A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
46. Papa


__ADS_3

"anak-anak di mana, ma?" tanya Evano mendekati istrinya di dapur.


"mereka sedang belajar di kamar"


"baguslah jika mereka belajar" ucap Evano lega.


"tapi pa, mama merasa ada yang aneh diantara mereka"


"aneh? maksud mama?"


"iya aneh aja menurut mama, sikap mereka tidak seperti biasanya termasuk dengan sikap Raven"


"ada apa dengan Raven?" Evano mulai penasaran.


"mama rasa dia seperti habis ngelakuin kesalahan deh, tapi mama nggak tahu apa"


"mama ini, mungkin itu hanya perasaan mama saja"


"mungkin juga sih, pa" selesai memasak, Mala langsung memanggil anak-anaknya.


"Rav? makan malam sudah siap, ayo turun" teriak Mala dari depan kamar Raven.


"iya ma, sebentar" tak lama Raven membuka pintu.


"sudah?" Raven mengangguk.


"yasudah, ayo kita panggil Aleta"


"Al? ayo turun, kita makan malam" teriak Mala dari balik pintu, tak ada jawaban.


"kak Al, ayo kita makan" kini giliran Raven yang memanggil.


"kalian aja yang makan, Al nggak laper" Raven dan Mala saling pandang, bingung.


"Al, kamu nggak apa-apa kan?"


"kalian makan aja, Al nggak laper"


"yaudah, ayo kita turun" ajak Mala.


"tapi bagaimana dengan kak Aleta?"


"nanti biar mama coba bicara padanya, kalau dipaksa sekarang dia nggak akan mau"


"baiklah" Raven menurut.


"Al? kalau gitu kita makan duluan"


"iya" Aleta menjawab singkat, lalu Mala dan Raven turun.


"apa kak Aleta benar-benar marah? kenapa tadi aku melakukan itu?" batin Raven sambil memukul-mukul kepalanya, Mala melihat pun bingung dengan sikapnya.

__ADS_1


"kamu kenapa? pusing?" tanya Mala.


"hah? ti-tidak ma, aku tidak apa-apa" lalu mereka berjalan ke meja makan dan makan malam, sedangkan Aleta merenung di dalam kamarnya.


"setelah kejadian itu ngapain lo ngehubungin gw lagi?" batin Aleta sambil melamun memangku dagunya.


"gw udah coba buat ngelupain lo selama kurang lebih 2 tahun ini, walaupun gw tahu lo itu seorang playboy tapi lo adalah cinta pertama gw, dan move on paling sulit adalah dari cinta pertama" Aleta mengusap wajahnya frustasi.


"gw jadi nggak fokus belajar kan"


"udah, gw harus fokus belajar. Inget Al besok itu ulangan kenaikan kelas dan lo harus dapat nilai tertinggi" ucapnya menyemangati dirinya sendiri, lalu Aleta mulai fokus belajar namun ada saja yang terlintas dibenaknya. Pada saat ia membuka buku dan akan membacanya tiba-tiba ada wajah seseorang yang muncul di lembar bukunya, wajah siapa lagi kalau bukan Raven.


"eh! apaan sih, fokus Al fokuss.." menyadarkan dirinya sendiri.


"kenapa jadi ada wajah Raven sih, ada yang nggak bener" gerutunya, kemudian kembali fokus belajar.


Disisi lain, Evano, Mala dan Raven sudah selesai makan malam dan Evano mengajak Raven bicara berdua di ruang tengah. Sedangkan Mala membersihkan meja makan.


"saya ajak kamu kesini karena saya ingin bicara sama kamu, Raven" ucap Evano serius.


"iya om, tadi mama Mala sudah memberitahu kalau om ingin bicara empat mata dengan Raven"


"ekhem, jadi begini.. tadi istri saya bilang kalau dia merasa ada yang aneh dengan kamu"


"aneh? maksud om?" Raven bingung.


"istri saya merasa kalau kamu seperti habis melakukan kesalahan"


"apa benar? tadi saya menyangkal kalau itu hanya perasaan istri saya saja, tapi untuk tahu lebih jelasnya saya harus memastikannya sendiri"


"se-sebenarnya benar om, a-aku habis melakukan kesalahan" ucap Raven sambil menunduk.


"benarkah? kamu melakukan apa?"


"sebelumnya aku ingin meminta maaf dengan om, tadi Raven tidak sengaja eh maksudnya sengaja eh tidak, bagaimana cara ngomongnya" ucapan Raven mulai tidak jelas.


"kamu ini bicara apa, saya tidak mengerti. Coba kamu bicara yang jelas, sengaja apa tidak sengaja?" ucap Evano sedikit tertawa.


"se-sebenarnya tadi Raven habis melakukan kesalahan, t-tadi Raven mencium kak Aleta" jawabnya takut-takut dengan mengatakan 'mencium' dengan nada lirih.


"apa? kenapa kamu melakukan itu pada Aleta?"


"maaf om, saya tidak sengaja. T-tadi itu saya kelepasan"


"mana ada kelepasan?" ucap Evano menahan tawa namun berusaha seperti sedang marah.


"ma-maafkan Raven om, Raven janji Raven tidak akan mengulanginya" Raven sampai berjongkok di kaki Evano, melihat hal itu Evano merasa tidak tega untuk memarahinya (walaupun marahnya hanya pura-pura).


"untuk apa kamu sampai bersikap seperti ini?" memegang pundak Raven dan menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi.


"Raven minta maaf"

__ADS_1


"kamu tidak perlu khawatir, om sama sekali tidak marah sama kamu. Hanya saja om sedikit kesal karena kamu sudah berani mencium putri kesayangannya om" ucap Evano seperti ngambek.


"om beneran nggak marah sama Raven?" tanya Raven yang matanya sudah menggenang dan hampir meneteskan air mata.


"hey, kamu itu laki-laki. Cepat usap jangan sampai air matanya jatuh, laki-laki tidak boleh menangis hanya karena hal seperti ini" titah Evano sedikit tertawa, lalu dengan cepat Raven mengusap air matanya.


"Rav.." panggil Evano serius dan Raven menatapnya.


"kamu harus menjadi sosok laki-laki yang bisa diandalkan, bertanggung jawab dan bisa membuat putri om bahagia, kamu pasti belum tahu kalau dari Aleta kecil bahkan mungkin sampai sekarang dia belum mendapat perhatian dan kasih sayang penuh oleh papanya, saya sendiri (menunjuk dirinya sendiri). Karena setelah dia dilahirkan ke dunia, om banting tulang buat membiayai segala kebutuhan hidupnya"


"kadang saya merasa sedih karena tidak bisa dekat dengan putri om sendiri, dan menyesal karena selalu tidak ada waktu dengannya" jelas Evano dengan mata sendu.


"om.." Raven memegang pergelangan tangan Evano mencoba menenangkan.


"saya selalu sibuk bekerja sampai tidak ada waktu bersama dengan putri om, saya memang bukan papa yang baik"


"jangan bicara seperti itu, om adalah sosok papa yang baik bahkan sangat baik buat kak Aleta. Jadi om jangan pernah berfikir seperti itu, om sudah menjadi papa yang hebat" ucap Raven penuh keyakinan.


"kamu memang anak yang baik dan sifat Eko menurun ke kamu"


"(Raven tersenyum menahan sedihnya) aku memang ingin menjadi sosok seperti papa, yang selalu berbuat baik kepada semua orang walaupun orang itu jahat ke dirinya"


"saya bicara sama kamu sudah seperti bicara langsung sama Eko, karena sifat kalian sangat mirip" Raven tersenyum.


"kamu jangan sedih, mulai sekarang kamu boleh panggil saya papa"


"benarkah?" Raven tersenyum pepsodent, Evano mengangguk mengiyakan.


"sudah lama Raven tidak memanggil sebutan papa dan sekarang om mau dipanggil papa?"


"kamu mau kan panggil saya dengan sebutan papa?" Raven mengangguk antusias.


"baguslah, sekarang kamu ke kamar dan lanjutkan belajar"


"siap, pa" duduk tegap dan seperti memberi hormat.


"oiya, terimakasih sudah mau menjadi tempat curhatan papa yang sedikit memalukan" ucap Evano sedikit tertawa.


"tidak ada yang memalukan kok pa, malahan Raven senang bisa mendengarkan curhatan dari papa"


"yasudah, lebih baik sekarang kamu cepat naik" Raven mengangguk kemudian beejalan mebaiki anak tangga, sedangkan Evano masuk ke kamarnya sendiri.


Hallo guys aku up lagi😊


Jangan lupa Like Komen dan Vote


Mohon maaf kalau ada typo😄


Terimakasih♥


Happy reading♥

__ADS_1


__ADS_2