A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
79. Kecupan


__ADS_3

...Hallo pakabar???...


...Ketemu lagi kitaaa, xixixi.....


...Bentar lagi Lebaran nihh. Nggak kerasa ya kita bisa bertemu lagi dengan bulan suci yang penuh berkah ini....


...Tetap bersyukur disetiap harinya, karena Tuhan pasti selalu memberikan kejutan yang tak terduga buat kita semua😇...


...HAPPY READING!...


.......


.......


.......


"Assalamu'alaikum, Raven pulang.." salam dari Raven saat memasuki rumahnya.


Wanita paruh baya menghampirinya sambil tergopyoh-gopyoh.


"Waalaikumsallam.. Eh, ada Aleta? Masuk, sayang" wanita itu langsung merangkul Aleta.


"Iya, ma." jawab Aleta sambil melempar senyumnya. Tak lupa mereka berdua mencium punggung tangan wanita itu.


Zanna menggiring calon menantunya itu masuk. Diikuti Raven di belakangnya.


"Duduk sini sayang." lalu Aleta duduk di sofa yang ditunjukkan oleh Zanna.


"Tumben kamu main kesini? Eh, mama malah senang kalau kamu main kesini. Sering-sering kesini ya sayang.." sambungnya setelah ikut duduk di samping Aleta.


"Iya mama, Aleta akan sering main kesini."


"Adek di mana, ma?" Raven bertanya, Zanna menatapnya.


"Adik kamu baru aja tidur."


"Tadi aku belikan es krim. Aku masukkan ke kulkas ya, ma?" ucapnya sambil menunjukkan plastik kecil berwarna hitam itu kepada mamanya.


Zanna mengangguk, "Iya sayang."


"Sekalian mau ganti baju." lanjutnya, setelah itu ia berlalu pergi. Tanpa menyapa Aleta.


"Nanti makan siang di sini aja ya sayang?" ucapnya dan diangguki Aleta.


"Iya mama."


"Gimana kabar mama sama papa kamu?" tanya Zanna.


"Alhamdhulillah mereka baik. Mama Zanna sendiri bagaimana sama Vania?"


"Alhamdhulillah kami baik. Oiya, Raven di sana nggak nakal kan? Dia nggak melakukan sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman, kan?" cerocos Zanna memastikan.


"Tidak mama, Raven di sana nggak nakal."


"Syukurlah. Mama lega mendengarnya." leganya.


"Mama Zanna tenang saja, Raven itu anaknya baik dan mudah diatur."


"Iya, mama percaya. Hanya saja sikapnya akan sangat berubah jika dia sedang marah ataupun merasa ada yang menganggu fikirannya. Dia akan sangat susah diatur, itulah yang mama khawatirkan. Semoga kalian selalu baik-baik saja." lirih Zanna dengan wajah sendu.


"Pasti, ma! Aleta akan membuat Raven nyaman tinggal di sana."


"Terimakasih sayang." Aleta mengangguk pelan.


"Yaudah, ayo makan."


"Iya, ma?" Aleta mengangguk.


"Ayo!" kemudian Zanna menarik lengan Aleta menuju meja makan.


.


Meja makan


"Raven kok belum keluar, ma?" tanya Aleta kepada Zanna yang belum melihat Raven sedari tadi.


"Ah iya, sebentar mama panggilkan." Aleta mengangguk kemudian Zanna pergi untuk ke kamar putranya.


"Kenapa lagi dengannya?" Aleta bergumam sambil menatap kepergian Zanna.


.


Tok.. Tok.. Tok..


"Raven sayang.. Ayo makan dulu yuk?" teriak Zanna dari luar kamar putranya.


Tak mendapat sahutan, Zanna mencoba memanggilnya lagi.


"Rav? Aleta sudah nunggu di meja makan."


"Raven belum lapar, ma" jawaban dari dalam.


"Ayo Raven.."


"Kenapa, ma? Raven nggak mau makan?" Aleta datang dari belakang Zanna.


Zanna membalik badan menghadap Aleta, "Nggak tahu, tapi katanya belum lapar."


"Coba Al yang bicara." ucap Aleta, lalu Zanna sedikit mundur untuk memberi ruang Aleta mengetuk kembali pintu itu.

__ADS_1


"Silahkan."


"Raven? Lo nggak makan?" tanya Aleta mengeraskan suaranya.


"Belum lapar." singkatnya dari dalam.


Kemudian Aleta menatap Zanna untuk bertanya, "Dia kenapa, ma?"


"Mama nggak yakin, kemungkinannya cuma dua. Pertama, mungkin dia emang belum lapar. Dan kedua, kemungkinan dia sedang tidak baik-baik saja." jelas Zanna yang sudah mulai khawatir dengan putranya.


"Tidak baik-baik saja? Kata mama, Raven akan mengurung diri di kamar jika sedang tidak baik-baik saja." batin Aleta.


"Mama kembalilah ke meja makan. Biar Al yang mencoba membujuknya." pinta Aleta kepada Zanna.


"Kamu yakin?" Aleta mengangguk, "Yakin, ma!"


"Yaudah, mama tinggal ya?"


"Heem." setelah itu Zanna pergi meninggalkan Aleta di sana.


Aleta kembali mengetuk pintu, "Raven. Apa gue boleh masuk? Tolong buka pintunya."


Tak ada jawaban, "Rav?! Lo denger gue nggak sih?! Gue lagi ngomong sama lo!" Aleta menambah volume bicaranya.


"Kakak makan duluan saja, aku belum lapar!" teriak dari dalam.


"Lo mau gue marah lagi?" hening.


"Raven! Kalau lo nggak mau buka pintunya, gue akan pulang sekarang! Lo bilang tadi mau ngajarin gue bikin kue?"


"Lain kali saja."


"Lo bener-bener mau gue marah?"


"Raven! Buka pintunya please.. Lo kalau lagi kesel bisa nggak sih nggak usah ngurung diri di kamar?" pinta Aleta memohon.


"Aku tidak kesal."


"Terus, lo kenapa?"


Hening.


"Buka pintunya!" pekik Aleta sedikit keras. Dan lagi-lagi tak mendapat sahutan dari orang di dalam.


"Gue mesti gimana nih biar dia keluar?" gumam Aleta sambil mencoba memikirkan sesuatu.


"Gue tahu!" serunya setelah menjentikkan jarinya, karena ia mendapat sebuah ide brillian supaya Raven mau membuka pintu untuknya.


Kedua tangannya menjulur ke meja sampingnya, meraih sebuah benda keramik berbentuk seperti pot bunga itu.


"Maaf mama Zanna, Al akan menggantinya nanti." batinnya sebelum menjatuhkan benda itu dari genggamannya.


"Aakhhh..."


Sapa sangka, ternyata benda keramik itu mengenai jarinya hingga mengeluarkan cairan merah segar.


"Kak Aleta?" mendengar benda jatuh dari luar kamarnya, serta suara teriakan dari Aleta itupun membuat Raven panik.


"Sakitt.." rintihnya, ia sampai terduduk di lantai sambil memegang lengannya, jarinya lolos mengeluarkan cairan merah.


Dan..


Ceklek


Begitu pintu terbuka, ia langsung disuguhkan dengan adegan yang mampu membuatnya tambah panik. Cewek itu duduk di lantai dengan tangan yang berdarah.


Raven berjongkok di samping Aleta, lalu memperhatikan luka di jari lentik itu.


"Kakak kenapa? Darah? Tangan kakak berdarah? Gimana ini, aduh.." saat ini Raven kalang kabut, ia panik.


"Sakit, Raven.. Hiks.. Hiks.." rengeknya sambil menangis.


"Kakak jangan menangis, ayo masuk.." ajaknya setelah menghapus sedikit jejak air mata di pipi mulus itu.


"Gendong.." mendengar itu, membuat Raven melongo sesaat. Lalu segera tersadar dan mengangguk sedikit ragu.


"Hah? Baiklah. Maaf, kak." setelah itu ia mengangkat tubuh ringkih itu ala bridal style, dan membawanya ke kamarnya.


Raven mendudukkan Aleta di pinggiran kasurnya.


"Sakitt, hiks.." Aleta terus saja menangis. Entah tangisan itu disengaja atau memang benar-benar menangis karena kesakitan.


"Sudah, jangan nangis. Aku ambilkan kotak obat." lalu Raven beranjak untuk mengambil kotak P3K di laci meja belajarnya.


"Kenapa sampai berdarah sih, padahal tadi gue jatuhinnya cuma pelan. Mana sakit banget lagi, perih.." batin Aleta sambil meratapi nasib jarinya.


"Raven? Aleta? Apa yang terjadi?" tanya wanita itu sambil berlari ke arah keduanya.


"Mamaa.. Hiks.." rengeknya setelah Zanna duduk di sampingnya.


"Ya ampun, Al. Tangan kamu kenapa bisa berdarah gini? Pasti ini sakit." Zanna memegang lengan Aleta untuk ikut melihat luka itu.


"Sakit ma, perih.. Hiks.." kedua matanya kembali menjatuhkan air mata.


"Raven, cepat kamu obatin tangan Aleta!." titah Zanna saat Raven menghampirinya.


"Iya, mama." jawabnya kemudian berjongkok di lantai sambil membuka kotak P3K tersebut.


Lalu perlahan ia meraih tangan itu untuk segera ia obati. "Maaf, kak. Sini tangannya aku obatin."

__ADS_1


"Pelan-pelan, hiks.." Aleta terus saja terisak.


"Bersihkan dulu darahnya sayang" titah Zanna yang bergidik ngeri saat Raven membersihkan darah itu menggunakan kapas.


Raven mengangguk patuh, "Iya, ma."


"Sakit, hiks.. Hiks..." isaknya lagi saat Raven memberikan obat merah ke lukanya.


"Kak, Kak Aleta jangan menangis.." Raven menjadi tambah panik saat lagi-lagi cewek itu meringis kesakitan.


"Mama tinggal dulu ya sayang, mau bersihkan sisa pecahan di luar." ucap Zanna.


"Maafin Al ya, ma? Karena udah rusakin barang mama, hiks.." ucap Aleta disela isakannya.


"Tidak apa-apa sayang. Yaudah, kamu obatin yang benar." setelah menjawab Aleta, wanita itu kembali meminta putranya untuk segera menangani luka itu.


Raven mengangguk, "Heem."


Setelah kepergian Zanna, Raven merasa menyesal. Ia fikir, Aleta terluka seperti ini gara-gara dirinya.


"Maaf.." lirihnya seraya membalut luka itu menggunakan perban yang ada.


"Hm." Aleta menjawab dengan 'hm' saja.


"Tadi lo kenapa lagi?" sambungnya.


"Maaf, pasti gara-gara aku tangan kakak terluka." ucapnya lagi dengan suara lirih.


"Iya, salah lo! Karena nggak mau disuruh bukain pintu." gumam Aleta pura-pura kesal.


"Ma-.." saat Raven akan mengatakan kalimatnya, buru-buru Aleta memotong ucapannya.


"Sekali lagi bilang kegitu, gue marah beneran!." Raven mengangguk patuh.


"Sudah, kak." ucapnya setelah selesai memasang perban.


Aleta mengangguk, "Heem."


Melihat cowok itu masih menggenggam jemarinya dan kepala cowok itu yang berada sangat dekat dengan dirinya.


Jika dalam penglihatan Aleta, kepala cowok itu bergerak ke kanan-ke kiri membuatnya gemas sendiri. Serta rambut cowok itu yang sebagian menutupi dahi, menambah kegemasan tersendiri dalam diri Aleta.


Perlahan ia memajukan kepalanya ke arah cowok itu dan mencari posisi yang tepat untuknya mendaratkan sebuah kecupan.


Akhirnya ia mendapatkan posisi yang tepat.


CUP


"Biar nggak ngambek lagi." ucapnya setelah kembali duduk seperti semula.


Raven terkejut, namun ia langsung tersadar dan membalas kecupan itu.


"Ini juga, biar lukanya cepat sembuh." gumamnya sebelum mendaratkan sebuah kecupan itu di tumpukan perban yang membalut luka di jari Aleta.


MUACH!


"Langsung sembuh." ucap Aleta datar namun terdengar meyakinkan.


"Beneran?" Raven melotot cengo.


"Nggak, masih sakit.." jawabnya sedikit malas.


"Kakak nggak mau elus kepala aku?" cowok itu bertanya.


"Nggak mau! Sebelum lo mau makan siang." pekiknya dan itu membuat cowok itu langsung mengangguk setuju.


"Mauu! Ayo makan!"


"Oke!"


SKIP


"Sampai sini aja, biar gue masuknya jalan kaki." ucap Fany setelah turun dari motor Arga.


"Lho, kenapa? Nggak apa-apa beneran, gue antar sampai depan rumah lo."


"Nggak usah! Sampai sini aja. Makasih, bye!" lalu Fany segera berlari masuk gang itu, meninggalkan Arga yang masih mangkring di motor.


"O-oke."


"Dasar cewek aneh. Mau diantar sampai rumah malah milih jalan kaki." gerutu Arga seraya menstater motornya.


.


.


.


.


Ada-ada aja tingkah A&R 😂


Semoga kalian nggak bosen ya sama drama perjodohan yang sampai sekarang belum nikah-nikah, hihi.. Padahal di cerita perjodohan kebanyakan, baru di awal aja udah tunangan-lah, menikah-lah, bahkan udah punya anak. Tapi di sini masih ngaret, ya?


Jangan terburu-buru. Apalagi kisah di sini itu antara cewek judes dan cowok polos. Semoga si judes segera menerima perjodohan ini. Mari kita Aamiin-kan bersama-sama, Bestie!


Jangan lupa Like!


.

__ADS_1


__ADS_2