
H**alo aku up lagi..
Yaampun lama sekali aku up nya, hampir setengah tahunðŸ˜
Sebenarnya sudah ada di draft lamaaa**..
Aku itu dari awal tahun 2022 lagi nulis cerita juga di lapak sebelah. Jadi, aku fokus ke cerita yang di sana, dan yang di sini malah terbengkalai, hiks..
Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, kalau cerita ini bakalan aku lanjut dan nggak aku gantung. Karena aku tahu digantung itu nggak enak, suerr..
Mohon pengertiannya ya readers kesayangan aku..
Aku juga masih sekolah hehee. Dan dari bulan kemarin disibukkan dengan ujian sekolah beserta ujian praktik.
Karena hari Jumat besok USP dan UPRAK selesai, aku usahain buat lanjut nulis lagi yang di sini.
Jangan lupa Like sebelum baca😋
Kalau misalnya ada yang lupa sama alur ceritanya, bisa dibaca ulang yaa..
Happy reading!
.
.
.
"yaudah kalau gitu mama turun ya, kalian lanjutin mengobrolnya" ucap Mala setelah itu pergi, Aleta masih melamun memikirkan sesuatu kemudian kembali masuk dan duduk di pinggiran kasur, Raven yang melihat ikut duduk di sampingnya.
"Kak Al kenapa?" tanya Raven dijawab gelengan oleh Aleta.
"lo se-merasa bersalah itu ya?" tanya Aleta tanpa menatap Raven, ia menatap kosong ke depan. Raven mengerutkan dahinya bingung.
"seharusnya lo jangan kegitu Rav, gue tahu lo itu tipe orang yang nggak enakan. Tapi jangan sampai nyusahin diri lo juga" Raven masih saja belum faham dengan yang dikatakan Aleta, emang bener-bener telmi tingkat akut.
"apa yang Kak Aleta bicarakan? aku nggak ngerti" Aleta menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap lekat mata Raven.
"gue tahu lo orang baik, gue harap lo bertemu sama orang yang baik juga" lirih Aleta yang terdengar tulus.
"Kak Aleta kenapa ngomong gitu? Kakak juga orang baik dan.." Aleta menggeleng membuat Raven menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"gue bukan orang baik.." lirihnya.
"Kak Al itu orang baik bahkan sangat baik, karena itu aku suka sama Kakak!" tekan Raven.
"nggak ada yang bisa lo suka dari gue, karena gua nggak sebaik itu, Rav" kedua mata Aleta mulai berkaca-kaca.
Raven merangkup kedua pipi Aleta untuk menghadapnya.
"enggak, Kak Aleta itu orang baik"
"kalau gue orang baik seharusnya gue nggak bikin orang lain ngerasa bersalah sampai nyusahin dirinya sendiri" lirih Aleta dengan tatapan sendu.
"pokoknya Kak Aleta orang baik, seandainya kakak bukan orang baik aku bakalan bimbing Kakak buat jadi orang baik, aku janji!" tekan Raven mantab.
"kenapa sih lo itu harus kegini, lo jangan terlalu baik jadi orang" ucap Aleta seraya melepas telapak tangan Raven dari pipinya.
"Kak.. maaf kalau aku kurang sopan sekarang, tapi.."
Aleta menoleh ke Raven dan,
CUP
Raven memegang pipi kanan Aleta dan mencium bibir Aleta sekilas, membuat Aleta mematung seketika setelah itu Raven beranjak dan berjalan keluar meninggalkan Aleta beserta boneka dino-nya di samping Aleta. Tak lama Aleta sadar dan memegang bibirnya.
Di sisi lain, Raven menuruni anak tangga sambil mengerutuki dirinya. Pasalnya ia sudah berjanji untuk tidak mengulangi itu lagi, tapi hari ini ia lepas kendali.
Sesampainya di bawah, Raven menemui Mala dan membantunya membawa makanan ke meja makan.
"terimakasih Raven.." ucap Mala selesai menata semuanya.
"sama-sama, Ma" saat Raven akan melangkah, Mala memanggil.
"Rav.." Mala mendekat dan menggenggam lengan kanan Raven.
"mama minta maaf sama kamu, karena sudah terlalu memaksa kalian untuk segera menikah tanpa mama mengerti perasaan kalian"
"tidak apa-apa ma, Raven mengerti dan Kak Aleta juga mengerti" jawab Raven dengan senyuman manisnya.
"iya.." Mala mengangguk sambil mengelus lengan Raven lembut.
"aduh ya ampun Mal, maaf ya aku nggak bantu kamu menyiapkan makan malam. Tadi Vania nggak mau ditinggal sendiri" ucap Zanna baru datang merasa tidak enak.
__ADS_1
"no problem Zan, aku ngerti"
Evano pulang awal dan mereka ber-enam pun sudah berada di meja makan.
Hening.
"ekhem..ayo kita mulai makannya" dehem Mala memecah keheningan.
Aleta tak henti-hentinya memberikan tatapan tajam ke arah Raven, sedangkan Raven tak berani mengangkat wajahnya.
"Raven.." Evano memanggil, Raven mendongak menatap Evano.
"iya Pa?"
"kamu kenapa diam saja, ayo dimakan" Raven mengangguk kemudian perlahan menjulurkan tangannya menyendok nasi ke piringnya, diikuti Aleta setelahnya. Mereka makan dengan hikmat.
Kejadian kemarin malam, mereka sudah membicarakannya dan menimbang-nimbang untuk memberikan Aleta kesempatan untuk memikirkannya, lagi.
Mala, Zanna dan Evano tidak mau memaksa Aleta untuk segera menerima perjodohan itu. Membiarkan Aleta dan Raven menjalani hubungan yang tak lebih dari seorang teman dan adik kelas, dan biarkan perasaan mereka tumbuh perlahan supaya tidak terkesan terlalu memaksa untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius.
Ibarat kata 'pernikahan bukan hanya untuk menyatukan dua lawan jenis, melainkan untuk menyatukan dua keluarga'. Namun yang terjadi saat ini, dua keluarga sudah bersatu, kini tinggal menyatukan dua orang. Tapi tetap saja, menjalani itu lebih sulit ketimbang bercakap.
Biarkan semua berjalan sesuai kehendak Tuhan. Jika memang Aleta dan Raven ditakdirkan bersama, pasti akan berakhir demikian. Lain sisi, jika memang mereka tak ditakdirkan bersama, maka bisa apa?
"Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan"
.
.
.
.
Gimana nihh? bosen nggak sih sama cerita Raven yang berjuang dapetin cintanya Aleta, sedangkan Aleta kayak menghindar terus?
Lanjut atau udahan?
Aku aja rada bosen sebenarnya dan gregetan juga sama Aleta yang nggak bisa nerima Raven, padahal udah tahu kalau Raven tuh anaknya baik banget. Kenapa sih Aleta iih gemess deh..
Jadi greget sendiri authornya hehe, mohon maaf kalau authornya jadi curhat..
__ADS_1
Maaf kalau ada typo yaa
Terimakasih.