
"di mana kak Aleta?" menuruni anak tangga sambil mengucek matanya.
"Zanna? Raven sudah bangun" Mala melihat Raven menuruni anak tangga langsung memanggil Zanna untuk mendekat.
"ada apa Mal?"
"itu Raven udah bangun"
"di mana?"
"itu.." mengarahkan jari telunjuk ke arah Raven lalu Zanna menghampirinya.
"Rav, kamu udah bangun?"
"mama? iya"
"gimana?" pertanyaan Zanna membuat Raven mengerutkan dahinya bingung.
"apa yang gimana, ma?"
"ma-maksud mama, gimana tidur kamu?"
"nggak gimana-gimana" menggeleng dengan wajah polosnya.
"yasudah, kalau begitu" Zanna tersenyum pasrah.
"ohiya ma, kak Aleta di mana?"
"Aleta? tadi dia keluar, mungkin dia ada di teras"
"kalau gitu aku mau ke teras" Zanna mengangguk kemudian Raven berjalan menuju teras.
Di teras...
"gw emang nggak ngapa-ngapain kok sama dia, kenapa mama ngomong kayak gitu" gumamnya sambil menyiram tanaman.
"kak Aleta di mana?" Raven mencari keberadaan Aleta masih berdiri di depan pintu.
"itu dia" lalu berjalan menghampiri Aleta yang sedang menyiram tanaman.
"kak.." panggil Raven begitu sampai, ia berdiri di belakang Aleta membuatnya kaget dan memutar selang ke arah Raven.
"kak?" Raven mengangkat kedua tangan karena bajunya di siram, sedangkan Aleta mengetahui bahwa ia mengarahkan selang ke Raven menutup mulut dengan telapak tangannya dan langsung menjatuhkan selang yang ia pegang.
"kok aku disiram?" tanya Raven.
"sorry sorry gw nggak sengaja, lagian lo ngagetin gw"
"kan aku cuma panggil"
"salah lo lah, ngapain panggil dari belakang? kena kan lo"
"baju aku jadi basah" ucapnya sambil memegang bajunya yang basah.
"basah segitu aja kok, lebay lo" lalu ia mengambil selang yang jatuh kemudian kembali menyiram tanaman.
"gara-gara kak Aleta nih baju aku jadi basah, jadi dingin" Raven memeluk dirinya sendiri seolah sedang kedinginan.
"kalau dingin balik aja ke kamar terus selimutan biar anget" ucapnya masih fokus menyiram tanaman.
"nggak mau" Aleta tak perduli.
"kak?" Aleta tak menjawab.
"kak Aleta!?" meraih lengan Aleta.
"apaan sih lo bawel banget, ganggu gw nyiram tanaman aja" kesalnya, lengannya masih digenggam.
"jogging yuk!?"
"ogah"
"males" lanjutnya.
"kenapa males? kan biar sehat"
"gw bilang males berarti nggak mau, masa gitu aja nggak ngerti" Raven melepas genggamannya kemudian Aleta berbalik menyiram tanaman lagi.
"ayolah kak" rengeknya sambil menarik-narik lengan Aleta seperti anak kecil.
"apaan sih, gw nggak mau" ucapnya kesal.
"pokoknya harus mau"
"emang kenapa? lo mau apa?"
"nanti aku beliin es krim? atau permen?"
"dih emang gw anak kecil apa"
"(Raven menghembuskan nafas pelan) kalau kakak nggak mau aku akan kasih tahu mama kalau tadi pagi kakak peluk aku" ucapnya dengan tatapan menyidik.
"ap-apa? pe-peluk lo? siapa?" Aleta memalingkan wajahnya.
"aku tahu semuanya, kak"
"eng-enggak, gw sama sekali nggak peluk lo"
"tapi emang kayak gitu, pas aku mau pindahin tangan kakak, kakak malah erat peluk aku" ucap Raven dengan kepolosan dan kejujurannya.
__ADS_1
"apa lo bilang? awas aja kalau lo berani ngomong sama mama"
"aku nggak akan bilang asal kakak mau ikut jogging sama aku"
"nggak mau, lo jogging aja sendiri"
"yaudah kalau nggak mau, kalau gitu aku mau ngomong sama mama" saat Raven akan melangkahkan kaki, Aleta menahan lengannya.
"t-tu-tunggu, jangan macem-macem lo"
"emang aku mau ngapain?"
"ya lo mau ngomong apa sama mama?"
"aku mau ngomong kalau..." belum selesai bicara Aleta memotongnya.
"iya iya gw mau jogging" ucapnya dengan terpaksa.
"tapi tadi katanya nggak mau"
"daripada lo ngadu sama mama" ucapnya lirih.
"apa kak?" tanyanya tidak mendengar yang dikatakan Aleta.
"bukan apa-apa"
"kalau gitu aku mau bilang sama mama dulu"
"oke, gw juga mau masuk"
"ngapain kakak masuk? kakak tunggu di sini aja?"
"lo nggak perlu tahu" ucapnya penuh penekanan, kemudian berlalu mendahului Raven.
"kak? tunggu..." lalu Raven berlari menyusul Aleta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"jogging kemana kita?" tanya Raven setelah berpamitan dan sudah bersiap di teras.
"terserah, lo yang ngajak kok lo yang nanya" jawabnya dengan raut males.
"kan aku nggak tahu jalan di daerah sini dan biasanya orang-orang kalau jogging di mana?"
"jadi jogging nggak? kalau nggak jadi gw masuk" masih dengan raut males dan akan membalikkan badannya masuk ke dalam rumah.
"eh eh, ya jadi dong kak" menahan lengan Aleta.
"yaudah cepetan"
"kalau gitu, kemana aja deh asal sama kakak"
"yaudah yuk" lalu Raven menarik lengan Aleta dan mengajaknya jogging. Tidak ada percakapan sepanjang jalan hanya ada suara kendaraan yang lewat.
"aduh capek gw" Aleta duduk di kursi dekat taman, sedangkan Raven terus berjalan dan menyadari kalau Aleta tidak ada dibelakangnya ia berbalik.
"kakak kenapa berhenti?" tanyanya mendekati Aleta.
"capek (bersandar di kursi) haus (memegang lehernya)"
"kakak haus? yaudah kalau gitu aku beli minum dulu ya? kakak duduk sini, jangan kemana-mana" Aleta mengangguk kemudian Raven berlalu meninggalkannya.
Saat ia sedang duduk di kursi dekat taman, ia tidak sengaja melihat sepasang suami istri tengah bercanda bersama putrinya. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca dan langsung memalingkan pandangan tak ingin air matanya jatuh, tak lama setelah itu Raven kembali.
"ini kak" memberikan botol air mineral kepada Aleta, Aleta meraih dan segera meminumnya. Raven ikut duduk di samping Aleta.
"terimakasih" ucap Aleta setelah minum.
"sama-sama, kak" Raven melirik wajah Aleta dan melihat matanya merah.
"kak?"
"apa?" Aleta menjawab dengan pandangan lurus kedepan.
"kakak kenapa?"
"maksud lo?" masih menatap lurus ke depan.
"enggak, itu mata kakak merah. Kakak abis nangis ya?" Aleta langsung memalingkan wajahnya ke samping tak ingin Raven melihat matanya yang merah.
"enggak" Aleta mencoba mengerjab-erjabkan mata supaya kembali seperti semula.
"coba madep sini" Raven memegang pipi Aleta untuk menatap ke arahnya.
"tuh lihat mata kakak merah"
"apaan sih (menepis tangan Raven yang memegang pipinya) tadi itu gw kelilipan" sambil mengucek matanya.
"eh eh jangan di kucek dong kak (memegang tangan Aleta yang mengucek mata) nanti tambah merah"
"udah lepasin" menepis tangan Raven(lagi).
"kakak beneran kelilipan?" Aleta mengangguk.
"yaudah sini (menangkup kedua pipi Aleta) mana yang kelilipan?" tanyanya sambil mengamati kedua mata Aleta.
"lo mau ngapain?"
"mata yang mana yang kelilipan?"
__ADS_1
"ya-yang ini" mengarahkan jari telunjuk ke mata sebelah kiri.
"kakak jangan kedip, ya" lalu Raven mendekatkan bibirnya ke arah mata Aleta.
"l-lo mau ngapain sih?" tanya Aleta menjauhkan wajahnya.
"bentar jangan kedip (lalu hbwuuh..hbwuuh..)" Raven meniup mata Aleta pelan-pelan.
"gimana kak?" tanya Raven setelah meniup dua kali.
"gimana apanya?"
"mata kakak, udah nggak apa-apa?"
"daritadi juga nggak apa-aa"
"lah tadi katanya kelilipan?"
"mau lanjut jogging apa nggak?" Aleta mengalihkan pembicaraan.
"tapi mata kakak..."
"mata gw nggak apa-apa" ucap Aleta penuh penekanan dan berlalu pergi.
"eh kak, tungguin aku" Raven meraih dua botol air mineral dan mengejar Aleta.
"kakak nggak mau lanjut joggingnya?" tanyanya berjalan beriringan.
"enggak" jawabnya singkat.
"masa joggingnya cuman gitu doang sih"
"kalau lo masih pengen jogging, yaudah sana jogging sendiri ngapain masih ngikutin gw"
"kak.." Raven menghentikan langkahnya dan Aleta masih terus berjalan.
"kenapa sih kak Aleta nggak pernah anggap aku?" Aleta menghentikan langkah membelakangi Raven.
"maksud lo?" Aleta membalikkan badan.
"kenapa kakak bersikap kayak gini? apapun yang aku lakukan selalu kak Aleta tolak"
"emang lo ngelakuin apa sampai ngerasa nggak gw anggap?"
"seolah aku nggak pernah ada dihidup kak Aleta"
"lo ngomong apa sih? hm?"
"segitu nggak suka nya ya kak Aleta sama aku?" ucapnya sambil menunduk.
"pasti kak Aleta benci banget sama aku" lanjutnya.
"lo kenapa sih?" berjalan mendekati Raven.
"kalau emang kak Aleta nggak suka sama aku, kakak bilang jangan kayak gini"
"hei.. (menyentuh lengan Raven)"
"lo ngomong apa gw nggak ngerti"
"kadang aku ngerasa kalau kak Aleta suka sama aku dan kadang juga ngerasa kak Aleta seolah biasa aja seperti nggak suka"
"kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?"
"aku masih bingung sama perasaan aku ke kak Aleta, tapi aku selalu ngerasa nyaman saat di dekat kakak" Raven menatap mata Aleta.
"astaga, kenapa dia ngomong gitu? dan kenapa rasanya lucu melihatnya bersikap seperti anak kecil? aku merasa seperti ingin selalu melindungi dan menjaganya" batin Aleta.
"kenapa lo bisa ngomong gitu? gw sama sekali nggak benci sama lo, cuman hari ini mood gw kurang baik aja. Gw minta maaf mungkin kata-kata gw nyakitin lo, gw harap lo ngerti" ucap Aleta.
"kak Aleta beneran nggak benci sama aku, kan?"
"iya" Aleta manguk-mangguk sambil tersenyum dan mengelus kepala Raven lembut.
"aku juga menyukai ini" ucap Raven membuat Aleta mengerutkan dahi bingung.
"apa?"
"saat kak Aleta mengelus kepalaku rasanya sangat nyaman dan aku merasa sangat senang"
"benarkah?"
"apa lagi saat kak Aleta peluk aku" tiba-tiba Raven memeluk tubuh Aleta membuat Aleta melototkan kedua matanya.
"eh lo ngapain?" Aleta berusaha melepas pelukan namun Raven malah semakin erat memeluknya.
"aku sayang sama kak Aleta, jadi nggak ada yang boleh deketin kakak selain aku" Raven berbisik dengan menempelkan bibirnya di telinga Aleta, membuat Aleta bergidik geli. Lalu Raven melepas pelukan beralih menggandeng lengan Aleta dan mengajaknya kembali ke rumah. Sedangkan Aleta hanya diam seribu bahasa.
HALLO GUYS AKU UP LAGI😊
GIMANA CERITANYA? SERU NGGAK? KALAU KALIAN SUKA JANGAN LUPA SELALU TINGGALIN JEJAK KALIAN DENGAN👇
LIKE KOMEN DAN VOTE JUGA YA😄
MOHON MAAF KALAU ADA TYPO
TERIMAKASIH♥
HAPPY READING♥
__ADS_1