
"Rav? makanlah" sesampainya di UKS, Arga segera memberikannya kepada Raven.
"Raven? hey!.." Arga menepuk lengan Raven karena Raven menutup matanya.
"Rav? lo tidur apa pingsan?" kini Arga menggoyang-goyangkan tubuh Raven, Aleta mengintip dari luar mendengar mulai khawatir.
"woi bangun!"
"ada apa? Raven? dia kenapa?" tiba-tiba Aleta masuk dan mendapati Raven tengah terbaring menutup mata.
"eh lo kenapa?" ia bertanya pada Raven namun tak ada jawaban. Arga yang kebingungan sedikit menoleh melihat siapa yang berdiri didepan membelakanginya.
"kakak? siapa?" tanya Arga pada wanita di depannya.
"di-dia kenapa nggak bangun? ap-apa yang terjadi padanya?" tanya Aleta dengan raut khawatir.
"tadi dia dihukum karena terlambat dan dia bilang belum sarapan" Arga menjelaskan.
"astaga, bisa-bisanya lo nggak sarapan. Seharusnya lo sempetin buat sarapan, gini kan jadinya" Aleta mengomeli Raven yang masih terbaring memejamkan mata.
"tapi.. kenapa dia nggak bangun? apa dia tidur?" gumamnya lirih namun bisa didengar Arga.
"saat aku sampai dia sudah seperti ini kak"
"Rav?" Aleta menepuk pundaknya lembut namun ia tak membuka mata.
"apa dia pingsan?" ucap Arga tiba-tiba.
"pingsan? astaga, Rav bangunlah" panggilnya sekali lagi dengan mendekatkan minyak kayu putih di dekat hidung Raven, tak lama setelah itu Raven perlahan membuka matanya.
"ah syukurlah" ucap Aleta lega sambil menggenggam telapak tangan Raven.
Raven mengerjabkan mata dan melihat sosok di depannya namun belum jelas, perlahan-lahan pandangannya mulai jelas dan betapa terkejutnya sosok yang tengah berdiri itu adalah Aleta, calon istrinya yang kini sedang menggenggam erat tangannya tengah memasang raut penuh khawatir.
"lo udah sadar, Rav?" tanya Arga mendekat.
__ADS_1
"lo nggak apa-apa?" tanya Aleta dan Raven perlahan menutup matanya lagi karena masih lemas, tentu saja itu membuat Aleta kembali khawatir.
"eh kenapa lo nutup mata lagi? bukannya tadi lo udah sadar"
"Rav? Raven? plis buka mata lo" lanjutnya, kini Aleta berkata dengan mata berkaca-kaca sambil menempelkan jidatnya di punggung tangan Raven, entah kenapa dia begitu khawatir dengan kondisi Raven.
"Rav? lo pingsan lagi?" tanya Arga ikut khawatir.
"kak.." perlahan Raven mengelus kepala Aleta dengan menyunggingkan senyumnya dan Aleta merasa ada yang menyentuh kepalanya langsung mendongak.
"Rav? hiks hiks.." Aleta langsung memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan keberadaan Arga tengah berdiri di belakangnya. Yang dipeluk mengerutkan dahinya bingung namun ada rasa senang di hatinya. Arga yang melihat hanya menganga.
"aku nggak apa-apa kak" ucap Raven lirih, sedangkan Aleta masih menangis di pelukannya.
"kenapa kakak menangis?" setelah itu Aleta melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"enggak, gw nggak nangis" ucap Aleta tanpa menatap Raven.
"tapi kenapa kakak tadi tiba-tiba peluk aku?"
"t-ta-tadi itu gw.. gw di dorong sama temen lo ini" mengarahkan jari telunjuknya ke Arga, sedangkan yang ditunjuk mengernyitkan dahinya bingung.
"kakak khawatir sama aku?"
"enggak (membuang muka) ngapain juga gw khawatir sama lo" Raven tersenyum kemudian ingin beranjak duduk.
"eh lo mau ngapain?" tanya Aleta saat Raven mengangkat tubuhnya.
"aku udah nggak apa-apa" ucapnya setelah duduk.
"Ga? mana tadi titipan aku?"
"ini Rav, sekalian tadi gw beliin minum" ucap Arga memberikan kotak nasi dan air minum.
"makasih ya, Ga"
__ADS_1
"iya sama-sama" sambil tersenyum.
"kalau gitu gw makan di luar aja ya, kan lo udah sama kakak lo" ucapnya sedikit tertawa, Raven menatap dengan malas. Kemudian Raven dengan hati-hati membuka kotak nasi miliknya, namun karena tangannya gemetar jadi sulit untuk membukanya. Aleta melihat merasa tidak tega, lalu Aleta meraih kotak nasi milik Raven dan membantunya.
"kenapa kak?"
"udah diem, biar gw bantu bukain" Raven menurut, sedangkan Arga tengah sibuk melahap miliknya di teras UKS meninggalkan dua insan di dalam UKS.
"udah kak, aku bisa makan sendiri" saat Aleta hendak menyuapi Raven menolak.
"cepat buka mulut lo!"
"tidak usah kak...." Aleta dengan cepat memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Raven, dan dengan terpaksa Raven melahapnya.
"gw udah bilang lo diem aja, gw nggak suka sama orang yang nggak nurut sama gw" gerutu Aleta sedikit kesal karena Raven tidak mau nurut. Raven mengunyah dengan sangat cepat.
"cepet amat lo ngunyah? laper apa doyan?" ledeknya disela suapan.
"dua-duanya kak" ucapnya masih mengunyah sambil menyeringai.
"dasar" ucap Aleta terdengar lirih.
"kakak ngomong apa?"
"nggak, ini makan yang banyak" menyuapinya lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo guys aku up lagi nih😊
Terimakasih buat yang masih baca cerita ini
Mohon maaf kalau ceritanya kurang seru heheh
Kalau ada typo mohon maaf guys...
__ADS_1
Terimakasih♥
Happy reading♥