bercanda" jawab Arga acuh.


"Nggak apa-apa aku beli sekarang kalau kamu mau" ucap Raven.


"Nggak usah! Udah deh diem aja, baru nikah jangan kelayapan!" kekeh Arga.


"Aku nggak mau kelayapan, kan aku mau beli minuman buat kamu" ucap Raven dengan keluguannya.


"Udah-udah nggak usah!" Arga menolak walaupun ia mau sebenarnya.


"Yaudah deh. Tapi, aku tetap ambilin kamu air putih" bantahnya.


"Ck, terserah!" kemudian Raven ke dapur untuk mengambilkan minum untuk sahabatnya.


SKIP


"QUEEN!!!" teriakan melengking di penjuru ruangan saat Fany masuk.


"Fany?" panggil Aleta yang nyaris tak bersuara setelah menoleh ke belakang.


"Gimana-gimana, hm?" tanyanya dengan menggebu sesampainya di samping Aleta.


"Gimana apanya?" Aleta bertanya bingung.


"Ck, ya gimana sama malam pertama kalian?" tanyanya lagi yang semakin kepo.


"Nggak gimana-gimana. Mau gimana?" Aleta semakin tak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Ishh! Cerita dong ke gue gimana rasanya, hm?" desak Fany.


"Rasa apa sih, Fan? Aneh banget deh pertanyaannya" ucap Aleta geram.


"Yaa nggak ada, emang apa? Eh, tapi.." Aleta menggantung ucapannya.


"Tapi? Tapi? Tapi?" tanyanya bermaksud agar sahabatnya itu melanjutkan perkataannya.


"Ada sesuatu yang terjadi kemarin" ucapnya lirih.


"Ada apa? Coba cerita" Fany mendekatkan posisi duduknya hingga menempel ke tubuh Aleta.


Sebenarnya Aleta ingin menceritakan kejadian yang terjadi padanya dan juga Raven kemarin kepada Fany, namun ia rasa tidak sekarang. Karena Fany masih belum tahu soal masalalunya yang pernah dicampakkan oleh seorang cowok, dan cowok itu seorang playboy.


Ia rasa Fany tidak perlu tahu soal masalah ini. Jadi, ia mengurungkan niatnya.


"Bukan apa-apa. Lagian nggak penting banget kok" ucapnya dan membuat raut semangat mendengarkan itu seketika berubah cemberut.


"Gimana sih, udah penasaran juga!" dengusnya sedikit kecewa.


"Sorry." lirihnya sambil nyengir.


"Btw tadi lo kesini sama siapa? Tadi kata Raven, Arga kesini sama lo? Kok bisa sih? Kalian pacaran?" sambungnya bertanya.


Kedua mata Fany membulat seketika mendengar pertanyaan Aleta, "What?! Gue? Pacaran sama cowok ngeselin itu?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Awas kemakan omongan sendiri loh" ucap Aleta sambil terkekeh.


"Ishh, sampai kapanpun gue nggak akan mau jadi pacar dia. Kepikiran aja enggak!" tekan Fany bergidik ngeri.


"Serius? Menurut gue Arga itu cowok baik kok. Dia juga lucu, nggak beda jauh sama Raven mukanya. Mereka berdua sama-sama ganteng" ucapnya, seolah membayangkan sesuatu.


"Lo, baru aja puji Arga atau Raven, hm?" tanya Fany yang baru saja mendengar sahabatnya memuji antara dua cowok itu.


"Y-ya, puji dua-duanya lah! Lagian semua cowok itu ganteng, mana ada cowok cantik? Cuman LL yang cantik" elaknya.


Fany mengernyit tak mengerti, "LL saha?"


"Cari aja di google, masih orang Indonesia kok" ucapnya.

__ADS_1


"Ntar gue coba cari deh, beneran cantik atau enggak tuh cowok namanya LL" ucap Fany yang akan mencari cowok cantik itu.


"Suka hati kau lah" gumam Aleta acuh.


.


"Beruntung banget lo nikah sama cewek yang bokapnya kaya raya. Baru nikah udah dibeliin rumah" ujar Arga seraya melihat setiap penjuru rumah itu.


"Alhamdhulillah. Tapi, lebih beruntungnya adalah saat Kak Aleta membalas cintaku" Raven berubah murung saat mengatakan kalimatnya.


"Kak Aleta belum nyatain perasaannya? Bukannya lo bilang kemarin lo udah ngungkapin perasaan lo, ya?" tanya Arga yang sedikit terkejut.


Raven menghendikkan kedua pundaknya, "Aku nggak tahu. Mungkin Kak Aleta belum sepenuhnya menerima perjodohan ini" gumamnya sambil menunduk.


Tangan Arga terangkat dan mendarat di pundak sahabatnya, bermaksud memberikan kekuatan untuk sahabatnya.


"Rav, gue sebagai sohib lo turut prihatin. Semoga secepatnya cinta lo terbalas. Dan do'a in semoga gue juga dapet jodoh" ucap Arga yang mendadak bijak.


Raven mengangguk setelah mengangkat wajahnya menatap Arga, "Semoga secepatnya. Aku do'a in juga semoga kamu segera tobat"


Arga melotot seperti orang bodoh, "K-kok tobat?"


"Iya, tobat dari anak bandel. Semoga kedepannya kamu jadi anak yang suka belajar, semoga kedepannya bisa membuat orangtua kamu bangga, dan-.." perkataan Raven terhenti saat Arga memotongnya.


"Stop! Gue itu nggak lagi ultah, Raven! Nggak usah kebanyakan 'semoga' yang penting lo do'a in aja sohib lo ini cepet dapet ayang. Itu doang!" tekan Arga geram.


"Iya, Aamiin."


"Nahh, itu baru sohib gue." ucapnya sambil tersenyum, sedangkan Raven hanya bisa pasrah dengan tingkah sahabatnya itu.


SKIP


"Ini bukannya Raven, sama Arga? Terus dua cewek di samping mereka itu siapa? Eh, cewek ini bukannya kakel itu? Tapi, kenapa pakaian mereka seperti....pengantin? Nggak mungkin kan kalau Raven nikah?" monolog seseorang sambil menatap layar genggamnya yang berisikan foto unggahan di story WA seseorang.


Orang itu menggeleng cepat tanda tidak mungkin, "Nggak! Nggak! Nggak mungkin! Masa gue belum nyatain perasaan gue, dia udah nikah duluan sih? Bakalan patah hati sebelum jadian nih, gue" gumam orang itu seraya mondar-mandir di kamarnya.


"Pasti foto ini cuman bercanda, pasti mereka lagi bikin konten apa gitu yang harus berpakaian pengantin? Yakali Raven udah married? Lagian Raven masih kelas 11, nggak mungkin lah udah nikah" sambungnya, masih belum percaya dengan foto yang baru saja ia lihat di SW Arga.


••••


"Kami berdua pamit, kalian jaga diri baik-baik. Jangan pada berantem, harus akur terus." ucap Fany sebelum pulang.


"Iya, kalian hati-hati" jawab Raven.


"Hati-hati, Ga, anterin sahabat gue sampai rumah dengan selamat!" pinta Aleta dan diangguki antusias oleh Arga.


"Siap, Kak Aleta yang paling cantik!" ucapnya sambil memberi hormat kepada Aleta.


"Udah sana pulang! Hati-hati di jalan." ucap Raven dengan nada mengusir sambil mendorong tubuh Arga.


"Iya-iya, nggak usah dorong-dorong juga kali elah. Kalau cemburu bilang." sewot cowok itu dengan bergumam sambil berpegangan di pintu karena hampir terjatuh akibat didorong Raven.


"Apa, Ga?" tanya Raven memastikan pendengarannya.


"Ouh, bukan apa-apa. Kami pulang dulu, kapan-kapan main kesini lagi" ucap Arga mengalihkan pembicaraan.


"Harus!" sahut Aleta.


Setelah itu Fany dan Arga pulang. Menyisakan dua pasutri itu yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kenapa pegangan tangan?" tanyanya bingung saat tiba-tiba Raven menggenggam jemarinya.


"Nggak apa-apa, masuk yuk?" ucap Raven yang membuat Aleta semakin bingung.


"Nggak dilepas dulu tangannya?" tanya Aleta lagi sambil menunjuk tangan mereka yang bertautan.


Cowok itu menggeleng, "Nggak, yuk!"


Raven menarik tangan Aleta masuk setelah menutup pintu. Aleta menurut walau ada banyak pertanyaan di dalam otak pintarnya.


"Raven kenapa?" batin Aleta yang masih kebingungan sambil berjalan mengikuti suaminya membawanya pergi.


.


.


.

__ADS_1


Pokoknya jangan lupa Like, Komen dan Vote!


.


__ADS_2