
"coba kakak elus kepala aku lagi" Raven meraih tangan Aleta kemudian ia letakkan di kepalanya.
"kek gini?" tanya Aleta dan Raven mengangguk.
"dulu mama sering ngelakuin ini ke aku waktu aku masih kecil tapi sekarang sudah tidak" ucap Raven sedikit terkekeh.
"apa kakak mau menerima perjodohan itu?" tanya Raven tiba-tiba dan Aleta melepas elusannya.
"aku harap kakak menerimanya" lanjutnya.
"gw, gw masih butuh waktu"
"aku tahu kakak butuh waktu untuk berfikir, dan aku yakin jawaban kakak pasti yang terbaik"
"lo seyakin itu? gw aja nggak yakin sama diri gw"
"aku percaya sama kakak, apapun keputusan kakak aku akan menyetujuinya"
"bagaimana kalau gw menolaknya? apa yang akan lo lakuin?"
"aku akan sangat menghargai keputusan kakak, jika kakak menolaknya aku tidak akan memaksa kakak untuk menerima perjodohan ini" jelas Raven panjang lebar.
"sepertinya dia memiliki perasaan yang tulus" batin Aleta.
"apa gw bisa menerimanya? tapi klau gw menolaknya bagaimana dengan persahabatan mama dan papa dengan tante Zanna? dan juga wasiat terakhir dari papanya? tapi menurutku ini semua tidak masuk akal, ah kenapa semua jadi serba salah gini sih" Raven yang sedari tadi memperhatikan Aleta melamun seperti sedang memikirkan sesuatu mengerutkan dahinya bingung.
"kakak nggak apa-apa?" pertanyaan Raven membuyarkan lamunannya.
"hah? apa? iya gw nggak apa-apa"
__ADS_1
"apa kakak sakit? karena dari sepulang sekolah kakak seperti tidak memiliki tenaga" lalu Aleta teringat dengan sahabatnya, Fany.
"..." begitu mengingat sahabatnya Aleta langsung buru-buru mengambil ponsel untuk mencoba menghubungi sahabatnya.
tut tut tut (memanggil)
"panggilan yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan..." lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari Fany.
"lo kemana sih, daritadi telfon gw nggak lo angkat-angkat?" gumamnya sambil memaki ponselnya, sedangkan sepasang mata dari belakang melihat dengan heran.
"dia kenapa?" batin Raven.
"kak? aku akan ke bawah dulu" pamitnya namun tidak mendapat jawaban, kemudian Raven ke bawah menemui mamanya.
"gimana? kalian sudah baikan?" tanya Mala begitu Raven menuruni anak tangga.
"sudah ma" jawabnya sedikit lesu.
"apa kamu lapar?" tanya Mala dan Raven menggeleng, sedangkan kedua ibu itu saling pandang dengan rasa bingung.
"mama" ucap Raven memecah keheningan.
"iya?" jawab kedua ibu bersamaan.
"ada apa sayang? coba ceritakan" ucap Zanna mendekat dan memegang pundak putranya.
"mungkin kak Aleta akan menolaknya" ucapannya itu sontak membuat kedua ibu di hadapannya itu mengerutkan dahinya.
"apa maksud kamu Raven? menolak apa?" tanya Mala memastikan.
__ADS_1
"perjodohan itu" kedua ibu saling pandang.
"Raven" Mala mendekat meraih kedua tangan Raven dan menatap matanya dalam.
"kenapa kamu berkata seperti itu? apa Aleta sendiri yang mengatakannya?" tanya Mala.
"ti-tidak bukan seperti itu" ucapnya sedikit gugup.
"sayang...(meraih pipi kiri Raven) mama yakin Aleta tidak akan menolaknya" ucap Mala lembut.
"kamu tidak usah khawatir" lanjutnya.
"terimakasih ma" ucapnya sambil tersenyum kemudian meraih tangan Mala dari pipi beralih digenggam.
"kalian benar-benar sudah baikan?" tanya Mala sekali lagi dan di balas anggukkan oleh Raven.
"bagus kalau kalian sudah baikan, lain kali jangan berantem lagi kalian harus bisa akur, ya?"
"iya mama" ucapnya kemudian memeluk kedua wanita paruh baya itu.
HALLO GUYS😀🙌
AKU UP LAGI NIHH, TERIMAKASIH BAGI YANG MASIH SETIA NUNGGUIN UP DARI AKU😁
TINGGALKAN JEJAK KALIAN BERUPA
LIKE KOMEN DAN VOTE JUGA YAA
MOHON MAAF JIKA ADA TYPO😂
__ADS_1
TERIMAKASIH♥
HAPPY READING♥